Anak-anak Yang Memakmurkan Mesjid

SEBUAH hal yang “mehimungi” di minggu-minggu pertama Ramadhan adalah soal ramainya masjid-masjid. Tradisi shalat tarawih berjamaah yang digelar selalu dihadiri kaum muslimin dari berbagai lapisan. Yang miskin, yang biasa dan yang kaya; yang tua, pemuda dan anak belia. Semua hadir.

Meramaikan masjid tentu saja bernilai utama, karena pahala shalat berjamaah selalu berlipat ganda. Mereka yang memakmurkan masjid adalah orang-orang yang beriman dan mendapat petunjuk (QS 9:18). Praktek keseharian umat menunjukkan bahwa ternyata tidak mudah untuk terus memelihara ramainya jamaah di surau dan masjid. Saat-saat Ramadhan biasanya merupakan pengecualian.

Dalam bulan seperti inilah sering terasa bahwa masjid yang sudah demikian besar pun masih saja kekecilan, karena jamaah yang datang sering melimpah ruah. Terasa betul syiar Islam itu. Orang berjejal-jejal dalam shaf, sampai ke pojok-pojok. Ruang-ruang tambahan sering diadakan, entah di balkon, di sayap masjid, di lantai dasar atau lantai atas, kalau perlu di halaman luar, pokoknya di setiap ruang yang mungkin.

Dalam Ramadhan begini pula soal jamaah anak-anak ikut menjadi permasalahan. Maklum, karena ruang yang sempit, untuk orang-orang dewasa saja sering tidak tertampung, apalagi untuk kakanakan yang ramai dan “ricuh” itu. Para pengurus masjid sering berhadapan dengan pilihan sulit, apakah membiarkan anak-anak bercampur-berimpit jamaah dewasa atau menempatkan mereka pada ruang tersendiri di pinggir luar, di belakang dan sebagainya.

Ini perkara yang pelik-pelik gampang. Maklum kakanakan. Dilarang salah, tidak dilarang mereka asyik sendiri. Teringat di waktu kecil, di antara sebagian anak yang serius selalu saja ada teman yang usil setiap shalat. Dari mulai yang bercanda dan cekikikan tak putus-putus, yang asyik mencolek teman sebelah, yang berlalu lalang dan memandang-mandang, ada pula yang menangis nyaring atau yang mengaminkan imam dengan sangat kecang. Tentu saja juga ada yang melantangkan sahutan ‘amin’ itu sendirian setelah jamaah lain usai, atau yang bernada gaung dan yang putus-putus. Pokoknya apa pun yang menimbulkan kelucuan sudah menjadi bagian alamiah mereka. Energi anak yang melimpah itu selalu mendesak untuk disalurkan melalui beragam tingkah. Dari zaman ke zaman, kelakuan anak-anak memang tidak banyak berubah.

Barangkali, itu pun merupakan bagian yang menimbulkan kenangan Ramadhan bagi masing-masing kita sejak dari masa kecil. Pengurus masjid yang berisau hati atas ketenteraman jalannya tarawih, apalagi yang berhati sempit, biasanya suka terjebak kesulitan mengatur anak-anak ini. Maklum, shaf yang baik adalah yang rapat dan tidak bersela, tentu tanpa anak-anak yang menyelip di sana-sini, apalagi yang asyik sendiri. Anak-anak yang lucu itu sering mengejutkan dan mengganggu khusyu hati orang-orang dewasa.

Masalahnya, sebagian anak datang dengan, dan tidak mau lepas dari, orang tuanya. Ada sebuah kasus, seorang ayah yang demi memperkenalkan syiar Ramadhan membawa empat anak kecil berusia sepuluh tahun ke bawah, entah anak atau keponakan, shalat berjamaah di barisan orang-orang dewasa di depan. Maklum minggu-minggu pertama puasa, masjid pun masih penuh sesak dan banyak jamaah yang berdiri bertumpuk di pangkal pintu karena tidak bisa masuk. Pengurus yang prihatin akhirnya menyapa sang ayah dan menjelaskan bahwa anak-anak sebaiknya shalat di belakang. Sayangnya, tidak semua orang mudah menerima saran dan teguran, sehingga terjadilah balas-balasan kata. Sang ayah bersikeras bahwa anak-anak yang dibawanya tidak akan berisik, bukan seperti anak-anak lain, dan bertahan di tempatnya.

Pengurus pun mengalah. Shalat pun berjalan tertib. Yang saya khawatirkan pada waktu itu bahwa teguran pengurus telah membuat hati sang ayah “sangkal” dan tidak datang lagi keesokan harinya. Namun, kekhawatiran tersebut ternyata tidak beralasan, karena ia tetap datang dan tetap membawa anak-anaknya shalat di mesjid. Tidak ada yang berubah.

Makanya, ini soal pelik-pelik gampang atau gampang-gampang susah. Barangkali, kaya apapun caranya, janganlah sampai mengakibatkan anak-anak kita tidak bisa ikut atau dihalang-halang datang ke masjid untuk berjamaah. Sebaliknya, sudah sepantasnyalah orang-orang tua mengajak generasi penerus Islam itu ke masjid, untuk merasakan dan mengalami syiar itu. Para pengurus pun harus berlapang hati mencari jalan yang terbaik untuk menyambut para jamaah bawah usia itu bersama semua yang lain.

Semua kita mungkin merasakan bahwa kebiasaan ikut ke masjid di masa kecil, yang tentunya penuh dengan senda-gurau teman sebaya, merupakan fragmen yang tak pernah lekang dari ingatan. Siapa tahu, pengalaman-pengalaman lama yang membekas itulah yang mendatangkan kerinduan kita atas suasana masjid ketika dewasa dan merasakan nyaman karenanya. Ketika sekarang menjadi orang tua, estafet itu pun perlu kita ulurkan kepada anak-anak kita ini, agar pada masa dewasa mereka nanti insyaAllah juga akan menanamkan rindu hati yang seterusnya diulurkan ke hati cucu-cicit yang lahir belakangan. Sebab syiar haruslah berkesinambungan.

Masalahnya, zaman berkembang semakin penuh godaan. Kalau dulu kita kecil, ramai-ramai ke masjid dengan teman masih selalu menyenangkan, karena memang tidak banyak pilihan lain. Sekarang ini, di zaman play station, online gaming, game zone, aneka acara televisi, DVD player, serta sederet alternatif lain, ketika yang menjadi idola adalah penyanyi pop atau pemain sinetron, mengajak anak-anak ke masjid bukanlah pilihan yang membuat mereka tertawan. Padahal, di tangan merekalah nanti kelangsungan syiar itu berada.

Oleh sebab itu, kehadiran anak-anak di masjid bersama kita sekarang mungkin bahkan perlu disambut sebagai ‘tamu-tamu muda’ yang terhormat. Agar di hati mereka betah, pengalaman itu resap melekat, siapa tahu di pundak merekalah nanti dunia Islam semakin terangkat. Moga-moga mereka pulalah nanti yang dimaksudkan dalam Surat At Taubah ayat 18 sebagai “orang-orang yang beriman yang memakmurkan masjid, mereka yang mendapat petunjuk”.

Bagaimana menurut Anda?

2 Comments »

  1. Zul ... said

    Anak-anak itu adalah kita dahulu. Kelak mereka akan menjadi kita sekarang.
    Jadi, semestinyalah kita mengenalkan dan mendekatkannya dengan masjid seperti dulu kita dikenalkan dan didekatkan orang tua kita dengan masjid.

    Maka, jangan alergi dengan kehadiran anak-anak di masjid.
    Justru alergilah dengan anak-anak yang hanya bisa main petasan dan ngobrol santai di halaman dan depan masjid.

    Tabik!

  2. suhadinet said

    Jadi ingat kelakuan waktu masih anak-anak.
Kalau tak benar-benar mengganggu, biarkanlah mereka. Anak kecil di shaf depan menurut saya gak masalah. Intinya ada pendamping orang tua. Kalau anak ditinggalkan di rumah, siapa yang menjaga. Kan ibu-ibunya pasti kepingin tarawih juga.

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: