Ruh Ramadhan dan Semangat Hedonisme

Pernahkah terlintas dalam pikiran kita, bahwa setiap memasuki Ramadhan, tingkat ‘konsumerisme’ masyarakat kita paling tinggi. Yang biasa membeli gula dua kilo di bulan biasa, bisa membeli barang itu lebih dari lima kilo di bulan Ramadlan. Itu semua bisa saja terjadi pada jenis barang-barang yang lain. Sehingga hukum ekonomipun berlaku, bahwa jika barang sedikit dan jumlah permintaan lebih banyak maka harga akan mahal.

Ini sudah terbukti sejak bertahun-tahun yang lalu setiap Ramadhan datang. Sampai menteri-menteri yang berkait dengan makanan harus melaporkan kepada khalayak bahwa: ‘persediaan ‘makanan ini dan makanan itu’ memasuki Ramadhan tahun ini mencukupi’.

Jujur saja, memasuki Ramadhan ini, tentu banyak sekali di antara kita yang merintih, pedih. Tak terelakan juga tentu keluarga kita. Karena kita telah disambut hangat oleh naiknya harga kebutuhan sehari-hari.

Kehadiran Ramadhan, sudah selayaknya disambut dengan gembira dan penuh kesyukuran. Tapi tidak semua di antara kita bisa berlaku seperti itu. Banyak di antara kita, -bahkan suatu saat mungkin kami juga ada di dalamnya-, bahwa kehadiran Ramadhan justru meresahkan kita.

Kenapa meresahkan? Karena pikiran kita sudah termakan sifat ‘hedonisme’. Sifat keduniaan yang berlebih. Sehingga dalam berbuka puasa saja kami sering mengikuti selera. Sudah ada kolak pisang, kami masih menyambar bubur kacang ijo. Dan berikutnya lagi nasi dengan lauk yang hangat tentunya. Ini juga berlaku pada makan sahur. Kata seorang teman, “Makan sahur itu harus dirangsang dengan makanan yang enak-enak. Sebab kalau kurang enak, tidak selera makan di waktu dini hari.” Sehingga suatu saat teman tersebut mengeluh. Katanya, pengeluarannya di bulan Ramadlan tiga kali lipat dibanding bulan yang lain.

Tentu ini bisa terjadi kepada siapa saja, jika dalam menyikapi Ramadhan masih seputar urusan perut. Atas dasar itu juga, maka kamipun -tidak bisa dipungkiri- berusaha berkirim uang pada saat keluarga kami sedang sangat membutuhkan untuk membeli sesuatu yang ada hubungannya dengan urusan perut.

Rasulullah memberi contoh kepada kita. Setiap berbuka puasa beliau selalu mengawali dengan makan tiga biji kurma. Beliau tentu bisa saja memakan lebih dari itu. Tapi beliau tidak melakukannya. Ini sebuah pelajaran bagi kita bahwa puasa itu memang menahan. Termasuk menahan dalam berbuka, agar tidak rakus memakan segala jenis makanan.

Dan dalam proses selanjutnya, puasa itu sendiri adalah menahan apa saja agar tidak berlebih. Kalau sudah ada kolak, kenapa mesti bikin makanan lain lagi? Kalau kursinya masih bisa untuk tempat duduk kenapa mesti beli yang baru lagi. Kalau masih ada pakaian untuk shalat Idul Fitri, kenapa mesti pusing-pusing utang lagi kepada penjual pakaian? Kalau masih bisa ke kantor dengan mobil sederhana, kenapa mesti harus beli yang mewah? Kalau masih bisa makan minum, menyekolahkan anak dan bikin rumah, kenapa kita mesti mengkorup harta negara?

Sekali lagi, hal-hal seperti itu bisa saja menghinggapi siapa saja. Apalagi saat ini kita hidup di zaman yang semuanya serba canggih. Sehingga untuk merangsang masyarakat membeli sesuatu produk barangpun, sebuah perusahaan bisa begitu cantik menarik siapapun dengan iklan-iklannya. Maka dengan mudahnya kita tergiur.

Akhirnya Ramadhan kita sambut dengan keresahan. Tamu agung itu kita sambut dengan duka cita. Kita kehilangan ruh Ramadhan yang luar biasa itu. Kita jalani bulan mulia itu dengan tanpa makna, tanpa arti. Hanya lapar dan dahaga saja yang kita peroleh. Ruh Ramadhan lenyap dari diri kita. Dan kepergiannya juga tidak bisa kita antar dengan deraian air mata. Karena hati kita sudah tertutup dengan ‘hedonisme’ yang berlebih.

Kita tahu, bahwa Ramadhan adalah bulan agung. Rasanya ‘tarbiyah’ yang kita peroleh dari Ramadhan tahun yang lalupun masih terngiang di telinga kita. Tapi tidak semua bisa meng-aplikasi-kan hal tersebut dalam sebelas bulan kedepan. Karena memang dari hari ke hari mata kita, telinga kita, lidah kita, selalu melihat, mendengar dan merasakan sesuatu yang menggiurkan bagi kita.

Akankah puasa kita tahun ini juga tidak bisa menjadi perisai atau tameng dalam menghadapi globalisasi jaman ini yang semakin ‘hedonis’? Tentu jawabannya ada dalam diri kita masing-masing. Dan semoga Allah SWT selalu membantu dan membimbing kita untuk memperoleh derajat paling tinggi dari hasil puasa kita, yaitu ketakwaan.

6 Comments »

  1. semoga kita makin bisa menitropeksi diri sendir. apalgi saya yang hina ini…. nafsunya macem-macem…

  2. Kita berdoa agar mendapat nilai2 positif yang telah dijanjikan Allah agar dapat melalui bulan2 berikut dengan amalan2 baik.

  3. Zul ... said

    Ramadhan itu pesta.

    Layaknya pesta, sah-sah saja jika serba berlebih.
    Berlebih shalat, berlebih zikir, berlebih sedekah, berlebih, i’tikaf, dan berlebih lainnya.

    Jika berlebih itu sebatas mendukung semaraknya Ramadhan, tak masalah.

    Makan dan minum, jika memang saat berbuka.
    Baju yang bagus, jika memang buat shalat dan silaturrahmi.

    dan seterusnya…

    Ramadhan memang harus besar!

    Tabik!

  4. suhadinet said

    Setuju dengan zul, tapi tentu ada remnya. Jangan blong. Lupa diri. Puasa adalah menahan diri dari yang halal. Mengendalikan nafsu, tapi tetap dirayakan. Bikin orang-orang di sekitar kita bahagia sangat perlu. Ada syiar juga bila ramadhan semarak.

  5. stlestari said

    assalamualaikum.
    Sebagian besar memang yanganda katakan benar. manusia tidak ada puasnya, sdah ada menu1,masihcari menu 2 bgt trus….

    InsyaAllah kita bisa melalui bulan ramadhan ini tana perbuatan maksiat..”amin”

    terima kasih,anda sempat mampir ke blog saya meski hanya saat ini saya baru bisa berkunjung ke blog anda.slam kenal juga kepada anda.semoga bln ini menjadi bulan yang penug rahmat dan barokahbagi kita semua”Amin”.wassalamualaikum.

  6. setuju, pertanyaannya cukup dijawab dalam hati ya..

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: