Mencari Pemimpin “Khadimul Ummah”

Pemimpin terkadang tidak memiliki visi. Hal ini disebabkan mereka hanya menjadikan kepemimpinan sebagai kedudukan yang membanggakan dan bekerja berdasarkan SK dari atasannya. Karenanya tidak heran banyak pemimpin yang tidak bertanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya. Seorang kepala daerah membiarkan rakyat tidak mendapatkan pelayanan kesehatan, transportasi, informasi dan lainnya. sehingga mereka terus-menerus di dalam ketertinggalan. Bagaimana sebenarnya pemimpin yang ideal?

Pemerintah yang telah dipilih oleh rakyat dan menjadi masinis dalam lokomotif pembangunan harus benar-benar peduli dengan kondisi masyarakat. Kepedulian ini bukan diucapkan, dikampanyekan, dijanjikan, namun dilaksanakan dalam kehidupan nyata. Berapun banyaknya kampanye kepedulian yang diucapkan, jika masih ada jalan rusak, jembatan putus, pemadaman listrik, air kering, itu berarti belum ada kepedulian. Seperti halnya korupsi, berapapun banyaknya perjanjian anti korupsi, pakta integritas, sumpah, yang diteken, kalau masih ada pungli dalam administrasi kepemerintahan, itu berarti semua janji itu hanyalah janji “buaya”.

Pemerintah seharusnya memiliki empati atas problem sosial masyarakat. Ia mampu merasakan berbagai kesulitan yang dialami oleh rakyat, bagaimana susahnya memakai sebuah fasilitas umum yang tidak layak digunakan. Hal itu merupakan bagian dari tanggung jawab dan pelayanan seorang pemimpin kepada rakyat yang dipimpinnya. Dalam komitmen kepemimpinan, pelayanan terhadap masyarakat merupakan tugas utama yang seharusnya dijalankan pemimpin. Sebab pemimpin adalah khadimul ummah (pelayan kaumnya), dimana ia menjadi penggerak bagi terlaksana dan berfungsinya berbagai fasilitas sosial dalam masyarakat.

Menyangkut dengan dimensi pelayanan kepada rakyat oleh pemimpin, Dr. Kenneth Blanchard, seorang penulis buku kepemimpinan, dalam sebuah bukunya mengisahkan tentang tiga orang karakter yang mewakili tiga aspek kepemimpinan yang melayani, yaitu seorang pendeta, seorang professor, dan seorang profesional yang sangat berhasil di dunia bisnis. Tiga aspek kepemimpinan tersebut diasosiasikan pada “hati yang melayani” (servant heart), “kepala atau pikiran yang melayani” (servant head), dan “tangan yang melayani (servant hands).

Hati yang melayani

Integritas merupakan hal yang sangat mendasar dalam sebuah kepemimpinan. Dalam Islam ditegaskan “La taqulu ma la taf’alun” (jangan kau katakan apa yang tidak kau laksanakan). Ini berarti seorang pemimpin memiliki konsistensi antara apa yang dikatakannya dengan apa yang dilaksanakan. Jika saat kampanye ia mengatakan akan memberikan pelayanan maksimal kepada rakyat, akan membangun fasilitas pendukung dalam pembangunan masyarakat, akan memanfaatkan potensi daerah dengan efektif untuk pembangunan, maka itu benar-benar direalisasikan sewaktu ia menjabat sebagai pemimpin. Bukan malah sebaliknya, menggunakan kedudukan dan jabatan sebagai kesempatan memperkaya diri dan mengambil keuntungan untuk pribadi, keluarga atau golongan tertentu saja.

Ken Blanchard dalam bukunya di atas menyatakan ada lima ciri dari seorang pemimpin yang memiliki hati yang melayani. Pertama, seorang pemimpin selalu melayani kepentingan mereka yang dipimpinnya. Pekerjaannya selalu berorientasi pada kepentingan publik yang dipimpinnya bukan kepentingan diri pribadi maupun golongannya. Kedua, pemimpin yang melayani memiliki kasih dan perhatian kepada mereka yang dipimpinnya. Kasih itu mewujud dalam bentuk kepedulian akan kebutuhan, kepentingan, impian dan harapan dari mereka yang dipimpinnya.

Ketiga, seorang pemimpin yang memiliki hati yang melayani adalah memiliki akuntabilitas, dimana seluruh perkataan, pikiran dan tindakannya dapat dipertanggungjawabkan kepada publik atau kepada setiap anggota organisasinya. Keempat, pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang mau mendengar setiap kebutuhan, impian dan harapan dari mereka yang dipimpinnya. Kelima, pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang dapat mengendalikan ego dan kepentingan pribadinya melebihi kepentingan publik atau mereka yang dipimpinnya.

Kepala yang melayani

Pelayanan dengan kepala berarti adanya manajemen dalam sebuah kepemimpinan. Karakter dan kharisma saja yang dikembangkan dengan prinsip melayani dengan hati dalam kepemimpinan formal tidak cukup, ia harus pula didukung oleh sebuah sistem manajemen dan visi kepemimpinan yang jelas. Banyak pemimpin kharismatik gagal saat ia menjabat sebagai pemimpin formal.

Dalam sebuah ungkapan dikatakan “nothing motivates change more powerfully than a clear vision”, visi yang jelas dapat secara dahsyat mendorong terjadinya perubahan dalam organisasi. Seorang pemimpin harus visioner, memiliki inspirasi pembangunan dan mampu melihat jauh ke depan. Ia menjadi inspirator bagi masyarakat yag dipimpimpinnya untuk menggerakkan mereka menuju sebuah posisi yang lebih maju. Sebab sebuah kepemimpinan dimaksudkan membawa mereka yang dipimpin untuk berubah menjadi lebih baik dan mencapai tujuan-tujuan yang mereka inginkan.

Dalam sebuah hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim Nabi bersabda yang artinya, “Apabila suatu perkara diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, tunggulah kehancuran.” “Ahlinya” dalam hadits ini dimaksudkan memiliki profesionalisme dan kemampuan pengetahuan dalam sebuah urusan. Dalam hal kepemimpinan tentunya seorang pemimpin mesti menguasai pengetahuan kepemimpinan dan mimiliki visi yang jauh ke depan untuk pembangunan orang yang dipimpinnya.

Visi yang dibangun memiliki dua aspek, yaitu visionary role dan implementation role. Seorang pemimpin tidak hanya dapat membangun atau menciptakan visi bagi pemerintahan namun juga memiliki kemampuan untuk mengimplementasikan visi tersebut ke dalam suatu rangkaian tindakan atau kegiatan yang diperlukan untuk mencapai visi itu.

Tangan yang melayani

Tangan yang melayani artinya perilaku yang ditampilkan oleh seorang pemimpin. Seorang pemimpin yang melayani harus mimiliki keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan yang diapresiasikan dalam kehidupan sehariannya. Selain melayani rakyat yang dipimpinnya, seorang pemimpin juga memiliki keinginan dan kerinduan untuk melayani Tuhan. Dalam hal ini dapat dikatakan seorang pemimpin memiliki kerinduan untuk melaksanakan ajaran agama dalam kehidupan sehariannya. Ia menjadikan agama tidak hanya sebagai simbol-simbol pasif, namun lebih jauh ia implementasikan dalam perilaku dan program kerjanya.

Dengan demikian pemimpin sejati memberikan fokus yang besar pada hal-hal yang bersifat spiritual dibandingkan dengan sekedar kesuksesan duniawi. Baginya kekayaan dan kemakmuran adalah untuk dapat memberi dan beramal lebih banyak. Apapun yang dilakukan bukan untuk mendapat penghargaan, tetapi untuk melayani sesamanya. Dan dia lebih mengutamakan hubungan atau relasi yang penuh kasih dan penghargaan, dibandingkan dengan status dan kekuasaan semata.

Pengamalan ajaran agama tidak hanya dilakukan dengan melaksanakan acara-acara ritual keagamaan dan penampilan yang “beriman” dengan memakai atribut-atribut agama. Seorang pemimpin harus mentransformasikan nilai-nilai agama yang universal dalam pola pikir, pola sikap dan pola lakunya. Atau dalam istilah modern disebutkan, seorang pemimpin harus memiliki Spiritual Quotient (SQ), atau kecerdasan siritual. Sebab SQ akan menjadikan ia sadar akan keberadaan dirinya, mengerti akan hakikat tugasnya dan faham akan kehidupan fana yang dijalaninya. Dengan demikian akan timbul sifat rendah hati dalam bersikap dan tidak gila dengan jabatan dan harta.

Refleksi Ke Depan

Tahun 2009 mendatang masyarakat Indonesia akan melaksanakan Pilpres, dimana masyarakat akan menggunakan hak suaranya untuk memilih pemimpin. Dalam hal ini setiap orang yang telah memiliki hak pilih sangat dianjurkan untuk memberikan suaranya dalam menentukan pemimpin bangsa ke depan (one man one vote). Siapa yang harus dipilih?

Semua sepakat yang mesti dipilih adalah kandidat yang memenuhi kriteria pemimpin sejati. Kepemimpinan sejati sering dikaitkan dengan kesempurnaan dalam berbagai hal, memiliki integritas, track record yang baik dalam pekerjaan, bertanggung jawab, visoner dan futurist, mampu mengakomodir kepentinagn yang berbeda, tidak rasialis, dan yang lebih penting lagi adalah memiliki keimanan yang diimplementasikan dalam kehidupan sehariannya. Semua hal ini dipadatkan dalam fungsi pelayanan, yakni melayani masyarakat yang dipimpinnya untuk mencapai tujuan bersama yang dicita-citakan.

Pemimpin yang harus kita pilih ke depan adalah mereka yang bersedia menjadi pelayan masyarakat, bukan yang duduk di kantor seperti raja. Ia berpenampilan merakyat, tidak ber-life style selebritis. Ia mengerti akan penderitaan rakyat meskipun tidak disampaikan secara verbal, bukan yang sibuk dengan pelayanan atasan dan kepentingan golongan tertentu. Mudah-mudahan pemimpin seperti itu bukan hanya ada dalam hayalan.

5 Comments »

  1. Mahmud said

    Assalamu’alaikum w.w.

    Lawas nah kada bajalan kamari. babagus nah lamannya. Tulisannya gen batambah banyak.

    Bakunjangan lah di laman ulun wan isi kotak pesannya di sana…!

  2. Mahmud said

    Assalamu’alaikum w.w.

    Tahu ai ulun Pian mangajar bahasa Arab di mendua, ya kalo? mendua atawa MAN 2 lah nang bujur? He he he he!

    Pian umpat Kayuh Baimbaian kah? Memang baimbaian ja pang, he he he he.

    Ayu be, mudahan Ikau bahalap selalu…! Tarima kasih jadi mananjung huang laman ulun endau. Salam akan kakawalan huang kanih lah…!

  3. Zul ... said

    Yang susah adalah bagaimana mampu dan ikhlas menjadi ‘pelayan’.

    Aku hanya berharap masih ada pemimpin yang memang berjiwa ‘melayani’.

    Semoga!

    Tabik!

  4. pemimpin bukan pemimpi

  5. […] [3] Khadimul Ummah; pelayan umat: Pemerintah seharusnya peka atas masalah sosial masyarakat. Seorang pemimpin mampu menyelami berbagai kesulitan yang dialami oleh rakyat, bagaimana susahnya memakai sebuah kemudahan awam yang tidak layak digunakan. Hal itu merupakan sebahagian dari tanggungjawab dan pelayanan seorang pemimpin kepada rakyat yang dipimpinnya. Dalam komitmen kepemimpinan, pelayanan terhadap masyarakat merupakan tugas utama yang seharusnya dijalankan pemimpin. Sebab pemimpin adalah khadimul ummah (pelayan kaumnya), dimana ia menjadi penggerak bagi terlaksana dan berfungsinya berbagai fasiliti sosial dalam masyarakat.bersangkutan dengan dimensi pelayanan kepada rakyat oleh pemimpin, Dr. Kenneth Blanchard, seorang penulis buku kepemimpinan, dalam sebuah bukunya mengisahkan tentang tiga orang karakter yang mewakili tiga aspek kepemimpinan yang melayani; seorang pendeta, seorang professor, dan seorang profesional yang sangat berhasil di dunia perniagaan. Tiga aspek kepemimpinan tersebut diasosiasikan pada “hati yang melayani” (servant heart), “kepala atau fikiran yang melayani” (servant head), dan “tangan yang melayani (servant hands). Sumber dipetik dari: https://taufik79.wordpress.com/2008/08/21/mencari-pemimpin-%E2%80%9Ckhadimul-ummah%E2%80%9D/ […]

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: