Kalselku Sayang Kalselku Malang…. (Kado Hari Jadi Propinsi Kalimantan Selatan)

Pernah dimuat pada harian Radar Banjarmasin/ Jum’at, 22 Agustus 2008

Memperingati Hari Jadi Ke-58 tanggal 14 Agustus 2008 Provinsi Kalimantan Selatan, diharapkan dapat menjadi refleksi hadirnya idealisme, harapan, kesuksesan, dan kesejahteraan bagi warga banua.

Peringatan hari jadi suatu daerah jika dianalogikan dengan perayaan hari kelahiran seseorang, maka iringan doa dan harapan demi kebahagiaan yang pantas untuk dilakukan. Memperingati “hari bersejarah” itu sesungguhnya merupakan upaya memahami diri sendiri dan fakta-fakta yang ada. Melihat fakta dan fenomena sejarah tersebut niscaya kita dapat menemukan dan mewujudkan kebaikan demi kemaslahatan bersama.

Peringatan hari jadi seyogyanya dijadikan momentum strategis bagi pembangunan Kalimantan Selatan. Bagi pemerintah daerah, hari jadi dapat menumbuhkan kewibawaan yang tinggi bagi aparatur pemerintahnya, wahana meningkatkan potensi sumber daya daerah, sarana menumbuhkembangkan dan memperkuat rasa keterikatan batin rakyat dengan banuanya.

Hari ini, Kalimantan Selatan genap berusia 58 tahun. Tapi masih banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan untuk menata banua ini.

Kalsel masih memiliki banyak persoalan yang harus segera dicarikan jalan keluarnya. Fakta dan data bicara: sungai-sungai sakit dan mati, pemukiman liar dan pedagang kaki lima menjamur, lalu lintas dan parkir semrawutan, sampah beterbangan di jalan umum dan terapung di sungai, tingginya kriminalitas, premanisme, pengangguran dan sejumlah ulah warga daerah lainnya. Kalsel masih diselimuti oleh kabut kompleksitas permasalahan. Pada titik tertentu, banua ini telah berada di lorong yang tak pasti dan jauh dari kehidupan wajar.

Eksploitasi Sumber Daya Alam

Kebijakan dan pengelolaan energi nasional yang carut marut didakwa menjadi penyebab hancurnya lingkungan hidup dan ekploitasi membabi buta sumberdaya alam energi. Tak terkecuali di Kalsel, lubang-lubang besar bahkan kawah raksasa yang menganga dan siap menelan anak negeri lalu tenggelam hilang tak berbekas. Truk-truk raksasa menjadi raja di jalan negara, melindas setiap yang bernyawa menjadi pemandangan mengerikan yang hanya terjadi di banua kita saja.

Kalau kita lihat betapa semakin tahun semakin besar jumlah batubara yang dieksploitasi dan telah menempatkan Kalsel sebagai daerah terbesar kedua penghasil batubara di Indonesia. Namun sebagian besar hasil dari eksploitasi tersebut dieksport ke luar negeri dengan tujuan ke beberapa negara maju. Di sisi lainnya Kalsel (bahkan Indonesia secara umum) tidak mampu memenuhi kebutuhan energi rakyatnya. Terbukti di Kalsel sendiri Pemerintah (dalam hal ini PLN) belum mampu memenuhi kebutuhan energi listrik secara kontinu, dimana sering sekali terjadi pemadaman listrik secara bergantian. Memang senyatanya bahwa kebijakan pengelolaan sumber daya alam tambang batubara saat ini sangat berorientasi pada pasar dan bukan pada kebutuhan rakyat. Kebijakan yang berorientasi kepada ”modal” dan mengabaikan hak-hak rakyat dan lingkungan hidup.

Eksploitasi yang dilakukan sebagian besar tidak memberikan dampak kesejahteraan yang nyata di masyarakat, hal ini dapat terlihat dimana kehidupan masyarakat lokal sekitar tambang tidak mengalami kemajuan yang berarti dan bahkan sebagian besar masih terpinggirkan dalam segala hal baik di biding ekonomi, sosial dan budaya termasuk pendidikan.

Penggunaan beberapa ruas jalan umum untuk angkutan batubara yang berlangsung sampai saat ini jelas-jelas telah menggangu kepentingan masyarakat banyak. Aktivitas ini sangat mengganggu pengguna jalan lainnya, menimbulkan banyak kecelakaan, kerusakan jalan dan jembatan yang tentunya akan meningkatkan biaya pemeliharaan jalan dan jembatan, bahkan debunya telah mencemari lingkungan sekitar sepanjang jalan yang dilewati.

Disamping kerugian-kerugian yang dapat secara langsung kita rasakan, juga terselip bahaya yang ditimbulkan oleh debu batubara yang dihasilkan pada saat batubara tersebut diangkut oleh truk-truk tersebut ketika melintas di jalan-jalan umum, adapun bahaya tersebut antara lain ; Penyakit inpeksi saluran pernapasan (ISPA), dan dalam jangka panjang akan berakibat pada kanker (baik itu kanker paru, lambung, darah) sampai nantinya adanya kemungkinan banyak bayi yang lahir cacat. Kebijakan yang membolehkan angkutan batubara lewat jalan umum ini juga telah melanggar ketentuan perundangan Nomor 11 tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan yang mewajibkan perusahaan tambang memiliki sarana dan prasarana sendiri termasuk jalan.

Kepadatan angkutan batubara mencapai 2.473 unit per hari di Kab. Tapin, belum ditambah angkutan dari kabupaten lainnya (Bpost, 2005), sedangkan berdasarkan pengamatan WALHI Kalsel di Kabupaten Banjar dan Banjarbaru tingkat kepadatan angkutan batubara perharinya tidak kurang dari 1.300 truck. Bisa dibayangkan, kepadatan arus lalu lintas di jalan negara yang juga diperuntukkan untuk angkutan umum dan jenis angkutan pribadi lainnya. Belum lagi, keluhan masyarakat sekitar yang sudah sangat terganggu dengan aktivitas angkutan tersebut.

Adanya akses jalan umum bagi angkutan batubara ini sangat membuka kesempatan yang sangat lebar bagi berlangsungnya aktivitas pertambangan illegal karena mereka dapat dengan mudah mengangkut hasil bongkaran batubara yang dilakukan dari tempat manapun tanpa mampu dikontrol dengan baik oleh pemerintah.

Pencemaran Lingkungan Hidup

Seperti halnya aktivitas pertambangan lainnya di Indonesia, pertambangan batubara di Kalsel juga telah menimbulkan dampak kerusakan lingkungan hidup yang cukup parah. Payahnya lagi pemerintah dan perusahaan tambang tidak cukup serius untuk melakukan upaya-upaya penanggulanganya. Kondisi ini juga tidak dibarengi dengan adanya penegakan hukum yang tegas dan adil, bahkan cenderung kebanyakan kasusnya ditutup-tutupi.

Lubang-lubang besar yang tidak mungkin ditutup kembali -apalagi dilakukan reklamasi- telah mengakibatkan terjadinya kubangan air dengan kandungan asam yang sangat tinggi. Hasil penelitian Bapedalda Tabalong (2001) menyebutkan bahwa air yang berada pada lubang bekas galian batubara tersebut mengandung beberapa unsur kimia, yaitu : Fe, Mn, SO4, Hg dan Pb. Seperti kita ketahui Fe dan Mn bersifat racun bagi tanaman dan mengakibatkan tanaman tidak dapat berkembang dengan baik. SO4 merupakan zat asam yang berpengaruh terhadap pH tanah dan tingkat kesuburan tanah. Sedangkan Hg dan Pb adalah logam berat yang bisa menimbulkan penyakit kulit pada manusia. Selain air kubangan, limbah yang dihasilkan dari proses pencucian juga mencemari tanah dan mematikan berbagai jenis tumbuhan yang hidup diatasnya.

Pembiaran lubang-lubang bekas galian batubara yang ditinggalkan begitu saja dan pencemaran lingkungan akibat aktivitas pertambangan tersebut seperti debu, rembesan air asam tambang dan limbah pencuciannya terjadi dihampir semua lokasi pertambangan dan bahkan mencemari air/sungai yang dimanfaatkan oleh warga.

Bencana Banjir

Akibat aktivitas pertambangan batubara yang tidak memenuhi kaedah lingkungan menjadikan banyak kawasan daerah tangkapan air menjadi rusak dan menyebabkan kondisinya mejadi rawan bencana termasuk banjir. Tercatat mulai awal tahun 2004, dua kabupaten meliputi Kab. Banjar yang menelan korban lima orang telah meninggal, 25.666 orang di dua kecamatan yaitu Kec. Sungai Tabuk dan Simpang Empat telah menjadi korban, selain itu kerugian materi berupa 55.741 buah rumah telah terendam banjir, 100 Ha lahan pertanian rusak berat dan Kab. Tanah Bumbu telah dilanda banjir yang menelah banyak korban materiil. Kurang lebih 2.047 Ha lahan pertanian hancur dan 650 buah rumah penduduk rusak berat terjadi di Kab. Banjar. Kerugian materi lain di Kab. Tanah Bumbu meliputi 1.360 Ha sawah dan 75 buah rumah penduduk mengalami kerusakan berat.

Ini bukti dari terjadinya kerusakan hutan di wilayah hulu yang mestinya berfungsi sebagai kawasan penyangga dan resapan air. Hal ini diperparah dengan buruknya tata drainase dan rusaknya kawasan hilir seperti hutan rawa yang mestinya dapat berfungsi sebagai tandon air yang dapat menyerap air di musim hujan dan mengeluarkannya secara perlahan di musim kemarau.

Alternatif Solusi

Sebagai warga kota, kita pantas bertanya pada pemangku kebijakan daerah. Mau diarahkan kemana rangkaian gerbong banua di usia akan datang. Warga banua Banjar adalah bagian dari social planning micro yang tak bisa dilepaskan dari induk dasarnya social planning macro, yakni pemerintah beserta jajarannya.

Carut marut pengelolaan sumber daya alam tambang batubara di Kalimantan Selatan sudah begitu sangat kompleks dan terlihat sangat sulit untuk diperbaiki. Diperlukan political will pemerintah untuk melakukan sebuah terobosan yang tegas dan berani dengan melakukan moratorium atau penghentian sementara (penertiban dan tata ulang) aktivitas pertambangan “yang disesuaikan”, bukan saja batubara tetapi juga sumber daya tambang lainnya.

Dengan melakukan “moratorium yang disesuaikan” bagi seluruh aktivitas pertambangan batubara di Kalsel, pemerintah daerah dapat menata kembali pijakan dasar kebijakan dan orientasi pertambangan batubara ke depan yang berpihak pada kepentingan lingkungan hidup, penduduk lokal, bangsa dan kepentingan generasi yang akan datang. Tentunya untuk mempercepat terjadinya proses ini perlu didukung oleh kekuatan rakyat untuk mendesak pemerintah daerah dan pusat serta para wakilnya yang ada di parlemen (DPR-RI dan DPRD).

Dokumen dan peraturan pengelolaan sumber daya alam tambang yang dibuat dijadikan sebagai pijakan dasar kebijakan dan orientasi pertambangan di Kalsel selanjutnya. Tentunya pengelolaan yang berpihak pada kepentingan lingkungan hidup, penduduk lokal, bangsa, dan kepentingan generasi masa depan. Dengan demikian pengelolaan sumber daya alam tambang khususnya batubara di Kalsel dengan menggunakan strategi baru yang bijak berdasarkan pertimbangan yang rasional termasuk kepentingan penduduk lokal, kualitas lingkungan hidup, penghitungan tingkat keterancaman ekologi, jenis dan jumlah kebutuhan riil bahan tambang oleh masyarakat Kalsel dan bangsa Indonesia umumnya dan pembiaran atau pencadangan sumber daya tambang untuk kepentingan generasi mendatang.

Gagalnya perencana banua hari ini dalam mengurus Kalsel ke jatidiri yang sesungguhnya, hanya membawa dan menyisakan warga banua menjadi ‘fosil hidup’ sebagai saksi sejarah yang bertebaran tanpa bisa menikmati hidup nyaman di banua sendiri. Sebuah ironi yang tiada tara untuk direnungkan bersama.

Peringatan, upacara, atau monumen memang bisa membantu ingatan tentang sebuah peristiwa penting dalam kehidupan. Tetapi, semua itu tidak berarti apa-apa serta akan kehilangan makna ketika kita tidak bisa berefleksi terhadap fenomena dan fakta yang terjadi di banua sendiri.

Dirgahayu 58 tahun Kalimantan Selatan.

7 Comments »

  1. awym said

    titip doa buat Kal_sel ku malang…

  2. suhadinet said

    Setuju, dan sama-sama prihatin dengan banua ini.
    
Permasalahan serupa juga terdapat pada propinsi-propinsi lain. Ayo pak presiden, pak DPR, dan semua yang terkait. Kita selamatkan negara ini.
Pak gubernur, Pak anggota DPRD, Pak bupati dan walikota, kita selamatkan banua.

  3. itu tugas kita semua bukan??🙂

  4. Nyanyian keprihatinan, balada rindu yang tak kesampaian. Moga para pengambil kebijakan membaca, … dan tergugah.

  5. suara1 said

    Mari Bangkit Indonesia, Harapan itu masih ada. Berjuanglah jalan itu masih terbentang. Selama matahari bersinar, selama kita satu berpadu, jayalah Indonesia!

  6. MEYLA said

    KITA GA USAH NENGOK KE BELAKANG LAGI TENTANG APA YANG UDAH TERJADI. TUGAS KITA SEKARANG MENATAP HARI ESOK AGAR JADI LEBIH BAIK.TENANG AJA MASIH ADA HARI ESOK KO, SEMOGA KITA DI BERI KEKUATAN SAMA ALLAH YA

  7. Nisha Rintiarni said

    Gooooo Greeennnn
    selamatkan anak cucu kita dari Global Warming… saia sebagai org cinta lingkungan hanya memberi saran, mulai lach peduli lngkungan dari diri kita sendiri, mulai membuang sampah pada tempat x n hemat energi…. Selamatkan Bumi kita dari sekarang…. Hidup Lingkungan….

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: