Masihkah Asa Itu Ada? (Renungan Kemerdekaan)

REZIM bernama ‘sang waktu’ selalu bergerak pasti dan tidak tertahankan. Agustus 2008. Kini, kita bersua lagi dengan momentum bulan keramat: HUT Kemerdekaan! Kendati negeri kita masih terus terbalut multikrisis, dan di tengah reruntuhan bangunan kehidupan bersama kita sebagai bangsa, tetap saja ada asa (harapan) yang dapat direngkuh kembali.

Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Peringatan akan peristiwa sejarah paling monumental tersebut bakal terhenti sebagai rutinitas belaka, apabila kita tak mampu menyelami makna dan tujuan hakikinya. Kebosanan serta-merta muncul apabila peringatan HUT kemerdekaan dikemas tak lebih sebagai seremoni para pembesar negeri. Rasa mual bisa tiba-tiba menyerang rongga perut dan rongga dada sekaligus, saat kita menyaksikan para pembesar negeri bertingkah polah aneh-aneh, bertolak belakang dengan niatan para pendiri bangsa (the founding fathers), 63 tahun silam!

Peringatan HUT kemerdekaan tahun ini hadir bersamaan dengan momentum seleksi kepemimpinan nasional kita yakni pilpres 2009. Ada pertautan relevansi antara peringatan kemerdekaan dengan momentum pilpres sekarang ini, yakni terletak pada kemampuan bangsa Indonesia menemukan sosok pemimpin yang konsisten menjalankan amanat penderitaan rakyat, yang mau bekerja sesuai pesan Pembukaan UUD 1945, yang mau berjuang secara sama-sebangun dengan cita-cita the founding fathers.

Pemimpin nasional yang sedang kita cari melalui pilpres mesti diseleksi dengan paramater-parameter rasional. Rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi jangan mau dikibuli lagi. Jangan mau terbuai oleh dongeng tentang bakal datangnya ratu adil atau satrio piningit. Ada metoda efektif untuk mencegah pasangan capres-cawapres melakukan wanprestasi (ingkar janji) di kemudian hari, antara lain melalui ‘kontrak sosial’. Rakyat yang dari perspektif sosiologis disebut ‘masyarakat’, berkewajiban membuat sebanyak mungkin kontrak sosial (sesuai kategorisasi profesi) untuk diajukan kepada kontestan. Jika kontrak sosial itu diterima, pilihlah sang calon. Sebaliknya, jika kontrak sosial itu ditampik, maka jangan pilih sang calon, tolak saja!

Negeri kita ini masih merangkak keluar dari genangan lumpur krisis sehingga memerlukan pemimpin nasional yang mampu menjadi problem solver sekaligus dapat berpotensi menjadi solidarity maker. Kenyataan menunjukkan bahwa selama ini para elite begitu lemah membangun sinergi demi kebaikan negerinya. Realita ini dipicu oleh gesekan kepentingan parsial yang bersifat sesaat, beraroma egois, dan berbau klik, yang lama-kelamaan terakumulasi menjadi sentimen komunalisme. Loyonya spirit elite untuk bersinergi sebenarnya diakibatkan oleh hilangnya inspirasi untuk berjuang demi kebaikan banyak orang dan demi kemaslahatan bangsa.

Kebanyakan elite kita gagal mentransformasi nilai-nilai kejuangan warisan the founding fathers, sehingga mereka akhirnya terpenjara dalam arogansi kelompok dan perkoncoan golongan. Perilaku elite kita kental diwarnai oleh virus feodalisme, primordialisme, dan sektarianisme. Melemahnya sinergi antar-elite dipicu oleh melempemnya kemampuan kolektif untuk melawan common enemy (musuh bersama) berupa deretan persoalan negara-bangsa ini, yakni ‘ketidakadilan sosial, kemiskinan, disintegrasi sosial, degradasi nasionalisme, politisasi SARA, disparitas antarwilayah, kemandegan otonomi daerah’.

Tatkala harapan rakyat akan kesejahteraan bangsa ini gagal diemban para elite penguasa, maka memori rakyat biasanya berpaling pada kaum muda (generasi muda). Di setiap babak sejarah dan deru zaman, eksistensi kaum muda telah teruji sebagai lokomotif strategis perubahan. Peran historis kamu muda itulah yang mesti direvitalisasi dan direaktualisasi sesuai tantangan kehidupan bangsa di era kekinian.

Untuk kembali mengemban amanat zaman, kaum muda sebaiknya melakukan rekonsolidasi atas semua agenda idealisme kolektifnya. Namun, ada beberapa kendala yang terlebih dahulu mesti diatasi oleh kaum muda, antara lain pertama, keterbelahan potensi kepeloporan pemuda sebagai akibat konflik turunan dari generasi tua beserta seluruh varian kepentingan kelompoknya. Kedua, stagnasi pergerakan kaum muda di dataran wacana dan aksi yang berimplikasi pada melemahnya komunikasi antarelemen kaum muda. Ketiga, tidak adanya sinergi kualitatif antara elemen kaum muda akibat digerogoti oleh keangkuhan kronis atas nama kelompok. Keempat, belum bertumbuhnya spirit keindonesiaan yang tuntas. Hal mana terbukti dengan keengganan bersosialisasi dan berinteraksi lebih-lebih jika bersentuhan dengan ideologi kelompok. Kelima, imajinasi negatif terhadap niat baik kelompok lain di luar kelompok sendiri, yang justru mengakibatkan kaum muda teralienasi secara sosial. Deretan kendala di atas akan impas teratasi apabila kaum muda mampu melakukan take over inspirasi perjuangan generasi pendahulunya dari angkatan 1908, 1928, 1945, 1966, dan 1998!

Kaum muda patut untuk tetap menyadari bahwa eksistensinya sebagai ‘kekuatan moral’ bukanlah utopi. Kekuatan moral itulah yang selalu dapat menimbulkan ‘efek riak danau’ bagi kemaslahatan bangsanya. Inti dari kekuatan moral pemuda itu terletak pada ‘idealisme’ sebagai basis pijakannya. Bung Karno berkata: ‘Berikan aku sepuluh orang pemuda, maka aku akan dapat mengubah dunia’. Bung Hatta pun menimpali: ‘Para pemuda masih memiliki jiwa yang murni dan ingin melihat pelaksanaan pemerintahan secara jujur dan adil seperti apa yang dijanjikan kepada rakyat’. Kekuatan moral kaum muda itu selalu berciri idealis dan progresif-revolusioner, serta selalu loyal pada cita-cita bukan loyal pada orang!

Negeri ini, kendati usianya mulai uzur, elite pemimpinnya masih berada di fase merangkak untuk mengikuti les demokrasi. Lihatlah elite kita di area legislatif, eksekutif, dan yudikatif, nyaris semuanya gagap memaknai dan mengawal demokratisasi. Bahkan, ada instrumen negara yang seharusnya bersikap independen justru dengan sadar memilih untuk menghamba pada penguasa. Kekuasaan yang berada di tangan para elite tampak masih didominasi oleh motif ‘penikmatan’, dan belum pada motif ‘pelayanan’. Pernyataan ini tentu bukanlah generalisasi, sebab di tengah himpitan kekuasaan yang hegemonik, biasanya selalu ada segelintir orang yang mau bertindak ‘gila’ untuk melawan kekuasaan hegemonik itu.

Di pundak kaum muda yang bebas dari beban sejarah kekuasaan masa lalu, masa depan negeri ini dipertaruhkan. Siapa sangka, Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 yang prosesinya disarati oleh perjuangan tanpa pamrih dan niat suci para pejuang, kini bagai telah lekang oleh hempasan debu-debu zaman? Rakyat yang hidup di negeri kaya-raya ini cuma menjadi musafir kesepian, yang memanggul salibnya sendiri demi menggenapi penderitaannya sebagai kaum papa nan tertindas. Sesudah 63 tahun merdeka, rakyat Indonesia nyatanya masih terus berjuang mengais asa di reruntuhan dan tumpukan debu kemerdekaan negerinya.

2 Comments »

  1. emangnya rakyat indonesia manggul salib yach..kayak Yesus..aja .setahu saya rakyat indonesia manggul goni dipasar loakan, manggul bakul jamu,manggul pacul disawah…yang pasti ndak pernah manggul salib tuh…

  2. suhadinet said

    Semoga ke depan, pemimpin-pemimpin negeri ini lebih mempedulikan nasib rakyat kecil. Diberi proporsi yang lebih besar.
Sudah baca tulisan terakhir, di blog pak ersis? Saya ingin sekali memenuhi undangan beliau. Apalagi tujuannya memang untuk kebaikan kita.

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: