Mengagumi Mesjid Raya “Urang Banjar” Sabilal Muhtadin

Pernah dimuat pada harian Mata Banua/ Senin – Selasa, 11-12 Agustus 2008 dan harian Kalimantan Post/ Selasa-Rabu, 2-3 September 2008

Masjid Raya Sabilal Muhtadin kita kenal sebagai masjid kebanggaan landmark masyarakat kota Banjarmasin khususnya dan Kalimantan Selatan pada umumnya.

Masjid Raya ini memberikan warna keagamaan yang sangat khas dan kental di kalangan masyarakat Banjarmasin khususnya di dalam penyiaran Agama Islam. Masjid ini dalam setiap minggunya tidak kosong dari pengajian-penajian agama atau Majelis Ta’lim. Majelis Ta’lim disampaikan oleh ulama-ulama besar yang ada di Kalimantan Selatan, para ulama yang memberikan ceramah di sini memang sangat dipercaya masyarakat untuk memberikan suatu pengajaran tentang syariat Islam yang dibawakan oleh Rasulullah.

Dalam sejarahnya, pembangunan masjid yang dimulai sejak Gubernur Subardjo ini, baru diresmikan pada masa kepemimpinan Gubernur Mistar Tjokrokoesoemo. Sedangkan motor pembangunan adalah HM Said yang saat itu menjabat sebagai kepala Biro Pembangunan. HM Said di kemudian hari terpilih sebagai Gubernur Kalsel dua periode. Menjadi suatu kebanggaan, Presiden Soeharto pada waktu itu, berkenan hadir meresmikan buah karya mereka

Memang, tak lagi terlihat tinta emas di dua batu prasasti yang disusun vertikal pada halaman depan Masjid Raya Sabilal Muhtadin, Banjarmasin. Terpaan hujan dan teriknya matahari telah melunturkannya goresan pada monumen kecil tersebut.

Hanya saja, nama dan tanda tangan yang terukir di batu berwarna hitam itu yang masih nampak jelas. Di batu bagian atas tertulis Masjid Raya Sabilal Muhtadin diresmikan Presiden RI Soeharto, Senin, 9 Februari 1981.

Sementara di batu bagian bawah bertuliskan, Minggu 10 November 1974 dipancangkan tiang pertama Masjid Raya Banjarmasin oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat Tingkat I Kalimantan Selatan Subardjo. Di situ belum disebutkan Sabilal Muhtadin.

Dari prasasti itu terlihat, diperlukan waktu tujuh tahun untuk membangun masjid raya yang menjadi lambang kekhasan daerah Kalsel itu. Sejak diresmikan, berarti Masjid Raya Sabilal Muhtadin kini berumur lebih 27 tahun.

Di dalam catatan sejarah pembangunannya disebutkan, nama Sabilal Muhtadin–yang pembangunannya menelan dana Rp 3,685 miliar itu– adalah sebagai penghormatan dan penghargaan terhadap Ulama Besar (almarhum) Syekh Muhammad Arsyad al-Banjary (1710-1812 M) yang selama hidupnya memperdalam dan mengembangkan agama Islam di Kerajaan Banjar atau Kalimantan Selatan sekarang ini. Ulama Besar ini tidak saja dikenal di seluruh Nusantara, akan tetapi dikenal dan dihormati melewati batas negerinya sampai ke Malaka, Filipina, Bombay, Mekkah, Madinah, Istambul dan Mesir.

Diriwayatkan, pada waktu Sultan Tahlilullah (1700 – 1734 M) memerintah Kerajaan Banjar, suatu hari ketika berkunjung ke kampung Lok Gabang. Sultan melihat seorang anak berusia sekitar 7 tahun sedang asyik menulis dan menggambar, dan tampaknya cerdas dan berbakat, diceritakan pula bahwa ia telah fasih membaca Al-Quran dengan indahnya. Terkesan akan kejadian itu, maka Sultan meminta pada orang tuanya agar anak tersebut sebaiknya ting-gal di istana untuk belajar bersama dengan anak-anak dan cucu Sultan.

Kemudian atas permintaannya sendiri, pada waktu berumur sekitar 30 tahun. Sultan mengabulkan keinginannya untuk belajar ke Mekkah memperdalam ilmunya, dan lebih dari 30 tahun kemudian, setelah gurunya menyatakan sudahlah cukup bekal ilmunya, barulah ia kembali pulang ke Banjarmasin. Akan tetapi Sultan Tahlilullah seorang yang telah banyak membantu dan memberi warna pada kehidupannya telah mangkat dan digantikan kemudian oleh Sultan TahmiduHah II bin Sultan HW, yaitu cucu Sultan Tahlilullah yang sejak semula telah akrab bagaikan bersahabat. Kepada Sultan Tahlilullah ia tidak sempat menyatakan terimakasihnya ataupun memberikan pengabdiannya dan mereka terpisah karena jarak dan umur.

Sekembalinya dari Mekkah, hal pertama yang dikerjakan nya ialah membuka tempat pengajian (semacam pesantren) bernama Pagar Dalam, yang kemudian lama-kelamaan menjadi sebuah kampung yang ramai tempat menuntut ilmu agama Islam.

Sultan Tahmidullah yang pada ketika itu memerintah Kerajaan Banjar, sangat menaruh perhatian terhadap per-kembangan serta kemajuan agama Islam dikerajaannya, meminta kepada Syekh Muhammad Arsyad agar menulis sebuah Kitab Hukum Ibadat (Hukum Fiqh) yang kelak kemudian dikenal dengan nama Kitab Sabilal Muhtadin.

Sebelumnya, untuk keperluan pengajaran serta pendidikan, ia telah menulis beberapa kitab serta risalah-risalah, diantaranya ialah Kitab Ushuluddin yang biasa disebut Kitab Sifat Duapuluh, Kitab Tuhfatur Raghibin, yaitu kitab yang membahas soal-soal itikad serta perbuatan yang sesat, Kitab Nuqtatul Ajlan, yaitu kitab tentang wanita serta tertib suami-isteri, Kitabul Faraidl, semacam hukum-perdata. Dari beberapa risalahnya, dan beberapa pelajaran penting yang langsung diajarkannya, oleh murid-muridnya kemudian dihimpun dan menjadi semacam Kitab Hukum Syarat, yaitu tentang syarat syahadat, sembahyang, bersuci, puasa dan yang berhubungan dengan itu, dan untuk mana biasa disebut Kitab Parukunan. Mengenai bidang Tasauf (semacam Filsafat Ketuhanan) ia juga menuliskan pikiran-pikirannya dalam Kitab Kanzul-Makrifah.

Kitab Sabilal Muhtadin yang disebut di atas selengkapnya adalah Kitab Sabilal Muhtadin lit-tafaqquh fi amriddin, dan untuk singkatnya disebut Kitab Sabilal saja; dan artinya dalam terjemahan bebas adalah ”Jalan bagi orang-orang yang mendapat petunjuk untuk mendalami urusan-urusan agama”.

Dengan demikian maka Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary sekaligus adalah guru, ulama, dan teladan bagi muridnya, dan juga penduduk sekitarnya, ia telah berbakti kepada agama dan kehidupan itu sendiri dengan setulus jiwa-raganya.

Maka pada akhirnya, sebagai akibat dari semua itu, kelak kemudian hari, suri tauladan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary, seperti telah diriwayatkan di atas, membekas dan terpatri pada hati seluruh kerajaan dan penduduknya dengan kenyataan sebagaimana kita lihat sampai hari ini ialah demikian banyaknya mesjid, langgar, surau dan madrasah didirikan dan dibangun oleh penduduk di setiap desa, kampung dan kota di seluruh Kerajaan Banjar atau di Kalimantan Selatan sekarang ini. Dan Mesjid Raya Banjarmasin ini, berdasarkan sejarah serta riwayat sebagaimana telah disebut di atas, dipahatkan namanya : SABILAL MUHTADIN.

Desain keseluruhan

Desain keseluruhan bangunan mesjid, dengan kubah besar, tiang-tiang kokoh dan tegap serta dinding tebal dan padat yang keseluruhan dibalut oleh lebih kurang 14.830 M2 pualam kremmuda seakan memberikan suasana berat, kukuh dan kadang-kadang terasa menekan. Kesan ini timbul dari eksteriornya maupun interiornya. Keseluruhan keadaan bangunan mesjid seperti disebut di atas menjadi pertimbangan dalam memperhitungkan pembuatan elemen-estetik yang akan ditempatkan dalam ruang dalam dan luar bangunan mesjid itu.

Penetapan disain krawang untuk pintu-utama, pintu samping dan dinding, adalah upaya untuk memberikan keseimbangan antara ‘rasa berat’ yang ditimbulkan fisik bangunan dan ‘rasa ringan’ yang ditimbulkan oleh sifat ‘tembus pandang’ dari ornamen krawang tersebut. Lampu hias (chandelier) yang terdiri dari 17 buah unit gantungan dengan ribuan bola kaca tersusun dalam lingkaran bergaris tengah 9 M, menimbulkan ‘rasa-ringan’ yang ditempatkan sebagai kontras terhadap fisik bangunan itu sendiri.

Bangunan fisik

Mesjid Raya Sabilal Muhtadin ini dibangun di atas tanah yang luasnya 100.000 M2, letaknya ditengah-tengah kota Banjarmasin, yang sebelumnya adalah Komplek Asrama Tentara Tatas. Pada waktu zaman kolonialisme Belanda tempat ini dikenal dengan Fort Tatas atau Benteng Tatas. Bangunan Mesjid terbagi atas Bangunan Utama dan Menara; bangunan utama luasnya 5250 M2, yaitu ruang tempat ibadah 3250 M2, ruang bagian dalam yang sebagian berlantai dua, luasnya 2000 M2. Menara mesjid terdiri atas 1 menara-besar yang tingginya 45 M, dan 4 menara-kecil, yang tingginya masing-masing 21 M. Pada bagian atas bangunan-utama terdapat kubah-besar dengan garis tengah 38 M, terbuat dari bahan aluminium sheet Kalcolour berwarna emas yang ditopang oleh susunan kerangka baja. Dan kubah menara-kecil garis-tengahnya 5 dan 6 M.

Kemudian seperti biasanya yang ter dapat pada setiap mesjid-raya, maka pada Mesjid Raya Sabilal Muhtadin ini juga, kita dapati hiasan Kaligrafi bertuliskan ayat-ayat Al-Qur’an dan Asmaul Husna, yaitu 99 nama untuk Keagungan Tuhan serta nama-nama 4 Khalifah Utama dalam Islam. Kaligrafi itu seturuhnya dibentuk dari bahan tembaga yang dihitamkan dengan pemilihan bentuk tulisan-arab (kaligrafi) yang ditangani secara cermat dan tepat, maksudnya tentu tiada lain adalah upaya menampilkan bobot ataupun makna yang tersirat dari ayat-ayat suci itu sendiri. Demikian juga pada pintu, krawang dan railing, keseluruhannya dibuat dari bahan tembaga dengan bentuk relief berdasarkan seni ragam hias yang banyak terdapat di daerah Kalimantan.

Dinding serta lantai bangunan, menara dan turap plaza, juga sebagian dari kolam, keseluruhannya berlapiskan marmer; ruang tempat mengambil air wudhu, dinding dan lantainya dilapis dengan porselein, sedang untuk plaza keseluruhannya dilapis dengan keramik. Seluruh bangunan Mesjid Raya ini, dengan luas seperti disebut di atas, pada bagian dalam dan halaman bangunan, dapat menampung jemaah sebanyak 15.000 orang, yaitu 7.500 pada bagian dalam dan 7.500 pada bagian halaman bangunan.

Konsep estetika interior masjid

Peranan elemen-hias pada sebuah bangunan, bila diolah secara cermat dan diarahkan dengan tepat, akan tampak bukan saja sesuatu yang ‘indah dimata’ akan tetapi sekaligus dapat bermakna lain pada diri kita. Bisa jadi memberikan pengalaman batin yang menyentuh dan menimbulkan macam-macam perasaan, misalnya perasaan haru, kagum, syahdu dan seterusnya. Dengan ini berarti kita berbicara mengenai wawasan estetis dan pemilihan teknis dari seorang seniman untuk selanjutnya sebagai konsep dasar pijakan kreatifitasnya.

Sejalan dengan hal di atas, maka wawasan estetis pada bangunan Mesjid Raya Sabilal Muhtadin ini dilakukan dalam tiga pokok pijakan sebagai berikut. Pertama, sesuatu yang dapat memberikan dan menimbulkan rasa keagamaan yang lebih dalam. Kedua, ornamen-dekoratif yang selaras dan fungsional sesuai dengan arsitektur mesjid. Ketiga, sebagai ciri-khas atau identitas yang menunjukkan kekayaan kebudayaan lingkungan Kalimantan.

Kaligrafi

Atas dasar ini, maka elemen-estetik untuk mesjid-raya ini dibentuk dalam kaligrafi-arab dengan mengambil ayat-ayat Al-Quran, Asmaul Husna, yaitu 99 nama Keagungan Tuhan dan nama-nama 4 Khalifah Utama dalam Islam Kaligrafi ini kemudian dirangkai dan dipadu dengan unsur-unsur ragam-hias motif tumbuh-tumbuhan, yaitu sebagdi tradisi seni-hias pada bangunan bangunan mesjid seluruh dunia.

Bentuk floral (tumbuh-tumbuhan) ini memberikan sesuatu kesan hidup dan dinamis, akan tetapi yang terpenting adalah menghindarkan kecendrungan untuk menjadi gambar pemujaan, seperti halnya gambar yang bertemakan bentuk manusia dan hewan. Demikian pula ayat-ayat suci yang dituliskan dalam bentuk khat indah dengan Gaya Naski, Diwani, Riqah, Tsulus dan Kufik, kiranya menimbulkan rasa kekayaan citarasa dan khayal-seni untuk meluhurkan puja kepada Tuhan.

Kini, secara fisik, tidak ada yang perubahan mencolok dari masjid yang berdiri di atas areal lahan seluas 100.000 meter persegi di Jalan Jenderal Sudirman ini. Renovasi secara menyeluruh pun tidak pernah dilakukan sejak diresmikan. Rehab cukup signifikan dilakukan tahun 2005 silam, yaitu menjelang kedatangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk memperingati Lailatul Qadar pada 17 Ramadhan 1425.

Sabilal Muhtadin Kini

Pada prinsipnya semua masjid harus dijadikan sebagai wadah untuk meningkatkan hubungan kepada Allah dan juga kepada sesama manusia. Peningkatan hubungan ini akan membawa kepada kebeningan hati karena masjid tidak pernah mengenal status sosial seseorang.

Besarnya peran masjid untuk meluruskan hati nurani maka sudah sewajarnya bila masjid dijadikan skala prioritas sebagai sarana yang paling tepat untuk menyembuhkan penyakit hati. Agaknya tidak terlalu sulit untuk ditebak bahwa pejabat-pejabat yang sering mengunjungi masjid (bukan untuk persemian tapi untuk beribadah) akan memiliki kepekaan hati nurani yang sangat dalam bila dibanding dengan pejabat yang jarang ke masjid. Kepekaan ini muncul karena di dalam masjid tidak ada birokrasi dan sah-sah saja jika bahunya bersentuhan dengan seorang buruh yang kumal. Masjid pada umumnya tidak membawa kepentingan apa-apa kecuali untuk memperbaiki moral umat dan karena itulah masjid mudah menerima atribut-atribut yang berbeda

Sungguh ironis apabila kita hanya mengagumi tampilan fisik mesjid, tetapi lupa akan jiwa, niat dan aktivitas masjid. Padahal Rasulullah saw. bersabda, “Inna ‘Illaha la yandzuru ila suwarikum wala ila amwalikum. Walakin yandzuru ila qulubikum wa a’alikum” Sesungguhnya Allah tidak melihat penampilanmu dan kekayaanmu. Melainkan Dia melihat hatimu dan amalmu”. Bila prinsip ini diterapkan kepada penilaian masjid, maka yang dinilai seharusnya bukan hal fisik keindahan luar seperti tingginya kubah dan menara, mengkilatnya lantai granit dan empuknya permadani. Mahalnya lampu kristal. Indahnya ukiran ornamen di mimbar dan kaligrafi di dinding. Melainkan hal yang lebih abstrak berupa ketulusan niat membangun masjid.

Kemakmuran salat berjama’ah, kreativitas pemuda, kesucian sumber dana, kejujuran penyaluran dana, dan efektivitas dakwah yang dirasakan oleh masyarakat sekitarnya. Kebersihan fisik memang dianjurkan oleh Rasulullah saw., dengan melarang meludah dan makan sejenis bawang bila masuk masjid. Tetapi kebersihan batin juga disyari’atkan, dilarang berjual beli dan mengumumkan barang hilang di masjid.

Paradigma arsitektur masjid harus dikoreksi. Tampilan fisik masjid tidak penting. Keindahan bukan prioritas pertama. Fungsi pokok masjid harus didahulukan. Tegaknya syari’at di lingkungan sekitar masjid, kekompakan persaudaraan Islam, Kepekaan terhadap kesenjangan sosial adalah standar yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. dan para penerusnya. Setelah sasaran itu terlaksana, barangkali tidak mengapa sisa dana dipakai memperindah masjid.

Wallahu a’lam.

8 Comments »

  1. Mengagumkan, saya perawatannya.

  2. He he sayang perawatannya kurang serius

  3. qORI said

    sayang,aku jarang kemesjid ini tiap hari.

  4. Udah lama banget nich ga ke Sabilal………
    Jadi kangen ma kampung…

  5. Maryam said

    thanks bgt infonya neh. bmanfaat bgt bwat oral test q! bravo, Banjarmasin!

  6. erwansyah said

    wah manta banar klo ky gini…………bangga jadi urang banua q na………….

  7. Muhtadin said

    Mudah mudahan masjid bisa di rawat dan di makmurkan dan di jadikan sumber ilmu Agama Islam Amin.

  8. mina said

    sabilal adalah rumah ke dua bagi ku, smoga di perharikan perawatan dan kebersihan nya

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: