Andaikan Saya Jadi Presiden RI 2009

Saya hanya berandai-andai, bukan sungguh-sungguh ingin menjadi Calon Presiden apalagi menjadi Presiden terpilih di tahun 2009 nanti. Saya tak punya nyali, tak ingin bermimpi apalagi mempersiapkan diri, karena saat ini jangan harap anda akan jadi “kepala negara” kecuali anda punya percaya diri yang tinggi, tampil dengan gagah berani, punya duit bergoni-goni, punya stamina yang tak pernah mati, sibuk beranjang sana anjang sini, dan tebar pesona ke sana ke mari.

Saya juga tak mau jadi Presiden karena saya tidak sampai hati kalau kampanye harus berani tebar janji yang tak perlu ditepati, rajin memberi agar rakyat terbuai dalam mimpi, tampilkan diri seolah orang yang tulus dan baik hati, dengan harapan rakyat akan memilihnya saat Pilpres nanti.

Saya tidak pandai berbuat untuk meyakinkan diri, agar dipilih nanti, melakukan cara dengan memunculkan image diri seolah sangat islami, bisa menunjukkan kesan seolah keluarga yang harmoni, dan menghiasi media massa dengan aktivitas dan foto diri. Saya hanya bisa berandai-andai karena saya tak punya nyali untuk mencalonkan diri, karena saya merasa tidak sanggup melakukan cara-cara tidak etis dan cara tak terpuji, apalagi sampai berdusta dan mengelabui.

Jadi saya tak mungkin menjadi Presiden nanti, apalagi saya tak pandai mendekati partai politik dan melakukan transaksi layaknya jual beli dengan harga yang tinggi yang tak terjangkau kalau hanya seorang pegawai negeri kecuali memakai uang korupsi dan hasil sabetan sana-sini dari sponsor yang akan menagih kembali, ketika calonnya telah terpilih jadi pemimpin nanti.

Satu partai rasanya kurang berarti bagi orang yang berani dan berambisi, mereka melakukan koalisi dengan banyak partai, sekalian menunjukkan kepada rakyat bahwa dukungan terhadap mereka seakan tak bertepi. Tokoh masyarakat dan tokoh agama didatangi dan diminta mendukung dengan imbalan uang atau benda yang cukup berarti, sehingga tokoh atau yang menokohkan diri datang menjual diri kepada calon jadi yang rajin memberi.

Sekali lagi saya mohon dimengerti jika saya berandai-andai seperti ini, jangan anggap saya ingin mencalonkan diri, karena saya rasa lebih baik jadi rakyat seperti keadaan saya sekarang ini, yang bebas bersuara sekehendak hati, bebas bergerak ke mana ingin pergi, bebas pula berbuat apa yang diingini. Memang jadi rakyat biasa tidak merasakan dipuja dan dipuji oleh anak buah dan dayang-dayang yang mengabdi tetapi berharap imbalan materi, tidak pula dilayani dengan kualitas tingkat tinggi, dan fasilitas terbaik yang disiapkan kemanapun pergi.

Memang sebagai rakyat biasa tidak bisa juga memuaskan diri mengikuti kehendak hati, karena tidak punya cukup dana untuk membeli. Sebagai rakyat biasa juga saya tidak akan dapat merasakan disanjung dan dihormati, walau kadang hormat dan sanjungan yang diberi tak berasal dari hati.

Menjadi rakyat biasa memang kita tidak merasakan apa yang dirasakan para penguasa yang jika pergi berkunjung ke pelosok negeri, banyak yang mengiringi banyak pula yang menyambut bahkan dengan kenduri. Namun begitupun, tetap saja lebih enak jadi orang biasa seperti ini, akan jauh dari godaan korupsi, jauh dari dosa karena rakyat yang tersakiti, jauh dari dosa karena harus berbohong setiap hari, jauh dari dosa karena godaan yang selalu akan datang silih berganti.

Namun berandai-andailah namanya, katakanlah secara tidak sengaja, entah karena apa, entah karena siapa, dan entah datang dari mana, jika saya menjadi calon Presiden secara tidak disangka-sangka, saya tidak akan seperti mereka, saya tidak akan melakukan segala cara, apalagi cara yang bertentangan dengan aturan yang ada, begitu pula dengan cara yang berlawanan dengan jalan agama. Jikapun saya kalah, saya tidak akan marah apalagi sampai mengerahkan massa untuk membuat berdarah-darah. Saya tidak akan menyebar fitnah membuat masyarakat resah dan gelisah. Saya juga tidak akan cepat-cepat mengatakan pilpres tidak sah, penyelenggara telah berbuat salah, dan lawan telah melakukan kecurangan yang parah. Saya akan mengaku kalah, menerima dengan pasrah, kemudian memberi ucapan kepada yang menang serta mengingatkannya agar nanti dalam memimpin senantiasa memegang amanah.

Jika pun kemenangan ditakdirkan kepada saya, saya tak berani berpesta pora, saya tidak perlu berhura-hura apalagi sampai berbangga hati luar biasa, karena kemenangan yang diperoleh adalah cobaan dari-Nya. Dengan kemenangan yang membawa saya menjadi berkuasa, saya tidak akan berbuat semena-mena, karena niat saya bukan sekadar berkuasa, menumpuk harta, dan mengejar kenikmatan dunia, maka saya akan berusaha sekuat tenaga untuk membuat rakyat sejahtera, hidup bahagia, dan jauh dari derita dan nestapa.

Jika saya diamanahkan memimpin Indonesia, saya akan tetap mawas diri dan selalu waspada, senantiasa berdoa kepada Yang Maha Kuasa, agar saya senantiasa diberi petunjuk dan perlindungan dalam mengemban tugas luar biasa, agar terhindar dari kebijakan yang tercela yang membuat rakyat makin sengsara. Saya tahu perangkap akan senantiasa menganga menjerat saya. Saya sadar sepanjang kepemimpinan saya, godaan dan cobaan akan rajin mendatangi saya. Saya tidak ingin seperti pejabat yang ada di sebagian nusantara, banyak yang tergoda dan akhirnya masuk penjara, ada yang masih saat berkuasa ada pula saat usia sudah tua. Di dunia dia telah mendapat ganjarannya, bagaimana pula kelak di alam sana, tentunya siksa dan dera akan menimpa.

Jika calon lain menggunakan segala cara untuk berkuasa, saya tidak akan berbuat apa-apa kecuali menawarkan program. Jika dalam berkampanye, mereka asyik menabur dana dengan mengharapkan balas jasa berupa suara, maka saya justru berbuat sebaliknya dengan meminta rakyat turut membiayai dan turut memperjuangkan saya dengan sumbangan berapa saja, karena saya memang tidak punya harta. Bukan hanya dana yang saya minta, saya juga mengajak untuk bekerjasama dengan tenaga dan pikiran mereka untuk mewujudkan cita-cita mencapai rakyat sejahtera.

Kemenangan bukanlah tujuan utama, karena itu hanya sarana untuk mensejahterakan rakyat. Bila calon lain, saat kampanye menabur dana, maka nanti ketika berkuasa akan berupaya menimba uang sebagai pengganti yang sudah dibagi-baginya. Saya malah akan berbuat sebaliknya, ketika kampanye saya yang meminta dana untuk biaya pemenangan pilkada, maka sesudah berkuasa saya akan mengembalikannya kepada rakyat berupa program kerja nyata memperbaiki nasib mereka.

Dalam kampanye, saya tidak akan menonjolkan diri saya, karena saya bukanlah siapa-siapa, dan tak bisa berbuat apa-apa tanpa bantuan orang-orang yang ada di sekitar saya. Saya tidak menganggap diri saya sebagai sosok yang luar biasa dan serba bisa, karena saya hanya bagian dari sistem yang ada. Saya hanya ingin mengatakan akan berbuat semampu saya, dengan segala kelebihan dan kekurangan saya dan dibantu oleh seluruh perangkat yang ada. Saya akan katakan juga bahwa keberhasilan tidak muncul begitu saja, tetapi berdasarkan usaha dan kerja keras bersama. Jadi yang lebih saya tonjolkan adalah apa yang akan saya perbuat secara nyata dan siapa saja tim saya yang akan saya ajak bekerja sama, jika kelak saya dipilih dan ditakdirkan menjadi orang pertama. Jadi saya merasa bahwa program saya lebih penting daripada saya.

Apa yang disajikan di media massa dan apa yang disampaikan oleh juru kampanye saya, bukanlah mengenai diri saya, bukan mengenai keluarga saya, bukan pula berupa kunjungan saya ke berbagai acara yang dikemas untuk menaikkan popularitas saya. Apa yang disajikan adalah program yang saya akan lakukan ketika saya kebetulan mendapatkan amanah untuk berkarya, yaitu apa program saya untuk berbagai sektor pembangunan termasuk jalan keluarnya, dan darimana sumber dananya. Saya juga akan meminta tim sukses dan juru kampanye saya untuk tidak sekadar menabur janji semata, tidak hanya berhenti di kulit dan assesori belaka, tetapi langkah nyata apa yang akan dibawa lengkap dengan target pencapaiannya.

Dalam berkampanye, saya juga tidak akan mengumpulkan massa, karena hal itu membutuhkan banyak dana yang justru kurang manfaatnya. Massa diarak-arak ke lapangan terbuka, dihibur dengan musik dan hiburan yang justru membuat terlena, tidak ada materi konkrit yang dibicarakan di sana. Lebih parah lagi mengejek dan menyindir pesaingnya dengan ungkapan-ungkapan yang sangat berbisa, adu domba, dan propaganda. Saya pun tidak akan membagi-bagi kaos bergambar wajah saya, karena saya anggap seperti mengultuskan saya. Lagi pula betapa besar biayanya untuk pencetakan kaos yang biasanya banyak jumlahnya, tidak pada tempatnya biaya yang begitu besar jumlahnya hanya digunakan untuk sesuatu yang kurang besar manfaatnya.

Saya pun tidak akan terlalu banyak menyebar spanduk, baliho, dan tanda gambar saya, karena rasanya tampang saya biasa-biasa saja dan tak pantas dipamerkan di mana-mana. Saya merasa dengan membuat gambar saya di mana-mana tidak akan banyak gunanya untuk meraih suara. Saya meyakini orang akan memilih saya bukan karena tampang saya, tetapi karena komitmen saya, kompetensi saya, program kerja saya, serta visi dan misi saya.

Saya juga akan tampil apa adanya, tidak akan mematut-matut diri untuk dianggap sebagai manusia sempurna yang tanpa cela. Saya juga tak merasa perlu memaksakan diri untuk terlihat sebagai manusia luar biasa yang serba bisa. Saya akan tetap menunjukkan sifat dan sikap saya yang sebenarnya, baik kelebihan saya maupun kekurangannya. Orang harus menilai saya apa adanya, karena saya adalah manusia biasa tentunya saya memiliki sifat baik dan sifat buruk juga. Sebagai orang beragama saya akan selalu berusaha untuk tidak melangar ajaran agama saya dan berusaha melakukan perbuatan yang baik-baik saja, namun sebagai manusia biasa, pastilah saya pernah melakukan perbuatan dosa, yang saya harus pertanggungjawabkan kepada Yang Maha Kuasa. Hanya saja jika berbuat dosa, saya hanya bisa memohon ampun kepada-Nya dan berusaha untuk tidak mengulanginya. Dari segala kekuatan dan kelemahan yang ada pada saya, saya serahkan kepada rakyat untuk menilai saya, apakah saya pantas menjadi pemimpin mereka, dengan segala konsekuensinya, yaitu memanfaatkan segala kelebihan saya dan mengantisipasi serta menutupi setiap kekurangan saya.

Karena saya ingin tampil apa adanya, saya juga tidak akan mengikuti calon lainnya yang banyak berpura-pura menjadi seorang penderma. Saya juga tidak mau hanya karena ingin berkuasa tiba-tiba menjadi ramah dan rajin beranjang sana atau tiba-tiba menjadi rajin bersilaturrahmi mengunjungi berbagai acara. Saya akan berbuat secara proporsional saja, kalaupun akan menyumbang, saya hanya memberikan sumbangan sesuai kemampuan saya yang memang uangnya tidak seberapa, karena yang penting bukan besarnya tetapi ikhlasnya. Kalaupun akan menghadiri acara, saya akan datang sebagaimana mestinya sesuai undangan yang ada, bukan untuk menonjolkan diri saya apalagi untuk berkampanye ria.

Jika seandainya saya jadi Presiden, saya tidak akan menggunjing pesaing saya apalagi menyebarkan kebencian dan memancing permusuhan kepada mereka. Saya tetap menganggap mereka saudara saya yang mempunyai niatan dan tujuan yang sama untuk memajukan bangsanya. Jadi sangat jauh dari hati saya untuk membusuk-busukkan mereka, mencari-cari kelemahan dan kesalahan mereka. Saya juga tidak tega menyakiti hati mereka dengan mengungkap aib mereka, apalagi memfitnah mereka dengan cerita mengada-ada yang bertujuan semata-mata untuk menghancurkan nama baiknya. Saya akan tetap berusaha menjalin hubungan baik dengan mereka ketika saya kalah suara apalagi saat saya yang berjaya.

Sebagai Presiden, saya tidak ngotot harus berjaya, karena kemenangan bagi saya bukanlah segalanya. Bagi saya, kalah dan menang adalah biasa, saya yakin semuanya terjadi tidak terlepas dari Yang Maha Kuasa. Kalah tidak mengapa, menang pun bukan hal yang istimewa. Namun bukan berarti saya tidak berusaha dan tidak berbuat apa-apa. Saya tetap berusaha dengan segala kemampuan yang ada sembari terus memohon kepada-Nya agar terhindar dari celaka dan selalu berada di jalan yang diridhoi-Nya. Jika sudah kehendak-Nya, tidak akan ada yang menghalangi saya, pasti jalan akan selalu ada, namun jika sekiranya tidak dikehendaki-Nya, apa pun yang dilakukan tidak akan menghasilkan apa-apa. Ini artinya, Allah menentukan tempat mengabdi lain yang lebih baik bagi saya, dan saya akan pasrah menerima ketentuan dari-Nya.

Sudah cukup kiranya saya paparkan lamunan dan khayalan, saya tidak tahu apakah pembaca akan bosan, tidak berkenan, atau menganggap saya keterlaluan, namanya saja angan-angan, tidak bermaksud benaran, jadi kalau sekiranya ada ungkapan yang keterlaluan, mohon kiranya dimaafkan terutama pada Presiden benaran yang sekarang sedang siap-siap memasuki ajang pertandingan. Saya tidak menyindir apalagi menyalahkan, saya hanya mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran. Jadi jika sekiranya ada dirasa yang mengandung kebenaran, silahkan diambil dan dilaksanakan demi kebaikan bangsa di masa depan. Sungguhan ??? Ya, benaran, yang ini bukan angan-angan !!!

3 Comments »

  1. TAMBAL BAN said

    ada yg mau dukung saya…saya juga mau jd presiden….walau tukang tambal…hehe

  2. tomy said

    melayani tidak untuk dilayani
    Siapkan mental, spiritual dan intelektual kita untuk menjadi bagian penyelesaian persoalan karut marut negeri ini. Sebab jika kita bukan bagian dari penyelesaian masalah, boleh jadi kita adalah merupakan bagian dari persoalan negeri ini.

  3. helga said

    aku doaakan akan tercapai,aku minta no hp nya dong

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: