Membangun Daya Kritis Warga Banua

Secara teoritis, sistem nilai dan budaya masyarakat akan ikut berpengaruh terhadap sikap dan perilaku politik yang ditampilkan masyarakat itu sendiri. Dari hal seperti inilah kemudian dikenal istilah budaya politik (politic culture) yang dianut oleh suatu bangsa dan komunitas masyarakat tertentu. Budaya politik inilah yang membentuk sikap dan perilaku politik masyarakat, baik dalam menentukan pilihan maupun mengambil keputusan. Cita-cita, harapan, dan keinginan dalam percaturan politik di negeri ini mencerminkan hal tersebut.

Perilaku politik yang terjadi di tengah-tengah masyarakat kita hari ini tidak terlepas dari peran partai politik yang ada dan juga para politisi kita yang merupakan tokoh yang menjadi contoh bagi masyarakat. Peran partai politik yang berlangsung saat ini memang dirasakan kurang berjalan secara maksimal. Partai politik tidak mampu melakukan transformasi nilai-nilai pendidikan politik bagi masyarakat. Masyarakat hanya dijadikan objek kepentingan yang ada di dalam partai politik tersebut. Tidak beda halnya dengan tokoh-tokoh politisi yang ada.

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Bupati dan Wakil Bupati di beberapa kabupaten di Kalsel diharapkan mampu melakukan perubahan ke arah yang lebih baik bagi masyarakat banua. Bukan hanya perubahan pada fisik daerah saja akan tetapi mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik akan pola tingkah laku masyarakat dalam menentukan pilihannya.

Akan tetapi pelaksanaan sosialisasi awal yang dilakukan oleh para calon kepala daerah ini tidak mencerminkan sikap pendidikan yang benar bagi masyarakat. Para calon kepala daerah lebih cenderung menunjukkan kekuatan dukungan dan dananya melalui berbagai media sosialisasi yang ada. Tetapi tidak lebih menekankan akan penyadaran bagi masyarakat untuk membangun tingkat kekritisannya dalam menghadapi pesta demokrasi lokal ini. Terlebih bahkan para calon lebih menunjukkan jarak yang jauh antara kehidupan masyarakat akar rumput dengan kandidat calon yang akan maju.

Membangun Kritis Umat

Benarkah umat Islam di daerah Kalsel ini tidak kritis terhadap segala aspek kehidupan yang ada, khususnya tentang permasalahan demokrasi? Melihat kondisi umat Islam dan masyarakat kita yang secara umum masih memprihatinkan, maka sangat besar kemungkinan pembangunan di daerah ini tidak akan berhasil untuk melakukan pencerdasan dan kesejahteraan umat. Upaya untuk membangun dan menyadarkan masyarakat untuk lebih kritis memang merupakan hal yang tidak mudah. Meski begitu, tetap saja usaha dan program kerja untuk mengubah sikap mental dan memperbaharui cara berpikir masyarakat itu harus selalu dilakukan, agar umat tidak hanya menjadi korban politik atau tumbal dari pembangunan.

Berbagai cara dan media sebetulnya bisa dicoba dan diterapkan untuk membangun kesadaran kritis masyarakat. Demikian pula, berbagai lembaga dan semua orang sebetulnya bisa ambil bagian dan peran untuk membangunkan masyarakat. Sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya, upaya untuk membangunkan masyarakat itu bisa dilakukan melalui media budaya, politik, pendidikan, jalur informal dan nonformal dan lain sebagainya.

Sebagai bagian kecil dari masyarakat yang terdidik di negeri ini sudah seharusnya kita harus melakukan peran yang maksimal dalam melaksanakan proses penyadaran dan pendampingan pada tingkat akar rumput. Masyarakat terdidik seharusnya tidak hanya melulu masuk dalam arus besar kebijakan pembangunan sosial dan politik saja, akan tetapi juga masuk pada persoalan-persoalan yang lebih kultural lagi, seperti penyehatan pola pikir masyarakat.

Sedangkan jalur lain yang bisa dimanfaatkan untuk membangunkan masyarakat juga sesungguhnya cukup banyak tersedia dalam kehidupan masyarakat kita. Kita tidak harus menunggu partai politik melaksanakan perannya kepada masyarakat, karena kita tahu sama tahu bahwa partai politik kita saat ini belum mampu melakukan tugasnya sebagai sarana pendidikan politik bagi masyarakat menjadi prioritas utama kegiatan partai. Kita mampu melakukan hal itu melalui media pendidikan maupun pendekatan budaya yang bias kita manfaatkan.

Dari pendekatan budaya sebenarnya banyak yang mampu kita perbuat. Majelis taklim, pengajian, dan lain hal yang sejenis lagi dengan itu merupakan wadah yang cukup mampu melakukan penyadaran bagi masyarakat. Pengajian tidak hanya monoton berbicara tentang hubungan individu dengan tuhannya tetapi juga lebih harus dibarengi dengan membangun kesadaran anggota pengajian terhadap hubungan dengan masyarakat, bangsa dan negaranya. Sehingga media ini benar-benar mampu dijadikan sarana untuk meningkatkan daya kritis masyarakat dan memunculkan kearifan lokal.

Terlebih lagi dalam momen Pilkada misalnya, diharapkan umat Islam yang mayoritas menghuni Kalsel ini harus benar-benar menggunakan rasionalitasnya untuk memilih kepala daerah yang mampu membangun daerah dan hubungan yang baik terhadap masyarakatnya. Pengajian-pengajian yang ada bukan lantas digunakan sebagai sarana kampanye salah satu calon, akan tetapi lebih mengajak dan menyadarkan anggotanya untuk tetap kritis dalam menanggapi persoalan yang ada.

Sedangkan melalui program jangka panjang, salah satu jalan untuk memperkuat daya kritis masyarakat saat ini adalah lewat pendidikan. Bagaimana sistem pendidikan kita ditata kembali, kurikulumnya dibenahi dan aspek-aspek lainnya diperbaiki. Sehingga proses pendidikan yang terlaksana dinegeri ini benarbenar sesuai dengan makna substantive dari pendidikan itu sendiri, yakni membangun proses penyadaran bagi masyarakat terhadap segala hal yang terjadi di negeri ini. Pendidikan bukan menjadikan peserta didik sebagai objek tetapi lebih melibatkan peserta didik dalam membangun pola pikir dan kesadarannya serta tanggap terhadap setiap permasalahan yang ada.

Sikap kritis masyarakat yang terbangun melalui media-media yang ada ini pada akhirnya akan menjadi modal budaya untuk meningkatkan posisi dan daya tawar masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam hal ini adalah momen Pilkada. Sehingga adanya sebuah otokritik yang dilakukan masyarakat terhadap pemerintahan yang ada. Apa yang dilakukan oleh masyarakat melalui otokritik yang dibangunya pada dasarnya untuk kemajuan dan kesejahteraan bersama sehingga pemerintah benarbenar mengoreksi setiap langkahlangkah kebijakan pemerintah terhadap masyarakat.

Penutup

Memperhatikan realitas politik masyarakat kita berikut dengan potensi dan lembaga-lembaga yang ada, maka mendesak dilakukan adalah menata jaringan dan mengorganisir kekuatan yang tersedia. Kekuatan yang berserak dan sumberdaya yang tidak terorganisir dengan baik akan memperlambat upaya untuk membangunkan masyarakat dari candu kehidupan yang menumpulkan daya kritis mereka. Dengan meningkatkan kesadaran kritis di tengah-tengah kehidupan masyarakat, maka tidak ada lagi masyarakat yang menjadi tumbal dari tiaptiap kepentingan politik yang ada. Masyarakat telah mampu melakukan analisis permasalahan dan mampu merespon segala permasalahan yang ada sehingga pada akhirnya diharapkan masyarakat mampu melahirkan solusi terhadap permasalahan yang ada.

Pilkada yang merupakan salah satu pilar demokrasi seharusnya lebih memberikan pendidikan politik bagi masyarakat bukan malah memperbodoh masyarakat melalui money politics, dan janji-janji basi belaka tetapi juga memberikan kebebasan bagi masyarakat untuk menggunakan haknya dalam melakukan pengkajian terhadap tiap-tiap calon yang ada dan memberikan kewenangan yang lebih bagi masyarakat untuk mengajukan calon kepala daerah yang sesuai dengan kriteria yang diharapkan oleh masyarakat itu sendiri. Sehingga masyarakat bukan hanya menjadi tumbal-tumbal politik saja, akan tetapi masyarakat yang menjadi penentu utama dalam memilih calon pemimpin yang mampu membawa kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan pembangunan daerah.

4 Comments »

  1. ass…
    masyarakat kita sebenarnya adalah masyarakat yang eksplosif, yang kalau potensi ledakan itu bisa disalurkan denga baik tentu menghasilkan sesutau yang luar biasa ke depannya, namun masyarakat kita terkadang ter-hegemoni dengan hal-hal yang kadang tidak cerdas dan substasial. ceileeeehh… saya sok tau pak…
    jabat erat!

  2. urang_banjar said

    Aku bnere2 benci dan benci banget dengan pemimpin2 pemerintah kalsel dan kabupatennya, mereka buta dan tuli walau mereka punya mata dan telinga……..bagaimana tidak???? angkutan batu bara makin meraja lela dn menyengsarakan rakyat. Dulu Rudy Arifin dan Gusti Khairul Sholeh (Bupati banjar) ketika kampanye membawa bawa nama Ualama Besar Kalimantan, Syekh Zaini Ghani………..tp apa dinyana, tindakan dan kebijakannya sangat jauh dari apa yang diharapkan tuan Guru dan rakyat Kalsel………Hati-hatilah anda wahai pemimpin, anda mengkebiri ulama demi kepentingan dunia yang sesaat dan sedikit dan memperkaya diri sendiri……..tap[i ingat anda akan mati juga, tunggulah balasannya atas tindakan anda menzalimi ulama dan rakyat.
    Masih ada waktu untuk bertobat……semoga anda diberi bimbingan oleh Allah swt, masih ada waktu 2 tahun untuk memperbaiki diri.
    Wassalam

  3. Nagyon érdekes nyelven beszéltek srácok:)
    Üdv, Loyal Munkaruha

  4. Reszkessetek! Visszatértem szemetelni😀

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: