Urang Banjar dan Tirani “Kebebasan”

Pernah dimuat pada harian Radar Banjarmasin/ Sabtu, 21 Juni 2008

Seorang kawan pernah bercerita tentang seorang kenalannya yang berkewarganegaraan asing. Kabarnya ia lebih senangnya memilih tinggal di Banjarmasin ketimbang di negaranya. Apa pasal? Bukankah di negara asalnya segala sesuatu serba tersedia. Masyarakatnya jauh lebih terpelajar dan modern. Kemudahan hidup dengan berbagai penunjang teknologi tingkat tinggi bisa ditemui di mana-mana. Pelayanan terhadap masyarakat pun jauh lebih berkualitas.

Sang bule hanya menjawab, karena di Banjarmasin dia bisa bebas “melakukan apa saja”. Tanpa adanya berbagai macam larangan yang berkaitan dengan disiplin hidup, dan tentunya tanpa semua denda berlipat yang mengikutinya.

Mendengar cerita ini muncul sebuah kegelian sekaligus keprihatinan. Bagaimanapun juga menjadi sebuah hal yang ironis, ada seseorang yang lebih “cinta” banua kita dengan alasan yang justru membuat daerah kita memiliki kelebihan dibanding negaranya sendiri. Berbeda dengan alasan pemungutan pajak yang lebih rendah misalnya, yang mungkin relatif bisa diterima.

Keprihatinan yang muncul tentunya apabila kita mencoba merefleksikan alasan “kebebasan hidup” yang ia kemukakan dengan kondisi faktual di banua kita. Tanpa berusaha mengaitkannya dengan era reformasi, memang harus kita akui di daerah ini kita benar-benar bisa hidup dengan “bebas” dalam arti yang sebebas-bebasnya.

Bukan pemandangan yang luar biasa apabila ada sebuah mobil mewah melintas di depan kita lalu menerbangkan “sesuatu” dari jendelanya yang sedikit terbuka ke jalan raya. Sesuatu itu bisa bermacam-macam. Bisa kulit rambutan, bungkus makanan ringan, kertas tissue, puntung rokok, sampai gelas air mineral. Sebuah hal yang luar biasa apabila pemilik mobil mewah itu ternyata tidak terpelajar. Terlepas dari masalah kualitas otak, tampaknya bangsa kita memang sudah sepakat menjadikan berpuluh ribu pulau wilayah kedaulatan bangsa sebagai tempat sampah terbesar di dunia. Silakan buang sampah di tempat yang anda suka.

Saya juga jadi ingat pemandangan beberapa minggu yang lalu. Ada seorang tukang ojek yang dengan santainya (maaf) pipis di peruntukan lahan hijau sebuah taman kota. Tempat pipisnya pun tidak jauh dari perempatan yang padat oleh lalu lintas. Padahal ia bisa memacu motornya sebentar ke mushalla terdekat untuk mencari WC umum.

Sambil agak geli, tampaknya ada lagi sebuah kesepakatan di antara warga banua kita. Indonesia konon juga adalah WC umum terbesar di dunia. Kebelet pipis? Take your spot anywhere. Sebuah pelayanan masyarakat tingkat tinggi yang sangat menjunjung tinggi kebebasan asasi manusia untuk pipis. Saya yakin BAB sudah tercakup di dalamnya.

Selama sekitar beberapa minggu, di dekat perempatan padat lalu lintas saya juga cukup mengamati bagaimana kecenderungan perilaku para pengendara. Yang paling saya ambil pelajaran adalah kapan waktu terbaik anda menyeberang jalan di perempatan. Secara normatif, ada korelasi yang cukup erat antara lampu merah dengan laju kendaraan. Lampu merah menyala, kendaraan berhenti, anda bisa menyeberang dengan tenang. Bahkan tanpa harus toleh kiri-kanan.

Faktanya tidak. Lampu merah menyala ternyata tidak lantas membuat orang menghentikan atau memperlambat laju kendaraan. Hampir di setiap saat lampu merah menyala banyak kendaraan justru berebut menggunakan kesempatan dalam kesempitan untuk secepatnya mencapai ruas jalan berikutnya. Alih-alih memperlambat dan kemudian menghentikan laju kendaraan, lampu merah menyala ternyata justru menjadi kode bagi mereka untuk menginjak gas kencang-kencang.

Hanya ada satu pilihan bagi para penyeberang. Benar-benar melihat sendiri dan memastikan bahwa semua kendaraan sudah berhenti di depan mata sebelum menyeberang. Itupun belum menjamin keamanan. Karena acapkali sebagian kendaraan yang ”belok kiri boleh langsung” melakukannya tanpa menyalakan lampu sen.

Terkadang saya membayangkan diri menjadi seorang Clark “Superman” Kent dan bisa bebas menyeberang tanpa harus melakukan itu semua. Kalau kendaraan mereka ringsek menabrak saya toh bukan saya yang salah. Saya tinggal terbang ke perempatan lain buat iseng-iseng melakukan hal yang sama. Sayang saya bukan “manusia super” itu.

Sebelum berlarut-larut dengan berbagai contoh yang lain, satu hal yang harus digarisbawahi. Mereka melakukannya dengan bebas tanpa konsekuensi apapun. Kelihatannya konsekuensi baru muncul apabila ada nyawa yang melayang di perempatan jalan. Atau ada pejabat pemerintah yang terganggu karena lingkungan rumahnya bau pesing. Atau anggota DPRD yang merasa pusing dengan bau sampah yang menyengat di sekelilingnya.

Jadi apa kesimpulannya. Kalau anda adalah seorang opportunis, silakan nikmati “kebebasan” yang anda peroleh di banua ini. Tetapi kalau anda seorang idealis, tampaknya anda harus sering-sering melakukan terapi anger management.

3 Comments »

  1. terlalu banyak memang kebebasan yang sudah kebablasan pak, sedih saya melihat,
    saya ingin belajar menulis dengan bapak nih,,,
    wah saya pertama komentnya…
    jabat erat dan tabik!

  2. hidayanti said

    horeeeeeeeeee saya nomer 2!!!!

    salam kenal pahlawan tanpa tanda jasa….!!!semoga lahir pahlawan2 penegak keadilan dari didikan bapak aminnnnnnnnnnnnnn

  3. ade' Ns said

    wah, kalau saya pribadi mungkin punya pendapat bahwa di negara kita kedisiplinan harus ditegakkan dengan ‘paksa’. minggu lalu saya pernah mengisi bahan bakar di suatu pom bensin, bayangkan di areal pom bensin tersebut seorang lelaki jongkok dengan santainya sambil merokok tanpa merasa bersalah. bayangkan! lantas saya panggil petugas pom bensin tersebut untuk menegur orang tadi. jadi tingkat kesadaran akan tanda atau rambu-rambu sepertinya hanya gambar biasa sebagai hiasan dan masih banyak lagi hal-hal yg sering kita lihat pelanggaran yang dianggap sudah ‘biasa’, so what!.

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: