Antara FPI, Gus Dur Vs Media

Saling “mengkafirkan” dan saling menghalalkan darah, itulah akibat kalau kita beragama dengan nafsu, bukan dengan ilmu dan akal. Pemandangan seperti inilah yang selama ini telah mengharu-biru wajah umat Islam, terutama di negeri kita.

Ada Front Pembela Islam (FPI) yang diberitakan dan diisukan berisi orang-orang yang kasar dan anarkis. Tentu teman-teman di FPI tidak bisa terima kalau dibilang kasar dan anarkis. Namun setidaknya, tuduhan itulah yang kerap mereka terima. Ada juga model Gusdur yang punya pandangan selalu menyalahi mainstream umat Islam. Sehingga seringkali terdengar celetukan dan lontaran yang kadang nyeleneh dan membuat panas telinga lawan politiknya, terutama mayoritas umat Islam.

Padahal kedua belah pihak sama-sama mengaku muslim, sama-sama shalat lima waktu sehari semalam, dan sama-sama berjuang demi tegaknya agama Islam.

Sayang sekali kalau tokoh-tokoh umat Islam yang masing-masing punya pengikut itu malah saling bertengkar sendiri, apalagi sampai saling mengkafirkan. Berarti memang ada masalah yang belum terselesaikan dalam wilayah komunikasi internal di tubuh umat Islam.

Setidaknya, kalau mau diskusi atau saling kritik, kenapa tidak dilakukan di tempat khusus, dan juga langsung kepada tokoh-tokoh intelektualnya. Bukan perang tudingan di media. Namanya media, mereka memang paling suka kalau melihat umat Islam saling tikam satu dengan yang lain. Sensasi, itulah yang mereka ingini.

Sebenarnya umat Islam ini sudah bosan kalau harus tiap hari membaca berita yang isinya kurang bermutu itu. Dan kita seharusnya merasakan rasa sakit yang tak terkira ketika melihat tokoh-tokoh dari masing-masing elemen umat diadu domba seperti itu.

Berita tidak bermutu itu misalnya tentang partai umat Islam yang saling berpecah belah di dalamnya sehingga mereka bukan sekedar saling maki, tetapi sampai berantem secara fisik. Konyol dan jauh dari kesan terpelajar memang. Tapi kenapa pula yang seperti itu yang jadi berita?

Umat Islam butuh informasi yang lebih menyegarkan dan menjadi solusi kehidupan. Bukan sensasi dan luapan amarah yang tidak ada nilai produktifnya.

Mengapa kita jarang mengangkat berita yang isinya bagaimana pak Joko yang orang Indonesia asli dari Jawa Timur itu telah berhasil menciptakan mobil berbahan bakar air laut, sehingga bisa menjadi solusi dari naiknya BBM? Mengapa kita jarang membaca berita yang isinya bagaimana hak-hak bangsa ini telah dipecundangi oleh para mafia Berkeley yang telah bercokol bertahun-tahun? Mengapa kita jarang membaca tulisan yang mengangkat bagaimana para mahasiwa kita di Jepang telah mampu menciptakan reaktor nuklir yang bisa dimanfaatkan untuk pembangkit listrik?

Mengapa kita lebih suka mengangkat opini yang bersifat sensasi ketimbang berita kemajuan umat dengan berbagai prestasi? Tanya kenapa?

FPI dan Media

Lepas dari apakah kita setuju atau tidak dengan sikap terjang FPI, tapi harus diakui bahwa umumnya media memang agak berlebihan ketika memojokkan FPI.

Kalau kesannya aksi-aksi itu anarkis, memang liputannya memang dibuat sedemikian rupa, setidaknya kesan anarkis itu memang diekspose, entah tujuannya untuk memojokkan posisi FPI, atau untuk menggambarkan betapa umat Islam itu anarkis atau memang sekedar kerjaan insan media yang haus sensasi.

Namun bukan berarti kami setuju 100% apa yang dilakukan oleh teman-teman FPI, sebagai sebuah gerakan, tidak berarti semua kerja FPI bersih 100% dari hal-hal yang kurang sejalan dengan agama Islam itu sendiri. Setidaknya, kesan bahwa Islam itu anarkis, sudah berhasil diidentikkan pada sosok FPI. Dan ini tentu saja merupakan salah satu bentuk hasil yang masih perlu didiskusikan lagi dengan para petinggi di FPI.

Misalnya, apakah kinerja yang selama ini sudah dijalankan, memang benar-benar bisa mengurangi kemaksiatan secara efektif?Apakah para pelaku kemaksiatan memang benar-benar berhenti dari kelakuannya, ataukah hanya sekedar berhenti sejenak menunggu momentum lainnya?

Juga ada beberapa pertanyaan lain, misalnya, bagaimana menghilangkan kesan anarkis yang terlanjur disematkan oleh insan media yang anti Islam itu? Bagaimana mensikapinya? Apakah itu dianggap merupakan resiko perjuangan ataukah memang sebuah hasil yang masih bisa disempurnakan lagi?

Darah Pengikut Ahmadiyah Halal?

Memang benar bahwa darah seorang yang murtad itu halal. Namun rasanya agak terburu-buru bila kita harus “memancung” leher para pengikut Ahmadiyah itu dengan beberapa pertimbangan.

Misalnya, apakah sudah ada keputusan resmi dari penguasa tentang kafirnya orang per orang dari pengikut Ahmadiyah itu? Keputusan ini sangat dibutuhkan, karena ini menyangkut status hukum. Tentu tidak benar kalau vonis kafir hanya lahir dari siapa saja yang bisa bicara dan punya massa. Apalah guna sebuah pemerintahan dan juga para ulama?

Lalu ada masalah lainnya lagi, sejauh mana kedaulatan umat Islam dan kekuasaannya untuk dapat melakukan eksekusi atas vonis kafir itu? Pertanyaan ini juga penting untuk dijawab, lantaran Rasulullah SAW pernah bersabda: “Hindarilah hukum hudud itu kalau masih adanya syubuhat”. Artinya, meski secara hukum memang dibenarkan membunuh orang yang murtad, berzina dan pembunuh nyawa, namun pada kenyataannya Rasulullah SAW tidak terlalu mudah mengayunkan pedang untuk merajam sang pezina.

Bahkan sampai seorang wanita pezina harus berkali-kali meyakinkan beliau SAW agar dirinya dihukum mati saja, karena telah pernah menikah sebelumnya tapi berzina. Dan berkali-kali pula Rasulullah SAW mencari alasan agar wanita itu tidak perlu sampai dirajam.

Husnudzdzhan dan Santun

Yang dibutuhkan oleh bangsa dan umat ini sebenarnya adalah sikap huznudzdzan dan sikap santun dalam berkomunikasi. Dengan dua pola pendekatan ini, rasanya tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan.

Kalau belum apa-apa kita sudah main tuduh duluan, apa pun jadi jelek dalam pandangan kita. Semua orang akan jadi pesakitan di mata kita. Dan semua pihak akan jadi lawan kita. Dada kita akan sesak dipenuhi purbasangka yang tidak ada ujung pangkalnya.

Sebaliknya, walau pun niat dan tujuan kita mulia, tetapi ketika kita kurang pandai dalam berbahasa, kurang santun dalam menyampaikan isi hati, kurang berempati dalam bertutur, maka apa yang niatnya baik bisa jadi malah tambah buruk.

Seorang tokoh, siapa pun dia, tidak salah kalau pandai memilih ungkapan dan istilah yang baik-baik. Akan punya nilai tambah bila mulutnya tidak asal bunyi, lontaran pemikirannya disampaikan dalam bahasa yang sejuk. Sehingga orang yang mendengarnya semakin mendapat ilmu dan wawasan yang positif.

Yang seharusnya keluar dari lisan setiap orang yang mengaku muslim bukan sensasi murahan yang tidak bertanggung-jawab. Tetapi hendaknya berisi kebenaran hati nurani yang mengandung hakikat dan makna yang dalam untuk direnungkan oleh siapa pun.

Dan kita memang mengalami krisis pemimpin yang hatinya baik, santun dalam berbicara dan bersikap, serta berilmu dan selalu membawa solusi. Yang kita punya umumnya hanya menonjol di satu sisi tapi kurang di sisi yang lain. Ada yang hatinya baik, tapi bahasanya kurang enak didengar. Sebaliknya, ada yang lidahnya manis sekali, tapi hatinya lebih jahat dari Batara kala.

Ada yang berilmu, tapi ilmunya hanya teori, kurang bisa membaca solusi yang pasti. Ada yang bisa memberi usulan solusi, tapi tidak ditunjang dengan ilmu yang kuat. Dan begitulah seterusnya.

Rasanya ke depan nanti, kita wajib lebih mensosialisasikan kesantunan bahasa dan juga kebaikan persangkaan terhadap sesama muslim. Dan dialog yang komunikatif serta intensif antar elemen umat sudah tidak bisa ditunda-tunda lagi. Karena bila tidak demikian, yang paling dirugikan adalah diri kita sendiri.

Wallahu a’lam bishshawab

3 Comments »

  1. Saya pun prihatin dengan semua ini. Kapan bangsa kita sembuh dari sakit rohani dan menemukan kembali akal sehatnya?

  2. uus said

    saya baru baca 1/2 udah cape.
    cape euy.. + deh
    salam – UUS

    —– Pesan Asli —-
    Dari: das albantani
    Kepada: wongbanten@yahoogroups.com
    Terkirim: Kamis, 5 Juni, 2008 20:49:37
    Topik: [WongBanten] Fwd: POLITIK LAMA : FPI PRO INTELIJEN VS GUSDUR ?

    cape juga bacanya…huehuhuuh u
    tapi sy forward dari mailist tetangga aj ke kawan2 biar sama2 cape…

    Note: forwarded message attached.
    Send instant messages to your online friends http://uk.messenger .yahoo.com

    DIKUTIP DARI :

    bukuSATRIO PANINGIT, BENCANA NUSANTARA, MANUNGGALINGKAWULOGUSTI dalam
    UNIVERSALITAS KEAGAMAAN
    ISBN:978-979-17824-0-1/barcode ,HARGA RP 20.000,—
    Distributor Tunggal Buku :
    Info Pembelian Buku dapat dibeli di:
    Bustanus/Mimi Oktiva di Warnet Nusantara-Jayanegara, Jl. Jayanegara 11/17
    Jombang-JawaTimur,
    Telp 0321 862137 atau sms/telpon di HP: 0818 08052575

    Dari sini kita dapat menyimpulkan Prinsip universalitas Keagamaan :
    * Setiap Kitab agama apapun mengajarkan kebaikan akhlak , berbuat baik
    dengan ikhlas dengan menegakan hukum keadilan yang disepakati bersama
    * Surga milik mereka yang berbuat baik dengan ikhlas dan bukan dominasi
    ekslusif pemeluk agama tertentu
    * Mempercayai adanya Tuhan yang Maha Esa yang artinya Tuhan semua agama
    adalah sama dan Hak Prerogatif Tuhan untuk menurunkan KitabNya kepada bangsa
    manapun. Tidak ada yang lebih mulia atas suatu agama kecuali ketaqwaan kepadaNya
    * Agama adalah mengajarkan bagaimana hamba menyembah sang Pencipta, dan
    bersifat personal
    * Hubungan atau interaksi dalam masyarakat yang berbeda agama adalah
    wahana meng-implementasikan keimanan dalam bentuk membantu sesama, kepedulian
    sosial dan tidak menyombongkan diri atau rendah hati dalam pergaulan
    Prinsip universalitas Keagamaan dalam al Qur’an :Semua nabi ( 124 000 nabi)
    membawa ajaran yang satu yang dimaksud adalah syahadat pertama- tiada Tuhan
    selain Alloh dan misi akhlakul karimah ( qur’an surat 21:25), manusia dahulu
    adalah umat yang satu, kemudian berselisih agama ( syariat/ millah) ( qur’an
    surat 10:19 dan qur’an surat 43:45), masalah syariat adalah masalah adaptasi
    perubahan zaman merujuk kepada syahadat kedua – pengakuan terhadap tiap nabi,
    karena nabi rasul diutus sesuai kondisi zamanya agar dapat memperbaiki keadaan.
    Ketika zaman berubah maka syariat juga mengikuti perubahan yang dalam istilah
    fiqihnya nasikh wa mansukh ( hapus dan menghapuskan ). Para rasul adalah dari
    kalangan kaumnya/ suku bangsanya sendiri , sedangkan suku bangsa didunia ini
    ada puluhan ribu maka tak heran ada 124000 nabi dengan agama yang
    bermacam-macam yaitu hindhu, budha, kristen, yahudi, sikh, zoroaster dll.
    Tetapi masih juga didustakan ( qur’an
    surat 16:113 dan surat 38: 4). Tiap rasul menggunakan bahasa kaumnya dan tiap
    umat/ sukubangsa mempunyai rasulnya sendiri artinya tiap suku bangsa di dunia
    ini punya nabi atau guru kebenaran sendiri-sendiri seperti di Jawa dll (Qur’an
    surat 10:47 dan surat 14 :04). Hal ini merupakan perwujudan dari Bhinneka
    Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa ( berbeda –beda tetapi satu, tidak ada
    kebenaran yang mendua sebab Tuhan adalah Tunggal dan Transenden, tetapi
    POLITIK LAMA : FPI PRO INTELIJEN VS GUSDUR ?

    MENYALAHI KAIDAH UNIVERSALITAS KEAGAMAAN/ BHINNEKA TUNGGAL IKA : UANG KORUPSI
    UNTUK MENGUASAI NEGARA DENGAN POLITIK MEMBENTURKAN MASSA ATAU MENGALIHKAN
    KONDISI KEMISIKINAN AKIBAT BBM NAIK ATAU TAKUTNYA PARA LAWAN POLITIK GUSDUR
    DALAM MENGHADAPI PEMILIHAN PRESIDEN

    DIKUTIP DARI :

    bukuSATRIO PANINGIT, BENCANA NUSANTARA, MANUNGGALINGKAWULOGUSTI dalam
    UNIVERSALITAS KEAGAMAAN
    ISBN:978-979-17824-0-1/barcode ,HARGA RP 20.000,—
    Distributor Tunggal Buku :
    Info Pembelian Buku dapat dibeli di:
    Bustanus/Mimi Oktiva di Warnet Nusantara-Jayanegara, Jl. Jayanegara 11/17
    Jombang-JawaTimur,
    Telp 0321 862137 atau sms/telpon di HP: 0818 08052575

    Dari sini kita dapat menyimpulkan Prinsip universalitas Keagamaan :
    * Setiap Kitab agama apapun mengajarkan kebaikan akhlak , berbuat baik
    dengan ikhlas dengan menegakan hukum keadilan yang disepakati bersama
    * Surga milik mereka yang berbuat baik dengan ikhlas dan bukan dominasi
    ekslusif pemeluk agama tertentu
    * Mempercayai adanya Tuhan yang Maha Esa yang artinya Tuhan semua agama
    adalah sama dan Hak Prerogatif Tuhan untuk menurunkan KitabNya kepada bangsa
    manapun. Tidak ada yang lebih mulia atas suatu agama kecuali ketaqwaan kepadaNya
    * Agama adalah mengajarkan bagaimana hamba menyembah sang Pencipta, dan
    bersifat personal
    * Hubungan atau interaksi dalam masyarakat yang berbeda agama adalah
    wahana meng-implementasikan keimanan dalam bentuk membantu sesama, kepedulian
    sosial dan tidak menyombongkan diri atau rendah hati dalam pergaulan
    Prinsip universalitas Keagamaan dalam al Qur’an :Semua nabi ( 124 000 nabi)
    membawa ajaran yang satu yang dimaksud adalah syahadat pertama- tiada Tuhan
    selain Alloh dan misi akhlakul karimah ( qur’an surat 21:25), manusia dahulu
    adalah umat yang satu, kemudian berselisih agama ( syariat/ millah) ( qur’an
    surat 10:19 dan qur’an surat 43:45), masalah syariat adalah masalah adaptasi
    perubahan zaman merujuk kepada syahadat kedua – pengakuan terhadap tiap nabi,
    karena nabi rasul diutus sesuai kondisi zamanya agar dapat memperbaiki keadaan.
    Ketika zaman berubah maka syariat juga mengikuti perubahan yang dalam istilah
    fiqihnya nasikh wa mansukh ( hapus dan menghapuskan ). Para rasul adalah dari
    kalangan kaumnya/ suku bangsanya sendiri , sedangkan suku bangsa didunia ini
    ada puluhan ribu maka tak heran ada 124000 nabi dengan agama yang
    bermacam-macam yaitu hindhu, budha, kristen, yahudi, sikh, zoroaster dll.
    Tetapi masih juga didustakan ( qur’an
    surat 16:113 dan surat 38: 4). Tiap rasul menggunakan bahasa kaumnya dan tiap
    umat/ sukubangsa mempunyai rasulnya sendiri artinya tiap suku bangsa di dunia
    ini punya nabi atau guru kebenaran sendiri-sendiri seperti di Jawa dll (Qur’an
    surat 10:47 dan surat 14 :04). Hal ini merupakan perwujudan dari Bhinneka
    Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa ( berbeda –beda tetapi satu, tidak ada
    kebenaran yang mendua sebab Tuhan adalah Tunggal dan Transenden, tetapi

    Yahoo! Toolbar kini dilengkapi dengan Search Assist. Download sekarang
    juga.
    http://id.toolbar.yahoo.com/

  3. Santony said

    Yus badudu aja kau angkat menjadi presiden. Biar dia menggunakan bahasa indonesia yang telah disempurnakan oleh dia. Atau kamu admin kalau mau nyalonin presiden. Tapi aku golput aja.

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: