Menuju Keluarga Sakinah, Bismillah!

Harta yang paling berharga adalah keluarga, mutiara yang paling indah adalah keluarga

Penggalan syair di atas saya kutip dari theme song “Keluarga Cemara”. Serial sinetron keluarga yang ditayangkan RCTI beberapa tahun silam. Buat saya dan juga mungkin Anda, syair lagu itu terasa menyejukkan hati. Betapa tidak, syair itu menyeruak di tengah pengapnya atmosfer kehidupan kita oleh serbuan lagu-lagu yang melulu menjajakan syahwat. Terus terang, saya menilai lagu itu sarat dengan pesan moral. Plus tentunya, serial sinetron Keluarga Cemara memang menjadi konsumsi tontonan yang relatif aman dan insya Allah ada manfaatnya bagi anak-anak kita.

Saya tidak ingin menyoroti lebih jauh substansi cerita dan siapa tokoh di balik sinetron Keluarga Cemara. Hanya saja ketika menyimak alunan syair “harta yang paling berharga adalah keluarga”, saya jadi bertanya-tanya dalam hati: Masih adakah masyarakat di zaman kiwari -di tengah gonjang-ganjing perlombaan manusia memburu materi– peduli dengan ‘harta yang paling berharga’ itu? Masih adakah masyarakat kiwari yang mau mengapresiasi ‘mutiara yang paling indah itu’? Mereka betul-betul menekuni dan berjuang keras membangun keluarga sakinah? Keluarga bahagia?

Entah kita juga kian sangsi akan kepahaman masyarakat kita, tentang makna keluarga sakinah. Keluarga di mana seluruh anggotanya memiliki visi dan cita-cita yang sama tentang makna hidup. Keluarga yang berwawasan ketuhanan. Keluarga yang berwawasan etika dan moral tauhid. Yang sama-sama memahami bahwa keluarga adalah sebuah perjalanan panjang merekayasa peradaban masa depan (future engineering).

Kemudian para anggota keluarga itu membangun team-work yang solid dan bahu membahu saling menjaga satu sama lain, agar tidak ada satu pun di antara mereka tergelincir ke dalam kesesatan. Pendek kata, mereka berusaha keras mencapai tujuan mulia yang dicita-citakan bersama. Ah, jika demikian, betapa luhur sesungguhnya perjuangan keluarga. Adakah keluarga kiwari di era globalisasi memahami makna keluarga sejauh itu? Entahlah. Pantas saja bila Ivone J. Bach, seorang sosiolog Jerman pernah bilang, “Bila ada surga di dunia, maka ia adalah keluarga yang harmonis.”

Yang jelas di planet di mana kita berpijak sekarang, sukses orang sepertinya melulu ditakar oleh materi. Orang sukses adalah mereka yang berpangkat, berharta, dan berkuasa. Begitupun keluarga yang sukses adalah keluarga yang bertempat tinggal di lingkungan elit. Bisa mengikuti gaya hidup ala metropolis. Tidak gagap dengan teknologi shopisticated semisal internet. Sehingga bisa gaul melanglangbuana di dunia maya ke seluruh penjuru bumi. Di dunia ini (internet) lingkup gaul orang memang jadi tak terbatas. Tapi mereka –sadar atau tidak– sesungguhnya telah terkotak-kotak menjadi orang yang egois. Sebab mereka tak pernah memiliki empati dengan lingkungannya.

Soal hubungan dengan Tuhan? Itu tidak masuk dalam variabel kriteria keluarga sakinah. Tuhan dan kebahagiaan memang sering didikhotomi masyarakat modern. Sehingga sering kita saksikan pemandangan yang entah menggelikan, entah memprihatinkan.

Agaknya telah muncul semacam kerancuan budaya yang kini berkembang di masyarakat kita. Mereka yang bergelimang di dunia materi, termasuk kaum muslimin tentunya, lalu melupakan Tuhan, ini mungkin tidak masuk dalam lingkup bahasan kita. Yang akan kita soroti adalah betapa sayangnya mereka yang telah memiliki kesadaran beragama (Islam) tapi memahaminya secara sangat awam.

Contoh kasus misalnya. Seorang ibu muda mengantar anak perempuannya ke sebuah TPA (Taman Pendidikan Alquran). Si anak yang mungil dan lucu itu mengenakan busana muslimah rapi. Tapi si ibu yang mengantar sang anak, hanya mengenakan (astaghfirullah…) celana pendek dan kaos T-shirt. Atau sebaliknya, kasus seorang Ibu Haji (ia baru pulang dari Tanah Suci) yang berjalan dengan anak gadisnya. Sang Ibu berbusana muslimah rapi. Tapi si anak mengiringinya dengan bercelana jean ketat.

Kita khawatir bila ada pemahaman, bahwa selagi masih kecil, anak perempuan dijaga pakaiannya. Tapi bila ia telah gadis, dibiarkan bebas berlenggak-lenggok mengobral auratnya. Astaghfirullah.

Keluarga sakinah. Betapa idiom itu kian sulit saja kita cerna. Karena mungkin kita telah terbiasa bersaing mengejar gengsi duniawi. Penyakit materialisme itu memang laksana wabah ganas. Serangannya mematikan. Boleh jadi banyak keluarga muslim yang tak mampu lagi mengelaborasi makna keluarga sakinah. Sampai-sampai ajakan teman kepada keluarga kita untuk mempelajari Islam pun, tak jarang kita tolak. Waktu biasanya selalu jadi kambing hitam. “Aduh maaf nih, belum ada waktu!” Begitu alasan klasik kita.

Betulkah kita tak punya waktu untuk memahami Tuhan? Bukankah ini semata-mata lantaran kita tak pernah menganggap Tuhan sebagai sesuatu yang sangat kita pentingkan dalam hidup kita? Kenapa kita punya waktu luang begitu banyak untuk selain Tuhan? Bahkan untuk sekadar be-a-ka (baca: buang air kecil) saja kita pasti punya waktu, walau sesibuk apapun. Kalau begitu, bukankah sama saja kita lebih mementingkan buang hajat ketimbang Tuhan? Astaghfirullah…..!

Kita yang mengaku muslim, walau sesibuk apapun, seyogyanya harus bisa menyisihkan waktu untuk mengajak keluarga kepada Allah. Ia adalah harta kita paling berharga yang harus kita pelihara sekuat tenaga. Kita harus mampu tampil sebagai play-maker yang mengarahkan seluruh anggota keluarga kita untuk sujud pada Allah. Dialah Sumber Kekuatan, Sumber Kebahagiaan. Keluarga kita harus membangun akses yang kokoh dengan Yang Maha Memberi Kebahagiaan itu selamanya. Agar keluarga kita menjadi keluarga sakinah. “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia (yang kafir) dan batu (yang disembah). Di atasnya ada malaikat-malaikat yang kasar lagi keras….” (QS 66 : 6)

Yuk…kita jaga harta paling berharga itu dari jilatan api neraka. Bismillah.

7 Comments »

  1. fuzi said

    naha gambar istrina g pake jilbab?

  2. iyon_tri said

    smoga q juga kelak dapat membangun keluarga sakinah,
    thanks bos untuk artikelnya, sangat bermanfaat bagi q

  3. winner said

    Aslm, semuanya minta tolong sms atau kirim ke e-mail /no. hp ku ya, TIPS-TIPS MENUJU KELUARGA SYAKINAH MAWADAH WAROHMAH ke no.hp. 081319722805 / hwnsragen@yahoo.com

  4. pranowo said

    PENGAJIAN DALAM KELUARGA (Pesertanya Ayah, Ibu dan anak-anak)

    Sudah banyak orangtua memberikan nafkah secara lahiriah ( berupa uang, motor, mobil, rumah dll)
    Namun
    Sudah berapa banyak orangtua memberi nafkah secara batiniah ( berupa ilmu, pendidikan, penanaman Rukun Iman, Rukun Islam dan Ihsan)

    Untuk itu kami mempersiapkan modul, ustadz/ustadzah yang siap mendampingi keluarga Anda untuk mendalami Ke-islaman, Keimanan, Keihsanan dan Akhlak

    Segera rencanakan untuk mengadakan pengajian dirumah / diluar rumah bersama keluarga

    Spiritual Quantum Smile Care didampingi team psikologi (0274) 693 2552

  5. yan disini said

    gambar istrinya kok gk pake jilbab?

  6. zaza said

    catatan yg bagus Pa…

  7. winner said

    Aslm, semuanya ” tolong klo ada tips2 untuk menuju keluarga SYAKINAH,MAWADAH & WARROHMAH sms di no.085814331433 ya, di tunggu lho, wslm, terimakasih.

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: