Euro 2008, Agama, dan Kita

Sepak bola telah menjadi “agama” baru. Tak hanya di Eropa dan Amerika Latin sepakbola dipuja dan menjadi bagian dari lifestyle, tapi juga di kawasan Timur Tengah dan semenanjung Korea serta Cina. Ketika tim Arab Saudi dibantai tanpa ampun oleh Jerman 0-8 di Grup E Piala Dunia tahun 2002 lalu, sontak para sheikh kebakaran jenggot. “Kekalahan itu sebuah Skandal”, tulis koran Asharqul Awsath. “Arab Saudi bermain tanpa penyerang, tanpa gelandang, tanpa pertahanan, bahkan tanpa penjaga gawang”, demikian koran-koran di negara petrodolar sehari pasca-“tragedi nasional” itu.

Mungkinkah sepak bola menjadi agama? Bila memakai perspektif Robert N. Bellah tentang civil religion, maka sepak bola juga sebuah “agama”. Civil religion, menurut Bellah, tidak dalam arti agama konvensional. Tapi suatu bentuk kepercayaan dan gugusan nilai dan praktik yang memiliki semacam “teologi” dan ritual tertentu yang di dalam realisasinya menunjukkan kemiripan dengan agama. Boleh jadi ia adalah sebuah sistem atau praktik-praktik yang tidak ada hubungannya dengan agama. “Ritualisasi” Pancasila pada masa Orba, misalnya, yang diikuti dengan keharusan melakukan upacara bendera setiap hari Senin atau tanggal 17 Agustus, penataran P4 bagi siswa SLTP, SMU, mahasiswa dan pegawai negeri bisa disebut civil religion.

Dalam konteks ini, sepak bola bisa juga disebut civil relegion. “Theologi” sepakbola telah membuat Silvio Berlusconi, Pele, Jose Luis Chilavert dan lain-lain percaya diri memasuki panggung politik. Aneka asesoris bola begitu marak dikenakan ketika musim kompetisi bergulir. Dukungan para suporter tak jarang mengandung sentimen emosional dan fanatisme membabi buta yang rentan melahirkan holiganisme. Kadang kita sulit membedakan fanatisme terhadap satu klub bola dengan fanatisme kaum militan terhadap kebenaran agamanya sehingga mengekslusifkan penganut agama lain.

Di negeri kita, sepakbola juga menjadi tontonan paling populer. Meskipun timnas kita belum pernah merasakan aura piala dunia sejak digelar tahun 1930, hari-hari ini seantero tanah air “dibakar” semarak pesta spektakuler Euro 2008. Mata publik tertuju ke perhelatan akbar di Austria dan Switzerland dari 7 Juni hingga 29 Juni 2008 ini.

Keindahan menyepak bola yang disuguhkan Euro 2008 sepatutnya diteladani, bukan saja oleh pemain lokal kita tapi juga para politisi, ekonom, teknokrat, agamawan dan lain-lain. Sepakbola adalah sebuah permainan tim yang ditentukan oleh solidnya koordinasi antar-lini depan, tengah dan pertahanan. Kelemahan (politisi, ekonom, birokrat) kita selama ini adalah semua bernafsu menjadi striker yang terus-menerus menceploskan gol ke gawang lawan, tapi ogah bermain sebagai gelandang, bek kanan atau kiri, jangkar pertahanan atau penjaga gawang, apalagi pemain cadangan.

2 Comments »

  1. petak said

    Bagus om tulisannya😀
    memandang EURO dari sisi lain,,

  2. wah analogis yg nyambung banget

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: