Syekh Arsyad, Maafkan Saya dan Kami Semua

Pernah dimuat pada harian Mata Banua/ Selasa, 10 Juni 2008

Memandang ke arah depan, saya tiba-tiba terdiam. Di hadapan saya kini terbentang makam kuno yang kemasyhurannya selalu terngiang-ngiang di telinga hati saya. Di balik makam itu dikuburkan seorang ulama besar Kalimantan, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Inilah Kelampaian. Terletak sekitar 10 km dari kota Martapura, Kalimantan Selatan. Kelampaian menyeret saya ke masa silam yang jauh.

Tetapi, saya terdiam bukan karena di hadapan saya terbentang kuburan zurriyat Rasulullah SAW. Toh saya sudah ziarah ke kuburan Syekh Muhammad Zaini Ghani atau Guru Sekumpul di Martapura. Sudah pula ziarah ke makam Datu-datu terkenal di wilayah Tatakan, Rantau. Shalawat, doa, dan airmata sudah saya panjatkan ke tangga-tangga langit yang sunyi. Maka memandang Kelampaian, yang terlihat jelas kini, saya “hanya” merasa bertemu kembali dengan keluarga dan zurriyat Rasulullah yang belum lama saya kunjungi.

Saya terdiam. Saya terhentak. Lebih dari sekadar menyeret saya ke masa silam yang jauh, Kelampaian telah mengingatkan saya pada seorang mahaguru yang nyaris terhapus dari ingatan anak cucu kita. Kelampaian telah mencubit batin saya sambil berkata, “Disaksikan keluarga Rasulullah, kini aku memanggil-Mu sebab Syekh Arsyad Al-Banjari berhak mendapatkan penghormatan-Mu.” Saya baca shalawat dan al-Fatihah untuk Syekh yang berbahagia itu. Berulang-ulang.

Saya merasa bersalah pada diri sendiri: bagaimana bisa saya melupakan Datuk Kelampaian, seorang putera terbaik Banjar yang pernah dilahirkan. Seorang ulama yang kebesaran, keilmuan, ketokohan, jasa dan perjuangan beliau mendakwahkan Islam di Bumi Kalimantan tidak diragukan lagi. Jejak emas dan khazanah pemikiran keagamaan dan kemasyarakatan yang beliau wariskan hingga sekarang menjadi teladan dan inspirasi untuk membangun banua. Popularitas Sang Datuk tidak hanya di Tanah Borneo ataupun tanah Melayu, akan tetapi juga di seantero Asia Tenggara.

Saya merasa bersalah pada diri sendiri: kenapa saya melupakan Syekh yang telah menulis puluhan kitab itu. Ada yang dalam bahasa Arab, bahasa ilmu dan bahasa internasional Dunia Islam, kebanyakan dalam huruf Melayu. Sejumlah karya beliau dan paling terkenal ialah Kitab “Sabilal Muhtadin” yang menjadi rujukan pelajaran agama Islam hingga masa kini. Bahkan Kitab Sabilal Muhtadin itu bukan saja menjadi rujukan bagi kaum muslim di Indonesia, tetapi juga dipelajari di negeri jiran seperti Malaysia dan Brunei Darussalam yang sejak abad 19 sudah punya hubungan erat dengan Kerajaan Banjar.

Nama kitab itu diabadikan untuk menamai masjid raya Kalsel di Banjarmasin, Masjid Raya Sabilal Muhtadin. Selain itu, warisan intelektualnya masih sangat banyak dan masih bisa kita baca hingga sekarang. Termasuk juga warisan karyanya berupa Al-Qur’an tulisan tangan seukuran koran dan puluhan kitab lainnya yang tersimpan di desa Dalam Pagar.

Saya pun merasa bersalah pada diri sendiri: kenapa saya tidak menghormati sepenuh takzim Syekh yang mendapatkan berbagai gelar kehormatan ini. Oleh Wan Mohd.Shagir Abdullah, Al-Banjari dijuluki sebagai “Matahari Islam Nusantara”, oleh KH. Saifuddin Zuhri (mantan Menteri Agama RI periode 1962-1967) dijuluki “Mercusuar Islam Kalimantan”, oleh Guberbur Hindia Belanda di Batavia, dijuluki “Tuan Haji Besar”, dan oleh Azyumardi Azra (1998:251) Al-Banjari diposisikan sebagai seorang ulama yang memiliki peran penting dalam jaringan Ulama Nusantara, seorang ulama yang mula-mula mendirikan lembaga-lembaga Islam dan mengenalkan gagasa-gagasan baru ke agamaan di Kalimantan. Al-Banjari telah menjadi ikon referensi sejarah Islam di Tanah Banjar.

Bahwa seorang putera kelahiran Banjar, di abad ke-17 mendapatkan semua gelar kehormatan tersebut, pastilah itu merupakan sebuah prestasi yang amat gemilang dan membanggakan. Semua gelar itu jelas merupakan pengakuan dunia Islam yang tak terbantahkan atas otoritas intelektual, moral, dan spiritual Syekh Arsyad.

Saya merasa bersalah pada diri saya sendiri: kenapa saya tidak mengagungkan Syekh Arsyad sepenuh pengagungan. Padahal hampir seluruh ulama di Banjarmasin masih memiliki tautan dengannya. Baik sebagai keturunan atau muridnya. Sebut saja nama almarhum K.H. Muhammad Zaini, yang dikenal dengan nama Guru Sekumpul itu, adalah keturunan Syaikh Arsyad. Hampir semua ulama di Kalimantan, Sumatera, Jawa, dan Malaysia, pernah menimba ilmu dari syaikh atau dari murid-murid syaikh. Melalui para keturunannya ini, Syekh Arsyad bukan saja memainkan peran keilmuan dan keagamaan di Kalimantan, melainkan juga memainkan peran sosial dan politik. Di samping menjadi tokoh masyarakat, agama, dan pendidikan terkemuka, banyak santrinya adalah juga pejuang kemerdekaan tidak hanya di Banjar, melainkan juga di daerah-daerah lain.

Saya kembali merasa bersalah pada diri sendiri: kenapa saya tidak mencintai dengan sepenuh hati Syekh yang amat mencintai dan selalu merindukan kampung halamannya ini. Tanah Banjar dinisbatkan pada namanya. Lahir di Lok gabang pada tanggal 15 Shafar 1122 H atau 19 Maret 1710 M. Anak pertama dari keluarga muslim yang taat beragama, yaitu Abdullah dan Siti Aminah. Sejak masa kecil, Allah SWT telah menampakkan kelebihan pada dirinya yang membedakan dengan kawan-kawan sebayanya. Di mana dia sangat patuh dan takzim kepada kedua orang tuanya, serta jujur dan santun dalam pergaulan bersama teman-temannya. Allah SWT juga menganugrahkan kepadanya kecerdasan berpikir serta bakat seni, khususnya di bidang lukis dan khat (kaligrafi).

Karena kecerdasan, bakat dan kecakapannya membuat Sultan Banjar (Sultan Tahmidullah bin Sultan Tahlilullah) tertarik sehingga mengajaknya untuk tinggal di istana, ketika ia berumur lebih kurang 8 tahun. Kepandaian Arsyad kecil dalam membawa diri, sifatnya yang rendah hati, kesederhanaan hidup serta keluhuran budi pekertinya menjadikan segenap warga istana sayang dan hormat kepadanya. Bahkan sultanpun memperlakukannya seperti anak kandung sendiri.

Kemudian, oleh Sultan Banjar, setelah dewasa (usia 30 tahunan) ia diberangkatkan ke Mekkah untuk menuntut dan memperdalam ilmu agama. Di Tanah Suci, Muh. Arsyad mengaji kepada masyaikh terkemuka pada masa itu. Diantara guru beliau adalah Syekh ‘Athoillah bin Ahmad al Mishry, al Faqih Syekh Muhammad bin Sulaiman al Kurdi dan al ‘Arif Billah Syekh Muhammad bin Abd. Karim al Samman al Hasani al Madani.

Syekh yang disebutkan terakhir adalah guru Muh. Arsyad di bidang tasawuf, di mana di bawah bimbingannyalah Muh. Arsyad melakukan suluk dan khalwat, sehingga mendapat ijazah darinya dengan kedudukan sebagai khalifah.

Menurut riwayat, Khalifah al Sayyid Muhammad al Samman di Indonesia pada masa itu, hanya empat orang, yaitu Syekh Muh. Arsyad al Banjari, Syekh Abd. Shomad al Palembani (Palembang), Syekh Abd. Wahab Bugis dan Syekh Abd. Rahman Mesri (Betawi). Mereka berempat dikenal dengan “Empat Serangkai dari Tanah Jawi” yang sama-sama menuntut ilmu di al Haramain al Syarifain.

Setelah lebih kurang 35 tahun menuntut ilmu, timbullah kerinduan akan kampung halaman. Terbayang di pelupuk mata indahnya tepian mandi yang diarak barisan pepohonan aren yang menjulang. Terngiang kicauan burung pipit di pematang dan desiran angin membelai hijaunya rumput. Terkenang akan kesabaran dan ketegaran sang istri yang setia menanti tanpa tahu sampai kapan penantiannya akan berakhir. Akhirnya, pada bulan Ramadhan 1186 H bertepatan 1772 M, sampailah Muh. Arsyad di kampung halamannya Martapura pusat Kerajaan Banjar pada masa itu.

Sultan Tamjidillah (Raja Banjar masa itu) menyambut kedatangan beliau dengan upacara adat kebesaran. Segenap rakyatpun mengelu-elukannya sebagai seorang ulama “Matahari Agama” yang cahayanya diharapkan menyinari seluruh Kerajaan Banjar. Aktivitas beliau sepulangnya dari Tanah Suci dicurahkan untuk menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang diperolehnya. Baik kepada keluarga, kerabat ataupun masyarakat pada umumnya. Bahkan, sultanpun termasuk salah seorang muridnya sehingga jadilah dia raja yang alim lagi wara’.

Kiprah paling menonjol tercatat dijalani Muhammad Arsyad al Banjari yang langsung menduduki mufti Kerajaan Banjar, saat tiba di daerahnya. Sekembalinya Muhammad Arsyad ke Martapura, ia mendirikan pusat pendidikan Islam semacam pesantren di Jawa. Lewat peran Muhammad Arsyad pula, Kesultanan Banjar mendirikan pengadilam hukum Islam yang pertama di Kalimantan. Muhammad Arsyad berusaha keras menerapkan dan menegakkan hukum dan syariat Islam di wilayahnya. Hal lain yang sangat luar biasa adalah, pada zaman itu Muhammad Arsyad membicarakan penerapan zakat sebagai ganti peraturan pajak yang ditetapkan Sultan Banjar.

Setelah ± 40 tahun mengembangkan dan menyiarkan Islam di wilayah Kerajaan Banjar, akhirnya pada hari Selasa, 6 Syawwal 1227 H (1812 M) Allah SWT memanggil Syekh Muh. Arsyad ke hadirat-Nya. Usia beliau 105 tahun dan dimakamkan di desa Kelampaian, sehingga beliau juga dikenal dengan sebutan Datuk Kelampaian

Tak pelak lagi Syekh Arsyad adalah ilmuwan terkemuka yang sangat produktif, dan otoritas keilmuannya diakui secara internasional. Ketika saya sadar bahwa namanya hanya terdengar sayup-sayup di dalam dan di luar tubuh saya, saya merasa sesuatu yang ganjil telah terjadi: jangan-jangan Syekh Arsyad Al-Banjari tidak mendapatkan hak yang semestinya dia terima dari “warga banua”-nya sendiri.

Saya merasa bersalah pada diri sendiri: kenapa saya seolah melupakan jejak emas “Sang Matahari” Kalimantan ini yang semestinya perlu kita telusuri demi membangun masa depan yang lebih cerah.

Maka, dari depan kubah peristirahatan terakhir beliau ini, saya ingin mendekat ke makam Syekh Arsyad. Saya ingin mencium tangan dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya. Meskipun demikian, berada di dalam kompleks pemakaman itu, saya merasa mengaji kembali kitab-kitab Syekh Arsyad langsung pada sang Syekh. Saya pun mengirimkan shalawat kepada Rasulullah dan keluarganya. Kemudian saya baca lagi al-fatihah untuk Syekh Arsyad. Berulang-ulang. Dan, seakan mewakili seluruh anggota tubuh saya, diam-diam jari-jemari saya berbisik, “Syekh Arsyad, maafkan saya, dan kami semua…

Allohumma amiddana bi madadih

10 Comments »

  1. Ulama zaman dulu, seperti Ibnu Sina, Al Jabar, Ibnu Taimiyah sampai Datuk Kalampayan merupakan sosok yang baru bisa benar-benar disebut ulama. Kenapa? Karena mereka tidak hanya membekali dirinya dengan ilmu tauhid, fiqih dan syariat saja, melainkan hingga ilmu-ilmu yang disebut secara sempit hati oleh orang sebagai ilmu dunia. Coba tengok Ibnu Sina, ia juga ahli dalam ilmu kedokteran, psikologi dan lain-lain. Al Jabar, tidak hanya alim dibidang ilmu fiqih, karena ia jago matematika. Begitu juga dengan ibnu Taimiyah yang juga ahli dibidang kemiliteran dan ilmu politik. Bahkan, banyak ilmuwan politik komtemporer yang menyadur ilmu dari beliau. Nah, Datuk Kalampayan juga komplit, mulai dari ilmu pertanian, astronomi, ekonomi. Jadi, adinda, saya sebenarnya tidak setuju kalau ada dikotomi antara ilmu akhirat dan ilmu dunia seperti yang dikatakan para ulama yang sebenarnya diragukan keulamaannya. Seluruh ilmu jika ia baik dan ditujukan untuk kebaikan maka semuanya dikatakan ilmu agama. Bukankah setiap perbuatan akan berimplikasi kepada pahala dan dosa sebagaimana yang diatur agama. Jangankan ilmu matematika, ilmu politik, ilmu militer, ilmu jurnalistik dan lainnya, bahkan ilmu bagaimana kencing yang benar pun seluruhnya adalah ilmu agama. Dikotomi itu tanpa disadari umat Islam sebagai racun yang membuat kita tak bisa maju-maju. Tengoklah orang lain sudah ke bulan ke planet mars, punya teknologi internet seperti yang adinda gunakan sekarang ini, sementara kaum Muslimin masih berkutat pada masalah bacaan qunut, ada tidak ada Imam Mahdi, siapa yang pantas memimpin partai Islam, merangkak dari kesulitan ekonomi dan lain-lainnya yang melelahkan. So, semua ilmu selagi ia positif dan digunakan untuk kebaikan adalah ilmu agama. Perhatikanlah firman Allah, “Jika itu baik, maka ia datang dari sisi-Ku.” Jadi, adinda, ilmu agama bukan hanya sebatas ilmu yang diajari di IAIN belaka, atau madrasah ngaji duduk atau ilmu syariat atau ilmu hakikat. Wassalam………

  2. Muhammad Furqan said

    Alhamdulillah
    kami warga keturunan banjar di pesisir utara pulau sulawesi (gorontalo) insyaallah selalu mmenjunjung dan menghormati beliau setelah rasulullah,
    Alhamdulillah
    masih banyak orang yang dihatinya masih tertpaut pada beliau
    Alhamdulillah
    insyaallah kami dari zuriat beliau diberikan semangat unt lebih cemburu dan mengamalakan kegigihan mencari ilmu, berakhlaq serta mencoba unt menjadi lebih baik seperti beliau
    Alhamdulillah
    Insyaallah terberkati dan diridhai Allah SWT setiap perilaku zahir bathin kita semua.
    aulia_fzalbanjari@yahoo.com

  3. syaipull said

    amin amin amin.
    Semoga kita semua, orang banjar, dan seluruh kaum muslimin selamat dunia akhirat

  4. Haji Hassan Bin Jumaat said

    Alamdulillah
    bertuah mereka yang dapat ilmu peningallan tuan scheh yang hati mulia ini.Walau sudah lama oergi tapi nama dikenal zaman. Maka sesiapa tidak mengenal akan diri beliau maka rugi amat sekali. Saya di bumi singapura amat mengenali akan beliau walau berbeza abad namon ibarat kata pepatah hanya johari mengenal akan manikam. Tidak lah shyak tuan scheh itu wali Allah pada zaman hidop beliau dan ilmu yang dicurah kan beliau hingga menjadi banyak yang mejejaki akan pelajaran tasauf beliau. Bertuah bumi banjarmasim mendapati ahli keluarga beliau yang mana sampai sekarang mendakwaah kan ajaran Islam di sana.
    Wasallam bil akhir

  5. wayah ini kadada lagi ulama yang patut dicontoh.ulama banyak umpat politik.coba liat kebanyakan ulama yang ditonjolkan dari jawa atao sulawesi,padahal belajar dengan guru siapa.amun belajar di kalsel,baru itu yang disebut ulama,kada memikirkan dunia tapi memikirkan akhirat.tp alhamdullillah,allah swt menunjukkan kuasa Nya,ternyata Syech Arsyad Al Banjari diakui Dunia.sebagai Ulama Besar Indonesia.amin.ulun memuliakan sidin karena Ilmu dan Kepandaian Beliau adalah suatu Rahmat dari Allh SWT.amin

  6. Akhmad jalaluddin said

    Assalamu’alaikum,
    yg ulun ingat nasehat sidin yg disampaikan oleh abah guru sekumpul, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, zaman wayahini kd kawa menggaduhi urang, yg penting sorang wan keluarga sorang jagai ! Menjaga diri wan keluarga sorang ja kd kawa, apa lagi, memikirakan orang lain, selamatkan dulu keluargamu, baru kt menengok ketetangga, tp rasanya kd kawa sako? Berubuyan sudah banyu mata, iya itu, ada aja nang kd sembahyang, acah ala

  7. semoga allah memberiakn ganti nya untuk melanjutkan perjuangan beliau,dan semoga dengan berkat beliau di ampuni dosa dosa kita oleh allah swt…..amiin.

  8. tujah said

    alhamdullilah tanah bnjar bnyak melahirkn ulama besar…ulun bsyukur bnr d lahirkn d tanah bnjar…wahai buhan dangsanak2 brataan kita jg budaya kita yg fanatik pd islam…jgn biarakan buhan kafir marajalela d kampung kita..ksian buhan sidin yg d alam sna maliat buhan kkanaknny macal2 karna bnykny tmpt hiburan mlm ampun orang kafir d lindungi aparat.

  9. dhavin said

    moga kita sabarataan serta anak cucu menjadi orang yg selamat dunia akhirat

  10. nurcholik said

    syeh arsyad I LOVE YOU FULL…

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: