Perlu Perjuangan Radikal Tapi Damai

Kasus “penyerangan” sejumlah massa Front Pembela Islam (FPI) terhadap Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) di Silang Monas, Jakarta, beberapa waktu lalu mengindikasikan bahwa gerakan “radikalisme” menjadi sebuah kekuatan yang laten, muncul tiba-tiba.

Kekerasan atas nama agama menyeret pada situasi di mana agama kini sedang mengalami pengujian sejarah secara kritis. Bandul pendulum agama tergantung pada persepsi dan perilaku penganutnya yang akan mengarahkan pada dua sisi, yaitu “humanisasi” atau justru malah sebaliknya, “dehumanisasi”.

Fenomena kekerasan sudah sangat lama terjadi. Kekerasan sering dijadikan alat ampuh untuk memenuhi keinginan beberapa individu atau kelompok terhadap masalah yang begitu kompleks. Dan ternyata kekerasan juga menghinggapi pada agama-agama.

Penyandingan agama dengan radikalisme disebabkan karena gejala dalam realitas sosial yang sering nampak. Kelompok radikal sering menggunakan cara-cara kekerasan dalam memenuhi keinginan atau kepentingan mereka. Tapi, kelompok radikal tidak identik dengan kekerasan.

Ya, kata radikal, sebagaimana juga kata fundamentalis dan ekstrimis, sering dipakai oleh pihak Barat dan antek-anteknya untuk memojokkan setiap kelompok Islam yang tidak mereka sukai. Bahkan, kini ditambah dengan kosa kata baru, khususnya sejak “tragedi 911”: terorisme! Saking hebatnya propaganda Barat, kata radikal yang sebenarnya bersifat netral itu (berasal dari kata radict yang artinya akar) menjadi sangat buruk, sehingga orang takut melakukan sesuatu yang bersifat radikal!

Dalam situasi dunia yang hampir bangkrut karena dominasi sistem kapitalisme global yang begitu busuk dan menghasilkan bangsa-bangsa penjajah imperialis yang rakus ini, siapapun kita tampaknya sudah jenuh dengan segala kerusakan akibat dari dipaksa dan ditindasnya umat ini dengan sistem kehidupan yang tidak sesuai dengan akal dan fitrah manusia itu. Tentu kita “neg” kalau melihat sajian iklan, sinetron, clip musik, dangdutan, dan segmen kriminal di TV manapun setiap hari. Belum lagi kalau jalan di pasar, terminal, dan mall, tidak sedikit remaja putri obral aurat ala Jenifer Lopez dan konco-konconya.

Sementara para politisi beretorika bak pahlawan bangsa sambil meningkatkan rating kemewahan merek, bahkan ada kisah di balik berita : korupsi di berbagai departemen kedengarannya masih berjalan seperti sedia kala dan para bankir serta konglomerat yang menggondol triliunan uang negara santai-santai saja. Terlebih setelah BPPN tempat mengambil kembali aset-aset bernilai ratusan triliun mereka dengan harga super murah malah sudah disulap jadi lembaga lain sehingga seperti diputihkan urusannya.

Ya kita telah begitu “neg” dengan statemen pemerintah yang mencabut subsidi BBM (lengkap dengan retorika program-program kompensasi dana BBM) dengan alasan subsidi itu dinikmati oleh orang-orang kaya saja.

Maka harus ada solusi radikal! Yakni penggantian sistem sekuler warisan penjajah ini dengan sistem Islam warisan Rasulullah saw. yang akan menerapkan syariah secara kaffah, termasuk penanganan urusan BBM, barang-barang tambang dan barang-barang milik umum lainnya untuk membiayai pendidikan unggul yang gratis, pelayanan kesehatan yang prima juga dengan cara gratis, baik untuk si kaya maupun si miskin, menjamin lapangan kerja, memberikan kemudahan kepada swasta, dan lain sebagainya.

Juga untuk mengatur sistem politik dan pemerintahan sehingga tidak ada calo-calo politik dan jabatan yang ironisnya semakin marak di lembaga-lembaga yudikatif, eksekutif maupun legislatif , dan menjamin bahwa orang yang memegang kekuasaan adalah yang berhak lantaran kemampuan, kepandaian, dan ketakwaan, bukan karena punya uang banyak atau dicukongi orang. Sistem yang sederhana, tanpa menghambur-hamburkan sumber daya seperti yang yang tampak pada fenomena pilkada! Dalam sebuah hadits dikatakan bilamana diangkat seseorang untuk jabatan kekuasaan, sementara masih ada orang yang lebih layak darinya, maka itu adalah suatu pengkhianatan!!!

Namun tentunya untuk mewujudkan solusi tersebut perlu perjuangan (jihad). Bahkan perjuangan dengan jiwa dan semangat yang radikal. Tapi dengan cara-cara konseptual (pemikiran), politik, dan non kekerasan alias damai. Singkatnya radikal tapi damai!
Kalau kita lihat dalam riwayat, dakwah Rasulullah saw. bersifat radikal. Nabi saw. menyerukan : “Ucapkan Lailahaillallah (tiada tuhan selain Allah), niscaya kalian sukses” kepada kaum Quraisy yang kental dengan tradisi menyembah banyak tuhan berhala. Dan beliau konsisten dengan seruan tauhid itu dan berhasil mewujudkan tatanan masyarakat dan negara atas dasar itu sampai akhir hayat beliau saw. Allahu Akbar!

Kenapa radikal tapi kok non kekerasan? Ada dua pertimbangan. Pertama, secara syar’i, Rasulullah saw. melarang penggunaan cara-cara kekerasan untuk perjuangan dakwah. Beliau pernah melarang sahabat Abdurrahman bin Auf r.a. tatkala minta izin memerangi kaum Quraisy yang represif kepada para pengemban dakwah di kota Makkah. Beliau bersabda: “Aku diutus dengan kemaafan, janganlah kalian memerangi qaum (Quraisy) itu“. Bahkan dalam baiat Aqobah kedua, tatkala orang-orang Anshar meminta izin memerangi orang-orang di Mina, Nabi saw. menolaknya dengan mengatakan: “Kita belum diperintah untuk itu“.

Kedua, tindakan-tindakan fisik akan mudah dipelintir oleh pers yang pro kekufuran. Bahkan dalam skala yang lebih massif, penggunaan senjata untuk perjuangan memerlukan dukungan keuangan yang besar, pasukan, persenjataan, dan keahlian militer yang besar dan terus-menerus. Cara perjuangan seperti ini sangat rentan infiltrasi (penyusupan) . Negara-negara imperialis semacam AS dan Inggris punya kemampuan dan jam terbang yang tinggi untuk memasukkan agen-agennya yang berpura-pura sebagai ahli agama yang akan menawarkan bantuan untuk meng-cover semua kebutuhan tersebut. Saat itulah perjuangan bisa dengan mudah digulung dan disimpangkan.

Oleh karena itu, ada beberapa karekter perjuangan Rasulullah yang wajib diteladani ; (1) pemikiran : dengan membangun kesadaran dan opini umum pro syariah Islam ; (2) politik, dengan pertarungan konsep pemikiran (shiroul fikr) tentang pemeliharaan urusan umum dan membongkar kebijakan-kebijakan yang tidak Islami dan tidak memihak kepentingan publik serta kebijakan konspiratif yang sarat intervensi kapitalisme global; (3) tanpa kekerasan, yakni tanpa menggunakan senjata tajam, tumpul, api, dan senjata-senjata fisik lainnya) untuk mengganti sistem yang telah sakit parah terjangkiti penyakit “sipilis” (sekularisme, pluralisme, dan liberalisme) dan menggantinya dengan menegakkan sistem Islam tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Dengan berpegang teguh kepada risalah Islam dan metode dakwah Rasulullah saw. umat ini akan mencapai tegaknya kembali Daulah Islamiyyah kedua kalinya di abad ini, insyaallah! Ya, barang kali ada yang berfikir itu perubahan sangat radikal. Namun bila diperjuangkan dengan konsepsi yang matang, politik yang cerdas, dan cara tanpa kekerasan lalu sudah menjadi kesadaran dan opini publik, tentu artinya publik sudah menerimanya dan merasa damai dengan hal itu.

Islam hadir juga untuk memenuhi panggilan kemanusiaan dan perdamaian. Adalah tugas kita semua untuk memberikan citra positif bagi Islam yang memang berwajah humanis dan anti-kekerasan ini. Hanya sejarahlah yang akan membuktikan apakah agama mampu hadir seperti yang dicita-citakannya

Jangan lagi ada kekerasan! Jangan pula membalas kekerasan dengan kekerasan. Semua elemen masyarakat harus segera bahu-membahu untuk membangun tekad bersama untuk mencegah kekerasan yang merusak tatanan kehidupan itu. Kekerasan tidak hanya dalam bentuk bom yang meledak atau penyerangan secara fisik, tapi semua jenis kekerasan. Jangan sampai kita memaki-maki para pelaku kekerasan, tetapi kita sendiri juga sering melakukan tindak kekerasan. Kekerasan rumah tangga, kekerasan lingkungan, kekerasan fisik maupun kekerasan psikologis, semua bentuk kekerasan yang meresahkan kehidupan masyarakat, harus segera dimusnahkan dari kehidupan kita.

Wallahul muwaffiq ila aqwamit thariiq!

10 Comments »

  1. saya setuju (sambil angkat tangan)!…
    kekerasan bukan jalan satu-satunya untuk mengemukakan pendapat, lebih baik kalau kita berdialog dan saling bertarung pemikiran….
    mas Taufik, tukeran link lah…
    biar gampang saling kunjung…
    jabat erat dan tabik!

  2. sang provokator sekarang sedang tertawa puas…

  3. Yupz, tunjukkan bahwa Islam Rahmatan Li’l *Alamin…
    Baca juga:
    http://arifdoudo.wordpress.com/2008/06/04/islam-kekerasan

  4. Hebat juga orang Islam Indonesia, agama mengajarkan perdamaian, silaturrahmi, e … berantem sesama Muslim. Kacien.

  5. mybenjeng said

    PEACE man………!!!

  6. Yang Maha adil geli melihat kejadian itu.
    N Selamat menjadi Finalis Speedy competion.🙂

  7. gempur said

    sepertinya sulit menghindarkan radikal dari kekerasan, adakah radikal yang damai? jawabnya ada: rasul pernah melakukannya, meski pada satu titik turun ayat untuk berperang! tapi apakah lantas bisa disamakan dengan kondisi sekarang?! sepertinya tidak!

  8. indra1082 said

    HIDUP KEDAMAIAN!!!

  9. guswan76 said

    Kita semestinya memperjuangkan Islam yang sesungguhnya tanpa ‘discount’ dan ini perlu sikap istiqamah dan tentu saja tanpa kekerasan karena tindakan kekerasan akan menjatuhkan kebesaran agama Islam itu sendiri.

  10. arifiani said

    wah sering nulis di media nih Pa.

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: