Heroisme Sampah (Quo Vadis Gerakan Moral Mahasiswa)

Belakangan demonstrasi dan aksi unjuk rasa yang dilakukan mahasiswa di sejumlah daerah di Indonesia kian tidak cerdas dan tidak bermutu. Mereka hanya menjadi pahlwan palsu, yang mengira bahwa dirinya sedang menjadi pembela rakyat.

Sejak dibentangkannya babak baru demokrasi, bukan cerita baru jika demonstrasi menjadi pemandangan jamak sehari-hari di negeri ini. Berbagai lapisan masyarakat mulai dari mahasiswa, buruh, petani, dan bahkan para guru kerap menjadikan aksi demonstrasi sebagai pilihan untuk menyuarakan aspirasi yang hendak disampaikan.

Terutama bagi kalangan mahasiswa, atau lebih tepatnya gerakan mahasiswa, demonstrasi layaknya menjadi agenda penting yang “wajib” dilakukan. Meskipun kadang tak jelas benar apa yang hendak disampaikan, atau masalah apa dan siapa yang harus didemonstrasi, terpenting bagi mereka adalah turun ke jalanan, berorasi, dan bertingkah bak “hero” bagi masyarakat yang tertindas, miskin dan termarjinalisasi.

Benarkah mereka menjadi pahlawan? Rasanya perlu ditimbang ulang. Sebab setiap kali demonstrasi digelar, naskah orasi dibacakan, spanduk dan poster dibentangkan, dan ban bekas dibakar, kesemuanya hanya menjadi aktivitas yang mengganggu kepentingan umum, meresahkan warga, dan bahkan menebar teror sebab masyrakat dibuat takut, jangan-jangan berakhir bentrokan atau kerusuhan.

Romantisme 98

Alih-alih menyampaikan aspirasi dan meneriakkan kebenaran, demonstrasi yang digalang kawan-kawan mahasiswa belakangan justru tidak menggunakan cara-cara yang benar. Bahkan cenderung anarkis dan tidak cerdas.

Lihat saja misalnya, demonstrasi yang bertujuan menentang kebijakan pemerintah untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), beberapa waktu lalu, justru disampaikan dengan cara memblokade jalan umum, berorasi sepuas hati, membakar ban-ban bekas, bahkan bertindak anarkis terhadap pengguna jalan dan aparat kepolisian. Sungguh bukan sebuah tindakan yang bisa dibilang cerdas untuk ukuran sosok seorang intelektual kampus.

Meskipun jika dipikir-pikir, apa hubungannya antara masyarakat pengguna jalan dengan kenaikan harga BBM?

Rasanya saya menemukan sebuah kesimpulan sumir yang sungguh ironis, bahwa para aktivis gerakan mahasiswa sedang terjebak pada romantisme tahun 1998.

Aksi massa yang digawangi gerakan-gerakan mahasiswa tahun 1998 untuk menuntut reformasi dengan agenda penting menurunkan presiden Soeharto, masih terus dibahas di setiap diskusi atau seminar. Selalu dirapalkan seraya berpikir bahwa demonstrasi adalah satu-satunya jalan untuk menyuarakan aspirasi, dan 1998 adalah contoh paling ideal.

Maka jadilah demonstrasi menjadi sebuah ritual wajib. Setiap gerakan mahasiswa wajib turun ke jalan, berorasi, mengepalkan tangan kepada penguasa, merasakan ekstase jalanan yang belakangan terlihat makin “memuakkan”. Tapi, seperti layaknya ritual, jika dilakukan tanpa pemaknaan dan penghayatan yang benar, ia hanya akan menjadi tindakan konyol yang sampah.

Yang patut dikenang dari gerakan mahasiswa 1998 turun ke jalan bukanlah semata ekstase orasi jalanan, tetapi semangat bersama untuk berdiri dalam satu “barisan” untuk menyuarakan kebenaran. Tetapi, “barisan” yang terpenting bukanlah barisan massa dalam demonstrasi jalanan, melainkan barisan kesadaran, barisan kesepahaman, barisan kekuatan untuk bersama menentang kedzoliman dan menyuarakan kebenaran.

Retrospeksi

Kiranya para mahasiswa harus memaknai ulang keber-ada-annya sebagai mahasiswa. Jika benar menjadi agent of change yang siap menjadi pahlawan perubahan menuju situasi kebangsaan yang lebih baik, apakah demonstrasi merupakan satu-satunya jalan? Apakah ia tepat untuk menyelesaikan semua persoalan?

Sebab alih-alih menjadi bagian dari penyelesaian masalah, demonstrasi yang tidak cerdas -sekali lagi tidak cerdas- justru menjadi bagian dari masalah itu sendiri.

Saya bukan sedang bersikap antipati terhadap berbagai aksi demonstrasi yang dilakukan kawan-kawan mahasiswa, tetapi saya pikir mahasiswa telah gelap mata jika menganggap demonstrasilah satu-satunya jalan untuk menyampaikan aspirasi. Masih ada cara lain, yang mungkin lebih efektif untuk ditempuh. Bukankah bangsa ini semakin kesulitan untuk menemukan mahasiswa yang cerdas menulis di media massa? Bukankah mahasiswa yang kritis melalui kerja berkesenian semakin sulit ditemukan? Bukankah cara-cara itu bisa ditempuh?

Sebagai sebuah pilihan, demonstrasi dan aksi jalanan memang lebih mudah dilakukan. Heroismenya lebih terasa. Tetapi, mungkin kita harus berkaca pada Soe Hok Gie atau Ahmad Wahib, yang sudah membuktikan pada kita bahwa kritik dan aspirasi tak selamanya harus dilantangkan di jalanan melalui teriakan-teriakan serak yang memalukan.

Bagaimana kawan-kawan?

2 Comments »

  1. Abror Medan said

    Pergerakan mahasiswa saat ini mang mulai mengalami pergeseran. Segmentasi gerakan yang dibangun sudah tidak menentu arah. Mahasiswa lebih berpikir bagaimana bisa memanfaatkan konflik yg terjadi utk kepentingan pribadi- pribadi

  2. pmii umm said

    salam gerakan..
    sepakat. jika hanya sebatas aksi demonstrasi di jalan, smuanya bisa melakukan hal ini, sehingga sulit mengidentifikasi apakah ini gerakan mahasiswa ataukah tukang becak…

    ini bs menjadi sebuah spirit bahwa kapasitas keilmuan hars menjadi dasar semangat gerakan. tentunya dengan analisa kritis yang dalam untuk menghindari jebakan-jebakan….

    salam dari kami
    skalian tukaran link..

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: