Merekat (Kembali) Cermin Retak Pendidikan Kita

Menjelang peringatan hari Pendidikan Nasional 2 Mei adalah waktu yang tepat untuk mulai merekat (ulang) kembali cermin retak pendidikan kita. Betapa persoalan pendidikan Indonesia adalah masalah krusial yang harus segera dibenahi. Betapa tidak, menurut laporan tahunan Human Development Index UNDP, kualitas Indonesia berada di posisi sangat memprihatinkan, yakni 111 dari 175 negara.

Tragisnya, angka ini kalah jauh dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia yang berada di urutan 58, Thailand 76 dan Filipina 83. Adapun hasil survei tentang kualitas pendidikan di Asia yang dilakukan oleh PERC (The Political and Economic Risk Country) yang berbasis di Hong Kong, Indonesia menempati urutan ke-12 atau yang terburuk.

Berbicara rendahnya mutu pendidikan mau tidak mau kita pun harus berbicara tentang mutu guru. Bagaimana pun juga guru adalah pemegang kendali penting. Namun kita kembali harus menahan nafas, sebab mutu guru kita juga sangat memprihatinkan.

Hasil penelitian Balitbang Depdiknas memperlihatkan nilai rata-rata tes calon guru PNS di SD, SLTP, SLTA, dan SMK tahun 1998-1999 untuk bidang studi matematika hanya menguasai 27,67 persen dari materi yang seharusnya. Sementara itu untuk bidang studi yang lain adalah Fisika (27,35), Biologi (44,96), Kimia (43,55), dan Bahasa Inggris (37,57). Angka-angka ini tentu sangat jauh dari batas ideal, yaitu minimal 75 persen agar seorang guru dapat mengajar dengan baik.

Dapat dibayangkan bagaimana mutu anak didik para guru itu nanti. Apalagi menurut penelitian Konsorsium Ilmu Pendidikan (2000), 40 persen guru SMP dan 33 persen guru SMA mengajar bidang studi di luar bidang keahliannya. Materi bidang studinya sendiri saja belum dikuasai, apalagi di luar bidang studinya?

Rendahnya gaji guru juga membuat mereka tidak konsentrasi penuh pada tugasnya. Tak heran jika sejak “zaman baheula”, para guru kita sudah kreatif mencari tambahan, yakni nyambi ojekan, menarik uang les privat, menjual buku-buku pelajaran, sampai jual makanan ke sekolah. Guru terpaksa berbuat seperti itu demi mengepulnya asap dapur mereka. Tidak salah memang, kesejahteraan guru Indonesia hanya setara dengan kondisi guru miskin di Afrika.

Kita patut menutup muka karena malu jika membandingkan gaji guru kita dengan gaji guru di negara-negara tetangga semisal Malaysia, Brunei, dan Singapura. Demikian juga di Thailand, konon gaji guru sudah di atas 2 juta, di Vietnam saja sebesar 1 juta, di Laos, Burma dan Pakistan sebesar 700 Ribu. Tak usahlah melirik negara maju seperti Belanda yang menggaji gurunya antara 11-17 juta, atau Amerika sebesar 27-36 juta, dan Jepang sekitar 18 juta.

Rendahnya mutu dan tidak maksimalnya konsentrasi guru di sekolah akan menghasilkan anak didik yang bermasalah pula. Karena tidak mendapatkan perhatian penuh, mereka, kalau tidak lebih sibuk les privat di luar sekolah akan sibuk tawuran, narkoba, pergaulan bebas dan permasalahan krusial lainnya. Belum lagi dari sisi luar mereka memang digempur oleh perang peradaban (westernisasi) yang membuat moral mereka semakin bobrok. Sementara di sisi lain sekolah semakin membosankan karena guru sering telat, tidak masuk, dan tidak serius mengajar. Akhirnya guru tak lagi jadi sosok yang dihormati. Kasus guru dipukul siswa sudah bukan berita baru lagi.

Ironis. Produk pendidikan seperti inilah yang nanti akan menggantikan sosok guru yang sekarang. Merekalah yang akan menjadi guru bagi generasi yang akan datang, sebagaimana guru sekarang adalah produk pendidikan di masa lalu. Adakah kemungkinan guru di masa datang akan lebih baik dari sekarang? Wallahu a’lam.

Sekolah Tidak Diperlukan Lagi?

Mungkin karena kekecewaan terhadap mutu pendidikan, akhir-akhir ini kita semakin sering saja menjumpai kalangan yang pesimis dan bahkan cenderung anti terhadap sekolah. Sebut saja misalnya nama Andrias Harefa, tokoh “antisekolah” yang menawarkan model Manusia Pembelajar, yang tidak membutuhkan institusi khusus –terutama sekolah—untuk belajar.

Andrias Harefa adalah orang yang kecewa terhadap pendidikan kita, yang alih-alih menjadi ajang anak untuk berkembang malah menjadi institusi pengebiri kreatifitas. Benar memang, minimnya kualitas guru dan rendahnya anggaran pendidikan membuat sekolah sulit untuk berkembang. Maka tak heran jika sekolah hanya menjadi tempat guru untuk menyebutkan apa-apa yang ia tahu, untuk kemudian harus dihapal oleh murid lantas ditulis ulang pada lembar jawaban saat ujian. Tak lebih dari itu. Tak ada kreatiftas, tak ada kecakapan hidup yang dicapai selain kecakapan menghapal, dan tentu saja tidak mengikuti perkembangan zaman.

Belum lagi masalah kurikulum kita yang memang memaksa anak untuk tidak bisa berkembang. Tipe kercerdasan yang dikembangkan di sekolah hanyalah kercerdasan lingusitic dan logis-matematis. Padahal menurut Howard Gardner dalam bukunya Frames of Mind, ada lima tipe kecerdasan lagi yaitu kecerdasan visual-spatial, kecerdasan musikal, kecerdasan kinestetik-tubuh, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis. Kecerdasan-kecerdasan ini semua telah “dimandulkan” oleh sistem bernama sekolah. Mereka yang tidak menonjol pada dua kecerdasan yang dikembangkan di sekolah langsung mendapat cap bodoh dan nilai “merah terbakar” di raport. Padahal setiap anak punya potensi yang sama untuk berkembang, namun memiliki gaya dan cara yang berbeda-beda.

Di luar negeri sono juga banyak orang yang kecewa terhadap pendidikan. Sebut saja Robert Tyosaki yang menulis buku If You Want to be Rich and Happy, Don’t Go to School yang sangat populer itu. Di sana saja – yang kualitas pendidikannya sangat tinggi—masih banyak orang yang mengeluhkan pendidikan, apalagi di negara kita ini? Pantas sekali memang jika beberapa bulan yang lalu terbit buku Kalau Mau Kaya, Ngapain Sekolah? karya mereka yang kecewa terhadap pendidikan, disamping puluhan buku senada yang ditulis oleh penulis yang SD, SMP dan SMA-nya di Bengkulu ini, Andrias Harefa.

KBK/ KTSP?

Menggantikan kurikulum KBK, pemerintah mengeluarkan kurikulum baru bernama Kurikum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum ini lebih menekankan pada penguasaan pengetahuan dan kecakapan hidup lulusan suatu jenjang pendidikan. Konon katanya lebih fleksibel dan sesuai dengan perkembangan zaman.

Jika melihat kemampuan yang sedemikian terbatas guru-guru seperti yang telah diungkapkan di atas, kita kemudian pantas mengkhawatirkan keberhasilan kurikulum KTSP ini. Bukankah kurikulum tersebut sangat menuntut kreativitas dan kemampuan bereksperimen, serta kemampuan guru mengembangkan diri selaras perkembangan zaman? Dengan masalah-masalah yang dihadapi guru kita, apa yang akan mereka kreasikan? Bagaimana mungkin mereka bisa mengembangkan diri dengan banyak membaca buku atau browsing internet, sementara untuk kebutuhan primer saja gaji mereka tidak cukup.

Maka tak perlu heran jika saat ini banyak para guru yang mengartikan KBK sebagai Kurikulum Banyak Kerja dan KTSP diakronimkan Kurikulum Tanpa Satuan Pelajaran. Ya, kurikulum baru itu dirasakan memang banyak kerja. Apalagi guru-guru kita telah lama ‘banyak kerja’ di luar pekerjaannya, guna mencari tambahan gaji mereka yang sangat tidak seberapa.

Pembenahan Pendidikan, Segera!

Melihat kompleksitas permasalahan pendidikan kita, mau tidak mau pemerintah harus segera mengambil langkah untuk mengantisipasi. Harus segera diambil langkah revolusioner, kalau tidak ingin pendidikan kita bangkrut dan ditinggalkan.

Namun sampai sekarang belum ada itikad baik pemerintah untuk menangani masalah ini. Amanat amandemen keempat UUD ’45 pasal 31 yang menyatakan bahwa dana pendidikan Indonesia sebesar 20 persen dari total APBN masih belum dipenuhi. Miris sekali mendengarnya, sudah profesionalitas dan mutu guru sangat rendah, fasilitas sangat kurang, anggaran untuk memperbaikinya masih juga sangat rendah.

Janji pemerintah untuk membenahi pendidikan masih ditunggu-tunggu pembuktiannya. Mungkin pemerintah memang masih sibuk mengurusi soal korupsi, namun bagaimana pun juga masalah pendidikan kita juga tidak kalah penting dan tidak boleh diabaikan.

Bukankah pendidikan adalah pilar utama kemajuan suatu bangsa? Jangan biarkan semakin banyak saja orang yang kecewa terhadap pendidikan! Jika pendidikan masih belum diperhatikan secara serius, maka kita wajib bersiap-siap meratapi kematiannya.

2 Comments »

  1. asukowe said

    Kunjungan balik ke blog, salam kenal…. sambil baca-baca,….

  2. zulfaisalputera said

    Pendidikan kita masih ‘sakit’, Bang!
    Mari kita sembuhkan dengan niat benar-benar untuk mendidik dan bukan menghardik!

    Selamat Hari Pendidikan Nasional!

    Tabik!

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: