Pilkada HSS, Rakyat Jangan Asal Coblos

Pernah dimuat pada Surat Pembaca harian Mata Banua, Senin/ 28 April 2008

SUDAH banyak terjadi pilkada di berbagai daerah tidak berjalan mulus. Protes, demo sampai aksi anarkis. Apakah itu semua senilai dengan biaya dari demokrasi yang harus dibayar mahal dengan banyaknya pengorbanan dana APBD, waktu dan kekisruhan hingga menganggu keamanan, ketenangan, kenyamanan beraaktivitas atau rasa kekeluargaan dan persaudaraan antarwarga.

Jika diamati, kekisruhan lebih banyak dipengaruhi turut campurnya para tokoh atau elit tim sukses salah satu pasangan calon. Harapannya selama elite mematuhi aturan main dan lebih mementingkan kondisi kerakyatan, maka pilkada akan demokratis. Sejauh manapun pilkada kelihatannya tidak akan berjalan mulus, kecuali ada daerah yang sudah 80 persen dikuasai para simpatisan dan pendukung pasangan calon. Masalahnya jika ada dua bakal calon yang akan maju ke arena perebutan kursi, tentunya para pendukung mereka mencoba menarik simpati warga untuk turut mendukung partai tersebut.

Perebutan dukungan warga inilah justru yang menjadi ajang dari kekisruhan tersebut. Apalagi kalau ada dua partai besar yang ikut dalam pemilihan tersebut suasana akan makin gejolak dan memanas, apalagi jika mereka mempunyai back up yang kuat dalam bidang finansial. Selain beberapa pengamanan teknis menyangkut penyelenggaraan Pilkada, sebetulnya risiko politik terbesar dalam proses politik sebetulnya tidak bisa diatasi oleh jaminan apapun kecuali keinginan rakyat sendiri.

Ada kecenderungan di antara banyak orang mengharapkan hasil instan. Begitu juga banyak orang yang menuntut pilkada menghasilkan pemimpin yang baik, dan mereka kecewa kalau dapat yang tidak baik. Daripada berharap terlalu banyak, harus diingat adalah tidak ada satu pun peraturan, atau undang-undang, atau perangkat sistem yang memberikan solusi. Pilkada menjamin orang memilih pemimpin secara langsung, tapi tidak menjamin pemimpin yang terpilih itu akan bagus.

Penulis mengajak masyarakat agar tidak menjadikan pilkada suatu pesta sehingga menjadi hura-hura keramaian. Kita jadikan pilkada sebagai bagian kehidupan demokrasi kita sehingga ia merupakan hal biasa. Kita memilih bupati/ wakil bupati untuk memimpin HSS lima tahun ke depan. Selama lima tahun ke depan akan banyak yang diputuskan oleh seorang pemimpin. Mari kita jadikan pilkada bermakna dengan jangan asal coblos saja. Salah satu kuncinya kita harus berperan aktif, termasuk paska pilkada. Kita tidak boleh tinggal diam karena itu yang menjadikan pilkada bermakna.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: