Pesta Mencoblos Gambar Wajah

Suhu politik lokal HSS menuju detik-detik puncaknya. Satu perhelatan “aruh ganal” bakal digelar 28 April, yaitu Pilkada Hulu Sungai Selatan (HSS). Bumi Antaluddin akan menjadi saksi momentum penanda berjalannya proses demokrasi di banua ini. Ibarat sebuah karasmin (pesta) , suasana di berbagai tempat semakin hangat dan semarak. Jauh-jauh hari, pembicaraan tentang peluang para Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati pasangannya menghias berbagai media massa. Ditambah bumbu isu¯yang logis maupun tidak¯tentang manuver politik sang kandidat.

Sungguh hidangan pra-pesta yang sedap. Fisik kota berubah cerah oleh baliho, spanduk, poster, stiker, billboard yang ditempel dan terpasang di segala sudut kota yang dianggap strategis, layaknya iklan produk komersial. Satu hal yang terpampang sangat menonjol adalah : gambar wajah sang Cabup – Cawabup.

Makna sebuah wajah

Wajah merupakan bagian tubuh yang paling dijaga setiap orang, baik laki-laki dan perempuan. Ada seribu satu alasan kenapa wajah begitu penting. Wajah sebagai sebuah daya pemikat terhadap orang lain-terutama lawan jenis. Wajah yang bagus dapat memberi kebanggaan bagi sang pemilik, yang mempengaruhi tingginya kepercayaan diri. Tak masalah bila harus mengeluarkan biaya besar, asal wajah nampak selalu kinclong. Kulit yang kurang mulus bisa didempul dengan bedak atau kalau perlu operasi plastik. Di zaman wayah ini, ”Semua bisa diatur!”.

Konon ujar habar, dari wajah dapat menentukan hidup, nasib atau karier seseorang. Begitu banyak cara, jenis atau macam jalan yang berhubungan dengan karier seseorang, ternyata ujung-ujungnya sangat ditentukan oleh model wajah. Seorang Jojon menjadi pelawak terkenal, konon karena (maaf) “wajah bloon”nya. Begitu juga Tukul Arwana, bagian mulut dan bibirnya yang khas- selain karena laptop – menjadikannya masyhur bak pesohor. Sulit dibayangkan kalau keduanya menjadi tokoh politik, menteri atau presiden. Walau ada juga para tokoh politik yang wajahnya lebih cocok menjadi seorang pelawak. Itulah wajah, ternyata ikut menentukan nasib seseorang. Wallahu a’lam.

Menempatkan Gambar Wajah

Beberapa hari yang lalu, gambar wajah para kandidat calon Bupati/ Wakil Bupati HSS ada dimana-mana. Seakan tiada kata “pamali” untuk ditempel di sembarang tempat, terutama area publik kota ; di batang pohon, tiang telepon atau listrik, tiang jembatan, pembatas/marka jalan umum, taman kota, rambu lalu lintas, kendaraan umum, halte, atau bahkan tembok rumah dan ruko. Yang penting mudah dilihat banyak orang. Karena toh katanya, kota “milik semua” orang.

Kalau dulu, gambar wajah dalam media poster, stiker, bilboard lebih banyak didominasi gambar para selebritis ; artis top atau olahragawan terkenal. Mereka dianggap tokoh yang memberikan kontribusi bagi banyak orang dan tak kalah teruji; lewat hiburan yang menyenangkan dan prestasi yang mengharumkan nama daerah atau bangsa. Mereka menjadi terkenal, diidam-idamkan, dikhayal-khayalkan atau menjadi idola banyak orang karena proses prestasi yang panjang. Berbeda dengan gambar politikus saat ini, gambar selebritis tak boleh ditempel di sembarang tempat umum seperti pohon, tiang telepon, tiang listrik, tembok, taman dan lain-lain, karena “Dapat Merusak Keindahan Kota”. Ingat, kota milik semua orang, bukan milik selebritis!

Menempatkan gambar tokoh atau pemimpin masyarakat tidak boleh di sembarang tempat. Adalah tabu menempel di WC umum, apalagi tong sampah kota! Pelakunya akan diusut dan dikenakan sanksi hukum. Hal itu dapat dianggap menghina pribadi sang tokoh atau bahkan menghina simbol negara. Karena mereka adalah orang-orang teladan yang terhormat. Betapapun dalam kenyataan moralnya rusak atau gagal memimpin, yang membuat rakyat kecewa.

Mencoblos Gambar Wajah

Berbeda dengan era orde baru yang selalu diwakili anggota DPRD yang terhormat, kini bupati dipilih langsung oleh rakyat (yang juga tak kalah terhormat, walau jarang diberi embel-embel kata ”terhormat”). Satu lagi, kalau dulu DPRD memilih dengan menuliskan atau mencoblos nama kandidat di dalam ruang sidang yang nyaman ber-AC, kini rakyat mencoblos langsung gambar wajah sang Cabup-Cawabup di ruang terbuka berhembuskan angin sepoi-sepoi.

Mencoblos gambar wajah telah menjadi sebuah karasmin yang dinanti semua pihak dalam ajang pilkada. Rakyat boleh mencoblos bagian manapun di wajah sang cabup-cawabup, baik itu di hidung, mata, telinga, mulut, dagu, jidat, rambut, atau di luar wajah – sejauh frame gambar wajah yang sah menurut peraturan.

Mencoblos artinya melubangi gambar wajah. Gambar yang tadinya utuh menjadi tidak utuh atau rusak sebagian karena dilubangi. Kalau dulu, melubangi atau merobek gambar wajah tokoh masyarakat atau politik, calon pemimpin apalagi seorang pemimpin betulan, dapat dikenai sanksi. Kini mencoblos gambar wajah tak lagi perbuatan tabu. Bahkan mencoblos bagian wajah tertentu dapat dibuat ‘olok-olok’ dengan tujuan mengakrabkan pemilih dengan sang cabup sehingga mudah diingat. Contohnya dalam pilkada DKI Jakarta yang baru lalu. Dari kubu Fauzi Bowo – yang berkumis tebal – muncul yel-yel (dengan nada lagu ‘selamat ulang tahun) “coblos kumisnya..! coblos kumisnya… sekarang juga !” Sungguh sebuah lelucon segar di tengah kesangaran wajah politik. Ini menandakan adanya perubahan dalam ‘tata nilai’ perpolitikan di negara kita.

Gambar wajah hanyalah sebuah benda, media atau penanda dari komunikasi politik. Sesuatu yang tadinya di-keramat-kan, kini menjadi benda biasa. Namun di balik itu memuat banyak harapan masyarakat kepada “orang” alias Sang Tokoh pemilik wajah. Mereka mencoblos gambar wajah karena berisi referensi-informasi prestasi sang tokoh atau cabup-cawabup; kinerja dan komitmen yang sebelumnya didengung-dengungkan. Kalau toh hal itu tak tertangkap masyarakat pemilih karena berbagai sebab, biarkanlah masyarakat mencoblos atas dasar subyektifitas mereka ketika melihat gambar wajah si cabup-cawabup. Mungkin karena dianggap paling ganteng, mirip artis idola, mirip mantan pacar, dan lain-lain. Ini sah-sah saja, dan tak ada yang boleh menganggu hak suara mereka tersebut. Kepada seluruh rakyat HSS, Selamat Berkarasmin Mencoblos Gambar Wajah. Semoga lancar dan damai, tetap Rakat Mufakat!

* Penulis : Putra Daerah HSS di Banjarmasin

5 Comments »

  1. zulfaisalputera said

    Dulu, pamali jika dinding di rumah kita dipasangin foto-foto makhluk Allah seperti manusia. Apalagi jika foto itu harus ditusuk-tusuk.
    Jika toh foto itu ditusuk biasanya ada dalam tradisi perdukunan saat akan menyantet orang yang wajahnya ada dalam foto.

    Kalau zaman modern ini foto-foto banyak yang ditusuk-tusuk wajahnya untuk kepentingan pemilihan umum dan sebagainya, barangkali wajah-wajah kita sudah tak punya wibawa.

    Tabik!

  2. taufik79 said

    hehe, ulun setuju pak!

  3. Bagus dan tajam juga serta satire. Bravo.

  4. Mantap banar…

  5. hati2 kalo nyoblos..sapa tahu ke coblos matanya…jd buta tuh yg dipilih…jadinya seperti yg udah2 tuh…

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: