Di Balik Kesadaran yang “Menyampah”

Sampah, mungkin bagi sebagian kalangan merupakan hal yang remeh atau tidak bermakna dalam keseharian. Setiap hari masyarakat yang terus melakukan aktivitas, mau tidak mau harus membuang sampah. Entah dari kemasan makanan atau minuman yang sudah tidak layak pakai atau sisa-sisa makanan yang tak digunakan lagi.

Lingkungan yang masyarakatnya kurang sadar akan bahaya menumpuknya sampah tentu akan menerima akibatnya. Banjir karena tersumbatnya aliran sungai adalah buah dari kesalahan manusia itu sendiri dalam membuang sampah secara sembarangan. Banyak fenomena sehari-hari di jalan raya di kota Banjarmasin, di mana tangan yang keluar dari jendela mobil mewah membuang sampah seenaknya. Masyarakat yang tinggal di sepanjang bantaran sungai, buang hajat disertai membuang barang-barang rongsokan di sepanjang hulu sungai mengakibatkan mewabahnya berbagai penyakit.

Tercemarnya air bersih karena tumpukan sampah juga menimbulkan masalah besar. Bencana datang tidak hanya berbentuk banjir menerpa ketika musim hujan datang, tetapi penyakit diare, muntaber, serta demam berdarah semakin menjadi-jadi. Dan air sebagai sumber kehidupan utama selain udara, memerlukan perlindungan dan penanggulangan secara serius.

Sosialisasi terhadap penanggulangan sampah ke masyarakat adalah tugas Dinas Kebersihan Pemda. Memang selama ini pemerintah sudah mengeluarkan undang-undang mengenai pelarangan membuang sampah sembarangan. Tetapi dalam hal pelaksanaan dan pengawasannya, pemerintah terkesan kurang serius. Sehingga kesadaran masyarakat dalam penanggulangan dan membuang sampah belum terkonstruksi dengan baik.

Atau jangan-jangan, kesadaran masyarakat diam-diam sudah mulai menyampah? Mereka diam-diam mulai menyadari bahwa sampah harus diterima sebagai bagian dari kehidupan mereka. Sampah menjadi teman. Dan kesadaran untuk mempertanyakan dan menggugat realitas itu mulai menumpul, mulai menyampah.

Ibarat seseorang yang terbiasa dengan kotoran dan sampah berserak di dalam rumah, masyarakat agaknya mulai menerima dan mau hidup bersama sampah. Dulu, ketika Kota Banjarmasin mendapat “anugerah” predikat kota terkotor kedua setelah Bandung, masyarakat dan pemerintah kota Banjarmasin “geram” dan tak terima. Walau diakui, hal itu bukan karena penanganan kebersihan dan sampahnya betul-betul buruk, tetapi akibat penataan kota yang semrawut sehingga mengesankan kota itu kumuh.

Kondisi kota yang dihuni lebih dari 500.000 jiwa itu masih semrawut, misalnya, terlihat dari semrawutnya arus lalu lintas, perparkiran, dan pasar-pasar tradisional. Selain itu, banyak jalan aspal yang rusak, sementara terminal angkutan umum belum teratur.

Sampah dan Kesadaran

Hal yang ingin penulis tekankan dalam tulisan ini bukanlah masalah sampah atau kesemrawutan kota Banjarmasin yang mesti ditangani, tapi lebih kepada kesadaran masyarakat Kota Banjarmasin (khususnya tentang sampah itu) yang mulai semakin menyampah. Masyarakat Banjar yang mulai memiliki kesadaran kolektif yang naif dan tidak korektif.

Kesadaran adalah sebuah fakultas mental yang memberikan manusia kemampuan memahami rasionalitas dan kehendak bebas dan memungkinkan adanya pelbagai penafsiran terhadap realitas (Takwin, 2005: 85). Di sini, kesadaran berperan memahami dan menentukan kehendak dan sikap kita secara rasional dalam menghadapi realitas di sekeliling kita.

Persoalan terjadi ketika kehendak dan rasionalitas kita tidak padu dan tidak seimbang. Di sinilah kesadaran kita mulai berubah menjadi kesadaran yang naif dan tidak korektif. Ketika kita mengetahui sesuatu, tetapi kita melaksanakan tindakan yang tidak sesuai dengan pengetahuan kita.

Menurut Paulo Freire, kesadaran manusia terkategori menjadi empat jenis. Kesadaran transpormatif, kesadaran kritis, kesadaran naif, dan kesadaran magis. Pada tingkat kesadaran naif, ketidakseimbangan dan ketakpaduan antara rasionalitas dan kehendak terjadi begitu rupa sehingga membuat manusia tidak menyadari sesuatu yang dia lakukan sebenarnya tiak sejalan dengan pengetahuannya.

Dalam kasus sampah dan kesemrawutan kota Banjarmasin yang mulai diterima masyarakatnya sebagai bagian yang –mau tidak mau- harus diterima, kesadaran naif yang bersifat kolektif mulai menggejala dalam alam pikiran masyarakat kota Banjarmasin. Mereka mengetahui bahwa keberadaan sampah serta kesemrawutan kota di sekeliling mereka, terasa sangat mengganggu dan bikin “puyeng”, tetapi mereka menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar dalam keseharian dan tak perlu dikoreksi atau ditinjau ulang.

Thomas Aquinos menggunakan akal sehat (common sense) untuk menjelaskan kesadaran. Dalam Summa Theologica-nya ia mengemukakan bahwa manusia dapat menemukan dirinya menyadari sesuatu dengan pengalaman indrawi dan presepsi. Maka, jika seseorang tak mampu menyadari secara utuh apa yang harus dia lakukan, padahal ia sudah melihat realitas dengan indra dan presepsinya, maka akal sehatnya perlu dipertanyakan (?).

Inilah sebenarnya yang perlu diwaspadai, dalam kasus yang begitu tampak seperti sampah saja, masyarakat sudah mulai memiliki kesadaran naif kolektif untuk tidak mempersoalkannya lagi. Apalagi pada masalah-masalah yang tak tampak seperti kasus korupsi di tubuh pemerintahan daerah, pembengkakan APBD, perkara uang siluman, proyek-poyek prestisius yang menelan dana milyaran dan lain sebagainya, bahwa diam-diam akal sehat kita mulai kotor dan penuh dengan sampah.

Sampah sebenarnya

Sampah sebenarnya tidak terletak di sudut-sudut kota Banjarmasin atau di tempat manapun, yang mulai menumpuk dan membusuk. Sampah sebenarnya teronggok di pikiran kita dan menghalangi kesadaran kita untuk melakukan tindakan-tindakan yang benar berdasarkan pengetahuan yang benar.

Sampah yang berserak di jalanan atau di setiap tempat bisa segera kita bersihkan kapan saja. Tapi jika pikiran dan kesadaran kita masih dipenuhi “sampah”, kita masih akan tetap memproduksi sampah sampai kapanpun. Dan serajin apapun kita membersihkan sampah di jalan, di lapangan, di selokan, di sungai, di pasar, di manapun, sampah-sampah tetap akan keluar dari otak kita, dari wajah kita, dari tubuh kita. Menumpuk dan semakin menumpuk.

Apakah kita harus menunggu sebuah “ledakan sampah” seperti yang terjadi di daerah lain, atau apakah kita harus menunggu kota kita benar-benar dipenuhi sampah, untuk mulai membersihkan pikiran dan kesadaran kita untuk berani kritis dan mengoreksi hal-hal yang salah dan keliru menjadi lebih baik dan benar. Tentu saja tidak. Tentu saja kita bukan orang-orang bodoh yang membiarkan semua itu terjadi.

Sebelum penulis menutup catatan ini, penulis berharap kita tak terus menjadi orang-orang bodoh yang hanya akan menghasilkan tindakan –tindakan bodoh. Seperti kata Cicero, dum vitant sulti vitia in contraria currunt. “Jika orang-orang bodoh ingin menghindar dari perbuatan yang salah, mereka biasanya melakukan hal yang sebaliknya”.

2 Comments »

  1. suhadinet said

    Wah..wah…
    semoga aku bukan orang bodoh itu Pak taufik

  2. klo memang sanpah hal utma persoalan lingkungan hidup,,,
    alangkah baiknya kita mengawali segalanya dari dari diri kita sendiri, bukan begitu pak saiful

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: