Kartini yang Merenggut “Kelelakian”ku

Assalamu’alaikum Umi Shalihah…

Salam Aku haturkan buat menyapa hati Umi yang luhur. Semoga Umi senantiasa bersedia untuk bersama harungi derita yang datang, bersatu kita tempuh nikmat yang bertandang. Guratan takdir kita memang sudah seperti ini, hendak bilang apalagi. Sungguh tak pantas memang bila ada yang kita sesali, karena Aku yakin di balik semua kejadian tentu akan ada hikmahnya, dan selalu yang terbaiklah yang Allah sediakan bagi makhluk-makhluknya.

Aku hanya seorang suami yang berusaha dengan sangat, untuk menerima segala ketentuan Allah Sang Pemilik Qudrat dan Iradat. Menerima setulus hati dihadirkannya Engkau sebagai seorang isteri. Akan berusaha sepenuh hati Aku penuhi semua janji yang terpatri di masa yang telah lalu.

Mahligai perkawinan kita memang dihujani coba dan derita. Tapi biarlah semua itu kita rasakan dengan penuh “sahaja”. Rupanya kebahagiaan rumah tangga itu sangat tinggi maharnya.

Umi Shalihah isteriku tersayang…Tidak akan Aku tagih kesetiaanmu, sesetia Hawa kepada Adam. Atau kerinduan yang menggila seorang Laila kekasih Qais yang sangat dalam. Aku cuma berharap terimalah kehadiran Aku seadanya di sudut tersuci di dalam hati Umi…..sebagai seorang isteri sejujur hati. Andaikan sejak dulu Aku benar-benar menyadari bagaimana besarnya arti kehadiran Umi di sisiku, tentu tak akan Aku lalui perihnya bongkahan sendu, penuh pengorbanan naluri merangkai pilu, mengharungi gurun tanpa bayu.

Umi Shalihah isteriku tersayang…Kehadiran Umi bagai mustika, mengerlip cahaya sakinah laksana bintang membentuk arah burujnya.

Umi Shalihah isteriku tersayang…Aku senantiasa membayangkan setiap hari saban waktu , dirimu hadir di sisi, tentu senyum manis Umi yang selalu mampu menenangkan jiwaku, kerlingan Umi yang selalu bisa mengundang senyum, bisa ku saksikan kapanpun Aku mau.

Umi Shalihah isteriku tersayang……..Tentu selalu sejuk mataku, jika mampu setiap saat memandang wajahmu duhai isteriku. Memori seperti ini mengingatkan Aku pada masa remaja, di kala Aku belajar menghamparkan tangan ke awan biru, merintih berharap untuk mendapatkan isteri yang sholehah penyejuk mata dan penyeri rumahtangga.

Umi Shalihah isteriku tersayang……sungguh sedih hati ini kala mengingat kenyataan, kini diri Umi tersangkar dalam “ketakberdayaan”. Aku, tak punya manikam permata untuk dikalungkan, tiada lembar rupiah untuk Aku tunjukkan, tiada pula lambang kemewahan untuk bisa Aku hamparkan, diri Umi hanya mampu Aku bedaki debu, tiada pakaian mewah tersedia bahkan begitu sulitnya walau hanya ingin Aku balutkan sebuah jubah. Saat dahaga Umi datang, Aku hanya mampu menghilangkannya dengan segelas air putih itupun cuma secangkir, maafkan Aku…. Saat diri Umi kesepian dalam ketidakpedulianku, waktu kesedihan Umi melanda diri, sementara diriku tiada di sisi, saat sakit Umi pun tiada keberadaanku untuk mengobati. Aku tak tahu alasan apalagi yang bisa membuat Umi bisa setia dalam sangkar yang sepi, apakah cukup demi nilai cinta dan ketaatan atas dasar perintah-Nya pada suami?

Umi Shalihah isteriku tersayang……senantiasa hadapkan wajah Umi ke atas, hulurlah tangan Umi ke depan, tabahlah duhai isteriku sayang, peganglah kata-kataku, tidak akan Aku sia-siakan hidup Umi lagi. Semoga Umi tetap setia di sampingku, sungguhpun kita lama tak bertemu.

Kalau Umi berjalan melalui jalan yang biasa Aku lewati saat ini, maka di suatu tempat akan Umi temukan sebuah bukit kecil. Dan di puncak bukit kecil itu, Umi akan melihat sebuah rumah berdiri indah.

Rumah itu sedang-sedang saja ukurannya. Tidak terlalu besar, tapi juga tidak terlalu kecil. Sehingga sangat pas untuk ditempati sebuah keluarga dengan tiga atau empat orang anak. Dinding dan atapnya berwarna sangat serasi: kuning muda dan hijau kotoran kuda.

Di seputar rumah berpagar setinggi satu meter itu, terdapat halaman yang cukup luas. Halaman depannya ditanami berbagai macam bunga. Halaman sampingnya, di kiri dan di kanan, ditanami berbagai tanaman sayuran. Ada jalan setapak menghubungkan halaman depan dengan halaman belakang yang luas. Beberapa pohon buah-buahan setinggi atap rumah tumbuh rindang di halaman belakang. Sebuah kursi taman tampak sangat serasi di tepi kolam kecil, di bawah pohon mangga dan rambutan.

Rumah itu sendiri punya empat kamar tidur, satu ruang tamu, satu ruang duduk keluarga, satu ruang untuk mendirikan shalat, satu ruang kerja, satu perpustakaan, satu dapur, serta dua kamar mandi. “Ruang makan” berhadapan dengan dapur, menghadap kolam kecil di halaman belakang. Sangat nyaman rasanya, sarapan pagi sambil memperhatikan ikan-ikan mas dan nila berkeliling di dalam kolam. Atau makan malam sambil bermandikan cahaya bulan yang menerangi halaman belakang. Diiringi suara gemericik air dari air terjun mini di sekitar kolam. Sebab, yang Aku sebut sebagai ruang makan di sini, adalah area yang separuhnya ada di bawah atap rumah, bersambung dengan dapur, dan separuhnya lagi berada di luar, tanpa atap permanen. Dinding kaca tembus pandang memisahkan dua ruangan ini.

Masih banyak lagi cerita menyenangkan tentang rumah itu. Tak akan ada habisnya bila Aku ceritakan pada Umi. Hanya, ada satu kelemahannya: rumah itu masih berada di puncak bukit, di suatu tempat yang bisa terlihat dari jalan yang biasa Aku lewati namun belum bisa Aku masuki.

Memang, sebenarnya bukit itu tak terlalu tinggi, tapi tetap saja tidak mudah bagiku untuk mendaki hingga puncaknya. Hingga kini, Aku belum pernah mencapai puncak bukit itu. Padahal, itu adalah salah satu impian terbesarku. Bukannya Aku tak pernah mencoba mencapainya, tapi mungkin Aku memang masih harus bersabar lagi. Lagipula Aku khawatir, bila saat ini Aku sudah sampai di puncak bukit itu, maka tak ada lagi puncak-puncak lain yang menghiasi ruang mimpiku. Bukankah setelah puncak, tak ada lagi yang lain selain arah yang menurun?

Biarlah suatu saat saja Aku gapai puncak bukit itu lalu memasuki rumah yang ada di sana. Aku yakin suatu saat hal itu akan terwujud. Dan Aku berharap Mi!!!, Aku akan melakukannya bersama Umi. Selama saat itu belum tiba, Aku juga berharap Umi tak akan bosan menemani Aku berjalan (walau kadang kita berjalan teramat pelan) menuju rumah di puncak bukit kecil itu. Biarpun terkadang harus melewati jalan berkerikil tajam, atau menjumpai tikungan yang tiba-tiba menghadang, Aku yakin akan mampu mengatasinya, selama Umi bersedia menemani Aku berjalan. Dan kita akan tetap berjalan berdampingan, bergandengan tangan, karena Umi dan Aku punya satu impian………impian yang sama.

Semua hal di atas adalah bagian dari mimpi-mimpi yang sedang Aku kejar saat ini. Kini saatnya Aku ingin berbagi hal yang juga sering Aku ingat dari kenangan yang telah lewat dan telah menjadi pengalaman berharga, yang tak akan Aku lupakan.

Seringkali Aku mengingat masa yang telah lewat, masa di saat suatu malam sudah beranjak mendekati subuh, Aku terbangun sejenak. Aku lihat Umi yang sedang terbaring letih menemani si bungsu yang saat itu masih begitu kecil. Aku tatap wajah Umi yang masih dipenuhi oleh gurat-gurat kepenatan karena seharian badan Umi tak menemukan kesempatan untuk istirahat barang sekejap.

Beruntunglah pengaruh air wudhu yang senantiasa membasahi wajah Umi setiap hari, justru menambah kecantikan Umi kian berseri. Aku pun membayangkan tentang keesokan harinya, di saat Aku sudah bisa merasakan betapa segar udara pagi, tapi sebaliknya tubuh letih Umi bahkan barangkali belum benar-benar menemukan kesegarannya.

Sementara anak-anak sebentar lagi akan meminta perhatian Umi-nya, membisingkan telinga Umi dengan tangis serta membasahi pakaian Umi dengan pipis tak henti-henti. Baru berganti pakaian, sudah dibasahi pipis lagi. Padahal tangan Umi jua yang harus mencucinya. Di saat seperti itu, Umi ingin tahu apa yang Aku pikirkan tentang Umi? Aku tak lagi memimpikan tentang seorang yang akan senantiasa berbicara lembut kepada anak-anaknya seperti kisah dari negeri dongeng sementara di saat yang sama Aku menuntut Umi untuk menjadi istri yang penuh perhatian, santun dalam berbicara, lulus dalam memilih setiap kata serta tulus dalam menjalani tugas sebagai seorang istri, termasuk dalam menjalani apa yang sesungguhnya bukan kewajiban istri tetapi dianggap sebagai kewajibannya.

Sekali lagi, Aku tak akan sampai hati mendambakan tentang seorang wanita yang sempurna, yang selalu berlaku halus dan lembut. Tentu saja Aku tidak tengah mengajak Umi membiarkan membentak anak-anak dengan mata membelalak. Tidak….Aku hanya ingin mengajak Umi memahami isi pikiranku, di kala melihat bahwa tatkala tubuh Umi amat letih, sementara Aku sebagai suami tak pernah menyapa jiwa Umi, maka amat wajar kalau Umi seringkali kehilangan rasa sabar. Begitu pula manakala mata Umi yang mengantuk tak kunjung memperoleh kesempatan untuk tidur nyenyak sejenak, maka amat wajar ketegangan emosi Umi akan menanjak. Di saat itulah jari Umi yang lentik bisa tiba-tiba membuat anak kita menjerit karena cubitan yang bikin sakit.

Apa artinya? Benar…., saat ini, Aku berusaha untuk memahami, bahwa seorang istri shalihah seperti Umi memang tak boleh bermanja-manja secara kekanak-kanakan, apalagi sampai cengeng. Tetapi istri shalihah tetaplah manusia yang membutuhkan penerimaan. Ia juga butuh diakui, meski tak pernah meminta kepada suami. Sementara gejolak-gejolak jiwa memenuhi dada, butuh telinga yang mau mendengar. Kalau kegelisahan jiwa tak pernah menemukan muaranya berupa kesediaan untuk mendengar, atau ia tak pernah Aku akui keberadaannya, maka tentu Aku tidaklah pantas menyalahkan siapapun kecuali diriku sendiri jika gejolak jiwa seorang istri tiba-tiba meledak. Jangankan Umi yang suaminya tidak terlalu istimewa, istri Nabi pun pernah mengalami situasi-situasi yang penuh ledakan, meski yang membuatnya meledak-ledak bukan karena Nabi SAW tak mau mendengarkan melainkan semata karena dibakar api kecemburuan. Ketika itu, Nabi SAW hanya diam menghadapi ‘Aisyah yang sedang cemburu seraya memintanya untuk mengganti mangkok yang dipecahkan.

Kini Aku pahami, jika Aku menginginkan Umi selalu lembut dalam mengasuh, maka bukan hanya nasehat yang perlu diberikan. Ada yang lain. Ada kehangatan yang perlu Aku berikan agar hati Umi tidak dingin, apalagi beku, dalam menghadapi anak-anak. Ada penerimaan yang perlu Aku tunjukkan agar anak-anak tetap menemukan Umi-nya sebagai tempat untuk memperoleh kedamaian, cinta dan kasih sayang. Ada ketulusan yang harus Aku usapkan kepada perasaan dan pikiran Umi, agar Umi senantiasa tetap mememiliki energi untuk tersenyum kepada anak-anak kita, sepenat apapun Umi. Tentu saja ada yang lain: pengakuan. Meski Aku tahu Umi tak pernah menuntut, tetapi seringkali Aku menunggu sampai muka Umi berkerut-kerut.

Bayanganku terus berjalan, waktu kini melewati tengah malam, Aku sedang memandang Umi yang terbaring letih, lalu Aku berpikir sejenak, tak adakah yang bisa Aku lakukan sekedar mengucapkan terima kasih atau menyatakan sayang, bisa dengan kata yang berbunga-bunga, bisa pula tanpa kata. Dan sungguh, Aku saat ini sadar, sebenarnya betapa banyak cara untuk menyatakannya. Tubuh yang letih itu, alangkah bersemangatnya jika di saat bangun nanti, ada secangkir minuman hangat yang diseduh dengan dua sendok teh gula dan satu cangkir cinta. Lalu Aku sampaikan kepada Umi ketika mata Umi telah terbuka,“Mi ada secangkir minuman hangat untuk Engkau istriku yang shalihah. Perlukah Aku hantarkan kemari?“ Kalau sulit melakukan ini? Ada cara lain yang bisa Aku lakukan. Mungkin sekedar membantu Umi meyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak, mungkin juga dengan tindakan-tindakan lain, tentu saja asal tak salah pasang niat. Kalau Aku terlibat dengan pekerjaan di dapur, memandikan anak, atau menyuapi si mungil, tentu semata karena mencari ridha Allah, sebab selain niat ikhlas karena Allah, tentu tak ada artinya apa yang Aku lakukan. Aku tidak akan mendapati amal-amalku saat kelak berjumpa dengan Allah di yaumil-qiyamah.

Alaa kulli hal, Aku sungguh menyesal……banyak hal terlewat yang tiada Aku lakukan, tapi bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali? Ingin sekali Aku tunjukkan langsung, bahwa selalu akan ada pengakuan untuk Umi, baik lewat ucapan terima kasih atau tindakan yang menunjukkan bahwa Umi-lah yang terkasih. Semoga dengan kerelaanku untuk menyatakan terima kasih, tak akan ada lagi airmata duka yang menetes, tak akan ada lagi saat, Umi berlari menelungkupkan wajah di atas bantal karena merasa tak didengar, ataupun merasa tak diperhatikan. Dan semoga pula dengan perhatian yang ingin sekali Aku berikan kepada Umi, kelak Umi akan berkata tentang Aku sebagaimana Khadijah berucap tentang suaminya, Rasulullah SAW, ”Ah, semua perilakunya menakjubkan bagiku”.

Bayanganku terus berlanjut, sesudah Aku puas memandangi Umi yang terbaring letih malam itu, setelah Aku perhatikan gurat-gurat penat di wajah Umi, Aku biarkan Umi sejenak untuk meneruskan istirahat. Hembusan udara dingin yang mungkin bisa mengusik tidur Umi, menggerakkan tanganku menarik sehelai selimut untuk Umi, yang sempat melorot. Aku tarik selimut itu dan menghamparkan ke tubuh Umi dengan kasih sayang dan cinta yang tak lekang oleh perubahan. “Ya Allah masukkan hamba dalam golongan laki-laki yang mulia, sebab tidak memuliakan wanita kecuali laki-laki yang mulia. Begitulah Rasul-Mu bersabda. Amin”.

Malam terus berlanjut, kembali Aku melanjutkan munajat dan tafakkur. Aku ingat kembali ketika Rasulullah SAW berpesan tentang istri. “Wahai manusia, sesungguhnya istri kalian mempunyai hak atas kalian sebagaimana kalian mempunyai hak atas mereka. Ketahuilah.”kata Rasulullah SAW melanjutkan.” kalian mengambil wanita itu sebagai amanah dari Allah, dan kalian halalkan kehormatan mereka dengan ikatan Allah. Takutlah kepada Allah dalam mengurusi istri kalian. Aku wasiatkan atas kalian untuk selalu berbuat baik.” Aku telah mengambil Umi sebagai amanah dari Allah. Kelak Aku harus melaporkan kepada Allah Ta’ala bagaimana Aku menunaikan amanah dari-Nya. Apakah Aku mengabaikan, sehingga guratan-guratan dengan cepat menggerogoti wajah Umi, jauh lebih awal dari usia yang sebenarnya? Ataukah, Aku sempat tercatat selalu berbuat baik untuk Umi. Semoga Aku dapat memberi ungkapan yang lebih agung untuk Umi.

Ingatanku terus mengenang ke belakang. Siapakah sebenarnya engkau, duhai Umi Shalehah istriku, yang menyelinap ke dalam kehidupanku? Kita berdua hadir dari dimensi ruang dan waktu yang berbeda, bahkan semula kita saling tak mengenal. Tapi kenapa di saat bersua, seketika kita saling mempercayai untuk membangun kebersamaan dalam perjalanan? Yakni mahligai rumah tangga yang telah kita jalani bersama selama ini.

Sungguh, begitu mulia mahligai yang bernama pernikahan. Pernikahan membuat kita saling terbuka, saling mempercayai dan saling berkomunikasi, apakah itu hanya sebuah angan? Tidak, sungguh Aku berharap demikian. Allah SWT menempatkan jodoh (pernikahan) pada kelompok ilmu-Nya yang tak dapat disingkapkan secara pasti oleh hamba-Nya.

Siapakah yang mengirim Umi ke dalam kehidupanku, duhai istriku terkasih? Jawabnya pasti Allah SWT. Betapa Maha Pengasih Dia, yang memberikan Umi sebagaimana ketentuannya agar setiap makhluk hidup berpasang-pasangan.

Sesungguhnya dunia perhiasan dan sebaik-baiknya perhiasan adalah wanita (istri) yang sholehah (HR. Muslim)

Betul, Umi memang hanya seorang istri, bukan pemimpin utama. Tapi sesungguhnya, Umi begitu menentukan, walau menurut banyak pendapat hanya menjadi posisi pendamping suami. Umi tatkala menjadi istri yang suci, Aku tahu selalu menjadi pengawasku saat keliru melangkah.

Siapa yang dapat mengukur air mata Umi yang berderai di saat Umi berdoa memohon agar Allah menunjukkan jalan yang benar padaku? Airmata yang selama ini dicitrakan sebagai kelemahan, justru seringkali mampu menjadi kekuatan untuk mengembalikanku ke jalan yang benar bila Aku melakukan kesalahan. Tapi, siapakah engkau, duhai Umi istriku yang menyelinap ke dalam kehidupanku? Yang senantiasa mampu menjadi “jalan cahaya” menuju-Nya. Kesucian Umi senantiasa menjadi suar di tengah keluarga untuk membentuk keluarga sakinah. Cahaya Umi selalu menerangi perjalanan menuju jalan kebaikan-Nya.

Boleh Aku sedikit membocorkan rahasia? Dulu sebelum menikah, Aku berharap Aku mendapatkan istri seperti Khadijah, melindungi suaminya kala gemetar ketakutan dengan hangat selimut kasih dan dekapan sayang keibuan, atau seperti Siti Hajar, yang meski sendiri ditinggal di gurun kesepian, tapi selalu merajut kesetiaan dan teguh memegang janji. Atau Bunda Fatimah az-zahra, yang tabah menjalani hari-hari dalam kesederhanaan meski hanya tinggal di rumah kecil berhiaskan prihatin semata, tapi ternyata, Akupun harus menyadari sepenuhnya, Aku bukan Muhammad Rasulullah yang kata-katanya senantiasa dapat dipercaya, atau Ibrahim yang hanif dan teguh berdiri menjaga iman, atau pula Ali bin Aku Thalib yang perkasa namun selalu santun pada sesama.

Aku hanya suamimu yang seringkali masih mudah marah saat kejengkelan merusak hati, laki-laki yang akan berdiri sombong saat ada orang yang mengusik ego diri, dan bocah balita yang dibungkus dalam tubuh orang dewasa, penuh manja, kekanak-kanakan, dan senantiasa seringkali tak mau mengalah, seringkali Aku jengkel ketika Umi tak bisa melangkah secepat langkahku tatkala berjalan bareng, padahal seharusnya Akulah yang setiap waktu mendukungmu di jalan berbatu terjal. Atau tiba-tiba keluar kata-kata kasar saat Umi tak juga mengerti diriku. Padahal seharusnya Akulah yang membimbing Umi dengan lemah lembut saat Umi mendapati kesulitan. Maafkan Aku!!! Terimakasih karena telah menerima segala kekuranganku, sehingga karena hal itu Aku mampu belajar menerima Umi apa adanya sebagai istri yang tentu akan punya kekurangan, namun Aku sangat sadari, Umi menyimpan kelebihan-kelebihan yang justru Aku sendiri tak pernah miliki. Aku menerima Umi sebagaimana Umi bersedia menerimaku. Inilah Aku, sungai deras yang selalu mengalir mencari lautan kasih Umi, semoga kelak akan terbaca bahwa perjalanan kita tulus menuju pada sang pencipta, mengikuti irama dalam syariatNya dan berada dalam surga abadiNya. Amin Ya Allah.

Sore, saat surat yang bersambung-sambung ini Aku tulis, hangat ruap harum secangkir kopi yang ada di hadapanku, makin menambah gelora kerinduan ini hingga tak terperi. Alangkah tak sabar hati ini untuk kita bisa berkumpul kembali, demikianlah Aku maknai bahagia, begitu sederhana tercipta kalau Aku mengingat masa yang lalu di saat setiap waktu kita bersama bukan hanya dalam benak mimpi kita.

Umi Shalihah yang menawan, cerminan perasaanku tentang sebuah keindahan, seakan tak ada surga lagi selain Umi walau di atas awan, istri Aku yang tercantik, terima kasihku atas cinta yang begitu menarik, yang Umi haturkan padaku setiap detik. Kata-kata ini Aku ucapkan bukan hanya buaian yang menggelitik. Umi yang teristimewa, seluruh hati ini untuk Umi semata, salamanya tak akan lekang oleh masa. Umi yang setia, Umi telah mampu menghapus semua duka yang Aku derita. “Ya Allah. Semoga Engkau memberi kami karunia, agar bisa bersama hingga sampai hari senja. Ya Allah hamba mohon…., lindungi istri dan anak-anak hamba. Jadikanlah kami keluarga yang Sakinah dalam nama-Mu, Mawaddah dalam naungan-Mu, Wa rahmah dalam sebutan- Mu, Ya Allah. Amin”.

Kesabaran dan keikhlasan Umi mengelola rumah tangga membuat Aku merasa khidmat untuk beribadah. Sebaliknya, seperti yang Umi tahu, istri yang ‘musyrik’, bagai lorong gelap yang menyesatkan. Karena itu Umi istriku, jadilah engkau suci untuk menjadi jalan bercahaya bagiku dan keluarga kita.

Wahai Umi istriku, Aku mencintai Umi karena cintaku pada-Nya yang senantiasa memuliakan Umi, istriku yang telah melahirkan anak-anakku! Umi anugerah terindah dalam hidupku, tak henti-hentinya Aku ucapkan syukur kepada Allah atas limpahan rahmat yang telah Dia kirimkan, seorang Bidadari, walau sumpah…meski Umi berputar ratusan kali di depan cermin karena ingin melihat adakah sayap di punggung Umi, Umi tak akan menemukannya (karena semua orang salah kalau mengira bidadari harus selalu memiliki sayap). Aku berjanji…akan menjadi suami yang sayang dan selalu setia pada Umi, berusaha keras tak kan sakiti hati ataupun perasaan Umi.

Senantiasa menjadi imam buat keluarga, dengan segala kekurangan yang Aku miliki dan kehampaan ilmu yang Aku tahu, akan senantiasa membimbing keluarga dalam segala kebaikan. Sebaliknya tegurlah Aku jika Aku lalai… Ingin sekali Aku membayar balik semua hal yang telah terjadi, kerap kali Aku tinggalkan kalian selama ini, tinggal dengan keluarga di Martapura…terima kasih Aku haturkan untuk semuanya…terima kasih karena menerima Aku apa adanya dan teramat mulia Aku ucapkan terima kasih buat Engkau isteriku yang amat Aku cintai, maafkan Aku karena kesusahan yang Aku buat, percayalah Allah itu MAHA KAYA atas segalanya, sabar ya sayang…, tenang dan menerima segalanya dengan sesungguh hati. Walau kita juga mesti ingat, Allah menurunkan penyakit tentu menurunkan obatnya, jangan sekali-kali kita berputus-asa dan kecewa.

Berdoa dan berusaha adalah senjata kita yang paling ampuh, insya Allah dengan berkah Allah Swt, akan menemukan jalan keluar kita dari setiap lilitan masalah. Jangan sekali-kali kita meletakkan diri kita selemah-lemah hamba sehingga kita membiarkan diri kita tanpa membangkitkan harapan. Tak perlu Aku ingatkan, Umi pasti paham, kita tidak boleh lari dari takdir tetapi kita harus berikhtiar karena Allah suka mereka yang berusaha dan berikhtiar, dan buat orang tua dan mertua terindu, maafkan segala dosa anak kalian ini, yang belum mampu menjadi kebanggaan kalian.

Ya Allah jadikanlah kami keluarga yang bahagia, sakinah mawadah wa rahmah serta berikanlah kami keturunan yang baik, yang sempurna di mata Engkau, yang sholeh/ sholehah, yang berguna bagi agama dan negara. Ya Allah limpahkanlah hidayahmu untuk keluarga kami agar kami bisa menuju ke syurga-Mu yang kami nanti-nantikan keindahannya…

Ya Allah jadikanlah istri hamba orang yang sabar dalam menghadapi keburukan perangai hamba… bukakanlah pintu hati hamba dan istri hamba agar selalu bersujud kepadaMu … jadikanlah istri hamba permaisuri di hati dan bakal bidadari hamba di Syurga yang abadi.

Jadikanlah anak keturunan kami mewarisi akhlak semulia Sayyidah Fatimah dan lelaki sehebat Saidina Ali. Janganlah Engkau letih dalam mengingatkan kami agar selalu ingat kepadaMu. Ya Allah… hujanilah keluarga kami dengan kebahagiaan, berikanlah kami nur kedamaian…Sesuai keterangan dari Guru dan Imam kami, biarlah kami berjauhan untuk sementara, semakin lama kami berpisah niscaya akan semakin besar kerinduan kami saat bertemu. Amin Ya Allah, Ya Robbal ‘alamin.

Ini dulu ya Mi….kalau disambung-sambung terus, Aku jadi berpikir…..kapan dikirimnya.

Wassalamu’alaikum Umi Shalihah

Kertak Hanyar, 21 April 2008

Aku Suamimu….

11 Comments »

  1. luar biasa…salam kenal untuk mas taufik.

  2. hafidzi said

    salute mas,
    tulisannya sangat keren

  3. Zul ... said

    Bang,
    Ini surat beneran buat isteri sampeyan atau cerpen?
    Jawabannya, pasti dua-duanya.
    Mengharukan!

    Tabik!

  4. Willy Ediyanto said

    Terima kasih atas kunjungan ke ruang tamu mayaku.

  5. SHALEH said

    Untung belum punya istri jadi ga punya niat buat surat sepanjang ini… tapi entahlah nanti

  6. warmorning said

    ..sungguh lelaki tangguh you are..

  7. khai_ril said

    Kunjungan balik nah, umai pian lah, blog saling bagusan ngini dipadahi sahibar corat-coret kada karuan, kyapa mun bujur-bujur manulis lah? hee..hee…

    Blog ulun kpasitasnya tebatas banar, jadi kada kawa upload lagi…santai ae dulu muhanxa…

  8. oRiDo said

    salut…
    salut..

    mantep..

  9. lubis said

    ck ck…..
    baca suratnya …. jadi pengen nikah nich mas….

  10. gusti said

    Kerennnnnnn….!!!! bagi ilmunya bang.. hehehe….. salam kenal buat semuanya…

  11. wah nggak sempet baca suratnya…

    salam kenal juga dari MAN 2 Model Pekanbaru…

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: