Artis, Icon Perceraian dan “Duta” Narkoba?

Sekarang ini, untuk dapat mengetahui informasi terkini bukanlah suatu hal yang susah. Kita dapat mengakses informasi “orang-orang penting” kapan saja. Apalagi informasi tentang kehidupan para artis/selebritis. Hampir setiap hari, kita disuguhkan melalui berbagai media, baik cetak maupun elektronik mengenai aktivitas mereka. Maklum, artis merupakan objek yang selalu disorot oleh para “pencari berita”. Karena berita-berita para artis sangat “laris manis” dikonsumsi oleh masyarakat.

Tak heran, jika banyak para artis yang selalu “menghindar” jika bertemu dengan wartawan, bahkan mereka seringkali melakukan aksi “tutup mulut” agar “rahasia” mereka tidak diketahui publik. Sementara itu, masyarakat kita hoby mendengarkan dan membaca infotainment, yang dihidangkan media massa.

Kehidupan para artis memang selalu menarik untuk disimak. Selain banyak penggemar dan relasi juga jadi “manusia pencetak uang”. Saya pernah baca sebuah tabloid, untuk artis yang sudah “punya nama” dalam satu episode sinetron yang mereka perankan diganjar dengan bayaran Rp 30-40 juta. Bahkan ada yang mengaku, “penghasilan” mereka dalam satu bulan mencapai miliaran. Sungguh fantastis! Tidaklah mengherankan jika banyak remaja bahkan anak-anak sekalipun yang bercita-cita menjadi artis. Berbagai kontes, mereka ikuti untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Barangkali tidak berlebihan jika ada yang beranggapan bahwa ketenaran artis melebihi seorang politisi. Bahkan seorang presiden sekalipun.

Daniel Boorstin (1995) mengungkapkan “Dunia dewasa ini memiliki para pemimpin, tetapi mereka berada di bawah bayang-bayang para selebritis. Pemimpin dikenal karena prestasi mereka, sedang selebritis dikenal karena ketenaran mereka. Pemimpin mencerminkan hakikat-hakikat manusia, sedang selebritis mencerminkan kemungkinan-kemungkinan pers dan media. Kaum selebritis adalah orang-orang yang membuat berita, tetapi para pemimpin adalah orang-orang yang membuat sejarah.”

Salah satu berita terkini yang menjadi hotline news bagi media adalah dibekuknya beberapa orang “sesepuh” artis dalam razia Narkoba. Saya terperanjat ketika mendengar berita tersebut. Terperanjat, karena sepengetahuan saya, kasus tersebut bukanlah kasus pertama yang menimpa mereka dan para artis lainnya. Apakah mereka tidak mengambil pelajaran dari kasus-kasus yang sebelumnya terjadi? Ataukah karena sanksi yang diberikan terlalu ringan, sehingga tidak ada efek jera terhadap kasus serupa?

Kasus ini secara tidak langsung akan menambah panjang daftar kekecewaan para pendukungnya dan memunculkan pandangan miring (peyoratif) masyarakat terhadap para artis. Masyarakat saat ini menganggap bahwa, kehidupan para selebritis tidak memberikan contoh yang baik. Paling tidak, ada dua alasan yang menguatkan pandangan tersebut, yaitu: pertama, masyarakat menganggap bahwa para selebritis telah terbawa arus kehidupan yang glamour. Bisa kita lihat, dari pakaian yang mereka kenakan, hubungan pacaran yang terlalu bebas dan lain sebagainya.

Kedua, masyarakat sudah menganggap bahwa, selebritis menjadi “icon” perceraian. Ketika mendengar informasi ada kasus perceraian antara si A dengan si B misalnya, masyarakat langsung berujar. “Hah…cerai lagi-cerai lagi”. Walaupun sebetulnya kedua anggapan tersebut tidak dapat digeneralisir, tetapi image itu telah kadung tumbuh dengan subur dan melekat dalam benak masyarakat. Karena terlalu seringnya berita-berita tersebut dikupas dalam berbagai program infotainment .

Karena ketenarannya, maka artis dijadikan sebagai publik figure. Keberadaannya sangat berpengaruh terhadap masyarakat terlebih pendukungnya. Tidak heran jika pada Pemilu 2004 yang lalu banyak parpol yang melirik mereka untuk mendongkrak suara, untuk memenangkan pemilu. Baik sebagai juru kampanye (jurkam) maupun sebagai calon legislatif. Karena artis sedikit banyak pasti memiliki penggemar, memiliki massa.

Dengan demikian, maka jika artisnya melakukan hal-hal yang “melanggar hukum”, bukan mustahil suatu saat penggemarnya juga melakukan hal yang serupa. Jika artis idolanya mengkonsumsi narkoba, maka tidak menutup kemungkinan para penggemarnya juga akan mengkonsumsi narkoba. Walaupun sebetulnya tidak ada korelasinya.

Berikut akan saya kutipkan penyesalan seorang Marlyn Monroe-wanita tenar tahun 60-an, (dalam Pesan untuk Muslimah, 1992: 22). Dia mengatakan bahwa; “Berhati-hatilah dari gemerlapnya ketenaran yang menipu kalian, sesungguhnya aku adalah wanita yang paling celaka di dunia ini. Aku tidak sanggup menjadi seorang ibu.”

Penyesalan Marlyn Monroe itu hendaknya jadi pelajaran berharga. Khususnya kaum ibu dalam membina dan mendidik anak-anak. Berikan ilmu yang bermanfaat, dan pantau aktivitas mereka supaya tidak terlibat narkoba dan pergaulan bebas. Sebab, narkoba dapat merusak generasi bangsa. Adalah tanggung jawab kita bersama untuk mengingatkan para penerus bangsa agar tidak terjerumus dalam jeratan narkoba. Kita berharap agar kasus penggunaan narkoba ini dapat diselesaikan dengan tuntas hingga keakar-akarnya. Penegak hukum harus bertindak tegas kepada siapapun yang melanggar hukum, tanpa terkecuali. Stop narkoba! Sekali terjerat hidup sekarat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: