Karena Lidah Tidak Bertulang (Belajar dari Kasus Bupati HSS)

Pernah dimuat pada kolom Opini, harian Mata Banua/ Rabu, 9 April 2008,

Mungkin Bupati Hulu Sungai Selatan (HSS) Dr.HM. Sapi’i, M.Si lupa bahwa Kalimantan ini bukanlah Eropa. Warna kulit dan budayanya pun berbeda. Juga Kandangan bukanlah Denmark, sehingga agama tidak hanya dapat dipandang sebagai budaya.

Sangat jauh bedanya apabila dibandingkan dengan kita urang banua ini yang juga sebagai umat Islam, begitu menjunjung tinggi adab dan sopan santun, maupun adab untuk berbicara yang sesuai dengan firman Tuhan melalui mulut Nabi yang sangat dimuliakan.

Di tengah mencuatnya kasus film “Fitna” besutan Geert Wildert, Pemimpin Freedom Party Belanda yang dikecam banyak pihak karena film tersebut berisi provokasi yang menyudutkan Islam. Namun, tak kalah pula isu yang kini marak dibicarakan adalah soal kalimat sambutan Bupati HSS pada acara maulid Nabi di Masjid Taqwa Kandangan, 20 Maret 2008 yang lalu.

Adapun kalimat kontroversial yang belakangan memunculkan protes dari sejumlah ulama dan LSM di HSS meluncur dari lidah Bupati Sapi’i, “…Konon kabarnya lagi, junjungan kita punya kekuatan seks yang besar. Artinya, dengan kata lain ini dibuktikan sidin kawa babini sembilan”. Terlepas apa motif yang melatarbelakangi pernyataan Sang Bupati tersebut, tak pelak kalimat tersebut menuai reaksi keras, karena dinilai telah melecehkan kehormatan dan pribadi Nabi Muhammad SAW, sehingga menimbulkan persepsi yang salah di masyarakat. Akibat “keseleo lidah” Bupati itu, seolah-olah Nabi menikah hanya untuk memenuhi hasrat seksualnya semata.

Bupati HSS, Sapi’i bersikukuh bahwa kalimat yang disampaikannya dalam sambutan tersebut sangat berdasar, karena ia ambil dari kitab Jami’us Shaghir, susunan Jalaluddin Suyuti jilid I halaman 7. Belakangan diungkap oleh beberapa ulama bahwa hadits yang menjadi sandaran Bupati itu adalah hadits mursal, bahkan ada yang mengatakan hadits palsu, dan bukan hadits shahih.

Tulisan ini tidak bermaksud ingin mawada siapa-siapa, atau merasa pina paiyanya, tapi berupaya menggali hikmah di balik mencuatnya kasus yang cukup menyita perhatian publik banua ini. Sebagai Urang Kandangan yang tinggal di perantauan, nurani saya terpanggil untuk turut memberi sumbangsih pemikiran.

Belajar dari Kasus Sang Bupati

Apik-apik kalu tacalubuk. Papadah urang Banjar ini merupakan nasihat agar kita selalu berhati-hati dalam mempergunakan lidah (berbicara), jangan sampai akibat pembicaraan tersebut membawa petaka bagi diri kita pribadi, maupun bagi orang lain.

Karena lidah tak bertulang, seringkali tanpa sadar keluar kata-kata yang tak diinginkan. Lidah yang lepas kendali akan banyak mendatangkan kesusahan bagi diri sendiri dan orang lain. Lidah bisa menyakiti hati orang. Lidah bisa membuat orang naik darah. Lantaran lidah seseorang bisa kehilangan nyawa. Rasulullah Saw. menyuruh kita agar menjaga lidah: “Manusia tidak akan teguh imannya, sebelum teguh hatinya, dan tidak akan teguh hatinya sebelum teguh lidahnya” (HR Ahmad).

Orang yang banyak bicara bila tidak diimbangi dengan ilmu agama yang baik, akan banyak terjerumus ke dalam kesalahan. Karena itu Allah dan Rasul-Nya memerintahkan agar kita lebih banyak diam. Atau kalaupun harus berbicara maka dengan pembicaraan yang baik. Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.” (Al-Ahzab: 70)

Rasulullah bersabda: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Al-Imam Al-Bukhari). Lisan (lidah) memang tak bertulang, sekali engkau gerakkan sulit untuk kembali pada posisi semula. Demikian berbahayanya lisan, hingga Allah dan Rasul-Nya mengingatkan kita agar berhati-hati dalam menggunakannya. “Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang dibenci oleh Allah yang dia tidak merenungi (akibatnya), maka dia terjatuh dalam neraka Jahannam.” (HR. Al-Bukhari)

Al-Imam Asy-Syafi’i mengatakan: “Apabila dia ingin berbicara hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga nampak maslahatnya.” (Al-Adzkar hal. 284). Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Al-Imam An-Nawawi mengatakan: “Ketahuilah, setiap orang yang telah mendapatkan beban syariat, seharusnya menjaga lisannya dari semua pembicaraan, kecuali pembicaraan yang sudah jelas maslahatnya. Bila keadaan berbicara dan diam sama maslahatnya, maka sunnahnya adalah menahan lisan untuk tidak berbicara. Karena pembicaraan yang mubah bisa menarik kepada pembicaraan yang haram atau dibenci, dan hal seperti ini banyak terjadi. Keselamatan itu tidak bisa dibandingkan dengan apapun.”

Lidah….organ terkecil dari tubuh kita, tapi nahkoda yang mengendalikan seluruh hidup kita. Tergantung bagaimana kita memegang kemudi itu. Jika kita tak bisa mengendalikannya, hancurlah seluruh hidup kita. Satu sumber mata air yang dapat memancarkan kasih dan pahit.

Lidah…lima huruf, tapi memiliki dampak yang sangat radikal. Dia dapat menyakiti, dia dapat juga memberkati orang dengan kata-kata lembutnya. Dia dapat membuat orang menangis, dia dapat juga membuat orang tersenyum. Dia dapat membunuh, dia dapat juga mendamaikan. Dia dapat menimbulkan konflik, dia dapat juga mempersatukan.

Lidah…karena dia, persahabatan yang terbina dengan baik bisa hancur dengan kesalahpahaman. Karena dia, sepasang kekasih memutuskan berpisah oleh kurangnya pengertian dan keegoisan satu sama lain. Karena dia juga, suami istri yang tak teguh memegang komitmen hidup akhirnya memutuskan berpisah. Karena dia, para pemuda jatuh dalam lubang kebinasaan. Karena dia, dua suku bangsa dapat bertengkar hanya dipicu satu orang saja. Karena dia, dua negara yang berdamai bisa terpecah belah.

Lidah…dia membuat orang bisa menjadi marah, memfitnah, membunuh, egois, tidak bisa mengerti keadaan orang lain, menang sendiri, acuh tak acuh, sinis, iri hati dan dendam. Tapi lidah juga membuat hati yang beku menjadi hancur, hati yang dipenuhi amarah dapat luluh oleh adanya kata-kata bijak,

Tetapi kadangkala manusia mengabaikan betapa pentingnya peran lidah. Mereka tak pernah berpikir dampak yang kan terjadi bila kata-kata itu keluar dari mulut mereka. Lidah dapat mengeluarkan perbendaharaan yang baik jika dikendalikan oleh nahkoda yang bijaksana pula. Sebaliknya lidah dapat mengeluarkan perbendaharaan yang menyakitkan jika berada di tangan nahkoda yang akhlaknya buruk.

Lidah yang baik adalah lidah yang ingin sahabatnya bahagia, dan tidak ingin menghancurkan persahabatan itu walau sudah di ujung tanduk; lidah yang ingin agar sahabatnya tersenyum kembali walaupun dia kecewa padanya dan tak ingin menyakitinya. Lidah yang baik adalah lidah yang selalu menyayangi orang lain, meski orang itu melukai perasaannya.

Khatimah

Penggunaan lidah yang tidak terjaga dan kurang berhati-hati di samping dapat melemahkan penalaran, juga dapat berakibat kerancuan, salah tafsir, dan salah paham. Penggunaan lidah yang baik dapat menuntun kita ke arah cara berpikir yang jernih dan bernalar. Apa lagi bila hal ini menyangkut tokoh penting, presiden, gubernur, bupati, atau panutan masyarakat luas. Kasus yang menimpa Bupati HSS yang “keseleo lidah” agaknya patut menjadi pelajaran bagi kita bersama. Karenanya, ariflah dalam memilih kata, berhati-hati dan santun menggunakan bahasa.

Ingat papadah urang-urang tuha, tabarusuk batis kawa dicabut, tabarusuk basa jadi hual (terperosok kaki mudah ditarik, terperosok kata bisa membawa malapetaka).

Jadilah lidah-lidah yang memberkati orang-orang di sekeliling kita, nahkoda-nahkoda yang membuat orang lain tersenyum, nahkoda yang memberi ketenangan dan kedamaian….

9 Comments »

  1. Iya kayaknya lidah emang jadi bulan-bulanan ya??

    Apakabar nih? Saya pindah ke URL baru ya..

    http://www.nadataufik.com

  2. taufik said

    kabar baik aja,ntar ane kunjungi situs sampeyan jg… thank u

  3. wuah apanya neh yg tmbh kinclong? Hihi..

  4. Zul ... said

    Esai Anda tentang Lidah memberikan penyadaran akan posisi strategis lidah dalam kehidupan kita. Aku pikir lidah adalah alat pancing yang sengaja dipasang Allah untuk melihat kebijakan manusia dalam mengatur hidupnya. Barangkali yang perlu mendapat sorotan adalah sejauh mana lidah membawa manfaat bagi kehidupan ummat.

    Satu hal, sayang ga diungkap ‘keseleo lidah’ bagaimana sih yang dilakukan Bupati HSS, biar pembaca bisa melihat korelasinya.

    Tabik!

  5. taufik79 said

    Benar sekali apa yg disampaikan Pak Zul. Insya Allah versi tulisan di blog ini akan di update. Trima ksih dan salam hangat tuk Pak Zul. Komentar dan saran dari Sampeyan terus ulun nantikan.Salam!

  6. taufik79 said

    Last Update: 12 April 2008

  7. riswan said

    bajalanan pang ke blog ulun

  8. yasmin said

    owh

  9. Ya am gara2 lidah tak bertulang.ciri awaknya gin kurus krempeng wan kda batata pabila bpander.asal2an to pang.orngnya bgana di Ulin.

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: