Agama, Cinta dan “Fitna” (Menggugat Sebuah Tragedi)

islam.jpg

Penyair besar Persia, Hafiz berkata: “Tak seorangpun di kolong dunia ini menapaki hidup tanpa cinta dan kasih sayang”. Benar adanya apa yang dikatakan oleh penyair di atas. Segala sesuatu yang hidup dan bergerak senantiasa mendambakan cinta dan kasih sayang. Cinta adalah mata air kehidupan. Agamapun tak terkecualikan dalam hal ini. Agama yang mengklaim hidup sepanjang masa, hanya bisa tumbuh dan bertahan karena cinta. Agama yang membesarkan dirinya dengan kekerasan dan kebencian pada hakikatnya sedang membunuh dirinya sendiri secara perlahan. Agama yang bekerja untuk menumpuk lawan daripada menambah kawan, sebenarnya sedang berjuang untuk menamatkan riwayat hidupnya.

Agama yang mengedepankan peperangan di atas perdamaian adalah agama yang berasal dari Tuhan yang Maha Pemarah, atau mungkin lebih tepatnya “Yang Maha Pengganyang”, bukan Maha Penyayang. Agama yang mengajarkan kebencian dan permusuhan adalah agama yang bertolak belakang dengan fitrah manusia. Dan manusia tidak akan dapat hidup dengan sesuatu yang bertentangan dengan fitrahnya. Sebab, manusia hanya bisa hidup dengan kasih sayang dan kelembutan, bukan dengan kebencian dan kekerasan.

Cinta adalah ruh agama. Agama tanpa cinta adalah kematian itu sendiri. Hubungan antara agama dan cinta bak hubungan antara ruh dan badan. Bukankah Tuhan terlebih dahulu memperkenalkan diri-Nya sebagai Pecinta sebelum memperkenalkan-Nya sebagai pemarah? Bukankah kita selalu mengawali dengan bacaan basmalah setiap kita membaca Kitab Suci Al-Qur’an? Basmalah berarti kita membaca dengan Nama Tuhan Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang? Bukankah Isa al-Masih dikenal dan dipuja karena lautan kasihnya? Bukankah Muhammad saw mendapat predikat “rauf rahim” yang berarti pengasih dan penyayang karena kasihnya yang luar biasa?

Dan penaklukan kota Mekkah menjadi satu saksi abadi betapa Rasul saw tidak sedikitpun menaruh dendam kepada orang-orang yang menyakitinya, mengusirnya dan membunuh sahabat-sahabat setianya. Bahkan ketika memasuki pintu gerbang kota Mekah tersebut, kota yang berhasil direbutnya dari tangan kafir quraisy, Muhammad Saw tak pernah menunjukkan wajah bermusuhan dan dendam kesumat namun yang ada adalah lemparan senyum dan kasih. dan memaafkan mereka sambil berkata: “Idzhabu wa antum thulaqa” (pergilah dan kalian menjadi orang-orang yang bebas).

Inilah Muhammad pengajar cinta sejati. Lalu mengapa agama dikait-kaitkan dengan kekerasan dan kebencian? Tentu ini usaha untuk menyimpangkan agama dari pilar sejatinya, yaitu cinta. Agama tidak mengajarkan kekerasan, permusuhan dan peperangan. Agama justru mengajarkan kedamaian, keharmonisan dan keamanan. Agama tidak pernah menghalalkan tindakan teroris, baik terorisme antar agama maupun sesama agama. Adalah benar bahwa jihad termasuk perintah Islam. Namun jihad bukan berarti melanggar hak orang lain atau membunuh jiwa yang tak berdosa secara biadab.

Jihad dibolehkan hanya dalam rangka mempertahankan kebenaran dengan menjaga syarat-syaratnya yang ketat. Islam selalu mengutamakan perdamaian dan dialog yang sehat antar pengikut agama. Namun ketika pihak yang berlawanan memilih jalan peperangan, maka Islam tidak boleh “melempar panah (amunisi)” terlebih dahulu yang berarti ajakan untuk memulai peperangan. Demikianlah yang tercatat dalam buku-buku sejarah bahwa Nabi saw meski melakukan pelbagai peperangan, namun beliau tidak pernah memulai peperangan. Musuh-musuh beliau yang selalu mendahului untuk menyerang. Yang demikian ini karena alumni Gua Hira ini dididik oleh Tuhan Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang dengan didikan cinta dan kasih sayang. Dan setelah lulus dari pendidikan ini, beliau mendapat gelar habibullah (kekasih Allah) dan bersabda: “Aku dididik oleh Tuhanku dengan sebaik-baik pendidikan.”

Peristiwa peledakan bom dan terorisme tidak dapat dikaitkan dengan agama dan pelakunya tidak bisa disebut beragama. Agama mana yang menghalalkan peledakan bom di tempat umum yang selalu dipadati orang? Agama mana yang membenarkan penghancuran makam orang-orang yang saleh dan dihormati? Peledakan bermotifkan kebencian dan kebencian tidak masuk dalam kamus agama. Agama tidak pernah mengenal kebencian. Prinsip agama adalah cinta. Peledakan bom tidak pernah membangun peradaban manusia, justru meruntuhkannya. Agama harus membangun peradaban, bukan malah menghancurkannya.

Begitu juga “tragedi Fitna”. Saya menyebutnya sebagai sebuah tragedi karena saking rendahnya dan tidak bermartabatnya film ini. Bagaimana Islam yang diturunkan dengan membawa rahmat dan kasih sayang digambarkan secara sinis dan terhina seperti itu. Film ini hanya menanamkan kebencian dan menghancurkan ikatan kasih sayang. Sesuatu yang berangkat dari kebencian dan penghinaan itu tidak akan pernah bernilai. Dan ia tidak bisa dikaitkan dengan kebebasan berekspresi, karena ia berdiri di atas puing-puing kebencian dan penghinaan.

Kebebasan berekspresi dan berpendapat itu menjadi bernilai bila tegak di atas nilai-nilai kemanusiaan dan kemuliaan. Film Fitna hanya menunjukkan motif lain di balik upaya makar penggarapnya. Maka, tersirat dengan jelas bahwa target yang diinginkan tidak lain adalah keinginan untuk menciptakan ketegangan antara timur dan barat serta pertikaian antar pemeluk agama atau setidaknya upaya sebagian rezim Barat untuk memojokkan penganut agama Islam, inilah drama dari lakon “Islam adalah agama kaum teroris“ yang terus dihembuskan oleh mereka yang memendam kebencian dengan agama cinta ini.

Namun upaya itu tidak pernah terwujud dan sama sekali tidak berhasil menciptakan ketegangan dan konflik horizontal antar umat beragama seperti yang dikehendaki, yang setidaknya menjadi salah satu target penting dari peluncuran film yang menggoreskan luka kaum muslimin di seantero dunia tersebut, yang dimuat secara luas melalui media internet belum lama ini.

Film ini sama sekali tidak memiliki kaitan dengan agama tertentu, yang senantiasa menyerukan kasih sayang perdamaian dan persaudaraan. Sebaliknya, publikasi film ini tidak lain adalah serangkaian konsep busuk dari upaya memerangi persaudaraan dan kasih sayang di antara umat manusia.

Wallahu a’lam bish shawaab.

6 Comments »

  1. Terima kasih Bung dah berkunjung diblogku..

    Inilah anarkisme yang nyata dan tanpa sadar…

    Tentang Kekerasan yang terjadi baru2 ini dengan mengambil sample video FITNA, dan berbagai bentuk anarkisme media/opini/propaganda pemikiran dari wilayah eropa dan barat, maka sudah jelas Anarkisme akan berkala dikumandangkan. Jika umat Islam masih berkutat pada individu dan kelompok maka mereka siang malam tidak tidur melancarkan dan menyebarkan Anarkisme.

    Siapa sesungguhnya yang lebih Anarkis? ialah mereka-mereka yang sudah melancarkan perang pemikiran. Karena nyata umat Islam masih banyak yang bodoh..

  2. Suhadinet said

    Pak Taufik makan apa ya? Kok tiap kali saya mampir dan membaca tulisan Anda pasti manggut2 tanda setuju, lalu menggumam sendiri: ”Betul juga…”

  3. tulisan keren walau berat neh contennya he he. btw tulisannya kok kecil ya, mungkin bisa digedein dikit pak🙂

  4. taufik79 said

    Mas suhadi: yg jelas “makan yang bergizi” dong (istilah pak Hernowo tuh). Syukran mas, moga ada manfaatnya aja…

  5. Selamat siang mas,
    namanya mirip sekali dengan nama papa saya, Taufik.
    Salam kenal juga, apakabar?

  6. udah kasih uang damai aja..😀

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: