100 Tokoh Kalimantan

Judul : 100 Tokoh Kalimantan
Penulis : Abu Nazla Muhammad Muslim Safwan
Penerbit : Toko Buku Sahabat, Kandangan
Cetakan : I, Juni 2007
Ukuran : 20,5 x 14 cm, xv + 370 halaman

cover-100-tokoh.jpg

“Ulama bukanlah malaikat dari langit yang turunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Ulama adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam masa yang panjang, sampai waktu mereka habis”.

Perjalanan sejarah dari masa ke masa tak luput dari kilasan perjalanan sosok para ulama. Merekalah garda terdepan semangat juang yang tengah dikobarkan. Merekalah guru bagi peradaban yang agung. Peradaban yang melahirkan jundi-jundi yang ikhlas mempertaruhkan dirinya atas nama dien yang mulia, al-Islam.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai jasa-jasa para pahlawannya. Ungkapan klasik ini memiliki makna penting dalam pembangunan bangsa ke depan. Begitu pula umat yang besar adalah umat yang mau menghargai, mengenang, menelusuri dan mengikuti jejak langkah para ulamanya. Sebab sangat jelas, ulama adalah pewaris para nabi, karena peran dan perjuangan para ulama yang telah mendahului perjuangan para penerusnya saat inilah, akhirnya dakwah sampai kepada kita.

Karena itulah sudah seharusnya bila kiprah dan sumbangsih para ulama tersebut perlu diapresiasi, dihargai, dikenang, dipelihara, diteruskan dan dikembangkan untuk kepentingan pembangunan masyarakat dan bangsa Indonesia, untuk menghadapi tantangan global.

Dari sekian banyak tokoh ulama yang perlu diketahui oleh anak bangsa dan para penerus perjuangan, mereka adalah para ulama Indonesia yang berasal dari pulau Kalimantan (Borneo). Karena peran mereka yang sangat berarti bagi negara dan bangsa, khususnya di bumi Kalimantan.

Nama Syaikh Muhammad Arsyad menempati hati masyarakat Kalimantan dan Indonesia sebagai ulama besar dan pengembang ilmu pengetahuan dan agama. Belum ada tokoh yang mengalahkan kepopuleran nama Syaih Arsyad Al-Banjari. Karya-karyanya hinga kini tetap dibaca orang di masjid dan disebut-sebut sebagai rujukan. Nama kitabnya Sabilal Muhtadin diabadikan untuk nama Masjid Raya di Banjarmasin. Nama kitabnya yang lain Tuhfatur Raghibin juga diabadikan untuk sebuah masjid yang tak jauh dari makan Syaikh Arsyad. Tak hanya itu, hampir seluruh ulama di Banjarmasin masih memiliki tautan dengannya. Baik sebagai keturunan atau muridnya. Sebut saja nama almarhum K.H. Muhammad Zaini, yang dikenal dengan nama Guru Sekumpul itu, adalah keturunan Syaikh Arsyad. Hampir semua ulama di Kalimantan, Sumatera, Jawa, dan Malaysia, pernah menimba ilmu dari syaikh atau dari murid-murid syaikh.

Bumi Kalimantan tidak hanya melahirkan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dengan karyanya “Sabilal Muhtadin” yang masyhur itu. Dari pulau yang dilintasi garis khatulistiwa ini juga mengorbit sebuah bintang yang kini menempati gugusan ulama terkemuka Nusantara. Dialah Syekh Muhammad Nafis Al-Banjari yang salah satu karyanya, “Durr Al-Nafis”, masih dibaca sampai sekarang.

Setelah Arsyad Al-Banjari, Muhammad Nafis adalah ulama paling berpengaruh di Kalimantan. Muhammad Arsyad lebih masyhur sebagai ulama fiqh lewat karyanya yang monumental tadi, sedangkan Muhammad Nafis lebih terkenal sebagai ahli tasawuf, melalui karyanya yang juga beredar luas di Nusantara.

Muhammad Nafis bin Idris bin Husain Al-Banjari berasal dari keluarga bangsawan. Beliau dilahirkan di Martapura, Kalimantan Selatan, pada tahun 1148 Hijriah atau tahun 1735 Masehi. Nafis hidup dalam kurun waktu yang sama dengan Syekh Arsyad, yang lahir pada 1122/1710. Jika Arsyad meninggal tahun 1227/1812, Nafis belum diketahui tahun wafatnya. Yang kita ketahui, peristirahatan terakhir beliau di desa Kelua, sekitar 125 kilometer dari Banjarmasin.

Sederet nama-nama besar terus menghias panggung sejarah bumi Kalimantan dari masa ke masa. Nama dan dedikasi nereka tertoreh dengan tinta emas. Sebut saja di antaranya, ada Mufti Jamaluddin al-Banjari, mufti Banjar pertama. Syeikh Sa’duddin, pelopor dakwah di Banua Anam, KH. Muhammad Kasyful Anwar, sang penggagas perubahan Darussalam yang rendah hati, Syeikh Muhammad Afif, pemancang tiang guru mesjid al-Karomah. Qadhi KH. Husein Qadri, Qadhi sekaligus penulis yang murah senyum. KH Badruddin, ulama, pendidik dan politikus ulung, KH. Muhammad Rasyad, ulama yang ulet menyampaikan dakwah Islam, KH. Zainal Ilmi, ulama yang tegas, berwibawa dan selalu merendah. KH. Muhammad Syarwani Abdan, kyai santun nan rendah hati, pencetak kader ulama. Syeikh H. Anang Sya’rani, muhaddits pertama Kalimantan. KH. Saman Jalil, ulama sang astronom. KH. Muhammad Hanafi Gobet, kyai pendidik sekaligus politikus yang berwibawa.

Kisah-kisah para ulama yang malang melintang di “jagad” dakwah itu, adalah jua tetesan hikmah yang dapat menjadi ibroh bagi para penyeru dienullah yang mulia ini. Refleksi mereka adalah refleksi kita. Masalah yang mereka hadapi juga kita hadapi, entah kemarin, kini atau esok. Idealisme mereka adalah juga idealisme kita.
Di tengah kelangkaan buku-buku dengan tema lokal, buku yang berjudul “100 Tokoh kalimantan” ini berusaha mengangkat kembali figur tokoh-tokoh ulama yang telah wafat, yang tersebar di bumi Borneo.

Mendengar atau membaca judul 100 tokoh, yang terlintas dalam benak kita mungkin adalah buku terkenal 100 Tokoh Paling Berpengaruh Sepanjang Sejarah karya Michael H.Hart, atau 100 Tokoh Abad 20 versi majlah Times. Atau buku 100 Orang Terkaya di Dunia versi majalah Forbes, 100 Wanita Terseksi versi majalah Vogue, dan seterusnya.

Menurut penulisnya, kehadiran buku ini termasuk salah satu upaya penghargaan atas jerih payah perjuangan dari tokoh-tokoh ulama tersebut. (h. vi) Buku ini merupakan suatu upaya mengantarkan gagasan, pemikiran serta cita-cita perjuangan para ulama. Karena kita sadar bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu merealisasikan cita-cita para pendahulunya, sebaliknya satu bangsa akan menjadi kerdil bila ia mengkhianati cita-cita perjuangan para pendahulunya. Umat akan menjadi merosot bila cita-cita perjuangan yang telah ditanamkan dan disemai oleh para ulama, kemudian mereka tidak bisa menjalankan jejak langkahnya.

Bagi generasi muda masa kini, hal ini merupakan momentum untuk mengenang kembali, kemudian menghargai dan meneruskan cita-cita dan perjuangan mereka dalam konteks kekinian. Selain itu, menelusuri jejak-jejak sejarah ulama mampu merekatkan kembali jalinan psikologis dan spiritual dari para ulama tersebut. Dari peran mereka kita dapat mengetahui akar-akar pemikiran, akar-akar perjuangan, serta pengaruh yang muncul dalam fenomena kebangsaan kita. Sehingga paparan ini dapat memberikan gambaran utuh mata rantai perjuangan tokoh-tokoh Islam dulu, kini dan esok.

Gambaran tersebut akan sangat berarti bagi individu-individu yang ingin mempelajari dan menelaah kembali jaringan ulama Kalimantan yang mempersembahkan dedikasi dan loyalitasnya untuk pembangunan bangsa.
Lewat penggalan kisah para ulama itu, kita dapat beroleh hikmah. Hikmah yang mendalam. Bagaimana pahit getir, susah senang mereka dalam mengembangkan payung dakwah ini. Bagaimana tekad mereka dalam membumikan kalimat Laa ilaha illallah di tanah di mana mereka berpijak. Semoga hikmah ini menjadi amunisi yang membuat semangat kita berkobar-kobar.

Harapan kita, sajian buku ini akan mendorong para pembaca untuk mengenang dan memahami kembali sejarah perjuangan masa lalu, akar-akar intelektual, perjuangan dan kiprah para tokoh ulama Borneo, untuk kemudian meneruskan dan mengembangkan cita-cita dan perjuangan yang mungkin saja belum selesai, bisa jadi pelanjutnya lebih pintar memberi kesan happy ending, dengan kemasan yang proporsional dengan semangat zaman.

Akhirnya, tak ada gading yang tak retak. Diakui, tak semua tokoh dan ulama yang bisa terangkum dalam buku ini. Kita berharap, kelanjutan proyek penulisan tokoh dan ulama Kalimantan ini bisa diwujudkan secara bertahap pada masa mendatang, sehingga masih akan ada jilid kedua, ketiga, dan seterusnya, yang pada akhirnya menjadi sebuah buku biografi tradisi bangsa-bangsa yang menghargai ulamanya.

Dari lubuk hati terdalam, perkenankan kami anak bangsa pasang tabik, haturkan hormat padamu Kusuma Bangsa. Sampai akhir hayatmu engkau menjadi cahaya yang tak henti-hentinya berpedar menerangi persada Nusantara hingga jiwa kami bergelora

Apimu mendorong langkah kami ke depan agar semakin berlimpah pencapaian.

21 Comments »

  1. anna said

    cuma blog walking… Salam kenal juga 😀

  2. SHALEH said

    Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari buku itu.

  3. salam kenal jua…
    aku handak jua dapat buku ini. mgkin kaina klo bulik ka banjar aq handak manukar. tarima kasih atas info ini…salam sagan kaluarga.

    HS

  4. kelepon said

    Ulama…. selalu saja jadi sosok yang selalu akan kita rindu dan kita ingini kehadirannya.

    Kalo ulama gadungan ada ga ya ?? :bengong: 😦

  5. edy said

    saya belom baca bukunya…

  6. dzulfikar said

    maen lagi ke blog ku dong. blog ku boleh lah dicantumin di daftar link ente.ntar blog ente aku cantumin di daftar blog gue. setuju ?

  7. ibnubanjar said

    ass, salam kenal saja

  8. ibnubanjar said

    sampai sekarang belum ketemu bukunya lah

  9. ardi said

    cerita ini
    membuat motivasi saya untuk memperdalam agama

  10. kalalapon hangit said

    bagaimana cara mendapatkan buku 100 tokoh kalimantan salam kenal dari orang tambilahan

  11. putramartapura said

    gimana bisa dapetin bukunya
    by http://putramartapura.blogspot.com/

  12. rifafreedom said

    Assalamu’alaikum Ukhti fillah….

    Sebuah kajian tentang Ulama Kalimantan yang Faisal bolehlah membelinya…..kalo bisa dimana saya dapat membelinya….sekedar saran …g mana antum sendiri yang memfasilitasi buku tersebut agar kami dapat mendapatkannya…..

  13. Umpat bakasaklah… 🙂 🙂 🙂

  14. tahta said

    kalau mau beli buku 100 tokoh ulama kalimantan dimana,
    dan kalau mau mesan harus menghubungi siapa saya.

  15. iman said

    guru halil kd tabuat kah

  16. ahmad said

    salam. Insya Allah Buku ini akan km Revisi Kembali.

  17. ahmad said

    kerna buku ini seharusnya Judulnya menapak Jejak Ulama kalimantan. bkn 100 Tokoh.( Penulis)

  18. Idrus said

    Semoga bisa lebih banyak lagi bisa terbit

  19. Right now it appears like BlogEngine is the preferred blogging platform available right
    now. (from what I’ve read) Is that what you are using on your
    blog?

  20. Hamzah said

    menarik, harusnya judul diubah 100 ulama atau tokoh kalimantan selatan….karena kalau kalimantan ente tdk merangkum semua…. pernah dengar atau tau imam besar MAKKAH yg berasal dr sambas kalbar SYEIKH AHMAD KHATIB AL SAMBASYI… (1802-1875), ulama tasawuf pendiri Tarekat NAQSABANDIYAH… HABIB HUSSEIN AL QADRY… Ulama atau MUHFTI di Kesultanan Matan dan Mempawah, dan banyak lagi… belum lg ulama2 dr kalimantan utara termasuk brunai…salam

  21. Hj.benjamin b.hj.usman said

    Aslm.kami dlm rangka utk menganjurkan satu persidangan ulama Nusantara di kota kinabalu,sabah inshAllah pd penghujung bulan syawal tahun ini. Mohon kiranya tuan dapat memberi informasi tentang waris 2 ulama besar tanah banjar sy.Arsyad al Banjari dan sy.Muhammad Nafis albanjari..mohon jua informasi jika masih ada madrasah atau pasentren mereka fan siapakah tokoh yg bisa dihubungi. Jika boleh tuan senaraikan juga tokoh ulama lainnya yg masih aktif dan berpengaruh utk kami sampaikan undangan agar bisa menghadiri majlis tersebut…mohon jasa baik tuan dlm perkara ini seberapa segera..hanya Allah swt yg akan membalas jasabaik tuan itu..ikhlas dari kami. Hj.benjamin hj.usman Thoifatul AlHassaniyyah..sabah,malaysia.

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: