Menggagas Sisi Edukatif TV Lokal Urang Banjar

Pernah dimuat pada harian Mata Banua, Senin/ 31 Maret 2008, dengan judul “Menanti Peran Edukatif TV Lokal Urang Banjar”

Langit di kota Banjarmasin kian disesaki frekuensi stasiun televisi. Kini, sejumlah televisi swasta lokal telah mengudara. Orientasi bisnis atau mengangkat kearifan lokal?

Dulu tidak terbayangkan akan ada banyak stasiun televisi independen di negeri kita ini. Di era Orde Baru, otoriterisme politik juga diwujudkan melalui monopoli televisi siaran pemerintah lewat TVRI yang kemudian ditambah dengan kemunculan beberapa saluran televisi swasta yang lebih sedikit jumlahnya dari banyaknya jari tangan.

Berkat UU No. 32/2002 tentang Penyiaran sebagai payung bagi eksistensi televisi lokal swasta, investasi bisnis di dunia pertelevisian daerah turut berkembang, dengan titik unggul kemampuan membaca dan mengkomunikasikan kearifan dan kebutuhan masyarakat setempat.

Di kawasan Banjarmasin, ternyata juga mengalami perkembangan televisi lokal yang begitu pesat. Paling tidak, ada sekitar tiga televisi lokal dengan beragam segmentasi. Sebut saja, Duta TV yang berada di bawah bendera PT Duta Televisi Indonesia, PT Borneo Television yang mengiklankan diri dengan TVB, serta PT Banjar Elektronika Sarana Televisi dengan Banjar TV-nya.

Siapa aktor di balik TV-TV lokal itu? Mereka adalah para pengusaha Banua. Owner Banjar TV adalah Dristie Prajnavirya Adistana. Sedang Duta TV yang awalnya didanai HM Ramlan, kini muncul sosok Rudy Tansil dan Sukendi Johan yang ikut mengelola. Sedangkan TVB didanai oleh Solai Limantara dan Hilman Zakir.

Ketiga stasiun televisi lokal ini konon memang belum memperoleh izin tetap dari Menteri Komunikasi dan Informasi. Namun, mereka sudah mendapat rekomendasi dari Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Kalsel sehingga berhak mengudara sebagai percobaan siaran pemancar.

Banjar TV dan Duta TV sudah berani batampay atawa unjuk gigi. Sedang TVB masih ancang-ancang untuk siaran. Meski belum mengudara, mereka menasbihkan diri membidik segmentasi sebagai TV news (televisi berita).

Berkembangnya televisi lokal di banua yang sekarang telah kita miliki jelas mempunyai potensi besar untuk semakin mencerdaskan dan mentransfer pembangunan dalam konteks kedaerahan. Memang televisi daerah dapat saja sekedar memperluas pergosipan model infotainment dunia selebritis yang memang gatal kamera. Namun hendaknya semangat diversity of content dan diversity of ownership yang didorong UU Penyiaran tahun 2002 tidak sekedar duplikasi ‘ekses negatif’ pusat ke konteks daerah. Televisi lokal jelas menyediakan ruang luas untuk mengemas keunggulan daerah secara lebih mendalam.

Sayangnya, kalau diamati sekilas, produk acara televisi lokal masih minim kualitas dan peran yang produktif. Tayangan TV lokal sebagian besar masih menyuguhkan tontonan musik dan acara-acara seremonial yang kurang begitu penting dan berbobot. Acara musik malah sangat dominan dan terkesan kekurangan acara, sangat minim kreativitas, orisinalitas, dan idealitas sebuah produk tontonan yang sekaligus sebagai tuntunan.

Terlepas dari faktor profesionalitas, pengalaman, dan segi finansial yang memadai, sebenarnya beragam TV lokal bisa berperan lebih jauh dari sekadar tayangan yang ada selama ini, terutama untuk memperkuat pengayaan edukatif dan religi. Apalagi, Banjarmasin dikenal sebagai kota yang agamis dan kaya dengan aneka budaya.

Perguruan tinggi, sekolah, lembaga pendidikan dan keagamaan, dari yang tradisional sampai modern, banyak bertebaran di kota ini. Tempat-tempat bersejarah, obyek-obyek wisata alam dan religius, sampai berbagai produk budaya serta kesenian lokal, banyak dijumpai di banua Banjar. Akan sangat kontekstual bila TV lokal dapat menangkap kebutuhan ini. Di samping lebih mencerdaskan, program acaranya tidak akan terjebak pada kecenderungan infotainmenisasi seperti suguhan televisi swasta lain.

Fungsionalisasi Lokalitas

Sesuatu diciptakan karena punya fungsi. Begitu pula dengan media televisi. Tidak jauh beda dengan media cetak atau radio, fungsi media televisi adalah untuk memberi informasi, mendidik, mempersuasi, menyenangkan, memuaskan, dan sebagai hiburan.

Fungsi-fungsi ini tidak dapat dipisahkan, dan merupakan satu kesatuan. Tapi dalam kenyataannya, saat ini banyak pengelola televisi yang memisahkan fungsi-fungsi itu. Misalnya, hanya menggunakan fungsi yang satu dan tidak menggunakan fungsi yang lain. Di zaman serba mendewakan hiburan dan sinetron ini, hampir sulit menemukan televisi yang mau menyeimbangkan aspek edukatif-informatif dibandingkan dengan aspek rekreatif (hiburan) dan kesenangan. Biasanya, alasan pengelola media televisi atas hal ini adalah agar mendapatkan keuntungan yang besar. Sehingga, pada umumnya pengelola televisi hanya memfokuskan pada satu fungsi saja, terutama fungsi rekreatif, dan menanggalkan fungsi yang lain.

Karena itu, idealnya televisi lokal akan lebih fungsional ketika mampu memotret dan mewarnai suguhan acaranya dengan konteks lokal yang dipunyai. Di samping dapat lebih menegaskan orisinalitas, kreativitas, dan potensi daerah, televisi lokal juga dapat membedakan dengan jelas kebutuhan lokal dan kebutuhan nasional.

Dulu, salah satu stasiun televisi swasta dengan embel-embel “pendidikan”, memang pernah memiliki orientasi sebagai televisi pendidikan. Ini tidak jauh beda dengan program televisi pendidikan Depdiknas di TVRI. Sayangnya, hasilnya kurang efektif, apalagi memuaskan. Tayangan program pendidikan tidaklah cukup menarik ditonton dan masih kalah jauh rating-nya dengan tayangan-tayangan infotainmen, hiburan dan sinetron.

Hal ini agaknya perlu menjadi pelajaran dan pertimbangan bagi TV lokal. Sebab, uraian pendidikan dalam siaran televisi biasanya cukup membosankan, apalagi bila pembawa acaranya tidak tampil menarik dan meyakinkan. Karena itu, televisi lokal sebisa mungkin mesti mengemas acara bernuansa edukatif atau religius yang tidak monoton, talk show yang mendidik tapi tidak menjenuhkan, atau format acara apapun seatraktif mungkin, tapi sekali lagi, mencerdaskan.

Kemandirian Lokal

Ada beberapa keuntungan yang dapat diperoleh televisi lokal dengan kemampuan memotret potensi lokal ini. Pertama, terwujudnya kemandirian. Kemandirian akan membuat isu Jakarta-centris tidak layak jual di tingkat lokal. Efek terpenting dari penguatan fungsi lokalitas tersebut adalah acara-acara yang disuguhkan dapat menjadi primadona lokal dalam percaturan televisi nasional. Hal itu merupakan langkah maju dan berpotensi menyukseskan program otonomi daerah.

Kedua, televisi lokal tidak akan terkesan kehabisan ide untuk menyuguhkan program acara yang lebih variatif. Kesannya, TV lokal justru responsif terhadap isu daerah bila ingin survive di lingkup daerah.

Ketiga, terutama terkait dengan implikasi secara institusional, TV lokal dipaksa serius membangun organisasi dan menata manajemennya. Agar bisa memperjuangkan agenda lokal, TV lokal “terpaksa” harus terus menerus memantau persoalan di daerahnya.

Keempat, terbangunnya kesadaran korelasi antara proses bisnis pertelevisian dan isu keseharian. Apalagi, bila masalah-masalah yang disoroti bersifat lokal, praktis, dan jelas-jelas menyangkut hajat hidup masyarakat lokal. Sehingga, meski televisi lokal memiliki “ideologi” tertentu, ideologi atau aliran itu tetap bisa eksis. Penerjemahan praktis ideologi itu bertujuan agar relevan dengan isu keseharian rakyat.

Sebab, biasanya TV lokal dimanfaatkan untuk momen-momen tertentu, seperti pilkada. Untuk menarik simpati dan dukungan masyarakat, calon pemimpin daerah melakukan pendekatan-pendekatan melalui media massa,termasuk ke televisi lokal. Sejarah membuktikan, dalam proses pemilihan kepala daerah (Pilkada), fungsi televisi telah sangat mempengaruhi perolehan suara, di samping untuk menebar pesona para kontestan. Ini artinya, fungsi televisi sangat insidental dan kental dibumbui aroma kepentingan tertentu.

Televisi memang bukan lembaga pendidikan seperti halnya sekolah dan bangku kuliah. Televisi adalah medium publisitas yang memiliki ideologi dan tujuan tertentu sesuai dengan visi-misinya. Televisi juga tidak bisa mendidik secara dialogis. Tapi, bukankah televisi lokal hadir dan satu persatu bermunculan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan lokal?

Harapan

Agaknya, saingan terberat TV lokal adalah TV jaringan (TV swasta nasional) yang beroperasi dari Jakarta, di samping TV lokal lainnya di daerah yang sama.
Menghadapi persaingan dari TV jaringan ini tidak ringan karena program TV jaringan telah lebih dahulu digandrungi oleh masyarakat banua, bahkan mungkin digunakan sebagai barometer untuk mengukur dan menilai program TV lokal. Sehingga masalah yang dihadapi TV lokal adalah bagaimana merebut minat pemirsa tersebut.

Karena itu, ada beberapa hal yang seyogyanya dilakukan oleh TV lokal untuk dapat dipercaya oleh publik dan dapat berperan dalam mewujudkan demokratisasi media, diantaranya TV lokal harus mampu menarik garis pembeda dengan TV komersial yang ada selama ini, baik dalam isi maupun orientasi siaran.

Selain itu, TV lokal juga harus mampu menyerap lebih banyak lagi dinamika masyarakat lokal untuk diterjemahkan ke dalam isi media, dan tetap harus dikelola dengan manajemen siaran yang profesional, dengan mengambil terobosan dalam menggali sumber dana, tidak lagi hanya bertumpu pada iklan komersial semata.

Saya termasuk orang yang mengharapkan sisi baik dari keberadaan TV lokal. Mudah-mudahan, dengan berbagai keterbatasan yang dimiliki oleh TV lokal, konsep yang baik ini bisa menjadi mainstream dalam dunia broadcasting TV Indonesia dan merambah ke pertelevisian nasional. Dengan begitu, jargon TV sebagai sarana yang turut mencerdaskan bangsa, tidak lagi dianggap sebagai slogan kosong belaka.

13 Comments »

  1. Blognya bagus, pemilihan hurufnya yang perlu dipermak. Kegedean hurufnya tu … sesuaikan saja. Salam.

  2. taufik79 said

    trima ksih pak,blog ini akan coba terus menerus dipermak tuk kenyamanan dan kepuasan bersama… ditunggu comment dan partisipasi sampeyan-sampeyan semua. salam

  3. Zul ... said

    Selamat mengangkasa blog cerdas dan inovatif.

    Soal TV banua yang makin berbunga kita tunggu saja apa kreativitasnya. Jika dilihat siapa di baliknya, aku kenal mereka sebagai orang-orang entertain dan boadcast. Entahlah sejauh mana kepedulian mereka nanti terhadap budaya lokalitas Banjar, akan terlihat bila penayangan acara tv-tv mereka itu nanti.

    Tabik!

  4. Yari NK said

    Untuk bisa bersaing… tentu saja TV lokal harus punya nafas yang berbeda dengan TV Nasional, namun tentu saja TV lokal punya banyak kesempatan untuk meraih pemirsa lokal, syaratnya ya itu tadi jangan mudah terbawa arus TV nasional.

  5. Suhadinet said

    Tulisan Anda bagus sekali. Saya salut. Blog Anda saya link dengan blog saya, boleh kan?

  6. Bindrang said

    Salam… sekedar berkunjung dan komentar saya pada blog ini menurut saya bagus. Dan mengenai TV lokal, kayaknya harus lebih banyak mengangkat dan menampilkan kondisi sosial di bumi antasari ini. sehingga masyarakat akan semakin banyak mendapatkan info dari daerahnya…

  7. ibnubanjar said

    ass, salam kenal.. tv lokal sbg harapan baru sesuai UU 32/2002 ttg penyiaran, tapi masih jauh dari ideal
    bisa sharing di http://www.ibnubanjar.wordpress.com

  8. franky G.V.N. said

    salam sampai ka puting :-

    bole nimbrung lo’.
    Bagaimana stasiun2 tv lokal kalsel tampil berperan tentu tak terlepas dari visi dan misi yang tercermin dari program siarannya. Titik terpenting menurut oeloen adalah bagaimana kemampuan eksistensi tv – tv yang siaran lokal di kalsel, jangan sampai seperti beberapa tv lokal di daerah lain yang siaran sebentar setelah itu bubar.
    Selain itu idealnya TVRI Kalsel, DUTA TV, BANJAR TV, TVB memiliki kekuatan yang saling bersinergi dalam kompetisi kreatif yang sehat untuk meningkatkan kualitas masyarakat kalsel dalam mencintai daerah dengan segenap kekayaannya…

  9. taufik arbain said

    mantap.
    Saatnya kita berkreasi untuk menunjukkan bahwa orang lokal ada. Ampih ja jadi penonton di negeri sendiri. Saatnya bangkit dan maju.
    Jangan bacakut papadaan sesama TV lokal.

  10. tris iman said

    selamat dech ya untuk stasiun stasiun tv lokal yang baru moga kalsel makin lebih digali budaya nya dan masyarakatnya cinta budaya sendiri dan cinta kebersihan, supan masuk tv kuta kita rigat, itu wajah kita masuk TV jar tukul !

  11. harry said

    apa haja ngarannya, ulun himung mun di bumi lambung mangkurat ini banyak bamunculan talavisi lukal. Artinya, kamajuan banua ini kada kalah lawan banua urang.

    Cuma… parhatiakan jua prugram siaran nang ditampilakan. Jangan mangandung unsur SARA, purnugrafi, kakarasan, jua tayangan2 nang vulgar, pruvukatif, nang bisa marusak ganarasi muda kita.

    Budaya Banjar harus dijaga. Kita urang nang babudaya, baagama, tahu aturan atau nurma susial.

    Sakali lagi, banyaki ja tv lukal, tapi sakali lagi jua siarannya nang bagus. Bulih haja mahibur tapi nang mandidik..

  12. amy said

    sayang bnget,Banjar TV cuma dapat d lihat lewat antena ,
    tidak d parabola…???

  13. rizal said

    Hari ini di Banjar TV ada H. Noor Ifansyah acara bakisahan dlm bhs Banjar tp tidak matching dgn pakaian yg dikenakan beliau yakni baju adat jawa. Sebelumnya ditemani org memakai blankon. Dulu Banjar TV juga menayangkan acara wayang jawa semalam suntuk. kalau pemiliknya spt tsb di artikel ini nampaknya org jawa. seharusnya Banjar TV bernuansa Banjar bukan bernuansa jawa seperti yg menghiasi TV TV nasional. semoga imej “penjajahan jawa” di sebagian masyarakat tdk benar adanya. tp melihat fakta2 tsb nampaknya nuansa penjajahan jawa memang ada🙂

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: