Maulid Nabi dan Semangat Perjuangan

Saban tahun setiap datang bulan Rabiul Awwal, Umat Islam menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Beliau dilahirkan pada 12 Rabiul Awwal tahun Gajah, bertepatan 21 April 571 M. Tanggal 12 Rabiul Awal sendiri dalam sejarah hidup Nabi SAW mempunyai arti penting, sebab selain dilahirkan pada tanggal ini, beliau hijrah dari Makkah ke Madinah dan wafat pada tanggal yang sama.

Umat Islam biasa merayakannya dengan istilah ”Peringatan Maulid Nabi saw” atau Muludan. Sejumlah acara biasanya digelar dengan melibatkan jumlah massa yang besar. Di samping tablig akbar dan salawatan (pembacaan shalawat), di kalangan masyarakat tradisional di kampung-kampung, pembacaan Kitab Barzanji, kitab sastra yang berisi biografi Nabi Muhammad saw. serta puja-puji dan shalawat atas Beliau biasanya tidak pernah ketinggalan. Di sejumlah daerah tertentu, pembacaan Barzanji yang diambil dari nama pengarang naskah tersebut, yakni Syaikh Ja’far al-Barzanji bin Husin bin Abdul Karim (w. 1766) merupakan ”menu” wajib yang tidak boleh dilewatkan. Bahkan kitab yang sebenarnya berjudul ˜Iqd al-Jawaahir (Kalung Permata) ini, dan disusun untuk meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad saw., begitu dihormati dan diagungkan.

Terlepas dari sikap pro dan kontra sebagian kalangan terhadap kegiatan Peringatan Maulid Nabi saw. ini, termasuk tradisi membaca Maulid Barzanji, semua kegiatan di atas tentu dilatarbelakangi oleh kecintaan umat ini yang sangat mendalam terhadap Nabi mereka.

Peringatan Maulid Nabi: Dulu dan Kini

Ada beberapa versi catatan sejarah tentang asal-usul peringatan Maulid Nabi Muhammad saw ini. Salah satu versi menyebutkan bahwa peringatan maulid Nabi pertama kali diperkenalkan oleh seorang penguasa Dinasti Fatimiyah (909-117 M).

Menurut sumber lain, orang pertama yang mencetuskan ide memperingati Maulid Nabi adalah Malik Mudzaffar Abu Said, yang lebih dikenal sebagai Sultan Salahuddin al-Ayyubi (di Eropa dikenal dengan sebutan Saladin). Al-Ayyubi memerintah tahun 1174-1193 Masehi atau 570-590 Hijriyah.

Dalam perspektif historis, pada masa itu dunia Islam sedang mendapat serangan gelombang demi gelombang dari berbagai bangsa Eropa (Prancis, Jerman, Inggris). Inilah yang dikenal dengan Perang Salib atau The Crusade. Pada tahun 1099 laskar Eropa merebut Yerusalem dan mengubah Masjid al-Aqsa menjadi gereja. Umat Islam saat itu kehilangan semangat jihad dan ukhuwwah, sebab secara politis terpecah-belah dalam banyak kerajaan dan kesultanan, meskipun khalifah tetap satu, yaitu Bani Abbas di Baghdad.

Pada mulanya gagasan Salahuddin ditentang oleh para ulama, sebab sejak zaman Nabi peringatan seperti itu tidak pernah ada. Lagi pula hari raya resmi menurut ajaran Islam cuma dua, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Akan tetapi Salahuddin menegaskan bahwa perayaan Maulid Nabi hanyalah kegiatan yang menyemarakkan syiar agama, bukan perayaan yang bersifat ritual sehingga tidak dapat dikategorikan bid’ah yang terlarang.

Ketika Salahuddin meminta persetujuan dari Khalifah an-Nashir di Baghdad, ternyata khalifah setuju. Maka pada ibadah haji bulan Zulhijjah 579 Hijriyah (1183 Masehi), Salahuddin al-Ayyubi sebagai penguasa Haramain (dua tanah suci Makkah dan Madinah) mengeluarkan instruksi kepada seluruh jemaah haji, agar jika kembali ke kampung halaman masing-masing segera mensosialkan kepada masyarakat Islam di mana saja berada, bahwa mulai tahun 580 Hijriah (1184 Masehi) tanggal 12 Rabi’ul Awwal dirayakan sebagai hari Maulid Nabi dengan berbagai kegiatan yang membangkitkan semangat umat Islam.

Salah satu kegiatan yang diadakan oleh Salahuddin pada peringatan Maulid Nabi yang pertama kali tahun 1184 (580 Hijriyah) adalah menyelenggarakan sayembara penulisan riwayat Nabi serta puji-pujian bagi Nabi dengan bahasa yang seindah mungkin. Seluruh ulama dan sastrawan diundang untuk mengikuti kompetisi tersebut. Pemenang yang menjadi juara pertama adalah Syekh Ja’far al-Barzanji, sebagaimana disebutkan di awal.

Ternyata, peringatan Maulid Nabi yang diselenggarakan Salahuddin itu membuahkan hasil yang positif. Semangat umat Islam menghadapi Perang Salib bergelora kembali. Salahuddin berhasil menghimpun kekuatan, sehingga pada tahun 1187 (583 Hijriyah) Yerusalem direbut kembali dari tangan bangsa Eropa, dan al-Aqsa kembali menjadi masjid umat Islam sampai hari ini.

Sayang, saat ini Peringatan Maulid Nabi saw. sudah jauh bergeser dari motif awalnya. Saat ini, Peringatan Maulid Nabi saw. yang diselenggarakan oleh kaum Muslim telah terjebak dalam rutinitas tahunan dan terkungkung dalam acara seremonial belaka. Akibatnya, efeknya pun kurang terasa. Boleh dikatakan, Peringatan Maulid Nabi saw. saat ini gagal membangkitkan kembali kesadaran dan semangat keagamaan serta ruh perjuangan kaum Muslimin, sebagaimana yang pernah dicapai pada masa Sultan Salahuddin delapan abad yang lalu.

Maulid Nabi dan Relevansinya dengan Kondisi Saat ini

Saat ini umat Islam sesungguhnya sedang dilanda sejumlah persoalan berat dan kompleks.

Pertama: secara pemikiran, benak umat Islam mulai dikuasai oleh paham sekularisme; paham yang menihilkan peran agama (Islam) dalam kehidupan. Akibatnya, Islam hanya ada dalam tataran ritual dan spritual belaka. Praktis, dalam kehidupan umum (sosial, politik, ekonomi, pendidikan, dll) ajaran dan hukum-hukum Islam tidak dipakai.

Kedua: secara hukum, saat ini yang diterapkan di negeri-negeri Islam merupakan hukum sekuler warisan penjajah. Lebih dari itu, di Indonesia, sebagian produk UU, seperti UU SDA, UU Listrik, UU Energi, UU KDRT lebih banyak karena faktor pesanan asing, yang disponsori oleh lembaga-lembaga asing.

Ketiga: secara sosial, akibat penerapan hukum sekular, negeri ini dilanda berbagai persoalan sosial yang sangat berat dan kompleks seperti: membudayanya korupsi; maraknya perselingkuhan dan seks bebas yang bahkan melibatkan para remaja usia sekolah; merebaknya kasus penyalahgunaan narkoba; merajelelanya kasus kriminal lain seperti pencurian pembunuhan, bunuh diri; munculnya ragam konflik sosial dan upaya disintegrasi; dll.

Keempat: secara politik, umat Islam pun masih menjadi bulan-bulanan negara-negara asing. Isu terorisme yang dikembangkan AS masih terus dilancarkan terhadap kaum Muslim sejak Peristiwa 11 September 2001 sampai hari ini.

Kondisi saat ini sebetulnya tidak jauh berbeda dengan kondisi zaman Jahiliah, saat Rasulullah Muhammad saw. lahir. Secara pemikiran, bangsa Arab saat itu dikuasai oleh paganisme (keberhalaan). Secara sosial, perjudian, perzinaan, mabuk-mabukkan dan membunuh bayi perempuan yang baru lahir telah menjadi tradisi mereka. Kebanggaan akan suku (ashhabiyyah) juga selalu mewarnai kehidupan sosial mereka, yang sering menjadi bibit perpecahan di antara mereka, dan tidak jarang berujung pada saling bunuh satu sama lain. Secara hukum, yang berlaku saat itu adalah hukum Jahiliah, yang lebih memihak kepada pihak yang kuat. Adapun secara politik, bangsa Arab saat itu berada dalam bayang-bayang dua negara besar: Persia dan Romawi.

Di tengah-tengah kondisi inilah Muhammad saw. lahir. Dengan kelahiran Muhammad saw., yang kemudian menjadi nabi dan rasul Allah, dalam waktu yang relatif singkat, yaitu 23 tahun, masyarakat Arab Jahiliah itu dengan izin Allah ternyata berubah secara drastis. Mereka ternyata bisa bersatu di bawah panji-panji Tauhid. Mereka bersatu bukan karena faktor nasionalisme, tetapi karena faktor akidah, di bawah panji-panji Islam yang memiliki prinsip ajaran yang universal. Bahkan mereka bersatu dalam satu wadah negara, yakni Daulah Islam, di Madinah.

Dengan itulah bangsa Arab yang tadinya Jahiliah dan berperadaban rendah berubah secara revolusioner menjadi bangsa yang maju dan berperadaban tinggi. Bahkan negara mereka, Daulah Islam yang belum lama berdiri, berhasil dalam waktu singkat meruntuhkan dominasi kekuasaan Persia dan Romawi; dua negara adidaya saat itu. Itulah sebetulnya makna terpenting dari kelahiran Nabi Muhammad saw., yang kemudian diangkat menjadi nabi dan rasul oleh Allah SWT. Dengan penjelasan di atas, jelas sangatlah penting bagi kaum Muslim untuk merefleksikan kembali makna hakiki dari kelahiran (maulid) Nabi Muhammad saw. itu pada saat ini. Karena itu, sudah tiba saatnya seluruh umat Islam dari berbagai aliran pemikiran, mazhab, organisasi, maupun harakah dakwah untuk menyatukan langkah, merapatkan barisan dan berjuang bersama-sama untuk meraih kembali keberhasilan dan kemajuan yang pernah dicapai oleh Rasulullah Muhammad saw.

Khatimah

Al-Qur’an dan hadits memang tidak memerintahkan secara eksplisit agar umat Islam memperingati Maulid Nabi Muhammad setiap tanggal 12 Rabi’ul Awwal dengan perayaan atau upacara tertentu. Namun jika peringatan Maulid Nabi itu diadakan dengan cara-cara yang islami dan dengan tujuan yang positif untuk syiar dan dakwah Islam, tentunya perbuatan itu bukan termasuk bid’ah.

Yang kita lakukan dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad saw itu bukan hura-hura, tetapi mendengarkan pembacaan al-Qur’an, membaca kembali kisah-kisah perjuangan Rasulullah, mukjizatnya, akhlaknya yang mulia dan seterusnya. Tujuannya, agar kita dapat meneladani sifat-sifat terpuji beliau dan mengamalkannya secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Di tengah kondisi krisis keteladanan dan idola seperti yang terjadi sekarang ini, potret kehidupan Rasulullah memang patut dihadirkan. Bukan dengan mencari teladan atau idola dari ajang kontes-kontesan, seperti yang sekarang sedang marak dipertontonkan. Sebagaimana harapan Salahuddin Al-Ayyubi, peringatan Maulid Nabi bertujuan dan menjadi sarana penting untuk membangkitkan semangat serta ghirah keislaman kita. Tidak salah jika peringatan ini dijadikan momentum untuk memperbaiki diri, keluarga, dan membangun masyarakat.

Peringatan Maulid Nabi jangan dianggap sekadar kegiatan seremonial dan rutinitas tahunan belaka. Yang akan berlalu begitu saja tanpa makna, perubahan dan pencerahan pola pikir, sikap serta akhlak umat Islam. Ada beberapa maksud, tujuan dan esensi peringatan Maulid Nabi ini, diantaranya; menanamkan, menambah dan meningkatkan rasa mahabbah (kecintaan) kita kepada Rasulullah. Sebab, Rasulullah adalah junjungan dan panutan kita, pengemban dan penyampai risalah kebenaran, pemberi petunjuk kepada keimanan dan ketakwaan, pemberi syafaat, serta rahmat bagi semesta alam. Selain itu, untuk mengungkap kembali sejarah kehidupan Rasulullah saw kemudian diteladani, diikuti dan diaplikasikan dalam kehidupan nyata.

Sejatinya,peringatan Maulid Nabi hendaknya kita jadikan sebagai sarana untuk mewariskan mutiara sejarah hidup Rasul, dakwah dan semangat perjuangan beliau kepada generasi sekarang sebagai penyemangat dalam melakukan perubahan, membangun masyarakat serta peradaban Islam.

Peringatan Maulid Nabi adalah salah satu media syiar dan dakwah Islam yang diyakini memberikan dampak positif terhadap keberagamaan masyarakat serta media untuk menambah pengetahuan agama, meningkatkan keimanan, pengabdian dan ketakwaan kepada Allah SWT.

2 Comments »

  1. Kamal Ansyari said

    Terus lestarikan Maulid Barzanji di bumi antaludin kandangan sebagai media dakwah penyebaran agama islam di wilayah kandangan khususnya dan kalimantan selatan umumnya.

  2. Kamal Ansyari said

    Terus lestarikan Maulid Barzanji di bumi antaludin kandangan sebagai media dakwah penyebaran agama islam di kandangan

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: