Sekali Lagi, Andai Guru Mau Menulis

Guru mengajar, bukanlah berita. Guru menulis, itu baru berita! Guru rajin mengajar dan terus mengajar tidaklah aneh. Guru yang membaca dan terus membaca, apalagi berganti dari satu buku ke buku lainnya, ini yang agak aneh. Sebab, banyak guru hanya membaca satu-dua buku. Itu pun buku-buku yang menjadi bahan ajarnya. Jarang ia membaca buku selain buku yang menjadi bahan ajarnya.

Betulkah guru malas membaca? Jika dijawab betul dan menganggap semuanya malas membaca pastilah keliru. Tak bisa semuanya disamakan seperti itu. Ada guru yang betul-betul gemar membaca. Dia membaca semua buku, tak hanya yang menjadi bahan ajarnya. Malah rutin membaca koran, sesekali membeli majalah. Buku yang dibacanya pun tak hanya buku baru yang relatif mahal harganya, tapi juga membaca buku second yang dibelinya di pasar buku murah. Namun, jarang memang guru yang seperti ini. Kalau boleh dibilang, makhluk langka.

Guru pecinta buku, terlebih lagi kutu buku, atau pelahap buku, jumlahnya sedikit. Berapa pastinya sulit diketahui karena subjektif. Kelompok pesuka buku ini secara ekonomi mau menyisihkan uang gajinya untuk memuaskan dahaga akalnya. Gajinya tak berbeda dengan guru-guru lainnya yang malas membaca. Bedanya, dia rela memotong gajinya untuk makanan ruhaninya. Selain itu, dia juga berupaya mendapatkan uang halal dari sumber-sumber lain, tak hanya mengandalkan gajinya. Bisa lewat warung kelontong, membuat wartel, atau berkirim artikel ke media massa. Guru yang demikian pantaslah menjadi motor masyarakat-baca, minimal di hadapan murid-muridnya.

Jika membaca saja malas, mungkinkah seorang guru mau dan mampu menulis? Mampukah menghasilkan tulisan, minimal artikel yang terkait dengan bidang ilmunya? Yang lebih tinggi lagi, menghasilkan buku yang bisa menambah wawasan-baca publiknya, khususnya murid-muridnya.?

Menulis, ibarat belajar naik sepeda. Tak ada orang yang tiba-tiba saja bisa mengendarai sepeda dengan mahir. Awalnya juga sempoyongan, menabrak pohon, tembok, bahkan orang yang sedang berjalan. Lutut terluka. Belum sembuh, sudah menabrak lagi. Luka lagi. Belum lagi kalau menabrak orang, dapat bonus: bentakan, cacian, dan mungkin tempelengan alias bogem mentah!

Agaknya, tradisi atau etos menulis perlu terus ditumbuhkembangkan. Tapi, etos itu baru bisa muncul ketika seseorang sudah faham benar dengan apa saja yang pernah ia baca. Ingat, dalam komunitas masyarakat transisi tak jarang orang menenteng buku hanya supaya dipandang sebagai orang terpelajar.

Padahal, fungsi buku, adalah bagaimana ia mampu mempengaruhi orang-orang yang membacanya. Kalau orang hanya sekedar membaca tapi tidak mengubah apa-apa terhadap dirinya, ya, sama juga bohong. Artinya, orang tersebut tak faham dengan apa yang dia baca. Membaca mesti bisa mempengaruhi dan atau mengubah pola pikir dan pola tindak seseorang. Bila ia sudah menjadi pemabaca yang ”berhasil”, maka ia bisa maju selangkah lagi: berpotensi menjadi seorang penulis.

Nah, dalam menulis itu tak ada teorinya. Yang ada adalah teknik. Ditambah pengalaman dan kemauan yang terus menerus.

SEKARANG mari kita coba melihat nilai plus dalam menulis dibanding dengan budaya oral dalam bentuk ceramah, khotbah, atau pidato.

Bila Anda berpidato –juga ceramah dan khotbah– di depan podium, bisa jadi ditonton dan didengar oleh puluhan, ratusan, bahkan mungkin ribuan orang. Tingkat efektivitas untuk mengubah pola pikir dan pola laku seseorang tidaklah besar.

Orasi yang menggebu-nggebu misalnya, mungkin bisa ”membakar”, dalam suasana yang penuh emosional, pada saat yang bersamaan. Tapi, ketika pulang ke rumah masing-masing, kembali dengan kesibukan masing-masing, dan segera akan terlupakan. Tunggu orasi berikutnya, dan segera terlupakan kembali. Pesan lewat oral nafasnya tidak panjang, sebatas jarak podium ke rumah.

Mau bukti? Lihatlah majelis-majelis taklim yang menyebar ke seantero geografis dan masyarakat Indonesia itu. Majelis taklim, yang berupa pesan-pesan moral tersebut, mestinya bisa mengubah pola pikir dan pola tindak jamaahnya.

Tapi apa yang Anda saksikan? Sifat-sifat yang berkaitan dengan nilai-nilai luhur agama seakan tak membekas. Mengapa? Karena jamaah hanya ”menonton” dan ”mendengar” saja. Tak lebih dari itu. Yang lebih menyedihkan, begitu para da’i, muballigh, atau orator tersebut meninggal, pesan-pesannya segera menghilang dari peredaran. Inilah akibat tragis dari ilmu yang tidak didokumentasikan dalam bentuk tulisan.

Berbeda dengan budaya tulis. Bila Anda menulis buku misalnya, maka karya tersebut akan dibaca oleh puluhan ribu, ratusan ribu, bahkan jutaan umat manusia. Bisa jadi dibaca oleh generasi ke generasi.

Lihatlah karya-karya Al-Ghazali (1058-1111 M). Karya legendarisnya, ”Ihya Ulumuddin” dan ”Bidayatul Hidayah”, sampai sekarang dicari dan dibaca orang. Karya-karya lainnya, yang jumlahnya mencapai 200-an, juga masih diterbitkan oleh berbagai penerbit. Padahal, karya-karya tersebut ditulis pada abad 12.

Tengok pula pada pemikiran politik Islam klasik. Di pesantren-pesantren, nama Al-Mawardi (974-1058 M) sangat terkenal. Ini karena buah pikirannya tentang Administrasi Negara tertuang dalam buku ”Al-Ahkam al-Sulthaniyah”. Dalam buku ini pula ia mengemukakan pikiran-pikirannya tentang idealnya seorang kepala negara. Buku-buku tentang politik Islam yang ditulis orang di era milenium ini, tak pernah bisa melupakan jasa Al-Mawardi.

SEKARANG, mari kita mulai melangkah, membiasakan menulis. Banyak cara untuk memulainya.

Pertama, dengan memanfaatkan catatan harian. Apa saja kejadian, baik yang dialami, dilihat, maupun di dengar, ditulis dalam catatan buku harian. Catatan itu bisa pendek, bisa juga panjang. Bisa pula berupa renungan.

Catatan-catatan tersebut, suatu hari akan bermanfaat. Lihat misalnya wartawan kawakan Rosihan Anwar. Dengan catatan-catatannya, ia bisa mengulas masa lalu, kini, dan esok, dengan amat memukau. Ini terlihat dalam tulisan-tulisannya yang menyebar di berbagai surat kabar dan majalah. Buku catatan harian Kartini, Ahmad Wahib, dan Soe Hok Gie, adalah contoh lainnya.

Kedua, dalam bentuk surat-surat. Dengan surat, seseorang bisa menulis dengan leluasa, bergaya bebas, dan bisa berimprovisasi. Surat menyurat ini, sebagaimana buku catatan harian, bisa menjadi saksi sejarah. Lihatlah ”Surat-surat dari Endeh”, antara Soekarno dengan A. Hassan. Juga ”Surat-surat Kartini”, surat-surat Nurcholis Madjid dengan M. Roem, dan sebagainya. Bahkan, surat-surat yang ditujukan dari berbagai kalangan masyarakat yang ditujukan kepada Soeharto pun, pasca kelengserannya, sudah dibukukan.

Lalu, untuk konsumsi majalah atau koran, berbagai tulisan bisa disesuaikan dengan misi lembaga yang dituju. Tapi yang jelas, ada standarnya: berbagai tulisan itu hendaknya merujuk dengan perkembangan berita yang ada. Juga halaman yang tersedia. Kejelian membaca peluang, dari berbagai disiplin ilmu, pastilah bisa dimanfaatkan seoptimal mungkin guna menembus sekat-sekat yang ada di majalah atau koran.

Kalau mengajar adalah tugas mulia, maka menulis pasti jauh lebih mulia. Menulis adalah menyebarkan ilmu. Lewat tulisan, guru mengajar orang yang membaca tulisannya dan “abadi” sepanjang masa selama tulisan itu tak dimusnahkan. Ia pun tak hanya mengajar murid di kelasnya, tapi juga semua pembacanya. Tulisan, baik artikel maupun buku, adalah warisan guru yang paling berharga. Berlombalah dalam menulis, wahai guru… agar kecakapan dan keilmuan yang dimiliki dapat digugu dan ditiru para murid sehingga mereka ikut-ikutan rajin membaca dan mencoba menulis. Sekali lagi, menulis dan menulislah!

13 Comments »

  1. gama said

    judul di atas disengaja atau tidak aku no comment, aku lebih tertarik pemakaian kata ANDAI, sesuatu harapan/angan-angan/mimpi yang mungkin terlaksana. Seperti kata Walt Disney,” Jika anda dapat memimpikannya, anda pasti bisa melakukannya. Guru menulis, itu pekerjaan mereka. Tiap hari guru menulis untuk siswanya, mungkin munulis dengan ide cerdas cenderung kurang dilakukan seorang guru. Suatu (pertanyaan pesimis) yang dilontarkan seorang guru ; apa gunanya saya menulis kalo tidak dibaca orang, dimana saya bisa menulis, media apa yang cocok untuk mempublikasikan tulisan saya, setelah saya tulis terus diapakan, dan masih banyak lagi pertanyaan dalam hati mereka. sementara ini dulu, ntar dilanjutin lagi. salam kenal

  2. hariesaja said

    Ia telah datang, lantas mengirimkan pesan tanda persahabatan. Lantas saya pun mengunjunginya. Bukankah ini silaturahmi yang luar biasa? Saya titipkan saksi persahabatan ini lewat kata-kata, terimakasih telah bertandang ke blog saya. Seperti halnya apa yang akan saya lakukan terus kepada Anda. Salam kenal juga.

  3. awan said

    Tulisannya sangat bagus, ini kunjungan balasan, salam kenal.

  4. indra1082 said

    Teruslah Menulis, guru….

  5. TonKin said

    teruslah menulis untuk siswa

  6. uwiuw said

    * mode kontra*
    janganlah marah sy mengkritisi tulisanmu, anggaplah saudara jauh yang sedang mencari perkara…tidak bisa diam melihat posting yang bagus😀

    Kalau mengajar adalah tugas mulia, maka menulis pasti jauh lebih mulia. Menulis adalah menyebarkan ilmu

    Bukankah mengajar lebih-lebih menyebarkan ilmu ? mengajar dilakukan langsung tanpa media penghalang

    Lewat tulisan, guru mengajar orang yang membaca tulisannya dan “abadi” sepanjang masa selama tulisan itu tak dimusnahkan

    setiap tulisan akademis mempunyai masa kadaluarsanya sendiri…selepas 4-5 thn, ilmu yang rasanya manis berubah menadi basi…🙂
    😀 kata guru sy, kolaborasi adalah kunci tulisan yang bagus…

  7. agusampurno said

    Salam kenal Pak Taufik.

    Pengalaman saya pribadi, saat merasa jenuh dan stagnan dalam berkarir saya mulai menulis blog.
    Ajaib, rasa itu hilang, diganti dengan keoptimisan dan cara pendang baru terhadap dunia belajar dan mengajar.

  8. markotop said

    HIDUP GURU!
    Maz, nuwun sewu, aku unduh gambarnya:budayakan aktivitas…
    buat aku tayangin di blogku: pertapaan.blogspot.com
    kapan² silakan mampir di pertapaan saya

    dari seorang yang sedang belajar menjadi “guru”

  9. ahlis said

    Salam kenal,
    Saya senang sekali jika seluru guru di indonesia ini banyak yang mengembangkan ilmunya dengan menulis sesuatu ilmu atau pengalaman-pengalaman yang bermanfaat bagi orang lain. maka itu juga sama mulianya dengan seorang guru. (~ jadi Guru^2 dong….😀 ~).
    Tapi memang bila seseorang yang suka menulis apapun dari hal yang sepele tapi dikemas dengan tulisan dan kata-kata yang menarik itu juga dapat memberikan perkembangan kecerdasan…. tentunya sipenulis akan berusaha bagaimana tulisan kita dapat dimengerti oleh orang lain dan tidak membuat bingung orang lain…, maka tulisan tersebut diharapkan bisa membuat dirinya dapat berubah dari segi keilmuan atau prilaku yang lebih baik
    Tapi yang penting ada kemauan… terimakasih
    Semoga guru-guru diindonesia gemar menulis agar pendidikan indonesia semakin maju…
    hidup Guru….😀

  10. taufik79 said

    terima kasih atas support dan unjuk saran kawan-kawan semuanya, mari kita langgengkan silaturahim di antara kita. ditunggu kunjungan dan tegur sapa berikutnya. salam

  11. max said

    Kadang, persoalan minimnya anggaran kesejahteraan yg mereka terima, dijadikan sebagai alasan untuk tidak membeli buku. Mau bgmn lagi? begitulah realitas guru kita saat ini

  12. parentingislami said

    Kunjungan balasan nih.

    Menulis buku tentang pendidikan anak, kayaknya menarik🙂

  13. Assalam alaikum,

    Maaf pak, mari gabung di http://www.pengajar.web.id

    Terima Kasih, wassalam

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: