Menghadirkan Tuhan di Ruang-ruang Kelas

Apa yang sekolah perbuat kepada anak kita sekarang, ketika godaan di luar rumah semakin genit dan hiruk-pikuk? Informasi dari segala penjuru kian tak terbendung, merongrong moral dan rasa iman anak. Sudah siapkah anak kita menghadapinya?

Ketika informasi dan tayangan yang mengumbar kekerasan dan seksualitas di depan mata anak dari berbagai penjuru semakin centil, mustahil kita membendungnya. Agar anak selamat menjadi “orang”, spiritualitas, ketegaran jiwa, dan makna hidup perlu diisikan oleh sekolah kepada anak. Rasanya belum terlambat demi tidak terlanjur kasip anak berkarakter permisif.

Kebobrokan anak muda Amerika dan Eropa sekarang, misalnya, lantaran mereka kehilangan arah dan tak punya sikap hidup. Pintar tapi emosional, krisis spiritual, kerawanan jiwa, dan merasa hidup nihil. Seperti itu juga kira-kira kegamangan anak-anak kita sekarang.

Gambar kelabu seperti itu juga tengah memberikan warna pada Generasi X, generasi dunia paling bontot dewasa ini. Setelah Baby Boomers pada 1950-an, lalu Baby Busters pada 1964, kini Gen-X orang juluki sebagai “Generasi Bingung” (ambivalensi). Hidup mewah, mandiri, tapi tak merasa bahagia. Lantas mereka mencari arti hidup ke mana-mana, termasuk mencarinya di narkoba, tapi tak juga menemu. Mengapa?

Boleh jadi lantaran pendidikan dunia sudah berubah jadi seperti “pabrik”. Anak dididik bukan untuk tujuan yang bersifat moral, tapi lebih bertujuan ekonomi. Anak seolah digiring orang tua, fakultas, dan pemerintah menjadi “mesin pencetak uang” belaka. Yang anak buru bagaimana bisa selalu “menjadi nomor satu”. Maka filosofi yang ditanam sekolah dalam benak anak adalah sukses hidup identik dengan pintar mencetak uang semata.

Peran sekolah cenderung hanya mengajar dan tidak mendidik. Nilai-nilai tradisional, yang sebelumnya diandalkan mempertebal budi pekerti anak, di sekolah kian pupus saja. Sekolah yang hanya mengajar, tanpa mendidik, menjadikan anak cuma pintar, tak diberi peta kehidupan. Anak menjadi besar sambil kehilangan gugus humanioranya.

Sekolah cenderung memuati otak anak dengan kurikulum yang belum tentu perlu. Nilai rapor tinggi hanya terangkat oleh hal-hal yang tak ada keperluannya buat bekal memecahkan masalah hidup. Diduga tetek-bengek itu yang menambah sempit gudang memori otak untuk memberi lebih banyak ruang memandunya cerdas bersolusi kelak.

Lantas, apa yang dihasilkan dari realitas di atas ? Tentu, kita bisa menangkap gejala yang nampak sebagai representasi, sekaligus, ‘prestasi’ dunia pendidikan kita, yakni kian merosotnya moral dan etika. Lantas, bagaimana jika manusia, khususnya anak didik hidup tanpa etika? Atau bahaya apa saja jika suatu negara besar seperti Indonesia ini mempunyai SDM di kalangan terdidik, namun mengalami krisis moral?

Tidak salah kemudian, jika ada yang mengaitkan antara posisi kehancuran suatu bangsa dan negara dengan baik buruknya moral (baca: akhlak). Artinya, ketika moral tidak lagi ditempatkan sebagai kekuatan utama dan “nyawa” manusia, maka hidup manusia menjadi kehilangan makna (meaningless). Anak-anak akan tumbuh menjadi segerombolan anak-anak liar, yang suka menciptakan kerusakan dan kekacauan.

Maraknya tawuran pelajar, bahkan menjalar ke pelajar Sekolah Dasar. Penodongan, pembajakan bus dan tindakan kriminal lainnya. Penyalahgunaan narkoba, minuman keras, permainan judi serta menjamurnya praktik pergaulan dan seks bebas. Semuanya adalah fenomena aktual yang menimpa para siswa peserta didik kita.

Lebih dari itu, anak didik yang hidup tanpa moral dan etika sangat potensial melahirkan dan menyemarakkan berbagai bentuk ucapan yang tidak santun, komunikasi yang tidak terarah, persaingan yang diwarnai serba kecurangan dan gampang menjadikan pihak lain sebatas sebagai objek yang dikorbankan demi kepentingan pribadi, kelompok dan kroni-kroninya. Mereka adalah calon pemimpin yang tidak jujur, politisi petualang, penjahat kerah putih, para koruptor, dan pelaku-pelaku social-ekonomi yang mobilitas kegiatannya menghalalkan segala cara, kebohongan dan keculasan.

Dengan demikian, memang ada yang salah dalam dunia pendidikan kita. Sehingga realitas saat ini melenceng dari tujuan yang ingin dicapai, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Alih-alih mencerdaskan, produk pendidikan kita justru jauh tertinggal di belakang negara lain.

Akar permasalahan

Kita ketahui secara umum, jumlah jam pelajaran selain pelajaran agama yang diterima oleh setiap pembelajar jauh lebih banyak dibanding mata pelajaran agama. Katakanlah seorang siswa SD kelas 2 di sekolah umum, maka jenis pelajaran yang harus ditempuhnya selama satu minggu tidak kurang dari 10 mata pelajaran. Dari sekian banyak pelajaran yang diterima siswa itu setiap harinya, hanya ada satu pelajaran yang secara eksplisit menjadikan para siswa mengenal Tuhannya dan termotivasi untuk berbuat kebajikan (ibadah), yaitu mata pelajaran agama. Selebihnya, semua mata pelajaran “sekadar” belajar konsep, teori dan rumus yang nota bene jauh dari masalah etika dan peri laku.

Mata pelajaran “disesakkan” ke otak-otak para siswa, kesadaran untuk maju coba dipacu lewat pengembangan pola-pola penciptaan ancaman dan hukuman, oleh guru. Akibatnya, masuk kelas (baca: berangkat ke sekolah) dianggap beban yang amat berat oleh para siswa. Sekolah kehilangan ruh kanalisasi diri dan aktualisasi pemikiran. Kenyamanan belajar seolah tak lagi ditemukan. Pada akhirnya, sekolah tidak lagi menjadi tempat yang nyaman buat anak-anak dan kaum pelajar. Na’uzubillah!

Kecemasan akan masa depan pendidikan yang demikian sudah berkali-kali dinyatakan oleh para pemikir pendidikan. Sinisme, satire dan kredo yang menohok kenyataan praktik-praktik pendidikan muncul tanpa henti: deschooling society (masyarakat bebas dari sekolah) dari Ivan Illich, the end of school menurut Everett Reimer, pedagogy of the oppressed dalam pandangan Paulo Freire, dan the end of education kata Neil Postman.

Sekolah sebagai sebuah institusi pendidikan yang mapan disinyalir kurang memberikan pendidikan moral dan etika pada para siswanya. Selama ini, ajaran-ajaran yang ditekankan di sekolah melulu soal pelajaran akademis dalam satuan teori-soal, seperti matematika, fisika, sejarah, dan seterusnya. Kalau pun ada mata pelajaran moral atau agama, ia hanya direduksi sebatas pelajaran yang diajarkan sekadar teori.

Para pakar sekarang memang ramai melirik kembali pelajaran budi pekerti, atau apalah namanya, yang memberikan pemahaman terhadap etika, norma dan moral. Salah satu alternatif yang mungkin tepat adalah, apabila seorang pembelajar mendapatkan pelajaran tentang etika, tentang peri laku mulia, nilai-nilai akhlak, di setiap mata pelajaran yang ia geluti setiap harinya. Yang hal itu terdapat di dalam ilmu keTuhanan.

Paradigma Islam

Dalam pandangan Islam, semua ilmu berasal dari Allah Yang Mahatahu sebagai sumber dan pemilik ilmu. Allah-lah asal yang paling atas dari segala ilmu. Maka dapat dipastikan bahwa sebenarnya Sang Pemilik tersebut yaitu Allah SWT “berada” di setiap ilmu yang dipelajari oleh setiap siswa atau pun anak didik. Kalau lah setiap pembelajar dapat bertemu dengan-Nya di setiap ilmu yang digelutinya, insya Alllah ia akan terjaga dari moral dan perilaku yang tidak terpuji (destruktif). Karena ia akan merasa selalu diawasi oleh Allah SWT.

Di dalam pelajaran ilmu pengetahuan social, prisip dasarnya adalah bagaimana kita harus hidup dan bergaul dalam masyarakat. Materi yang diajarkan berkaitan tentang hak dan kewajiban, saling menghormati sesama manusia, bagaimana hidup hemat, bagaimana berperilaku dalam keluarga, bagaimana memelihara lingkungan sekitar, dan sebagainya. Itu semua sangat jelas keterkaitannya dengan kehidupan dan nilai-nilai keberagamaan. Sungguh sangat saying, jika dalam mempelajari materi tersebut para siswa tidak diajak melihat, berkenalan sekaligus “bertemu” dengan kebesaran Sang Pencipta.

Demikian pula materi IPA yang dipelajari anak-anak di tingkat SD maupun sekolah lanjutan. Materi ilmu pengetahuan alam mencerminkan eksistensi Tuhan sebagai pencipta alam. Di setiap jengkal bentuk dan perilaku makhluk ciptaan-Nya, kita bias bertemu dan merasakan kehadiran-Nya, baik pada dunia tumbuhan, hewan, maupun di segenap penjuru semesta.

Apabila setiap guru, dosen, atau pun para pendidik lainnya mau dan mampu mengungkapkan nilai-nilai Ilahiah religius di dalam setiap mata pelajaran, sungguh setiap anak bangsa akan mampu bertemu dengan Tuhannya di ruang-ruang kelas masing-masing.

Penutup

Akhirnya nilai edukasi dan “gizi rohani” itu akan membawa dampak positif bagi terbentuknya kepribadian anak yang kokoh memegang teguh ajaran kebenaran, di samping mengembangkan potensi kecerdasan, nalar, daya kritis dan inovasinya sekaligus meningkatkan kualitas keimanannya.

Anak akan terbentuk kepribadiannya bukan hanya menjadi generasi yang pintar, intelektual atau ilmuwan hebat, tetapi juga terbentuk menjadi “intelektual-agamawan”:, intelektualitas yang berjiwakan nilai-nilai moral keagamaan.

Proses pendidikan yang seperti ini diharapkan bisa mencetak generasi muda dari SD sampai PT yang bermoral. Dimana proses pendidikan harus bisa membawa peserta didik ke arah kedewasaan, kemandirian dan tanggung jawab, tahu malu, tidak plin-plan, jujur, santun, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur sehingga mereka tidak lagi bergantung kepada keluarga, masyarakat atau bangsa setelah menyelesaikan pendidikannya. Tetapi sebaliknya, mereka bisa membangun bangsa ini dengan sumber daya alam yang kita miliki dan dihargai di dunia internasional. Kalau perlu bangsa ini tidak lagi mengandalkan utang untuk pembangunan. Sehingga negara lain tidak seenaknya mendikte bangsa ini dalam berbagai bidang kehidupan.

6 Comments »

  1. taufik79 said

    Bila sekolah kita tidak berubah, sekolah hanya mencetak nama besar, dan bukan orang besar. Sejatinya sekolah menciptakan sosok yang merasa kaya kendati tanpa kuasa dan harta, sosok yang lahir dari guru yang insinyur kepribadian dan profesor kebahagiaan.
    Bagaimana menurut antum?

  2. harysmk3 said

    Assalamualaikum Wr Wb.
    thanks sudah singgah di blog saya…
    tugas kita mmg menciptakan intelektual2 yang berakhlaqul karimah namun kenyataannya sulit. tetaplah berjuang….
    salam

  3. agusampurno said

    Visi dan misi yang hebat dan besar akan lebih berarti dan mengisi ruang pemikiran anak-anak kita lewat pembelajaran yang terorganisasi dengan baik dan menempatkan siswa sebagai orang yang bertanggung jawab pada proses belajarnya sendiri.

    Tulisan yang bagus, Pak Taufik.

  4. danummurik said

    Salam kenal pa Taufik, tulisannya bagus tapi kalau boleh usul di bikin read more (baca selanjutnya). Supaya bisa melihat baca tulisan-tulisan yang tayang.
    Salam
    Inas
    http://danummurik.wordpress.com

  5. fay said

    salam kenal,pak. saya nyalon guru. maksdunya ambil jurusan pendidikan.
    dan kayaknya emang kita kudu bisa nulis dan rajin baca. jangan cuma dosen, guru sd juga wajib tuh

    “selamat berjuang dan sukses slalu…”

  6. edi-s said

    Assalamualaikum Wr. Wb.
    Salam kenal Pak.

    Salah satu yang saya lakukan untuk menghadirkan Alloh di kelas adalah dengan menulis lafat bismillahirrahmanirrahim di papan tulis, walaupun saat saya mengajar Agribisnis, Permodalan, atau Budidaya Pepaya.

    Mohon kunjungi blog saya. Jazakalloh.

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: