Pendidikan Cinta Bervisi Profetik

Ada beberapa persoalan dan pertanyaan mendasar terkait dengan maraknya “budaya kekerasan”, khususnya yang terjadi di lembaga-lembaga pendidikan. Pertama, mengapa kultur dan struktur kekerasan itu dapat terjadi di sebuah lembaga pendidikan? Kedua, bagaimana visi profetik menjadi ruh pendidikan sehingga tidak melahirkan budaya kekerasan? Ketiga, paradigma apa yang seharusnya diambil untuk memajukan sistem pendidikan agar tidak lagi terjadi “salah asuh” dan “salah kultur” di lingkungan pendidikan?

Terbentuknya kultur dan struktur kekerasan di suatu lembaga pendidikan, antara lain, disebabkan oleh pendangkalan spiritualitas atau tidak adanya spiritualisasi pendidikan. Nilai-nilai spiritual mulai tercerabut dari sistem pendidikan. Sementara itu, yang ditonjolkan adalah egoisme relasi senior-yunior yang cenderung militeristik dan berbudaya feodalistik.

Karena itu, paradigma senioritas harus dikubur dalam-dalam di lingkungan pendidikan dan diubah menjadi paradigma “kesetaraan dan kemitraan”. Semua warga kampus pendidikan pada dasarnya merupakan subyek dewasa yang perlu saling bermitra, bekerjasama, dan bersinergi untuk merealisasikan tujuan pendidikan yang hendak dicapai.

Despiritualisasi Pendidikan

Paradigma kesetaraan dan kemitraan dapat dikembangkan jika semua pihak memiliki komitmen sama untuk belajar: berpikir, berbuat, berkarya, hidup bersama, dan berdedikasi bagi masyarakat dan bangsa. Arogansi senioritas harus dikikis dengan penyadaran dan takziyatun nafs (penyucian diri) dari sifat-sifat kebinatangan, seperti: mudah marah, liar, dan lepas kendali moral. Praktik hukuman fisik bagi yang melakukan pelanggaran harus dihentikan karena, selain tidak mendidik, juga hanya menyisakan “dendam membara”, yang di kemudian hari dilampiaskan kepada yunior mereka.

Oleh karena itu, kultur dan struktur kekerasan dalam pendidikan tidak lebih dari manifestasi cara kaum penjajah untuk meneror dan menunjukkan kekuasaannya di mata kaum terjajah. Jika Pembukaan UUD 1945 menegaskan bahwa, penjajahan di muka bumi ini harus dihapuskan, maka sistem dan lembaga pendidikan di mana pun dan kapan pun seharusnya bebas dari kekerasan. Investasi pendidikan yang sangat mahal bagi mitra didik itu tidak akan membuahkan hasil (lulusan) yang memiliki kompetensi dan integritas moral yang baik.

Pendangkalan spiritualitas pendidikan tersebut disebabkan oleh tiga hal. Pertama, komersialisasi dan kapitalisasi pendidikan. Pendidikan bukan lagi menjadi hak bagi semua (education for all), tetapi cenderung menjadi “lembaga” yang berorientasi bisnis. Kalkulasi “untung rugi” dinomorsatukan, sementara pertimbangan kemanusiaan dan spiritualitas diabaikan. Sebagian stake holder pendidikan juga mulai berhitung: “jika anak saya belajar di lembaga pendidikan X, maka nanti akan menjadi apa, dan dalam waktu berapa lama bisa kembali modal?” Kedua, sekularisasi proses pendidikan. Agama dijauhkan atau dimarginalkan dari pelaksanaan pembelajaran. Setidak-tidaknya, agama hanya diajarkan pada tataran kognitif dengan porsi dan alokasi waktu yang sangat sedikit, tidak dikembangkan dalam ranah afektif dan tidak ditindaklanjuti dalam ranah perilaku etis dan bermoral.

Ketiga, arogansi dan disorientasi pengasuhan dan pembinaan. Kultur kekerasan dalam sistem sosial mana pun tidak lepas dari sikap arogansi para pelakunya. Dalam bahasa agama, arogansi disebut takabbur (merasa besar, merasa berkuasa, merasa hebat). Sikap ini muncul, antara lain, karena disorientasi (salah arah dan salah asuh) dalam pembinaan moral dan mental spiritual, di samping juga karena kurang terciptanya iklim dialogis dalam lembaga pendidikan. Orang beragama semestinya tidak berpikir, bersikap, berkata, dan berbuat sesuatu yang dapat menyakiti dan membahayakan orang lain.

Visi Profetik Pendidikan

Mendidik pada dasarnya merupakan profesi mulia. Semua nabi dan rasul merupakan pendidik umatnya. Semua rasul mengemban visi dan misi pendidikan dengan nilai-nilai kasih sayang, perdamaian, kebajikan dan toleransi.
Nabi Muhammad saw misalnya menyatakan: “Aku diutus oleh Allah sebagai pendidik” (HR Malik); dan “Aku diutus bukan sebagai pelaknat, melainkan penebar rahmat” (HR Muslim). Keberhasilan Nabi saw mengubah masyarakat jahiliyah yang keras kepala dan berkultur kekerasan menjadi masyarakat madani yang beradab, antara lain, karena pendidikan yang diberikan tidak berorientasi kekerasan, tetapi bernuansa cinta, dialogis, damai, dan humanis.
Al-Qur’an juga menegaskan bahwa, pendidikan yang bernuansa kekerasan fisik maupun psikis, dipastikan tidak dapat membentuk kepribadian yang mulia (QS. Ali Imran [3]: 159).

Pendidikan Cinta yang bervisi profetik adalah pendidikan yang jauh dari unsur kekerasan, karena, kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan baru yang tidak pernah ada habisnya. Budaya dialog konstruktif, saling menghormati perbedaan dan toleransi, merupakan warisan moral yang senantiasa menjadi spirit pendidikan para Nabi dan Rasul.
Jika pendidikan merupakan persemaian budaya damai, empati, dan toleransi, maka sudah semestinya para pendidik dan praktisi pendidikan merevitalisasi nilai-nilai profetik sebagai basis dan ruh pendidikan. Karena sejarah membuktikan bahwa, keberhasilan Nabi saw dalam mendidik para sahabatnya bukan karena beliau mendapat legitimasi politik, tetapi, karena dilandasi nilai-nilai moral (akhlak) dan etika yang luhur.

Model pendidikan Nabi saw sangat humanis: mencerdaskan, memuliakan, dan memberdayakan, bukan mencemooh, menghinakan, menyakiti, membuat kerusakan, apalagi membunuh. Kecerdasan emosional dan spiritual dikembangkan seiring dengan pembentukan kecerdasan intelektual dan kecerdasan sosial.

Salah satu visi profetik Nabi saw yang relevan dengan pendidikan cinta adalah: “Kemuliaan dan kebahagiaan seseorang itu dapat tercipta jika seseorang itu selalu menebarkan salam, memberi makan, menyambung tali silaturrahim, qiyamul lail (shalat malam) pada saat orang lain tidur.” (HR Muslim). Dengan kata lain, aktualisasi salam dalam proses pendidikan harus diwujudkan dalam bentuk nilai-nilai perdamaian seperti: tegur sapa, murah senyum, ramah, semangat memberi pelayanan yang prima, tidak emosional, dan sebagainya.

Nilai “memberi makan” harus diterjemahkan sebagai implementasi dari kecerdasan sosial: empati, mau membantu, solidaritas sosial, berusaha mencari solusi, dan sebagainya. Nilai profetik “menyambung tali silaturrahim” dapat diaktualisasikan dalam bentuk: suka dan mudah bergaul, berkomunikasi terbuka, tidak bermusuhan, bersahabat, bekerjasama, saling melindungi, dan sebagainya. Sedangkan “qiyamul lail” merupakan spiritualisasi diri dan dapat diterjemahkan dalam perilaku: selalu dzikir (ingat) kepada Allah, istiqamah (konsisten) dalam beribadah, berdoa, beramal, sabar dalam menghadapi ujian, dan sebagainya.

Penutup

Belajar dari berbagai kasus kekerasan yang terjadi di beberapa lembaga pendidikan kita, tampaknya pendidikan cinta perlu direvitalisasi. Pendidikan cinta dimaksud tidak lain adalah ajakan untuk merambahi kembali keluasan cakrawala arti cinta, serta hubungan-hubungannya dengan konteks lelaki-perempuan, antarmanusia, alam, Tuhan, unsur budaya, sejarah, dan sebagainya.

Jika demokrasi, toleransi, pluralisme, keadilan gender dan semacamnya adalah wacana yang mengemuka pada pentas modern, maka pendidikan Cinta adalah hal yang niscaya. Tentu, Cinta yang memberi pencerahan raga dan jiwa, bukan sekedar cinta dalam arti sempit dan dangkal, sebagaimana tercermin dalam kultur pop kita yang massif dan artifisial.

Cinta adalah kekuatan yang tulus, jujur, damai dan anti kekerasan, untuk menapaki hidup yang kaya warna dan beraneka. Cinta pun bisa mengatasi dan melampaui apa saja; ras, bahasa, agama, sosial, ekonomi, politik, ideologi, dan seterusnya.

Pada akhirnya, yang dibutuhkan masyarakat Indonesia sekarang ini adalah pendidikan cinta. Dan cinta itu, meminjam istilah Erich Fromm, adalah cinta produktif. Sebuah perasaan yang mementingkan tanggung jawab, penghormatan, perlindungan dan pengetahuan. Cinta sejati yang rela memberi, tanpa memiliki pamrih untuk memperoleh imbalan. Cinta bukan komoditas, tetapi sebuah kepedulian terhadap moral dan kemanusiaan. Cinta yang membuka pintu pemaafan, serta jauh dari sikap dendam, benci dan permusuhan. Nafsu, eksploitasi, diskriminasi dan penjajahan tidak punya tempat dalam ruang cinta ini.

Pendidikan Cinta bervisi profetik perlu diterjemahkan dan diaktualisasikan dalam sistem pendidikan kita agar kultur keadaban dan peradaban dapat ditransformasikan kepada anak bangsa. Pemimpin masa depan bangsa hanya lahir dari “rahim pendidikan yang penuh cinta dan kasih sayang”.

Utopiskah? Tidak. Ia adalah cita-cita sekaligus paradigma cerdas!

Mengapa tidak kita mulai dari sekarang?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: