MTQ, Bukan Ajang Karasmin

Pernah dimuat pada Harian Radar Banjarmasin/ Jumat, 29 Februari 2008

mesjid-mtp.jpg

MARTAPURA, kota yang terkenal dengan julukan serambi mekkah, kini sedang bersolek dan berbenah. Satu perhelatan akbar akan segera digelar pada tanggal 8 sampai dengan 15 Maret mendatang, bertajuk Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXIV Tingkat Propinsi Kalimantan Selatan.

Berbagai instansi pun dilibatkan demi mendukung suksesnya acara tersebut. Pembenahan sarana dan fasilitas mulai dilakukan untuk menyambut kafilah dari berbagai daerah, seperti pembuatan pintu gerbang MTQ yang rencananya akan dipasang di empat lokasi, yakni di perbatasan Kota Martapura dan Banjarbaru, di jembatan Sungai Paring, jembatan Martapura I dan II. Begitu pula pemasangan baliho, umbul-umbul dan lampu-lampu hias di sepanjang jalan protokol A.Yani, pengecatan tiang-tiang listrik, memperindah trotoar dan median jalan, juga merapikan pohon-pohon dan taman kota.

Untuk tempat pelaksanaan kegiatan, rencananya akan dipusatkan di halaman Masjid Agung Al-Karomah Martapura sebagai tempat panggung utama, sedangkan untuk kegiatan lomba-lomba akan menggunakan fasilitas yang ada di sekitar kota Martapura, seperti Mahligai Sultan Adam, DPRD Banjar, Aula Barakat, Gedung Pemuda, Gedung Juang serta beberapa penginapan dan aula yang ada di sekitar kota.

Cukuplah itu semua sebagai pertanda keseriusan Pemkab Banjar dalam upaya menyukseskan MTQ Nasional di banua Banjar.Konon kabarnya, pembukaan acara yang akan dilangsungkan tanggal 8 Maret ini akan dihadiri oleh Gubernur, para pejabat Pemprov dan Pemkab se-Kalimantan Selatan. Tidak tanggung-tanggung, segala daya dan upaya termasuk dana diarahkan untuk terselenggaranya “seremonial” acara MTQ ke-24 ini.

Tapi menjadi senantiasa terhiba diri ini, manakala teringat beberapa momen MTQ sebelumnya. Tak peduli, apakah tingkat nasional, propinsi atau tingkat kota/kabupaten. Menyaksikan gemerlapnya acara MTQ, kemeriahan dan semarak dengan segala pernak pernik membuat segala rasa bercampur dalam tubuh mengendap jadi satu.

Terharu mendengarkan indahnya lantunan ayat-ayat suci menyentuh kalbu. Senyum bahagia menyaksikan sang bocah kecil yang sudah fasih menghafalkan berjuz-juz al-Quran.

Tersentak jiwa ini menyaksikan khutbah para mufassir yang menggebu-gebu. Melihat indahnya sentuhan kaligrafi. Begitu juga dengan kepakaran para peserta fahmil Qur’an menjawab beragam pertanyaan. Atau segudang perlombaan lainnya yang mengundang decak kekaguman.

Sedihlah diri, ketika MTQ ditutup Sang Kepala Daerah atau pejabat yang ditugaskan. Peserta-peserta berprestasi diumumkan. Seluruh cabang dengan seluruh kategori usia. MTQ, MHQ, MSQ, MFQ, Khutbah, Kaligrafi dan seluruh cabang yang dilombakan. Hadiahpun dibagikan. Para pemenang berwajah girang menggotong hadiah pulang ke banua masing-masing, tak jarang ada bonus-bonus tambahan.

Sehari setelah itu, kita pun acap kali menyaksikan umat ini berlari meninggalkan al-Qur’an. Masyarakat bangsa dan negeri ini hijrah dari keagungan dan kemuliaan al-Qur’an. Mengingkari nilai-nilai di dalamnya, melupakan pesan-pesan agung dari al-Qur’an.

Pertanyaannya, akankah semua ini terus menerus begini? Agaknya perlu ada reparasi dalam proses, penyelenggaraan, pelaksanaan dan evaluasi MTQ mendatang.

Mencetak Generasi Qur’ani

Lomba membaca ayat suci kalam Ilahi tak mungkin disamakan dengan lomba cabang lain di luar MTQ, sebab membaca ayat suci al-Qur’an termasuk ibadah. Menyitir hadits Rasulullah, umat muslim dianjurkan setiap saat dan kesempatan untuk membaca dan meresapi makna yang terkandung dalam kitab suci al-Qur’an. Tujuannya mengharapkan ridha dan pahala dari Allah SWT. Sebab hanya dengan ridha Ilahi, negeri ini bisa lebih sejuk dan kondusif. Hanya dengan ridha Tuhan Yang Maha Kuasa, kita akan lebih mantap memacu pembangunan daerah. Mengharapkan ridha Allah ini penting karena secara nasional, penyakit yang perlu segera ditangani di republik ini menyangkut rusaknya akhlak dan bobroknya mentalitas bangsa.

Seiring dengan makin maraknya pola hidup pragmatis yang dikibarkan oleh bendera konsumtivisme, materialisme, dan hedonisme, generasi masa kini memiliki kecenderungan untuk berpikir praktis dan pragmatis. Apresiasi terhadap sikap dan pola hidup yang menghargai proses dan kerja keras (nyaris) hilang dalam kamus kehidupan. Kondisi itu diperparah dengan miskinnya keteladanan orang tua dan kaum elite yang secara sosial mestinya bisa menjadi anutan. Mereka bukannya menunjukkan kesalehan, baik individu maupun sosial, tetapi justru menampakkan praktik hidup yang sarat dengan berbagai perilaku amoral.

Untuk mencapai tujuan, mereka tak jarang menghalalkan segala cara, bermimpi sukses ala Abu Nawas dengan menerapkan cara-cara magis, bahkan tak jarang menggunakan ilmu permalingan yang dalam ajaran agama apa pun jelas-jelas dilarang. Kursi empuk kepejabatan tak jarang didapat dengan cara-cara curang, dengan cara menggunakan uang pelicin alias KKN. Sungguh, sebuah “drama” di atas panggung kehidupan sosial negeri ini yang membikin miris para pemburu kebenaran, kejujuran, dan keadilan.

Kondisi tersebut diperparah dengan makin permisifnya masyarakat terhadap berbagai tindakan amoral dan tak terpuji yang tampak vulgar di atas panggung kehidupan sosial kita. Lantas, bagaimana peran kita dalam menghadapi fenomena semacam itu?

Disadari memang, persoalannya tidak semudah seperti membalik telapak tangan. Sebab “penyakit” akhlak ini tidak seperti penyakit medis lainnya, setelah diterapi, ada obat lantas sembuh. Untuk meluruskan akhlak yang bengkok memerlukan waktu dan terapi yang panjang. Nah, MTQ salah satunya. Event lomba melantunkan kalam Ilahi ini sebagai sarana dan wahana menuju ke sana. Substansi dan efek fungsionalnya diharapkan menjadi syiar dakwah Islam, serta upaya menciptakan “generasi Qur’ani”, yakni masyarakat muslim yang mengenal, memuliakan, membaca al-Qur’an serta memahami makna kandungannya. Dan pada gilirannya mampu untuk mengejawantahkan nilai serta ajaran al-Qur’an ini dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Betapa meruginya kehidupan yang tidak disinari cahaya al-Qur’an.

Final goal yang hendak dicapai tidak hanya mencetak jawara MTQ yang mampu membawa harum nama daerah, lebih dari itu tujuan utamanya ialah mampu mencetak manusia bertaqwa yang dijiwai nilai spirit al-Qur’an, tidak saja bagi para peserta yang mengikutinya, tetapi juga para pelaksana, serta masyarakat Banjar pada umumnya.

Kegundahan kita, adakah MTQ hanya untuk mengejar prestasi dan prestise? Bila ini yang dituju, kita akan tetap dalam keterpurukan. Tetapi bila MTQ dijadikan upaya penyadaran semua pihak bahwa al-Qur’an sebagai petunjuk (hidayah) bagi seluruh umat manusia, adalah untuk dibaca, dipahami dan diamalkan, maka kita akan mendapatkan ridha Ilahi, sehingga jalan keluar dari petaka kehidupan akan ditemukan. Pada gilirannya, negeri baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur, seperti tertuang dalam mars MTQ, tidak mustahil akan bisa kita wujudkan.

Akhirnya, dapatkah MTQ di banua Banjar ini menjadi momentum dan harapan, menciptakan generasi yang Qur’ani, atau kah kembali hanya menjadi semacam acara karasmin, tanpa satu pakulih pun yang bisa kita ambil?

Tulisan ini merupakan salah satu refleksi pribadi menyongsong pelaksanaan MTQ Nasional XXIV Tingkat Propinsi Kalimantan Selatan di kota santri Martapura.

Selamat MTQ XXIV, semoga mendapat ridha dan ampunan dari Allah Yang Maha Esa. Amien.

2 Comments »

  1. BINTANG said

    SETUJU banar…!!!

  2. Assalamualaikum Wr Wb, saya punya usul bagaimana, kalau didalam pesantren diadakan “BASUL MASAIL” setiap minggu. dan yang dibahas agar kitab – kitab yang menerangkan masalah Bab ” tata cara beribadah kepada Allah dengan benar dan baik”

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: