Guru Insan Cendekia

Guru sebagai salah satu komponen utama bangsa, memiliki peran penting dalam menghasilkan SDM yang berkemampuan dan berkualitas. Hal ini, karena di tangan mereka konsep-konsep pembelajaran diberikan kepada anak didik secara praktis dan mudah dimengerti. Tuntutan yang menjadi tantangan adalah membuat anak didik mau, tertarik dan senang saat belajar di kelas, selanjutnya berkeinginan belajar secara mandiri serta menghasilkan anak didik yang memiliki kompetensi tinggi.

Seorang guru yang baik selalu dituntut mampu melahirkan manusia-manusia yang baik, bukan sekedar murid yang pintar. Guru dituntut tak hanya mampu “menggarap” kognisi (rasio-logika), tetapi juga afeksi (rasa, cipta, karsa dan sikap).

Oleh karena itu, dalam ekspektasi kita, guru mesti memiliki kualifikasi yang melampaui sekadar penguasaan pelajaran (kognisi), tetapi juga memenuhi prasyarat jika seseorang ingin menjadi pemimpin yang baik. Ia harus mampu mengajarkan bagaimana jadi manusia yang baik, mampu memberi teladan bahwa, misalnya korupsi itu sama dengan mencuri, lewat contoh langsung dalam laku keseharian hidupnya yang sudah sempit dan serba terbatas. Kualitas itulah yang kita rindukan dari mereka yang diberkahi sebutan sebagai guru.

Tak ada yang lebih pas untuk merumuskan peran semacam itu selain istilah “guru”, bukan “teacher” atau “lecture”. Itu sebabnya, “guru” kerap dipanjangkan sebagai “digugu dan ditiru”. Tidak mengherankan jika ada peribahasa ”guru kencing berdiri, murid kencing berlari.”

Itu pula kiranya yang menyebabkan guru diposisikan sebagai “manusia suci”, semacam resi, yang selain pintar, tetapi punya laku tulus nan asketis. Saya kira inilah yang jadi sebab kenapa kita seperti kurang serius memikirkan kesejahteraan para guru. Karena memang tertanam kesadaran bahwa seorang guru itu harus hidup sederhana dan tulus apa adanya.

Di sini muncul dilema. Kita sepakat, sudah sepantasnya guru punya penghidupan dan penghasilan gaji yang layak. Namun jika guru sudah punya kehidupan yang layak, kita khawatir banyak orang ingin jadi guru karena semata tergiur penghasilannya yang memadai, bukan karena panggilan hati menjadi pendidik. Kita khawatir guru dimengerti hanya sebagai profesi, yang tak ada bedanya dengan profesi sekretaris atau arsitek, misalnya.

Predikat cendekia

Guru sebagai insan cendekia membutuhkan pengembangan diri terus-menerus secara intelektual maupun kepribadian mengingat profesinya justru harus mampu mencerahkan peserta didik. Guru cendekia harus memiliki pengetahuan, spirit yang tak pernah puas untuk mencari pengetahuan, memperkaya ide, dan mendesain pembelajaran yang menggairahkan. Semuanya harus mampu menggugah peserta didik ke arah kreativitas dan sifat kritis siswa. Guru cendekia berfokus pada karakter yang mencerminkan integritas, komitmen, dan kepemimpinan dalam dunia pendidikan. Karakter yang selalu terus-menerus belajar untuk meningkatkan segala kekurangannya yang didedikasikan untuk proses pembelajaran yang mencerahkan.

Gencarnya pembukaan sekolah-sekolah nasional (internasional) yang berafiliasi pada kurikulum negara yang lebih maju, harus dipandang sebagai sparing partner. Sekolah ini berorientasi pada paradigma pembelajaran dan kurikulum pembelajaran yang lebih berfokus pada potensi anak. Kurikulumnya mempersiapkan anak menghadapi masa depannya dengan potensi, kemampuan, dan bakat yang dimilikinya.

Keberadaan sekolah-sekolah ini justru menuntut kualifikasi guru agar meningkatkan pengetahuannya agar lebih kompeten dalam bidangnya. Kompetisi yang menuntut pengetahuan bahasa internasional untuk pergaulan dunia dan cepatnya mengadaptasi dinamika pengetahuan serta perkembangan inovasi dan teknologi.

Polarisasi era keterbukaan makin mengimpit guru-guru banua dalam perangkap ketakberdayaan manakala guru-guru asing masuk dengan paradigma yang lebih maju dan dikemas bilingual dalam bahasa pergaulan internasional. Keharusan penguasaan bahasa bagi guru cendekia sudah merupakan satu kemutlakan dalam era globalisasi. Tekanan teknologi informasi sudah seharusnya menjadikan guru lokal menjadi guru global dengan mengadaptasi teknologi secara cepat. Penguasaan teknologi informasi ini harus dijadikan peluang untuk keunggulan kompetitif, dan bukan sekadar melek teknologi (computer literate), tetapi mampu menggunakan informasi sebagai suatu keunggulan dan peluang kompetitif.

Melihat perkembangan dan tuntutan profesi guru yang terjadi dalam dinamika masyarakat maka kiprah guru sebagai pondok intelektual, dalam kapasitas guru cendekia sangat dibutuhkan. Diperlukan grand strategy dalam merencanakan tenaga pendidik yang menjadikan guru sebagai tulang punggung dalam perkembangan suatu bangsa dan negara. Inkubator bagi lahirnya guru cendekia, melalui serangkaian pelatihan profesional berkualitas yang wajib bagi seorang guru.

Namun, kehadiran guru cendekia bukan lahir hanya melalui pelatihan-pelatihan berkualitas, akan tetapi melalui atmosfer lingkungan yang memberikan berbagai peluang dan kesempatan. Atmosfer ini akan mengasah kemunculan seorang pendidik yang memiliki karakter kukuh. Mencerminkan integritas seorang pendidik yang mampu bekerja sama, pemikir, memiliki kemampuan intrapersonal dan ekstrapersonal yang baik berkaitan dengan nilai, moral dan spiritual seorang guru.

Catatan akhir

Kini guru membutuhkan tanda jasa. Persepsi ‘guru pahlawan tanpa tanda jasa’ sudah harus ditinggalkan. Guru mesti menuntut tanda jasa, perbaikan penghidupan dan status sosial yang lebih tinggi. Tuntutan ini harus disepadani dengan peningkatan kualitas guru terutama peningkatan dalam keseharian dan pembelajaran di kelas. Juga menjadi pemikir yang selalu belajar membuka wawasan dan menciptakan proses pembejaran yang menggugah peserta didik dengan ide-ide yang provokatif. Yang akhirnya wawasan, panutan, dan karakter baik ini akan selalu diingat siswa sepanjang hayatnya.

Sepanjang sejarah, terlalu banyak disebutkan tokoh-tokoh yang lahir dari seorang pendidik. Kini justru saatnya mengembalikan terulangnya sejarah seperti itu. Seorang guru, tokoh pendidik, lahir sebagai pemimpin bangsa, seorang pemimpin yang melahirkan banyak pemimpin. Apalagi dalam kondisi sekarang ini, di tengah krisis stok pemimpin bangsa. Hanya ada satu tumpuan, yaitu di pundak guru cendekia. Bukan di pundak pemimpin partai apalagi di tangan seorang politikus avonturir. Semoga seorang guru dapat lahir memimpin bangsa ini.

2 Comments »

  1. taufik79 said

    tulisan ini terinspirasi dari hasil kunjungan ke MAN Insan Cendekia Serpong, awal Januari yg lalu…

  2. arghainc said

    saya lulusan man IC mas. salam kenal.
    blog saya : http://arghainc.wordpress.com

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: