Andai Guru Mau Menulis

Beberapa penulis yang telah berpengalaman, seperti Eka Budianta, pernah mengungkapkan kepada publik bahwa menulis itu mudah. Kalau tidak percaya, baca saja bukunya yang berjudul Mengebrak Dunia Mengarang. Bahkan sang penulis yang berambut gondrong, yang sempat menuai kontroversi di tanah air, Arswendo Atmowiloto, mengatakan bahwa menulis itu gampang.

Tidak juga percaya? Baca saja bukunya Menulis Itu Gampang. Banyak lagi penulis lain yang selalu memotivasi kita, para remaja, orang tua atau siapa saja untuk menulis. Hernowo, lelaki kelahiran Magelang yang kini menjadi penulis best seller di penerbit MLC yang sangat produktif dalam menuliskan kiat-kiat menulis juga mengatakan menulis itu sangat mudah. Salah satu bukunya yang masih baru adalah Menjadi Guru Yang Mau dan Mampu Membuat Buku. Berbagai kiat atau resep menulis ditawarkan kepada guru. Dalam kata pengantarnya, Hernowo berharap, “Saya ingin para pengajar di seluruh Indonesia dapat menulis buku untuk para muridnya. Saya ingin sekali para pengajar itu dapat memperkaya para muridnya dengan cerita-cerita yang mengasyikkan, ditulis oleh mereka di karya-karya tulis mereka.” Hernowo dengan bahasa yang cair itu menyuguhkan cara-cara yang mudah untuk menulis. Namun, mengapa tidak banyak guru yang mau menulis?

Banyak bukti untuk menerangkan tentang rendahnya budaya menulis di kalangan guru. Kita tidak perlu membuat indikator terlalu banyak. Cobalah amati buku-buku di perpustakaan atau di toko-toko buku. Hitunglah, berapa banyak buku yang ditulis oleh para guru. Kalau kita membaca surat kabar, berapa banyak artikel yang ditulis oleh para guru? Pasti jarang sekali, bukan?

Benarkah guru tidak mampu menulis atau tidak terbiasa menulis? Jawabannya pasti bermacam ragam. Namun dalam realitasnya, memang sangat sedikit guru yang menekuni dunia tulis menulis. Jangan kan untuk menulis di media massa, jurnal atau yang lainnya, untuk membuat karya tulis yang diajukan dalam pengurusan kenaikan pangkat saja, banyak yang tidak bisa. Padahal, guru harus membuat karya tulis kalau mau cepat naik pangkat. Ketidakmampuan ini kadang melahirkan sebuah kebohongan baru di dalam diri sebagian guru yang ingin cepat naik pangkat. Caranya banyak, bisa dengan meminta tenaga orang lain, dengan cara membayar dan bahkan dengan melakukan tindakan pemalsuan. Ini sebuah tindakan yang memalukan dan merendahkan kredibilitas guru. Padahal, kalau bisa menulis karya tulis sendiri, aktivitas ini adalah sebuah upaya pengembangan diri guru dalam mengekspresikan diri. Namun sekali lagi, budaya menulis di kalangan guru itu sangat rendah. Idealnya, seorang guru harus mau dan pintar menulis. Mengapa demikian?

Dilihat dari perspektif guru sebagai subjek, sebagai praktisi pendidikan para guru memiliki potensi menulis yang sangat besar. Ya, guru sebenarnya memiliki segudang bahan berupa pengalaman pribadi tentang sistem, metode dan model pembelajaran yang dijalankan. Guru bisa menulis tentang indahnya menjadi guru, atau bisa juga menuliskan suka duka menjalani profesi sebagai guru. Bisa pula memaparkan tentang realitas sosial yang ada dari kaca mata seorang guru, dan sebagainya. Di pihak lain, sebagai objek, selama ini banyak orang menjadikan guru sebagai bahan perbincangan sebagai bahan tulisan. Berbagai sorotan dan kritik dilemparkan orang dalam tulisan mengenai profesi guru yang semakin marginal ini. Berbagai keprihatinan terhadap profesi guru yang semakin langka ini, menjadi sejuta bahan untuk ditulis. Sayangnya, tulisan-tulisan mengenai guru, kebanyakan tidak ditulis oleh para guru sendiri. Padahal, kalau semua itu ditulis oleh guru, maka penulisan itu akan menjadi sebuah proses pembelajaran bagi semua orang.

Betapa banyak hikmah dan keuntungan yang dapat dipetik guru, kalau mereka mau menulis. Keuntungan-keuntungan itu antara lain; pertama, kegiatan menulis adalah aktivitas yang dapat memberikan motivasi tinggi kepada guru. Ketika sebuah tulisan (karya tulis) dipublikasikan di media, kita biasanya sangat senang (fun) serta terdorong untuk menulis lagi. Kita juga merasa bangga (pride) dengan pemuatan itu. Ini sering menjadi motivasi. Nah, bila guru banyak menulis, maka sang guru akan sangat termotivasi bahwa akan mendapat nilai tambah (added value) karena bisa digolongkan ke dalam kelompok intelektual. Ini salah satu nilai positifnya. Kedua, kegiatan menulis bisa membuat guru menjadi manusia pembelajar (istilah yang dipakai Andreas Harefa). Kalau guru mau atau akan menulis, ia pasti harus melakukan aktivitas membaca. Membaca dalam arti riil seperti membaca berbagai referensi atau literatur dan juga membaca realitas sosial. Pada proses ini, sang guru yang suka menulis akan terbiasa dengan aktivitas belajar mengidentifikasi masalah, belajar menganalisisnya serta mengasah kemampuan mencari solusi.. Pembelajaran yang demikian bisa membuat guru menjadi sosok pendidik yang kritis. Kalau ini dilakukan, kesan guru malas belajar akan pupus. Ketiga, percaya atau tidak, menulis bisa memberikan keuntungan popularitas. Para penulis yang sering menulis di media massa, biasanya akan dikenal oleh banyak orang. Apalagi kalau ia mampu menyajikan hal-hal yang menarik atau solusi yang cerdas, pasti para pembaca akan selalu teringat dengan sang penulisnya. Guru juga akan bisa memiliki banyak penggemar di bidang ini. Sekali lagi, kalau guru mau menulis.

Keempat, tak dapat dipungkiri bahwa menulis sebenarnya bisa menambah “income”. Tidak percaya? Coba saja kirim tulisan atau karya tulis ke salah satu media. Bila tulisan dimuat, maka kocek akan bertambah. Bagi guru, menulis bisa mengatasi kesulitan ekonomi yang dihadapi para guru yang selama ini dirasakan masih rendah tingkat kesejahteraannya. Andai guru mau aktif menulis di media atau menulis buku, performance guru pasti berubah. Hasil menulis di media, bisa lebih besar dibandingkan gaji guru yang diterima setiap bulannya. Tidak percaya? Silakan coba. Kelima, ada nilai tambah dari menulis yang bisa dipetik sang guru. Dengan menulis, seorang guru bisa menambah angka kredit. Kredit ini lebih bergengsi dan jumlahnya lebih besar dari mengajar selama satu semester. Bayangkan saja, satu artikel yang dimuat di media massa, nilai kreditnya 2 point. Kalau guru bisa menulis dengan baik, guru tersebut tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk membayar ongkos menulis sebuah karya tulis untuk kenaikan pangkat.

Banyak sekali keuntungan bagi guru, kalau guru mau melakukan aktivitas menulis. Betapa sayang, kalau guru malas atau tidak bisa menulis. Padahal, kata Dylan Thomas, “menulislah, karena hanya itu cara untuk membuat dunia tahu apa yang engkau pikirkan.”

Agaknya, memang tidak ada kata terlambat bagi para guru untuk mengembangkan kreativitas menulis. Banyak jalan agar para guru bisa menulis. Bukan kah para guru sebenarnya memiliki potensi yang besar dalam menulis. Guru memiliki sejuta masalah yang membutuhkan langkah analisis dan solutif. Bukan kah merubah paradigma pembelajaran itu lebih cepat terjadi kalau guru banyak membaca dan kemudian mengekspresikan hasil bacaan itu ke dalam sebuah karya tulis, apapun bentuknya. Apakah para guru harus diberikan dorongan ekstra?

Wah, alangkah bermakna dan berharganya kalau guru mau berlatih, berlatih dan berlatih menulis. Betapa terangkatnya martabat guru, kalau guru bisa dan mau menulis. Kalau guru mau menulis, pasti akan banyak anak didik yang bisa menjadi penulis andalan. Kiranya tidak ada kata terlambat bagi para guru untuk menulis. Yang ada mari mencoba, membangun diri dengan menulis. Semoga!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: