Kita semua mungkin sudah pernah menonton film Laskar Pelangi. Ya, SD Muhammadiyah, Belitong adalah salah satu lokasi syuting dalam film produksi Miles Film dan Mizan Production. Kini sekolah “kandang sapi” itu sudah tinggal kenangan.
Kalau saja Andrea Hirata tak pernah menulis novel inspiratif lewat 10 tokoh anak yang punya semangat heroik tinggi, bisa jadi Pulau Belitung tak akan pernah ada yang melirik.
Ya, dari sebuah tempat belajar yang dikenal dengan sekolah Laskar Pelangi itu telah melahirkan putra daerah yang mampu mengangkat tanah kelahirannya. Dengan kegigihan dan kreatifitas yang dimiliki Andrea Hirata, telah memberikan spirit baru buat tanah Belitung dan Indonesia.Seolah berbicara bahwa anak desa dengan segala keterbatasan yang ada bukanlah halangan. Semua mimpi bisa diwujudkan kalau kita memang punya keyakinan dan kegigihan.
Ketika isu sekolah-sekolah “unggulan”, sekolah model, RSBI, dan sebagainya justru tak membuat peserta didik menjadi hebat, ketika kebijakan yang dikeluarkan kurang menggema di tingkat implementasi, kita pun perlu “bercermin” kembali kepada sekolah laskar pelangi yang memiliki fasilitas apa adanya tetapi memiliki guru-guru yang luar biasa.
Guru-guru kreatif yang pantang mengeluh sehingga mampu menginspirasi para peserta didiknya untuk bersaing di era global. Era dimana batas negara seolah tiada lagi. Internet telah menyatukan semua orang di seluruh dunia untuk saling berkomunikasi, dan berbagi.
Saya bukan orang “pintar”. Saya hanya seorang guru yang sedang “gusar”. Adanya RSBI tak serta merta membuat dunia pendidikan kita menjadi lebih baik. Para orang pintar hanya bisa membuat konsep, tapi tak mampu mengamati di tingkat proses, dan kurang melakukan evaluasi dengan benar. Data-data lengkap telah disampaikan oleh ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI), Satria Darma tentang 10 kelemahan RSBI (baca: www.edukasi.kompas.com). Fakta-fakta di lapangan pun telah dijelaskan panjang lebar kepada komisi X DPR. Kita pun telah membaca dengan jelas apa yang dipetisikan oleh IGI di koran kompas, dan berbagai media lainnya.
Wahai para pejabat dan pendidik negeri. Kenapa kita tak belajar kepada sekolah laskar pelangi. Kita lihat perjuangan ibu Muslimah yang begitu besar menyemangati anak didiknya. Kita mungkin masih ingat pesan pak Harfan dalam film laskar pelangi, “Hiduplah dengan memberi sebanyak-banyaknya bukan menerima sebanyak-banyaknya”.
Banyak sekali pesan moral, dan semangat hidup pantang menyerah yang kita saksikan dari kisah laskar pelangi. Laskar pelangi bukan hanya menginspirasi semua orang, tetapi laskar pelangi telah menunjukkan kepada kita bahwa fasilitas sekolah yang apa adanya atau biasa-biasa saja telah mampu melahirkan peserta didik yang luar biasa. Kenapa itu bisa terjadi? Karena sekolah laskar pelangi ditangani oleh guru-guru yang ikhlas sepenuh hati mengikhlaskan dirinya untuk terus belajar sepanjang hayat. Berusaha keras untuk menjadi guru profesional. Terus menerus belajar dan berusaha menjadi guru yang berkualitas.
Mari kita kembali ke sekolah laskar pelangi yang menciptakan lulusan anak negeri yang mampu menterjemahkan pesan sederhana pak Harfan, “hiduplah dengan memberi sebanyak-banyaknya bukan menerima sebanyak-banyaknya.”
Sebuah pesan sederhana dan penuh makna.






