Merindukan Ulama Teladan Umat (Refleksi Haul ke-6 Guru Sekumpul)

Krisis multi-dimensi yang melanda bangsa ini, sebenarnya bermuara kepada satu persoalan fundamental yaitu krisis moralitas. Krisis moralitas (baca: akhlak) diakibatkan melemahnya sendi-sendi keimanan yang landasannya adalah nilai-nilai agama.

Melemahnya keimanan seiring semakin minimnya keteladanan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.Ulama sebagai sosok “pewaris Nabi” yang seyogyanya menebar keteladanan dalam mengemban amanah Ilahi, justru banyak menyimpang dari khittahnya.

Banyak ulama hari ini ternyata tidak lebih sebagai perpanjangan tangan kekuasaan yang lebih berorientasi kepada dunia materialistis. Parahnya lagi, hari ini banyak yang mengaku sebagai ulama karena jubah besar yang dikenakannya, bukan karena ilmu yang dimiliki dan keteladanan moralnya.

Hari ini kita harus melihat dengan landasan pikiran yang jernih. Kata “ulama” bukan untuk komoditas politik yang dijadikan sebagai alat untuk politisasi agama dalam memenuhi syahwat politik pragmatis yang materialistis.

Ulama adalah simbol kesinambungan dakwah dalam mengemban misi Rabbani yang tidak boleh dikotori dengan kepentingan yang bersifat individual, sektarian dan temporer.Ulama mengemban kemaslahatan dan bertanggung jawab terhadap kesinambungan nilai-nilai moralitas demi terwujudnya masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera di bawah naungan Ridha Ilahi.

Sudah saatnya,bagi mereka yang dijadikan sebagai teladan masyarakat atau yang memposisikan dirinya untuk menjadi teladan kehidupan agar lebih bersikap dan menjaga kualitas diri baik ilmu, amal dan spiritual. Kerinduan umat hari ini adalah hadirnya ulama-ulama yang benar- benar menjadi teladan bagi umat dan umat merasakan manfaat ilmunya serta merasakan keindahan akhlaknya.

Ulama Idaman umat

Tak terasa kini, genap haul ke-enam ulama kharismatik Martapura, Al Mukarram Syekh M Zaini Abdul Ghani wafat. Tepatnya, 5 Rajab 1426 H atau 10 Agustus 2005 silam. Pada momentum haul inilah diharapkan masyarakat Banjar dapat merefleksikan kembali kiprah dan keteladanan figur ulama yang akrab disapa Guru Sekumpul ini.

Ulama kelahiran Martapura 11 Februari 1942, merupakan tokoh kharismatik dalam berdakwah dan menyebarkan syiar Islam di Kalimantan Selatan. Guru Sekumpul juga masih zuriat atau keturunan dari ulama besar Banjar, Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari yang dikenal dengan sebutan Datu Kelampayan.

Semasa hidup, kegiatan pengajian atau majlis ta’lim yang dilakukan Guru Sekumpul selalu dibanjiri ribuan jemaah dari berbagai kota. Namanya dikenal di kalangan luas, baik pejabat pemerintahan, politisi, militer, dan seniman. Beberapa tokoh yang pernah mengunjungi kediamannya, antara lain KH Abdurahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Amien Rais, hingga Aa Gym.

Banyak kenangan tentang sosok beliau yang tentunya membekas di hati warga Muslim di banua. Sudah sepatutnya kita yang merasakan kedekatan bathiniah terhadap Guru Sekumpul senantiasa merenung. Sudah sejauh mana usaha kita dalam meneladani sikap, sifat maupun perbuatan beliau saat ini?

Sudah selayaknya, momentum haul Guru Sekumpul dimaknai dengan kegiatan akbar dengan spirit menumbuhkan jiwa-jiwa ulama yang menjadi tuntunan dan teladan bagi masyarakat. Bukan sosok yang terlena oleh arus dominasi politik praktis, hingga lupa, bahwa sisi keulamaannya perlahan terkikis oleh nuansa kehidupan duniawi.

Sesungguhnya negeri ini membutuhkan sosok ulama seperti Guru Sekumpul yang kedekatannya dengan masyarakat nyaris tanpa “tabir birokrasi” yang terlalu berbelit-belit, layaknya psikolog dengan pasiennya yang membutuhkan sekedar spirit dan sugesti untuk merubah kondisi jiwa yang sakit.

Kita pun menantikan sosok ulama yang revolusioner, yang bukan hanya sekedar mengajarkan kita isi kandungan kitab kuning, atau pesan-pesan suci agama, melainkan bagaimana menunjukkan jalan ke arah perbaikan umat.

Kita menanti sosok ulama yang mampu mendorong masyarakat untuk bangkit dan berubah dari keterpurukan kondisi yang sebenarnya telah terjadi secara sistemik.

Saat ini, kita memang sangat sulit menentukan ulama yang komitmen dalam perjuangannya. Namun, dari sosok almarhum kita bisa mengambil berbagai macam pelajaran berharga. Antara lain adalah:

Pertama, intelektualitas. Tidak ada yang meragukan kemampuan ilmu beliau. Beliau adalah sosok yang cinta ilmu dan itu dibuktikannya dengan aktifnya beliau mengisi pengajian, menyahuti persoalan-persoalan keumatan, dan lain-lain.

Kedua, komitmen. Dalam memperjuangkan persoalan keumatan beliau adalah sosok yang tidak kenal lelah selalu mendahulukan kepentingan umat Islam daripada kepentingan pribadi atau golongan.

Beliau adalah sosok ulama yang tidak silau karena harta, tidak sombong karena jabatan, tidak pelit terhadap ilmu, selalu memberikan kemudahan dan tidak mempersulit persoalan, menghormati yang tua dan mengayomi yang muda, selalu istiqomah dalam memegang teguh nilai-nilai perjuangan sekalipun berhadapan dengan penguasa (power).

Ketiga, sabar dan ikhlash. Dalam mengemban amanah beliau selalu bersikap sabar. Kesabarannya dalam memberikan ilmu menjadi pelajaran berharga dan penting buat kita.

Keempat, mudah tersenyum. Perhatikanlah kenangan kita di saat bertemu dengan beliau selalu tersenyum simetris menandakan beliau sangat dekat dengan kita. Karakter ini menunjukkan beliau adalah figur yang rendah hati (tawadhu’).

Kelima,kharismatik dan bersahaja.Tidak bisa dipungkiri sosok beliau adalah sosok ulama yang didambakan oleh umat Islam. Siapapun kita akan selalu bercerita tentang kebaikan-kebaikan yang telah ditampilkan selama kehidupannya.

Penulis hanya ingin mengajak kita untuk banyak bercermin dari sifat-sifat baik yang beliau wariskan agar perjuangan demi kemaslahatan umat Islam terus berlanjut sampai akan datang.Apa-apa yang telah beliau ajarkan kepada kita adalah ilmu yang bermanfaat dan pahalanya akan terus mengalir kepada almarhum.

Kini, tokoh pengayom itu telah pergi. Akan tetapi, sebenarnya beliau tidak benar-benar meninggalkan kita. Nama besar dan keteladanannya yang ”abadi”, akan selalu menemani kita. Itulah sebabnya, tidaklah berlebihan kalau Guru Sekumpul disebut sebagai anugerah dari Tuhan untuk kita, warga Tanah Banjar.

Pada momentum haul ini, mudah mudahan kita mampu mengambil pengajaran besar di balik manaqib hidup Guru Sekumpul dan kita do’a kan semoga almarhum di ampunkan dosanya, dilapangkan kuburnya dan diterima amal sholehnya. Amien.

Akhirnya, jangan mudah mengklaim diri sebagai ulama, apalagi kalau hanya bermodalkan pandai berceramah  dan berjubah besar. Jangan jadikan simbol “ulama” sebagai alat untuk meraup keuntungan material, perpanjangan tangan penguasa atau hanya sebagai alat untuk melegitimasi kekuasaan politik sesaat.

Wallahu a’lam.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 31 other followers

%d bloggers like this: