Sudah berapa kalikah kita menunaikan ibadah puasa Ramadhan? Tentu tak terhitung jumlahnya. Puasa Ramadhan sudah menjadi rutinitas yang pasti datang setiap tahun. Rutinitas itu biasanya potensial membuat kreativitas tidak berkembang, bahkan mandeg.
Agar tidak hanya menjadi rutinitas, kita seharusnya berusaha untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas ibadah puasa sehingga mengantarkan kita menjadi “orang-orang muttaqin”. Kita tidak hanya merasakan haus, dahaga, dan lapar, tetapi juga kita mampu meningkatkan kualitas kesalehan, keimanan, dan ketakwaan.
Dalam ibadah puasa ada tiga aspek yang fundamental, yaitu mendekatkan diri kepada Allah SWT, menyucikan diri, dan membangun kesalehan sosial. Dengan puasa, kita berusaha mengaktifkan kekuatan ruhani, lalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah sedekat mungkin.
Dengan kedekatan dan intensitas berkomunikasi dengan Allah, sebuah proses penetrasi dan internalisasi sifat dan nilai ilahi dalam diri kita diharapkan akan terjadi. Ibadah puasa mengandung edukasi bagi pengendalian diri, pengembangan, pembersihan, dan penyempurnaan diri.
Dengan menunaikan ibadah puasa, kita berusaha untuk melatih menguasai dan mengendalikan diri agar kita tidak terjerumus ke jurang yang dapat mengantarkan kita ke derajat kehewanan sangat hina. Ibadah puasa menjadi “medan jihad” untuk membelenggu, membunuh, dan mengalahkan egoisme, konsumerisme, materialisme, sikap dan perilaku kapitalistik yang menjadi keseharian kita.
Selama ini, jihad selalu berkonotasi ”perang, pedang, penaklukan” dan beberapa asumsi lain di sekeliling kekerasan untuk mencapai sesuatu, padahal makna dasar dari jihad –dalam bahasa Arab—adalah bersungguh-sungguh.
Ketika mempelajari sejarah Islam, mungkin yang menjadi dasar asumsi-asumsi heroik atas Nabi Muhammad Saw dan figur-figur muslim saat itu hanyalah pada saat perang Badar, Uhud, Khandaq, Tabuk, dan beberapa perang lain yang dijalankan Nabi Muhammad beserta para sahabatnya. Atau figur hero dalam Islam sangat dekat dengan nama-nama sahabat seperti Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Amr bin Ash atau Khalid bin Walid, bukan pada nama-nama seperti Zaid bin Tsabit, Usman bin Affan, atau Anas bin Malik.
Sangat kecil peluang munculnya kesimpulan heroik dari figur Nabi Muhammad saw walau telah menelusuri teladan keikhlasan beliau ketika ikhlas dilempari batu oleh penduduk Thaif karena menolak dakwahnya. Alih-alih membenci, beliau justru menolak tawaran Jibril untuk menghancurkan kaum tersebut lalu mendoakan penduduk Thaif karena perilaku buruk mereka padanya adalah bagian dari ketidaktahuan atas Islam. Konstruksi seperti ini, ikut bertanggung jawab atas terjadinya penyempitan makna jihad dengan makna perang an sich dalam literatur Islam.
Dalam level yang lebih ekstrim, kesungguhan dan kebenaran mengamalkan ajaran Islam oleh sebagian orang –hanya—dapat diukur dari perilaku jihad yang diperagakannya dalam memperjuangkan Islam. Jadi, seberapa alim, dermawan atau ikhlas jiwa seorang muslim, dalam pandangan ini ia tidak akan dianggap muslim utama jika belum menunjukkan perilaku jihad membela Islam dan melawan “musuh”-nya secara nyata.
Secara kongkrit, indikator jihad tersebut mungkin dapat dilihat melalui seberapa sering muslim tersebut berperang secara lahir melawan “musuh” Islam, seberapa besar dana yang ia keluarkan untuk berperang, dan berapa jumlah “musuh” yang sudah dibinasakannya.
Berpuasa dan Berjihad
Puasa dalam bahasa Arab berasal dari kata kerja shama-yashumu yang bermakna menahan atas sesuatu yang datang pada diri sendiri. Sebelum datangnya Islam yang dibawa Muhammad saw, beberapa kelompok manusia di seluruh dunia telah mengenal dan melakukan perilaku puasa berangkat dari logika teologisnya masing-masing. Ambil contoh, kaum Yahudi yang memiliki tradisi puasa hari Sabat (sabtu) atau adanya istilah poso mutih, poso patigeni, poso ngrowot, dan poso busono, dalam khazanah Jawa.
Dalam perkembangan, istilah ini kemudian menjadi salah satu perilaku dari lima jenis ibadah yang disyariatkan oleh Islam, yaitu puasa di bulan Ramadhan. Ramadhan sendiri bermakna panas membakar. Ada dua versi yang mendasari makna ini, pertama, karena memang pada saat datangnya bulan Ramadhan, jazirah Arab mengalami musim panas yang sangat membakar, kedua, karena beratnya ibadah puasa dalam membakar dosa-dosa pelakunya.
Orientasi esensial puasa adalah pencapaian derajat taqwa yang hanya dapat diukur dan dinilai oleh Allah melalui hak prerogatif ilahiyahNya. Taqwa adalah level tertinggi yang selalu dipamerkan Allah dalam al Quran agar tiap hambaNya bersemangat untuk mencapainya dengan cara-cara peribadahan yang kompleks. Beberapa target antara –meminjam istilah ilmu komunikasi—dalam mencapai taqwa adalah memiliki sikap ikhlas, sabar, berprasangka baik, istiqomah, adil, dan beberapa sikap lain yang –terkadang– sulit diwujudkan dalam bentuk nyata karena telah menjadi barang langka di tengah-tengah kehidupan sosial kita dewasa ini.
Bahkan Nabi Muhammad Saw. sendiri dalam sebuah kesempatan sepulang dari perang Badar pernah memberikan keterangan kepada sahabatnya yang berkomentar atas perang hebat yang telah mereka lakukan bahwa puasa adalah jenis ibadah yang memerlukan kekuatan diri penuh dari yang melakukannya. Muhammad saw memakai ungkapan “roja’na min jihad al ashghar ila jihad al akbar, wa huwa al shaum”, untuk menjelaskan beratnya puasa ketika dijalankan dengan benar. “Kita pulang dari perang yang kecil (perang Badar) menuju perang yang lebih besar (puasa Ramadhan)”, begitulah kira-kira maknanya.
Keterangan ini diberikan Nabi Muhammad Saw. karena memang dalam tarikh Islam, terjadinya perang Badar bertepatan ketika umat muslim saat itu melaksanakan puasa di bulan Ramadhan.
Jihad Akbar
Dalam pemikiran yang lebih konstruktif, jihad kini tidak hanya selalu berarti perang melawan sekelompok musuh dengan senjata fisik dengan kesimpulan kalah-menang di akhir pertempuran, karena Nabi Muhammad sendiri mengatakan bahwa puasa di bulan Ramadhan adalah salah satu bentuk “jihad al akbar”, jihad melawan nafsu yang tentu lebih besar perjuangannya dibanding jihad melawan sekelompok orang yang dianggap musuh.
Beratnya puasa sebagai upaya memerangi nafsu yang ada dalam diri sendiri, disebabkan karena tiap orang yang berpuasa harus mampu menekan kebenaran dan kepentingan subyektif yang terkadang sangat mudah direkayasa di hadapan orang lain karena hanya dirinya dan Tuhan yang tahu. Siapa yang tahu –selain Allah—jika seseorang yang berpuasa telah sengaja meneguk beberapa tetes air ketika ia berkumur saat berwudhu, yang tahu hanyalah dirinya dan Allah semata. Jujur dalam kesendirian, sesuatu yang sangat sukar dicapai saat ini ketika banyak ”pejabat berdasi” yang korupsi atau “ngemplang” uang rakyat.
Perjuangan mendapatkan kejujuran yang kini sangat langka dengan berpuasa di bulan Ramadhan, jauh lebih berat dibanding memobilisir massa, melakukan sweefing, dan merusak fasilitas yang diklaim digunakan untuk tempat maksiat. Berjihad memahami nilai-nilai keadilan, kedermawanan, keikhlasan, kesucian, keindahan, kesabaran sekaligus berusaha memanifestasikannya dalam perilaku, adalah bentuk jihad yang lebih berat dibanding ”perang” yang sesungguhnya.
Untuk itu, selayaknyalah jika pada saat-saat puasa seperti hari ini, kita berlomba-lomba dalam kebaikan. Aktivitas yang kita lakukan bisa dalam bentuk memperbanyak ibadah sunnah, membaca buku-buku bermutu, mengkaji (tadarus) Al quran, mengingat (berzikir) kepada Allah, bersilaturahim, dan melipatgandakan perbuatan kebajikan.
Peningkatan intensitas dan kuantitas ibadah kita kepada Allah selama puasa Ramadhan itu tentu saja membuka ruang, kesempatan, dan perhatian terhadap peningkatan kualitas ketakwaan kita, sebagaimana kita harapkan. Satu di antara ciri orang yang bertakwa adalah selalu berbuat kebaikan, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang-orang di sekitar kita, dan keberadaan kita bermanfaat bagi orang banyak.
Selamat berpuasa sebulan penuh! Mari kita sambut ”bulan jihad” nan mulia ini dengan semangat meningkatkan kualitas kesalehan dan keimanan, dan mengantarkan kita ke tingkat derajat ketakwaan yang lebih tinggi dan sempurna. Semoga kita berhasil.
Wallahu a’lam.







akhta said
Sepertinya kita menghadapi Dejavu lagi. Dejavu Ramadhan.
rasid09 said
ia banar……??
SQ said
selamat berpuasa juga pak Taufik! ini bulan dimana latihan berperang melawan nafsu di genjit habis2n. Demi menghadapi 11 bulan selanjutnya, mudah2n dosa2 kita benar2 dibasuh.Amien.
Siti Fatimah Ahmad said
ASSALAAMU’ALAIKUM
KEPADA SAHABAT… SAMBUTLAH UCAPAN DARI SAYA. SERANGKAI KATA PENGGANTI DIRI. UNTUK MENYAMBUT HARI BAHAGIA. JARI SEPULUH DI SUSUN JUGA. AGAR KESALAHAN DIAMPUN SEMUA. TANDA IKHLAS PERSAHABATAN KITA. SELAMAT HARI RAYA AIDIL FITRI 1 SYAWAL 1430 H. MOHON MAAF ZAHIR DAN BATIN. SALAM KEMESRAAN DARI SARIKEI, SARAWAK.