Sudah berapa kalikah kita menunaikan ibadah puasa Ramadhan? Tentu tak terhitung jumlahnya. Puasa Ramadhan sudah menjadi rutinitas yang pasti datang setiap tahun. Rutinitas itu biasanya potensial membuat kreativitas tidak berkembang, bahkan mandeg.
Agar tidak hanya menjadi rutinitas, kita seharusnya berusaha untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas ibadah puasa sehingga mengantarkan kita menjadi “orang-orang muttaqin”. Kita tidak hanya merasakan haus, dahaga, dan lapar, tetapi juga kita mampu meningkatkan kualitas kesalehan, keimanan, dan ketakwaan.
Dalam ibadah puasa ada tiga aspek yang fundamental, yaitu mendekatkan diri kepada Allah SWT, menyucikan diri, dan membangun kesalehan sosial. Dengan puasa, kita berusaha mengaktifkan kekuatan ruhani, lalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah sedekat mungkin.
Dengan kedekatan dan intensitas berkomunikasi dengan Allah, sebuah proses penetrasi dan internalisasi sifat dan nilai ilahi dalam diri kita diharapkan akan terjadi. Ibadah puasa mengandung edukasi bagi pengendalian diri, pengembangan, pembersihan, dan penyempurnaan diri.
Dengan menunaikan ibadah puasa, kita berusaha untuk melatih menguasai dan mengendalikan diri agar kita tidak terjerumus ke jurang yang dapat mengantarkan kita ke derajat kehewanan sangat hina. Ibadah puasa menjadi “medan jihad” untuk membelenggu, membunuh, dan mengalahkan egoisme, konsumerisme, materialisme, sikap dan perilaku kapitalistik yang menjadi keseharian kita.








