Menggagas Kampanye Damai dan Beretika

tahap_kampanye

Genderang kampanye Pilpres 2009 telah ditabuh, masing-masing calon presiden/wakil presiden bersama dengan tim suksesnya masing-masing sibuk mengumbar janji untuk meraih simpati masyarakat. Berbagai model kampanye dilakukan, seperti: memasang spanduk, gambar, ataupun menghadirkan massa untuk mendengar orasi para jurkam (juru kampanye) tingkat daerah bahkan sampai nasional.

Bahkan untuk menarik massa yang besar diundang artis ibukota sebagai bumbu penyedap kampanye atau sengaja diundang ulama atau ustadz kondang. Alhasil, akhir kampanye hanya sebagai show a force (menunjukkan kekuatan massa)yang lebih bersifat hura-hura, rentan memicu konflik horizontal, dan hanya sedikit mengandung makna. Tapi kadang ada juga yang melakukan kampanye simpatik dengan membuka posko pengobatan gratis, mengadakan sunnatan massal, menyantuni anak-anak yatim dan lain sebagainya.

Beragam model kampanye dalam menyongsong Pilpres pasti sudah kita ketahui. Namun, perlu diingatkan kepada para calon bersama Tim Suksesnya dan para simpatisannya untuk senantiasa memperhatikan rambu-rambu (etika) dalam berkampanye. Hal ini perlu ditekankan dalam rangka mewujudkan kampanye damai, kampanye yang sesuai dengan aturan yang benar. Sebab, masa kampanye ini adalah masa yang rentan untuk terjadinya konflik antar pendukung atau simpatisan masing-masing calon.

Pilpres ini dinyatakan berhasil apabila prosesnya berjalan dengan aman, damai dan tentram. Proses yang baik akan menghasilkan presiden dan wakil presiden yang diharapkan mampu membangkitkan Indonesia ke depan menjadi lebih baik.

Etika Berkampanye

Pertama sekali, sikap yang harus kita tanamkan adalah menyongsong Pilpres dengan hati yang bersih (meluruskan orientasi). Orientasi yang harus dibangun adalah mewujudkan pemimpin yang benar-benar ideal (beriman, capable, acceptable, berkualitas, tidak arogan, berjiwa kasih sayang, merakyat).

Banyak sekali orang-orang yang salah orientasi: ulama atau para ustadz salah orientasi karena silau melihat besarnya pulus (uang), akhirnya dakwah mensuarakan calon pimpinan karena ada kepentingan tertentu. Demikian pula dengan kaum intelektual yang ikut-ikutan dalam Tim Sukses Pilpres tapi orientasinya murni uang semata bukan karena kesamaan ide/gagasan membangun masyarakat, hanya untuk mempertebal kantong sendiri, ini bisa juga disebut lintah intelektual.

Jadi, luruskan terlebih dahulu orientasi kita dalam menyongsong Pilpres ini. Setelah meluruskan orientasi, majulah kita ke langkah berikutnya dengan memperhatikan etika-etika berikut ini :

Pertama, berkampanye bukan ajang untuk membuka aib (ghibah), berprasangka buruk, menggunjing calon yang lain. Menceritakan aib calon yang lain terlebih sama-sama muslim itu tidak diperbolehkan dan bukan tindakan yang arif (bijaksana).

Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jauhlah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati?. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12).

Kedua, tujuan berkampanye adalah untuk meraih simpatik rakyat. Jadi, wujudkanlah kampanye yang lebih bersentuhan langsung dengan rakyat. Semaksimal mungkin harus dihindari kampanye yang hanya lebih bersifat glamour dan hura- hura. Kalaupun dilaksanakan kampanye secara terbuka dengan menghadirkan massa yang besar maka patuhilah peraturan-peraturan yang telah ditetapkan.

Didik dan ajaklah massa untuk berlaku arif dan bijaksana agar tidak berlaku anarkis dalam menyongsong Pilpres dan siap menerima kekalahan (legowo). Dalam artian “Siap Menang Siap Kalah.” Jadi, suara jurkam harus lebih diprioritaskan untuk mewujudkan pemilu damai. Allah berfirman: “Tiada Tuhan selain Dia, kepada-Nyalah bertawakkal (berserah diri) dan Dia adalah Tuhan yang menguasai Arasy yang Agung.” (QS. At-Taubah: 129).

Ketiga, ajaklah massa untuk menjatuhkan pilihan berdasarkan suara hati nuraninya masing-masing. Bukan karena paksaan (intervensi), bukan karena janji uang atau iming-iming lainnya. Percayalah, masyarakat hari ini sudah mengerti dan pandai menilai mana pemimpinnya yang layak untuk dipilih.

Keempat, kepada para calon dan juga jurkam berlakulah jujur dalam berkampanye. Jangan hanya melempar janji-janji kosong. Berbicaralah yang realitas. Jangan menjanjikan roti kepada masyarakat tapi hanya dalam mimpi, tapi lebih baik berikan ubi tapi dalam kenyataan. Ini menunjukkan calon pejabat bukan NATO (No Action Talk Only).

Islam sangat membenci orang yang suka membuat janji tapi ia selalu mengingkarinya. Dan salah satu kemaksiatan yang besar bagi orang yang tidak pernah menepati janjinya. Untuk itu, berbicaralah dalam batas kemampuan dan relatif bisa direalisasikan.

Kelima, menjadikan ajang kampanye sebagai ajang dakwah dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar. Pemberantasan narkoba, illegal logging, korupsi harus menjadi prioritas utama agar Indonesia tanah air kita bisa makmur.

Dakwah harus dilakukan secara bijaksana. Berarti, dalam kampanye tidak boleh menggunakan jalan kekerasan. Sampaikanlah dengan bijaksana dan berdialoglah juga dengan cara yang bijaksana.

Itulah beberapa etika yang perlu diperhatikan oleh semua kalangan yang terlibat dukung mendukung pada masa kampanye ini dalam mewujudkan kampanye yang syar’i (sesuai dengan aturan).

Kampanye jangan hanya dijadikan sebagai unjuk kekuatan (show a force) yang akhirnya kehilangan manfaat bahkan menimbulkan konflik internal masyarakat yang sudah kondusif. Kampanye harus dijadikan sebagai ajang pembelajaran kepada masyarakat akan demokrasi. Semua elit politik sampai akar rumput mampu mewujudkan suasana yang harmonis dengan sama-sama mewujudkan kampanye yang syar’i.

Akhirnya, memilihlah sesuai dengan suara hati nurani kita masing-masing. Mari bersama-sama untuk meluruskan niat, gunakan suara hati dalam menjatuhkan pilihan dan tawakkal kepada Allah. Wallahu a’lam.

2 Comments »

  1. dir88gun2 said

    assalamu alaikum wr. wb.

    alhamdulilah…
    Selamat akhirnya golput berhasil memenangkan jumlah suara terbanyak!
    Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung Partai Golput,
    baik yang dengan penuh kesadaran dan keikhlasan maupun yang tidak.
    Lho, maksudnya? Ga Nyambung & Ga Jelas? :-\

    Sudah saatnya kita ganti sistem!
    Sistem yang lebih “pro rakyat” dan lebih “berbudi”…
    Ayo kita ganti secepatnya, “lebih cepat lebih baik”…
    Mari kita “lanjutkan” perjuangan dakwah untuk menegakkannya!
    Sistem Islam, petunjuk dari Sang Maha Pencipta!

    Lihatlah dengan hati dan fikiran yang jernih!
    Aturan Sang Maha Pencipta diinjak-injak
    dan diganti dengan aturan yang dibuat seenak udelnya!
    Dan lihat akibatnya saat ini, telah nampak kerusakan
    yang ditimbulkan oleh sistem sekulerisme dan turunannya
    (seperti: kapitalisme, sosialisme, demokrasi, dsb) di depan mata kita!

    Banyak anak terlantar gara2 putus sekolah.
    Banyak warga sekarat gara2 sulit berobat.
    Banyak orang lupa gara2 ngejar2 dunia.
    Dan banyak lagi masalah yang terjadi gara2 manusia nurutin hawa nafsunya.

    Lihat saja buktinya di
    http://hizbut-tahrir.or.id/2009/05/12/kemungkaran-marak-akibat-syariah-tidak-tegak/
    http://hizbut-tahrir.or.id/category/alwaie/
    http://hizbut-tahrir.or.id/category/alislam/
    dan banyak lagi bukti nyata yang ada di sekitar kita!

    Untuk itu, sekali lagi saya mohon kepada semua pihak
    agar segera sadar akan kondisi yang sekarang ini…
    dan berkenan untuk membantu perjuangan kami
    dalam membentuk masyarakat dan negeri yang lebih baik,
    untuk menghancurkan semua bentuk penjajahan dan perbudakan
    yang dilakukan oleh manusia (makhluk),
    dan membebaskan rakyat untuk mengabdi hanya kepada Sang Maha Pencipta.

    Mari kita bangkit untuk menerapkan Islam!
    secara sempurna dan menyeluruh.
    mulai dari diri sendiri.
    mulai dari yang sederhana.
    dan mulai dari sekarang.

    Islam akan tetap berlaku hingga akhir masa!
    Dan Islam akan menerangi dunia dengan cahaya kemenangan!
    Mohon maaf apabila ada perkataan yang kurang berkenan (-_-)
    terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.

    wassalamu alaikum wr. wb.

  2. jangan ampe golput ya….

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Comment