Archive for June, 2009

Benarkah, Martapura Krisis Ulama? (Refleksi Haul ke-4 Guru Sekumpul)

Abah GURU2

Sosok ulama waratsatul ‘anbiya satu persatu meninggalkan dunia fana ini, sementara generasi penerusnya (dalam kualitas sama) sulit didapat sekarang, bahkan hampir terbilang langka. Kepergian ulama meninggalkan dunia ini adalah salah satu tanda-tanda akhir zaman. Maka semakin “gelaplah dunia” ini karena ketiadaan ulama yang selama ini sebagai ‘pelita’ dunia.

Empat tahun lalu, Rabu 10 Agustus 2005, bertepatan 5 Rajab 1424 H, seorang ulama besar yang punya kualitas sosok warasatul ‘ambiya (pewaris nabi) telah dipanggil Sang Khaliq, dia Al-Mukarram KH.Muhammad Zaini Abdul Ghani atau yang akrab kita panggil Guru Sekumpul, seorang ulama besar terkenal di Kalimantan.

Martapura berduka pada saat itu, betapa tidak seorang putra terbaiknya yang selama ini menjadi panutan, rujukan bahkan “idola” umat telah berpulang ke rahmatullah, menghadap Ilahi Rabbi. Di tengah krisis dan tanda tanya siapa gerangan “pewaris” Guru Sekumpul, rasa prihatin dan duka tak dapat disembunyikan, bahkan hingga kini.

Demikian juga kira-kira gambaran situasi keresahan umat Islam di Kalsel khususnya di Martapura sekarang ini, dilihat dari kacamata keprihatinan akan semakin langkanya sosok ulama panutan warga banua.

Persoalan mendasar yang mungkin inheren dengan krisis ulama dewasa ini, karena beban dan tugas mereka yang begitu berat dalam mengayomi umat untuk tidak terpecah-belah. Pada dasarnya ulama memiliki peran yang sangat penting dan strategis dalam pembangunan bangsa, hal ini karena ketokohannya di bidang ilmu agama dan merupakan panutan masyarakat.

Read the rest of this entry »

Comments (13)

Misi Dakwah dalam Film “Ketika Cinta Bertasbih”

kcb_wallpaper

Satu lagi film Indonesia bernafaskan Islam yang baru tayang di layar lebar, berjudul Ketika Cinta Bertasbih (KCB). Film ini mendapat sambutan yang baik dari masyarakat muslim Indonesia, karena sarat akan dakwah Islam. KCB merupakan film yang diangkat dari salah satu novel laris karya Habiburahman El-Shirazy dengan judul yang sama.

Film KCB menceritakan perjuangan seorang pemuda muslim yang sedang kuliah di Kairo, Mesir, dimana ia lebih memilih untuk giat bekerja sampingan sebagai pembuat tempe demi membiayai kehidupan ibu dan adik-adiknya di kampung, serta biaya kuliahnya sendiri, sehingga pendidikannya terlantar. Pemuda tersebut bernama Khairul Azzam, seorang yang alim, cerdas, dan taat beribadah. Selain itu, dikupas pula sisi romantisme Islami dalam film ini.

Pesan moral yang terpenting dalam film KCB adalah dakwah untuk pergaulan pemuda dan pemudi. Selain etos kerja dan kerja keras, diceritakan pula perjuangan Khairul Azzam dalam menemukan jodohnya dengan tetap selalu teguh berpedoman kepada ajaran agama.

Setting film ini benar-benar disesuaikan dengan gambaran yang ada di novel. Penonton benar-benar akan dimanjakan dengan pemandangan kota Kairo, Sungai Nil, Pyramid, Sphinx, kota Alexandria dengan pemandangan laut Mediterania yang indah, Benteng Qait Bay, dan tempat-tempat di Mesir lainnya yang sangat menarik dalam film ini.

Read the rest of this entry »

Comments (2)

Ketika Cinta Menasbihkan Diri

tasbih03

Ada sebuah fenomena yang terus menggelitik benak saya. Betapa produktifnya para penyanyi menciptakan syair-syair lagu cinta. Dari yang lembut seperti gayanya Ebiet G.Ade atau Katon Bagaskara, hingga yang kocak dan kadang kelewatan seperti Iwan Fals dan Doel Sumbang. Kalau mendengar lirik-lirik lagu dangdut, bukan main, benar-benar diaduk-aduk emosi cinta itu sedemikian rupa. Dan, sungguh, banyak orang menjadi penggemar dan hanyut dalam lirik-lirik lagu itu.

Saya juga melihat fenomena larisnya film-film tema cinta. Zaman saya remaja, dunia layar lebar dihiasi Gita Cinta dari SMA, Kabut Sutra Ungu, dan judul-judul lain yang saya sudah lupa. Beberapa diantara film itu diangkat dari cerbung-cerbung Eddy D. Iskandar dan di-sound track-i lagu-lagu Chrisye. Televisi pun kebanjiran sinetron-sinetron bertema cinta yang menyibak suasana kejiwaan orang yang kasmaran plus intrik perebutan harta, tahta dan wanita.

Beberapa tahun lalu di antara film yang dianggap menjadi momentum kebangkitan kembali perfilman nasional adalah “Ada Apa dengan Cinta” dan dilanjutkan film lain seperti Eiffel, I’m in Love. Di tambah film yang ngetop saat ini, “Ayat-ayat Cinta” dan “Ketika Cinta Bertasbih”. Sukses film Ayat-Ayat Cinta yang ditonton jutaan orang di Indonesia, membuat penulis novel Habiburrahman El Shirazy optimistis film Ketika Cinta Bertasbih –yang juga ditulis olehnya––akan meraih kesuksesan yang sama,dan bahkan lebih baik.

Ya, saya bertanya-tanya kenapa tema cinta tak pernah ada habis- habisnya ditulis, disusun liriknya dan kemudian dinyanyikan atau difilmkan. Sampai kemudian saya menemukan tulisan-tulisan Anis Matta dalam Thumuhat (Gelora) Cinta pada majalah Tarbawi. Dia cukup sering mengangkat kisah dari tulisan Ibnul Qayyim. Sampai kemudian seorang sahabat saya memperlihatkan “Taman Orang-orang yang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu” yang ditulis Ibnul Qayyim.

Read the rest of this entry »

Comments (4)

Menggagas Kampanye Damai dan Beretika

tahap_kampanye

Genderang kampanye Pilpres 2009 telah ditabuh, masing-masing calon presiden/wakil presiden bersama dengan tim suksesnya masing-masing sibuk mengumbar janji untuk meraih simpati masyarakat. Berbagai model kampanye dilakukan, seperti: memasang spanduk, gambar, ataupun menghadirkan massa untuk mendengar orasi para jurkam (juru kampanye) tingkat daerah bahkan sampai nasional.

Bahkan untuk menarik massa yang besar diundang artis ibukota sebagai bumbu penyedap kampanye atau sengaja diundang ulama atau ustadz kondang. Alhasil, akhir kampanye hanya sebagai show a force (menunjukkan kekuatan massa)yang lebih bersifat hura-hura, rentan memicu konflik horizontal, dan hanya sedikit mengandung makna. Tapi kadang ada juga yang melakukan kampanye simpatik dengan membuka posko pengobatan gratis, mengadakan sunnatan massal, menyantuni anak-anak yatim dan lain sebagainya.

Beragam model kampanye dalam menyongsong Pilpres pasti sudah kita ketahui. Namun, perlu diingatkan kepada para calon bersama Tim Suksesnya dan para simpatisannya untuk senantiasa memperhatikan rambu-rambu (etika) dalam berkampanye. Hal ini perlu ditekankan dalam rangka mewujudkan kampanye damai, kampanye yang sesuai dengan aturan yang benar. Sebab, masa kampanye ini adalah masa yang rentan untuk terjadinya konflik antar pendukung atau simpatisan masing-masing calon.

Pilpres ini dinyatakan berhasil apabila prosesnya berjalan dengan aman, damai dan tentram. Proses yang baik akan menghasilkan presiden dan wakil presiden yang diharapkan mampu membangkitkan Indonesia ke depan menjadi lebih baik.

Read the rest of this entry »

Comments (2)

Banjarmasin Menuju Kota Sehat, Kawa lah?

jamban

Mari memimpikan Kota Banjarmasin yang berbeda dibandingkan yang ada saat ini. Kota yang bukan saja berkembang di bidang ekonomi, wisata, industri dan perdagangan, namun juga berkembang sebagai kota sehat (healthy city).

Kota sehat adalah kota yang segenap warganya menjalankan kehidupan keagamaan yang sempurna, kota yang warganya bisa hidup layak, terpenuhi kebutuhan dasarnya: pangan, sandang, papan (pemukiman), pekerjaan, pendidikan, dan kesehatan dasar.

Kota yang pertumbuhan ekonominya mampu menyerap tenaga kerja yang ada, menyediakan ruang publik yang memadai bagi warga banuanya.

Kota yang lalu lintasnya teratur, sarana perhubungan air dan darat tersedia. Angka kriminalitasnya bisa ditekan serendah mungkin. Kota yang listriknya tersedia 24 jam dalam sehari, tidak tergenang air di musim hujan, yang tidak kekurangan air di musim kemarau. Kota yang pemukimannya tidak sehat berganti menjadi pemukiman yang sehat, pemukiman yang higiene dan sanitasinya memadai. Kota yang tidak setiap tahun dilanda wabah penyakit.

Read the rest of this entry »

Comments (10)