Surat Untuk Sahabat Mahasiswa

baby_computerthumbnail

Sahabatku, aku memohon maaf karena telah lalai dan lama tak berkabar padamu. Bukan apa-apa, sebab aku sendiripun bingung dengan keadaanku sendiri. Tak cuma soal anak, keluarga maupun pekerjaan yang tempo hari pernah kuceritakan. Tapi ada persoalan baru yang entah mengapa serasa menguras isi pikiranku. Sepertinya masalah itu selalu saja dekat dengan sisi hidupku.

Dan kembali aku mengingatmu malam ini. Entah sedang apa kau di seberang sana. Mungkin kau telah mengalami hari-hari menyenangkan atau sebaliknya. Ataukah kau telah menemukan keajaiban-keajaiban hidup yang baru?

*****

Sahabatku, apa yang terbayang setelah kau membaca seluruh atau sebagian tulisan-tulisanku? Perlu aku tekankan di sini bahwa, yang ingin benar-benar aku tunjukkan bukanlah tulisanku sebagai sekumpulan tulisan yang “bagus”, “luar biasa”, “layak baca”, “prestisius” atau apapun istilahnya.

Di sini, aku hanya ingin memperlihatkan sebuah tradisi menulis. Sebuah tradisi yang cukup lama “mati suri” di dunia mahasiswa dan kampus kita.

Kenapa aku menyebutnya “mati suri”? karena menulis memang tak benar-benar mati, hilang, dan tiada di dunia mahasiswa. Ia tetap ada, namun dalam intensitas dan dinamikanya yang sangat menyedihkan. Hanya ketika harus membuat tugas makalah atau menulis skripsi saja misalnya, itupun jika mereka benar-benar menuliskannya sendiri.

Bahwa mahasiswa kian tidak peduli dan rapuh dalam menghadapi reaitas social di sekelilingnya adalah sebuah fakta umum yang memang menyedihkan, tetapi mahasiswa yang kian kehilangan resistensi dan refleksi dalam menjawab tantangan zaman adalah fakta yang lebih menyaitkan lagi.

Ah, tentu kau bertanya apa itu resistensi? Resistensi adalah soal daya tahan dan daya tawar, sebuah kemungkinan mengenai sekuat apa mahasiswa menghadapi tantangan yang menghadangnya, realitas yang menelikungnya. Dan sejauh apa mereka memiliki daya tawar terhadap realitas agar idealisme dan eksistensinya tak terus tergerus zaman.

Bila kenyataan membuktikan bahwa idealisme mahasiswa kian rapuh ditelan raksasa neo-liberalisme dengan sayap hedonisme dan konsumerismenya –sehingga mahasiswa lebih senang menghabiskan waktu di mall atau di meja biliar daripada di forum-forum diskusi ilmiah, lebih banyak menghabiskan uang sakunya untuk membeli DVD atau bermain game daripada membeli buku dan menghabiskan waktu dengan membaca, lebih memfokuskan perhatiannya pada trend fashion terbaru daripada masalah-masalah kebangsaan- adalah sebuah kenyataan bahwa idealisme mahasiswa memang kian rapuh kehilangan resistensinya.

Satu lagi sahabat, refleksi. Sebagai sebuah daya kreatif yang benar-benar tenggelam ditelan zaman: bila dulu tulisan-tulisan kritis mahasiswa kerap menghiasi sejumlah media massa local maupun nasional, kini tiada lagi. Bila dulu kreativitas mahasiswa begitu terasa sebagai sebuah kontribusi kebangsaan, kini tiada lagi.

Sahabat, aku tidak sedang berusaha memojokkan mahasiswa dengan melakukan generalisasi bahwa mereka telah kehilangan taring dan taji sebagai agent of change. Aku sedang melakukan introspeksi sekaligus retrospeksi.

Inilah yang ingin aku buktikan, bahwa tradisi kreatif mahasiswa harus dimulai kembali sebagai sebuah kesadaran resistensi dan refleksi. Mari memulainya dengan menulis; menuliskan apa saja. Sebagai sebuah bentuk resistensi dan refleksi tadi. Kita juga bias melakukan hal lain; apa saja. Selama itu bisa membuktikan bahwa mahasiswa masih ada, masih mampu berkontribusi positif pada persoalan-persoalan yang dihadapi bangsanya.

Sederhana saja apa yang ingin aku katakana sejak awal: di tengah arus zaman yang kian membius kita untuk melupa, sudah saatnya kita bangun dan tersadar. Segeralah mencuci muka mengembalikan seluruh ingatan kita tentang diri kita sendiri dan apa yang semestinya kita lakukan.

Meski harus tersadar sendirian, di tengah bangsa yang amnesia. Setidaknya kita masih punya kesempatan untuk berusaha membangunkan sebanyak mungkin orang, menyadarkan sebanyak mungkin orang. Itulah yang aku maksud sebagai refleksi. Upaya kreatif untuk berbuat sesuatu, memberikan sesuatu, pada seseorang di samping kita, pada sesama kita, pada bangsa kita, pada dunia.

Sebab, jika kita terus menerus terlelap dan semakin tenggelam dalam lupa, sudahi sajalah hidup kita. Sebab, seperti kata Socrates, “hidup yang tak pernah direfleksikan, sesungguhnya tak pernah layak untuk diteruskan.”

*****

Baiklah sahabatku, inilah kata-kata terakhirku sebelum aku menuntaskan surat ini. Tahukah engkau sahabatku, kenapa Laut Mati itu mati? Yang aku tahu sebab laut itu terlalu banyak menerima dan tidak pernah memberi. Jangan lakukan hal yang sama. Pada hari ini, ceritakan kepada seseorang apa yang telah aku tuliskan. Bagikan cerita ini dan kau akan bahagia.

Demikian dulu suratku kali ini. Salam hormatku selalu! Aku? Pijar Api yang terus setia dan tegak berdiri di reruntuhan negeri yang malang ini.

Dari sahabatmu

About these ads

8 Comments »

  1. shaleh said

    smoga msh bisa tetap menulis walaupun FB trlalu menggoda…

  2. Ass.

    Apakah mahasiswa punya alamat untuk menerima surat? Tentu ada! Apakah masih sempat membaca, meskipun hanya sebuah surat? Mengapa tidak! Apa masih ada waktu untuk refleksi? Ada dong. Hanya saja bukan karena ada atau tidaknya waktu, tapi karena masih tidak begitu kuat dorongan untuk membaca (dalam arti luas), dan membaca buku tentunnya yang menjadikan tidak terlintas bayangan refleksi sekalipun.

    Dan, apa gunanya refleksi hanya untuk sebuah resistensi? Padahal, sebuah refleksi mengarahkan suatu keterbukaan dalam berpikir dan merasa.

    Yakinlah sobat! Masih banyak mahasiswa yang punya “kotak surat” mengharapkan kiriman “surat”. Masih ada yang membuka diri untuk melakukan refleksi dalam kehidupan yang terus berkembang dan bergerak maju, tapi tidak dengan resistensi.

    Salam hangat selalu. Selamat buat si kembar yang terus bertumbuh dan berkembang, semoga terbuka jalan yang lapang dan damai.

  3. aku sudah mantan mahasiswa tapi ikutan membaca

  4. iwaka91 said

    semangat… :)

  5. Siti Fatimah Ahmad said

    Walaupun saya mahasiswa dari Malaysia, saya amat terkesan dengan curahan hati yang saudara paparkan. realitinya begitulah..walau di mana- mana. terima kasih atas pencerahan tersebut. Semangat anda begitu tinggi untuk membantu para pencari ilmu di menara gading agar lebih peka dengan dunia pembacaan dan penulisan. Salam hormat.

  6. Kaka said

    tetap semangat dan sukses

  7. shain said

    mahasiswa tidak saja gigih dalam demontrasi,pandai berdiskusi, dan berdebat. mahasiswa juga dituntut untuk kreatif menulis, kritis permasalahan dan pemecahannya dalam bentuk format tulisan terstruktur sistematis, mudah dimengerti dengan bahasa kalangan umum.inilah mahasiswa siap aksi dan fiksi

  8. lawas kada telihat, sekali hadir handak besurat-suratan pulang. Jaka sms aja pang. Tapi setuju banar wan isi suratnya. Ok. Jangan off lagi lah…

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 29 other followers

%d bloggers like this: