Archive for March 28, 2009

Sisigan Luka Sungai Martapura (14)

love

Dalam sekejap mata, bulan April sudah tiba. Cuaca di bulan ini adalah yang terbaik di Banjarmasin. Musim hujan telah berakhir, namun musim panas menyengat belum tiba. Sepanjang hari angin bertiup lembut dan matahari bersinar cerah. Langit tampak menjulang tinggi dan udara terasa begitu nyaman.

Siang ini, aku baru saja mengunjungi pengadilan untuk mendatangi beberapa hakim dan jaksa. Aku sedang menulis laporan terperinci mengenai misteri kematian sepasang mayat yang terbakar beberapa tahun silam.

Ketika sampai di rumah, otakku masih dipenuhi dengan kasus yang rumit dan penuh teka-teki itu. Aku menghentikan motor di depan pintu pagar rumah. Sebelum membuka pintu, aku mendengar tawa nyaring dari halaman. Itu suara Salwa.

Gadis itu akhir-akhir ini juga sibuk, sepanjang hari jarang terlihat ambayangnya. Kata uma, “delapan puluh persen bias dipastikan dia sedang menjalin cinta!” tetapi teman pria yang kadang-kadang diajaknya ke rumah tidak pernah ada yang tetap.

Aku membuka pintu gerbang dan mendorong motorku masuk. Tiba-tiba di hadapanku melayang-layang sebuah benda. Aku segera mengulurkan tangan untuk menangkap benda itu, ternyata sebuah kok. Kemudian terdengar tawa Salwa yang riang gembira.

“Aiya, kakak! Hebat sekali!”

Aku menoleh, kulihat Salwa sedang memegang raket dan menatapku sambil tertawa cekikikan menggemaskan. Di belakangnya ada gadis lain, mengenakan blus wol putih yang dipadu dengan bawahan putih, juga sedang membawa raket. Rupa-rupanya Salwa sedang bermain bulu tangkis dengan teman kuliahnya di halaman. Aku melemparkan kok di tanganku dan berkata sambil tertawa,

Read the rest of this entry »

Comments (8)

Banjarmasin; Revitalisasi Kota, Manusia dan Budaya

terapung

Dalam perspektif dan kaca mata orang-orang kebanyakan di daerah, datang ke Banjarmasin adalah sebuah impian. Sehingga boleh dikatakan Banjarmasin bagai kota surgawi yang diharapkan bisa memanjakan segala kebutuhan akan kehidupan penghuninya.

Akan tetapi, kata impian dan surgawi sudahkah melekat di Ibukota Kalimantan Selatan kini? Seperti kita ketahui, mungkin juga kita baca dalam setiap media cetak lokal selalu memuat berita tentang Banjarmasin terutama dengan berbagai masalahnya.

Kota ibarat tubuh manusia; ada kepala, badan serta kaki. Dari ketiga bagian utama organ tersebut ada jaringan penghubung yang fungsinya sangat vital, yang memberi magnet-magnet kehidupan. Kalau jaringan itu ibarat sebuah sistem transportasi yang memiliki kedudukan sangat strategis dalam hal ini, maka sudah sepatutnya untuk ditelanjangi sehingga kita semakin tahu dimana sakitnya. Karena ibarat luka kronis yang tidak tersembuhkan oleh obat dari tabib sehebat Ratanca dalam Legenda Majapahit sekalipun, selalu akut dan muncul dengan tiba-tiba.

Ibukota seharusnya lebih baik dari kota-kota lainnya, bagaimana tidak, semenjak masa kuda masih mengigit besi sampai kuda naik besi, dari masa kolonialisme hingga masa dekonstruksi, selalu dan selalu tak terselesaikan. Permasalahan-permasalahan yang ada  telah juga dikaji secara ilmiah yang dilihat dari berbagai aspek oleh para akademisi serta ahli yang pakar di bidangnya. Oleh karena itu paparan dibawah ini ibarat catatan-catatan kecil yang tercecer dalam benak hati seorang pejalan di antara deru debu dan panasnya Banjarmasin.

Read the rest of this entry »

Comments (2)