Dalam sekejap mata, bulan April sudah tiba. Cuaca di bulan ini adalah yang terbaik di Banjarmasin. Musim hujan telah berakhir, namun musim panas menyengat belum tiba. Sepanjang hari angin bertiup lembut dan matahari bersinar cerah. Langit tampak menjulang tinggi dan udara terasa begitu nyaman.
Siang ini, aku baru saja mengunjungi pengadilan untuk mendatangi beberapa hakim dan jaksa. Aku sedang menulis laporan terperinci mengenai misteri kematian sepasang mayat yang terbakar beberapa tahun silam.
Ketika sampai di rumah, otakku masih dipenuhi dengan kasus yang rumit dan penuh teka-teki itu. Aku menghentikan motor di depan pintu pagar rumah. Sebelum membuka pintu, aku mendengar tawa nyaring dari halaman. Itu suara Salwa.
Gadis itu akhir-akhir ini juga sibuk, sepanjang hari jarang terlihat ambayangnya. Kata uma, “delapan puluh persen bias dipastikan dia sedang menjalin cinta!” tetapi teman pria yang kadang-kadang diajaknya ke rumah tidak pernah ada yang tetap.
Aku membuka pintu gerbang dan mendorong motorku masuk. Tiba-tiba di hadapanku melayang-layang sebuah benda. Aku segera mengulurkan tangan untuk menangkap benda itu, ternyata sebuah kok. Kemudian terdengar tawa Salwa yang riang gembira.
“Aiya, kakak! Hebat sekali!”
Aku menoleh, kulihat Salwa sedang memegang raket dan menatapku sambil tertawa cekikikan menggemaskan. Di belakangnya ada gadis lain, mengenakan blus wol putih yang dipadu dengan bawahan putih, juga sedang membawa raket. Rupa-rupanya Salwa sedang bermain bulu tangkis dengan teman kuliahnya di halaman. Aku melemparkan kok di tanganku dan berkata sambil tertawa,







