Archive for March, 2009

Sisigan Luka Sungai Martapura (14)

love

Dalam sekejap mata, bulan April sudah tiba. Cuaca di bulan ini adalah yang terbaik di Banjarmasin. Musim hujan telah berakhir, namun musim panas menyengat belum tiba. Sepanjang hari angin bertiup lembut dan matahari bersinar cerah. Langit tampak menjulang tinggi dan udara terasa begitu nyaman.

Siang ini, aku baru saja mengunjungi pengadilan untuk mendatangi beberapa hakim dan jaksa. Aku sedang menulis laporan terperinci mengenai misteri kematian sepasang mayat yang terbakar beberapa tahun silam.

Ketika sampai di rumah, otakku masih dipenuhi dengan kasus yang rumit dan penuh teka-teki itu. Aku menghentikan motor di depan pintu pagar rumah. Sebelum membuka pintu, aku mendengar tawa nyaring dari halaman. Itu suara Salwa.

Gadis itu akhir-akhir ini juga sibuk, sepanjang hari jarang terlihat ambayangnya. Kata uma, “delapan puluh persen bias dipastikan dia sedang menjalin cinta!” tetapi teman pria yang kadang-kadang diajaknya ke rumah tidak pernah ada yang tetap.

Aku membuka pintu gerbang dan mendorong motorku masuk. Tiba-tiba di hadapanku melayang-layang sebuah benda. Aku segera mengulurkan tangan untuk menangkap benda itu, ternyata sebuah kok. Kemudian terdengar tawa Salwa yang riang gembira.

“Aiya, kakak! Hebat sekali!”

Aku menoleh, kulihat Salwa sedang memegang raket dan menatapku sambil tertawa cekikikan menggemaskan. Di belakangnya ada gadis lain, mengenakan blus wol putih yang dipadu dengan bawahan putih, juga sedang membawa raket. Rupa-rupanya Salwa sedang bermain bulu tangkis dengan teman kuliahnya di halaman. Aku melemparkan kok di tanganku dan berkata sambil tertawa,

Read the rest of this entry »

Comments (8)

Banjarmasin; Revitalisasi Kota, Manusia dan Budaya

terapung

Dalam perspektif dan kaca mata orang-orang kebanyakan di daerah, datang ke Banjarmasin adalah sebuah impian. Sehingga boleh dikatakan Banjarmasin bagai kota surgawi yang diharapkan bisa memanjakan segala kebutuhan akan kehidupan penghuninya.

Akan tetapi, kata impian dan surgawi sudahkah melekat di Ibukota Kalimantan Selatan kini? Seperti kita ketahui, mungkin juga kita baca dalam setiap media cetak lokal selalu memuat berita tentang Banjarmasin terutama dengan berbagai masalahnya.

Kota ibarat tubuh manusia; ada kepala, badan serta kaki. Dari ketiga bagian utama organ tersebut ada jaringan penghubung yang fungsinya sangat vital, yang memberi magnet-magnet kehidupan. Kalau jaringan itu ibarat sebuah sistem transportasi yang memiliki kedudukan sangat strategis dalam hal ini, maka sudah sepatutnya untuk ditelanjangi sehingga kita semakin tahu dimana sakitnya. Karena ibarat luka kronis yang tidak tersembuhkan oleh obat dari tabib sehebat Ratanca dalam Legenda Majapahit sekalipun, selalu akut dan muncul dengan tiba-tiba.

Ibukota seharusnya lebih baik dari kota-kota lainnya, bagaimana tidak, semenjak masa kuda masih mengigit besi sampai kuda naik besi, dari masa kolonialisme hingga masa dekonstruksi, selalu dan selalu tak terselesaikan. Permasalahan-permasalahan yang ada  telah juga dikaji secara ilmiah yang dilihat dari berbagai aspek oleh para akademisi serta ahli yang pakar di bidangnya. Oleh karena itu paparan dibawah ini ibarat catatan-catatan kecil yang tercecer dalam benak hati seorang pejalan di antara deru debu dan panasnya Banjarmasin.

Read the rest of this entry »

Comments (2)

Sisigan Luka Sungai Martapura (13)

headache2

Akhirnya aku menyadari bahwa aku telah kehilangan jejak Marina. Walau berapa lama aku berharap, sedikit pun tak ada kabar dari dia. Pertemuan di tepian sungai Martapura yang singkat itu dan ”kisah cinta”ku yang gagal akhirnya berakhir begitu saja.

Di malam yang sunyi dan di pagi yang lengang, aku kerap kali teringat kepada Marina. Aku merasa memiliki ratusan keraguan, ratusan tanda tanya. Marina meninggalkan alamat palsu, gadis itu menghilang dengan misterius. Hanya Tuhan yang tahu. Perjalanan hidup sungguh penuh teka-teki.

Aku tidak bisa terus menerus mencari Marina. Apalagi kehidupanku sangat sibuk. Siang hari aku mencari berita, malam hari menuliskannya di kantor. Pada hari-hari lain aku masih harus menyiapkan naskah, sehingga tidak punya waktu lagi untuk menyelidiki Marina. Seiring dengan berjalannya waktu, aku perlahan-lahan melupakan gadis itu.

Salwa mulai bersemangat lagi mencarikanku teman wanita. Ulah adikku ini membuatku geli. Pada suatu hari Salwa berkata,

Kakak, pian kan suka penyanyi. Ulun punya teman yang sangat pandai menyanyi. Mau tidak pian bertemu dia? Tapi ulun khawatir pian takkan berhasil mendapatkannya. Dia terlalu lincah, laki-laki yang mengejarnya banyak. Ulun dengar kabarnya malah ada laki-laki yang mau bunuh diri karena cintanya ditolak. Ulun pikir pian mungkin tak punya keberanian untuk mengusik gadis ini!”

Read the rest of this entry »

Comments (9)

A Letter From The Exciting Hours

pile-of-letters

Apa kabar, Kawan? Semoga sehat.

Mungkin kau bertanya tentang siapakah aku? Tetapi sungguh itu bukan soal penting yang harus kau ketahui. Bayangkan saja aku adalah seorang teman, yang tiba-tiba saja berkirim surat kepadamu.

Aku menulis surat ini di suatu tempat yang jauh. Dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Mungkin karena terlampau gairah. Bahagia. Untuk sesuatu yang nanti akan kau ketahui sendiri, bahwa ini semua bermula dari dirimu sendiri.

Surat ini aku tulis, ketika aku meniti kembali remang malam. Terjebak di labirin keasingan yang aneh. Perkembangan zaman begitu pesat. Hingga tak menyisakan satu ruang pun untuk lari.

*****

Baiklah, Kawan. Aku akan memulainya dengan sebuah fenomena di dunia tulis menulis. Bahwa kebanyakan penulis besar memulai karir kepenulisannya dengan catatan-catatan kecil dari apa yang mereka saksikan dan mereka rasakan dalam realitas kesehariannya.

Read the rest of this entry »

Comments (14)

Maulid Nabi dan Kepemimpinan Nasional

agent-of-change

Maulid nabi yang setiap tahun diperingati adalah momen untuk mengingat pentingnya keteladanan dalam kepemimpinan. Misinya adalah merubah komunitas yang menjadikan patung-patung sebagai sesembahan (syirik) dan meremehkan harkat kemanusiaan (baca: masa jahiliyah).

Tidak ada takaran etnis, keturunan, kekuasaan, dan perbudakan yang menjadikan orang mulia atau tidak. Tapi ditentukan oleh kesalehan individual dan sosial bagi Tuhan, diri, dan masyarakatnya.

Nabi Muhammad adalah anak muda mekkah yang sangat dihormati karena kecakapan moralitasnya. Gelar yang diberikan oleh masyarakat makkah adalah al-amin, yang berarti ‘orang yang dipercaya’. Pesona nabi tidak berhenti di situ.

Setelah menjadi rasul, titah-titah yang ditahbiskan, meski awalnya banyak penentang tapi pada proses selanjutnya berhasil menciptakan masyarakat manusiawi. Ini disebabkan oleh pola kepemimpinan yang ditopang oleh keteladanan yang beliau perankan.
Read the rest of this entry »

Comments (7)

Sisigan Luka Sungai Martapura (12)

lelaki

Aku kembali dilanda kegelisahan, memikirkan betapa aneh pertemuan itu. Di atas siring sungai Martapura. Begitu banyak pertanyaan yang ingin aku ajukan kepada gadis itu. Begitu banyak teka-teki yang harus dijelaskan. Marina. Kepada gadis bernama Marina.

Kulipat lagi kenanganku. Mendongak ke atas. Senja telah berganti kelam menyelimuti langit kota Banjarmasin. Kulirik jam, jam enam. Sebentar lagi maghrib menjelang.

Dari sudut jendela rumah, aku menyaksikan awan-awan mulai beranjak pergi diusir senja. Burung-burung beranjak pulang sembari menyajikan nyanyian penidur matahari punah.

“Kakak…! kakak….! Sesuara panggilan memecahkan hening. Membuyarkan pikiranku. Padahal aku masih merindukan satu pucuk bulan hinggap di antara kejora penuh kedip. Aku sangat merindukan itu.

Adikku, Salwa, berteriak-teriak seperti orang yang baru melihat matahari terbit dari barat. “Kakak, pian terlalu memilih-milih teman wanita, yang ini jelek, yang itu tidak baik.”

“Jangan bicara ngawur, ah.” Kataku berang. ”Kamu jangan berpikir yang tidak-tidak.”

Read the rest of this entry »

Comments (4)