
Aku orang baik-baik? Aku kembali memaki dalam hati. Kalau yang ia temui malam ini laki-laki lain, apa yang akan terjadi? Aku orang baik-baik? Kalau aku menceritakan pertemuan di siring sungai Martapura pada tengah malam ini kepada teman-temanku, mereka pasti akan menertawakan dan mengataiku bodoh.
Apakah aku benar-benar orang baik-baik?
Memangnya aku Nabi Yusuf? Hasan al-Basri? Atau Abu Yazid al-Busthami?
Tuhanpun tahu, laki-laki tetap laki-laki. Jangan pernah kau sepenuhnya mempercayai laki-laki. Tetapi aku tidak bisa, juga tidak mungkin, memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, dan mengambil keuntungan dari seorang gadis muda. Karena kalau aku melakukan perbuatan tak senonoh itu, aku bukan laki-laki, melainkan orang bodoh nan hina.
“Baiklah, Rin,” aku melanjutkan, “Kurasa kau baru mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan. Kau punya beban pikiran dan kesulitan. Karena kau tak punya tempat untuk menginap, kita akan mencari warung yang buka 24 jam, minum teh hangat, makan sedikit. Lalu ceritakanlah masalahmu padaku. Kita bapandiran. Di dunia ini tidak ada masalah yang tak dapat diselesaikan. Tunggu sampai matahari terbit, aku akan mengantarkanmu ke rumah kamu. Bagaimana?”
“Terserah,” jawab si gadis. “Hanya saja aku tidak akan pulang.”
“Tentang ini… kita bicarakan sampai matahari terbit nanti, ya.”
Taksi berhenti di daerah sekitar Pasar Lama. Aku mengajak gadis itu turun dari taksi. Gerimis mulai turun, udara dingin makin terasa di jalanan.
Di Banjarmasin sekarang banyak terdapat warung makan yang buka sampai 24 jam. Menjamurnya warung-warung makan di kota ini, apakah itu membuktikan kalau urang Banjar memiliki budaya mawarung atawa katuju makan? Sejauh ini memang belum ada penelitian ilmiah tentang itu.
Read the rest of this entry »