Archive for February, 2009

Kaganangan Kotaku Kandangan

kdgan

Kandangan kotaku.

Tak lagi ku dengar ketipak gerobak sapi mengawal pagi .

Kandangan kotaku.

Tak lagi ku dengar cericit pipit di sela hamparan padi.

Kandangan kotaku.

Tak lagi ku dengar derak-derik, leguh-legah pedati dan genta.

Gedebur riak Amandit yang menghiba,

Kuningnya air muara dan kapal-kapal kecil di waktu senja.

Dan aku tak melupakanmu, Kandanganku, Sungai Amandit, Kampung Taniran, Bumi Antaluddin.

Panasmu lusuhkan kemeja,

Derap langkahmu,

angin lengkisaumu

dan masa lampaumu.

Read the rest of this entry »

Comments (22)

Seminar Motivasi (Antara Seremoni dan Perubahan)

seminar-motivasi

Benarkah guru tidak mampu menulis atau tidak terbiasa menulis? Cobalah amati buku-buku di perpustakaan atau di toko-toko buku. Hitunglah, berapa banyak buku yang ditulis oleh para guru. Anda membaca surat kabar? Hitunglah berapa banyak artikel yang ditulis oleh para guru. Pasti jarang sekali, bukan?

Menulis memang gampang-gampang susah. Selain butuh niat dan motivasi, keberanian untuk mulai menulis ternyata tak mudah bagi sebagian orang, termasuk guru.

Hal tersebut yang menjadi pembicaraan hangat dalam Seminar Motivasi Penulisan, yang digelar di aula MAN 2 Model Banjarmasin, Sabtu 14 Pebruari 2009. Diikuti oleh lebih dari 150-an peserta, terdiri dari guru-guru SD, SMP, SMA dan sederajat. Seminar tersebut mencoba membuka wawasan tentang dunia tulis-menulis.

Tidak saja nara sumbernya yang sudah akrab dengan dunia penulisan, tapi juga tema yang diangkat juga menarik, yakni “Dengan Menulis, Kita Tingkatkan Kompetensi dan Kreativitas Guru”.

Penanggung jawab kegiatan dari MAN 2 Model Banjarmasin sengaja menghadirkan nama-nama yang beken di dunia penulisan di banua. Antara lain: Ersis Warmansyah Abbas (ada yang gak kenal? angkat tangan ya!), Bapak H. Syamsiar Seman (tokoh budayawan Banjar), Aliansyah Jumbawuya (Jurnalis Banjarmasin Post dan Serambi Ummah) dan juga Sandi Firly (Redaktur Radar Banjarmasin).

Suasana terasa lebih menyegarkan dengan kolaborasi para penulis muda, Farah Hidayati (Cerpenis Banua menetap di Jakarta, penulis novel “Rumah Tumbuh”), Syamsuwal Qomar (Penulis buku “Geliat Pemikiran Kampus”) dan Rahayu Suciati (Penulis buku “Aku Bangga Jadi Urang Banjar”).

Selain itu, seminar kemarin juga terasa greget karena meng-agendakan Bedah Buku “Jazirah Cinta” bersama sang penulis Randu Alamsyah. Bapak Zulfaisal Putera (sastrawan yang juga seorang guru) secara khusus memberikan testimoni untuk novel ini.

Read the rest of this entry »

Comments (17)

Sisigan Luka Sungai Martapura (11)

mesjid-mtp

Sebenarnya aku makhluk yang memiliki perasaan. Justru karena menghargai perasaan, aku tidak menganggap wanita sebagai barang. Dengan cara inilah aku menghargai perasaanku sendiri. Bagaimana mungkin manusia dapat dengan begitu mudah menghambur-hamburkan perasaannya? Bagaimana mungkin dapat menebarkan cinta ke mana-mana? Kada tahu di basa namanya!

Memang benar, ini pertanyaan yang berat. Pada dasarnya, umat manusia adalah makhluk yang memiliki pikiran rumit. Ataukah aku memang telah terlatih menjadi apatis, sehingga tidak mudah tergerak hatinya?

Bagaimana mungkin aku dapat menelaah orang lain, memahami diriku sendiri saja aku tidak mampu. Apakah aku orang yang selalu mengagungkan perasaan, atau orang yang paling apatis dan beku hatinya?

Apatis? Tidak, walau bagaimanapun aku mengetahui bahwa jauh di lubuk hatiku terdapat semacam gejolak perasaan. Orang yang apatis dan beku hatinya tidak akan merasa kesepian. Sedangkan aku? Aku sering kali merasakan kesepian yang sangat mendalam. Di luar aku tampak begitu penuh vitalitas, minatku sangat luas, semangatku begitu menggebu. Tetapi, setelah semua kesibukanku berakhir, atau bahkan saat aku sedang terbenam dalam kesibukan, aku selalu terbelenggu oleh rasa sepi. Ya, kesepian.

Aku sering bertanya pada diri sendiri: kesibukanku yang seperti ini, yang begitu menjauhkan diri dari hiburan dan kesenangan, apakah bukan sekedar pelarian belaka? Aku sedang melarikan diri dari apa?

Read the rest of this entry »

Comments (11)

Sisigan Luka Sungai Martapura (10)

sungai

Kecurigaan, kegundahan, dan perasaan terpukul yang timbul karena peristiwa di batang banyu sungai Martapura malam itu, akhirnya berlalu. Aku tidak punya waktu lagi untuk menyelidiki dan mengusut masalah tersebut, karena kesibukanku melakukan peliputan berita.

Kali ini aku harus meliput kehidupan masyarakat “Seribu Sungai” kota Banjarmasin yang eksotik. Kehidupan warga tepian sungai dengan rumah-rumah lantingnya segera menarik minatku. Rumah-rumah tersebut berdiri di tepi sungai dengan penduduknya yang memanfaatkan air sungai tersebut untuk keperluan sehari-hari.

Di tengah-tengah kepungan mall dan pertokoan modern yang semakin membuat carut marut wajah kota Banjarmasin, warga tepian sungai tetap dengan natural dan alami serta santai menjalankan aktifitasnya seperti biasa mulai dari mencuci, mengobrol hingga mandi di batang sungai.

Di kejauhan terdapat sebuah kelotok yang berisi beberapa orang di mana penumpang paling belakang terus menerus membuang air ke luar perahu, mungkinkah perahunya bocor? Di sisi lain, terdapat jejeran bambu yang diparkir di tepi sebuah rumah lanting. Jejeran Eusideroxylon Zwageri (kayu ulin) membuka jalan dari pintu rumah menuju jalan raya beraspal, tampak seorang kakek sedang melintasinya dengan santai. Sungguh, kehidupan yang sangat menarik dan menyegarkan jiwa.

Perjalanan melewati sungai bagi orang-orang bahari adalah merupakan hal yang biasa. Bagaimana tidak, keseharian mereka memang lekat dengan budaya banyu balarut. Namun ketika infrastruktur jalan semakin memadai, sedikit demi sedikit budaya sungai terpinggirkan. Kini orang-orang Banjar lebih memilih sepeda, motor, mobil dan alat transportasi darat lainnya ketimbang jukung, kelotok atau bus air.

Angkutan sungai hanya dianggap “anak tiri” seiring dengan pertumbuhan permukiman kumuh dan tak teratur di pinggiran sungai. Berbagai dermaga di Banjarmasin, seperti Dermaga Telawang, Ponton Antasari, Dermaga Ponton Kuin, Dermaga Bandarmasih, dan Dermaga Ponton Pasar Gelora yang berada di sekitar Sungai Barito dan Martapura, juga kurang mendapat perhatian serius.

Read the rest of this entry »

Comments (12)

Sisigan Luka Sungai Martapura (9)

wartawan

Aku menyadari bahwa bagian terlemah diriku adalah perasaan. Waktu aku masih duduk di bangku kuliah, dosen yang mengajar mata kuliah Jurnalistik Peliputan Berita selalu mengatakan bahwa hal yang paling tabu dalam meliput berita adalah sikap subjektif dan tindakan berdasarkan perasaan.

Tak terasa sudah delapan tahun berlalu sejak aku lulus. Kini aku – Yudi Pramana- telah menjadi wartawan terkenal di Kota Banjarmasin. Aku dijuluki “wartawan liar”, pengganti kata freelance, karena memang aku berwatak proletar dan bergaya Hizbullah, meski tidak pandai berorasi dalam demo apalagi ikutan “aksi mogok makan”.

Beberapa kali aku menolak tawaran untuk menjadi “wartawan jinak” di bawah perusahaan media karena aku menentang rezim jurnalisme yang despotik dan kapitalistik.

Aku bukan hanya ‘wartawan luar biasa’, tapi aku adalah ‘wartawan detektif’ (kata lain dari ‘wartawan investigasi’). Penggemar “All The President Man” dan “Pelican Breif” ini punya keahlian memata-matai dan mencuri-curi kasus yang terlewat dari bidikan para ‘wartawan reguler’ (kata lain dari ‘wartawan plus karyawan’) yang menjadi hamba kitab suci media bernama ‘deadline’.

Karena itu, tidaklah mengherankan sosok berwajah lembut namun menyimpan DNA Banjar ini pernah ditahbiskan sebagai ‘wartawan terbaik dalam investigasi’ saat menulis laporan investigatif tentang kasus korupsi pengerukan alur sungai Barito yang melibatkan pejabat tinggi daerah, lalu diterbitkan dalam artikel kontroversial.

Aku bukan hanya wartawan detektif, tapi juga seorang ‘pesulap kata’. Dengan imajinasi dan improfisasi yang ‘ngalor ngidul’ aku bisa mengubah tulisan ‘amit-amit’ menjadi ‘imut-imut’. Kemampuanku ‘mendadar’ naskah mentah menjadi sebuah tulisan yang ‘wajib dibaca’, benar-benar mengagumkan.

Read the rest of this entry »

Comments (9)

Sisigan Luka Sungai Martapura (8)

night3

Matanya masih menatap ke atas meja, sambil tetap memainkan jemari tangannya. Aku tidak tertawa, aku tidak dapat tertawa lagi. Kupandangi wajah halus dan muda yang ada di depanku itu.

Beberapa lama kemudian barulah aku bertanya lirih,

“Benarkah semua yang kau katakan tadi?”

Si gadis terpana sejenak, lalu mengangkat kepala, langsung menatapku. Sorot matanya sangat polos.

“Aku harus menghabisinya,” katanya dengan sungguh-sungguh. “Tak semestinya dia mengatakan tak mencintai aku.”

Aku menggigit bibir. Naluri profesionalku mengatakan bahwa ini adalah masalah besar. Hatiku seperti dibenamkan ke dalam, hawa dingin merambati punggungku, menebar ke kaki dan tanganku. Meskipun di dalam warung ini hangat, aku menggigil. Aku baru menyadari bahwa kesukaran yang aku cari ini terlalu besar, terlalu besar.

Wajah belia di hadapanku tampak begitu dingin, kosong dan kaku. Aku sudah pernah meneliti beberapa kasus pembunuhan. Baru kali ini aku merasa tergerak oleh wajah seorang pembunuh. Benarkah dia seorang pembunuh? Aku dapat membaca di balik wajah yang begitu tenang ini, tersembunyi sekeping hati yang telah lama didera penderitaan.

“Katakan padaku,” kataku dengan suara tercekat, “apakah kau langsung keluar dari rumah?”

“Ya.”

“Kau… kau yakin dia sudah mati?”

Read the rest of this entry »

Comments (8)

Sisigan Luka Sungai Martapura (7)

gadis2

“Suamimu?” Seruku tertahan. “Ceritamu aneh.”

“Aku sudah tak tahan lagi, lalu aku membunuhnya.” Katanya dengan mantap, sama sekali tidak ada nada bagaya.

“Tak seharusnya dia memperlakukan aku seperti itu. Demi dia, aku telah meninggalkan segalanya, abah, uma, kula warga, masa depan… semuanya telah aku tinggalkan. Semua orang mengatakan dia bajingan, hanya aku yang menganggap dia pahlawan.”

Uma abah memutuskan hubungan denganku karena dirinya, aku tak peduli. Teman-temanku tak memedulikan aku lagi, aku juga tak ambil pusing. Aku telah memilih mengikutinya, menjadi istrinya.”

“Meskipun dia tak punya duit, aku tidak peduli. Demi dia aku bisa menjadi sapi, kuda atau badak sekalipun, dan nyatanya aku memang demikian. Sebelum menikah, aku adalah anak manis, orang-orang mengatakan aku bisa menjadi artis atau penyanyi.”

Ia berhenti sejenak, matanya memancarkan kepedihan. Ia menggeleng-geleng, lalu berkata lirih, “Tidak ada gunanya aku lanjutkan, kamu tidak akan mengerti.”

Read the rest of this entry »

Comments (7)

Sisigan Luka Sungai Martapura (6)

rain_at_night

Aku orang baik-baik? Aku kembali memaki dalam hati. Kalau yang ia temui malam ini laki-laki lain, apa yang akan terjadi? Aku orang baik-baik? Kalau aku menceritakan pertemuan di siring sungai Martapura pada tengah malam ini kepada teman-temanku, mereka pasti akan menertawakan dan mengataiku bodoh.

Apakah aku benar-benar orang baik-baik?

Memangnya aku Nabi Yusuf? Hasan al-Basri? Atau Abu Yazid al-Busthami?

Tuhanpun tahu, laki-laki tetap laki-laki. Jangan pernah kau sepenuhnya mempercayai laki-laki. Tetapi aku tidak bisa, juga tidak mungkin, memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, dan mengambil keuntungan dari seorang gadis muda. Karena kalau aku melakukan perbuatan tak senonoh itu, aku bukan laki-laki, melainkan orang bodoh nan hina.

“Baiklah, Rin,” aku melanjutkan, “Kurasa kau baru mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan. Kau punya beban pikiran dan kesulitan. Karena kau tak punya tempat untuk menginap, kita akan mencari warung yang buka 24 jam, minum teh hangat, makan sedikit. Lalu ceritakanlah masalahmu padaku. Kita bapandiran. Di dunia ini tidak ada masalah yang tak dapat diselesaikan. Tunggu sampai matahari terbit, aku akan mengantarkanmu ke rumah kamu. Bagaimana?”

“Terserah,” jawab si gadis. “Hanya saja aku tidak akan pulang.”

“Tentang ini… kita bicarakan sampai matahari terbit nanti, ya.”

Taksi berhenti di daerah sekitar Pasar Lama. Aku mengajak gadis itu turun dari taksi. Gerimis mulai turun, udara dingin makin terasa di jalanan.

Di Banjarmasin sekarang banyak terdapat warung makan yang buka sampai 24 jam. Menjamurnya warung-warung makan di kota ini, apakah itu membuktikan kalau urang Banjar memiliki budaya mawarung atawa katuju makan? Sejauh ini memang belum ada penelitian ilmiah tentang itu.

Read the rest of this entry »

Comments (7)

Sisigan Luka Sungai Martapura (5)

siluet

“Siapa nama kamu?” aku langsung bertanya.

Marina,” jawab si gadis singkat.

“Marina?” suaraku meninggi.

“Iya, Marina.” Gadis itu memandangiku, seolah tidak memahami mengapa aku begitu terkejut. Pandang matanya sangat polos dan tulus. “Nama hanyalah simbol seseorang. Kalau suka, kamu boleh memanggil aku Rina”.Dia berhenti sejenak, mengedipkan bulu matanya, lalu menambahkan, “Tentu saja tidak setiap saat aku dipanggil Rina.”

Jiwa gadis ini pasti terganggu, batinku. Aku berniat menghentikan kebiasaanku suka mengurusi hal-hal remeh. Lupakan saja dia, tak ada gunanya mengurusi gadis itu. Tapi… tapi… bukankah kata-katanya sangat masuk akal? Apalagi penampilannya begitu polos dan lugu. Apa yang terjadi dengan dirinya? Apakah ia baru saja dimarahi abah umanya? Kulitnya putih bercahaya, alisnya begitu indah… ia masih begitu belia. Usianya pasti belum lebih dari dua puluh tahun.

Read the rest of this entry »

Comments (8)

Sisigan Luka Sungai Martapura (4)

elang_sungai

“Kenapa?” akhirnya aku bertanya.

Gadis itu menggeleng-gelengkan kepala, tidak menjawab. Ia kembali menatap permukaan sungai Martapura dengan serius. Gerak-geriknya penuh kebimbangan, membuatku cemas.

Kugeser langkahku agak maju ke arah gadis itu sambil berkata, “Pamali seorang perempuan keluar malam-malam.. Ku kira baiknya kamu pulang ke rumah, berlindung dari angin dingin. Apakah kamu tidak takut kedinginan?”

“Orang yang mau terjun ke sungai tidak akan takut udara dingin,” jawab gadis itu datar.

Aku menggerak-gerakkan alis, tak tahu apakah aku harus tertawa atau menangis mendengar perkataan ini. Sungguh aku tak tahu bagaimana sebaiknya menanggapinya. Seberkas angin berhembus, bulir-bulir air sungai yang tak terhitung jumlahnya kembali merembesi pakaiannya. Membuat ia menggigil kedinginan.

Aku menatap gadis yang masih saja memakukan pandangannya ke sungai itu. Entah karena kedinginan atau karena alasan lain, wajah gadis itu pucat pasi, sedangkan matanya berkilau.

Read the rest of this entry »

Comments (7)