Menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), bagi sebagian orang Indonesia adalah sebuah dambaan, meskipun bagi sebagian lagi yang lain mungkin keengganan. Menjadi dambaan banyak orang sehingga antrean pengambil formulir pendaftaran CPNS selalu membludak setiap tahun. Orang merelakan apapun yang dia miliki untuk menjadi seorang PNS, baik uang puluhan juta rupiah, harga diri, dan sebagainya.
Meskipun sudah ada upaya dari pemerintah untuk memperbaiki masalah rekrutmen PNS, baik melalui hukuman dan perbaikan sistem, tapi tetap saja masalah sogok, suap, atau apalah namanya adalah fakta yang terjadi di masyarakat.
Fenomena penerimaan CPNS, sesungguhnya merupakan pemandangan biasa pada setiap tahun. Tapi sesungguhnya bila ditilik dari banyak sisi, kondisi itu memberikan banyak pesan yang menggambarkan masa depan masyarakat kita. Ternyata, dari tahun ketahun animo pencaker (pencari Kerja) semakin meningkat untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil. Isu yang berkembang pun dari tahun ketahun sama saja yakni, nyogok, beking dan sanak famili pejabat.
Sebagaimana diketahui, di penghujung bulan ini agenda kesibukan masyarakat menjadi bertambah karena adanya program penerimaan CPNS dilingkungan Disdik dan Depag serentak secara nasional. Ramainya kesibukan dalam proses penerimaan CPNS itu tidak kalah hebohnya dengan para ibu-ibu untuk mengantri jatah BLT.
Bila dilihat dari jumlah yang melamar dengan porsi yang diterima, seperti di salah satu kabupaten jumlah pelamar ratusan lebih sementara porsi yang diterima hanya beberapa orang, adalah merupakan sesuatu yang tidak masuk akal. Tapi anehnya dalam kondisi seperti itupun, para pelamar tetap saja semangat untuk mengikutinya.
Sementara itu, didapati bahwa sebahagian besar dari pelamar itu ternyata adalah pelamar tetap. Karena telah berkali-kali mengikuti tes tersebut. Ada yang kali kedua, bahkan ada yang sudah mengikutinya 7 hingga 9 kali.Sehingga tak jarang diantara pelamar sudah saling kenal sehingga forum itu berubah jadi ajang reuni bagi mereka para pelamar lama.
Kondisi lain yang tak kalah menariknya dalam fenomena penerimaan CPNS itu adalah pengorbanan dari setiap pelamar untuk dapat mengikuti tes. Diawali dengan mereka harus menyiapkan berkas-berkas permohonan yang paling tidak harus menghabiskan waktu satu atau dua hari, dan mengularkan uang untuk biaya pengurusan. Dan pada saat pendaftaran mereka harus datang ke tempat pendaftaran yakni ibukota Kab/Kota masing-masing tidak terkecuali. Maka berbondong-bodonglah para pelamar dari pelosok-plosok yang jauh berdatangan, ada yang terpaksa membawa bayi yang masih kecil membawa kelauarga dan sebagainya.
Sesungguhnya dari kondisi diatas banyak persoalan yang seharusnya segera di jawab. Karena ianya merupakan bagian dari peroses yang sangat menentukan pembangunan dan masa depan masyarakat. Sudah benarkah system recruitment itu, dan bagaimana pula dengan hasilnya? Adalah dua pertanyaan yang selalu saja tidak terjawab. Karena pertanyaan lain yang juga tidak dapat dijawab mengapa harus melakukan penerimaan lagi. Sehingga penerimaan PNS itu jadilah sebagai sebuah rutinitas tahunan yang lebih berfungsi sebagai tranformasi social. Dan transpormasi yang terjadipun dalam rangka mempertahankan status social. Karena para pejabat hari ini sangat berkeinginan untuk mewariskan jabatannya hari ini kepada anak atau keluarga terdekatnya. Motivasi itu lebih rial ketimbang bahwa penerimaan PNS sebagai sebuah penjaringan terhadap kader anak bangsa yang terbaik yang dapat menjalankan amanah birokrasi pemerintahan kedepan.
Meningkatnya animo masyarakat dari tahun ketahun untuk menjadi PNS sesungguhnya merupakan gejala yang dipengaruhi oleh banyak factor. Salah satu factor siknifikan adalah menyangkut status social dan fasilitas, disamping factor lain seperti terbatasnya ketersediaan lapangan kerja di sector lain. Kenyataan hari ini bahwa mudahnya bekerja sebagai PNS, dengan waktu kerja yang longgar, jaminan kehidupan yang jelas, fasilitas yang relatif cukup dan sangat berpeluang untuk memperkaya diri, terutama bila menjabat, merupakan jawaban atas membeludaknya pelamar PNS itu.
Untuk itu, sulit diyakini mungkinkah proses rekrutmen CPNS nantinya dapat dilakukan dengan benar-benar objektif dan selektif. Karena begitu banyak kepentingan yang melilit proses tersebut. Namun kita tetap berharap kiranya penyelenggara penerimaan dapat benar-benar bekerja dengan jujur karena ditangan merekalah nasib bangsa ini diletakkan. Bila yang terpilih nantinya benar, maka bangsa ini akan memiliki para birokrat yang hebat 15 atau 20 tahun yang akan datang dan sebaliknya bila kecurangan yang menentukan pilihannya, maka bangsa ini akan tetap mewariskan para birokrat curang.
Wallahu a’lam.







kisahdoktermuda said
benar apa yang pian tulis….
bagi ulun yang baru berprofesi jadi dokter umum dan baru lulus atau seorang lulusan FKIP dan sekarang mau ikut uji PNS mungkin kada terlalu khwatir kada lulus..krn sedikit kompetitiornya sedangkan yang dicari formasinya banyak..
bandingkan dengan kawan2 lain kayak lulusan Fak ekonomi, kehutanan dll yang formasinya dikit tapi peminat banyak..