Archive for October 9, 2008

Memaknai Tradisi Halal bi Halal

Setiap momentum hari raya Idul Fitri tiba, tidak hanya pakaian baru saja yang menjadi ciri untuk menyambut kedatangan “bulan kemenangan” setelah satu bulan berpuasa. Tetapi ada hal yang lebih dari itu. Yaitu tradisi halal bi halal.

Halal bi halal, adalah tradisi yang hanya ada di Indonesia dan merambah ke beberapa negara tetangga dalam rumpun melayu, seperti Malaysia. Yang dicirikan dengan saling bersilaturrahmi dan saling bermaaf-maafan satu sama lain.

Menurut Dr. Quraish Shihab, halal-bihalal merupakan kata majemuk dari dua kata bahasa Arab ‘halal’ yang diapit dengan satu kata penghubung ‘ba’ (dibaca: bi) (Shihab, 1992: 317). Meskipun kata ini berasal dari bahasa Arab, namun masyarakat Arab sendiri tidak akan memahami arti halal-bihalal yang merupakan hasil kreativitas bangsa Melayu. Halal-bihalal, tidak lain, adalah hasil pribumisasi ajaran Islam di tengah masyarakat Asia Tenggara.

Kata ‘halal’ memiliki dua makna. Pertama, memiliki arti ‘diperkenankan’. Dalam pengertian pertama ini, kata ‘halal’ adalah lawan dari kata ‘haram’. Kedua, berarti ‘baik’. Dalam pengertian kedua, kata ‘halal’ terkait dengan status kelayakan sebuah makanan. Dalam pengertian terakhir selalu dikaitkan dengan kata thayyib (baik). Akan tetapi, tidak semua yang halal selalu berarti baik. Jadi, dalam hal ini, ukuran halal yang patut dijadikan pedoman, selain makna ‘diperkenankan’, adalah yang baik dan yang menyenangkan.
Read the rest of this entry »

Comments (5)

Guru dan Kampanye Politik

SALAH satu tujuan pendidikan secara mendasar adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena itu, pendidikan apa pun jenisnya tidak bisa melepaskan misi tersebut. Dengan pendidikan, generasi bangsa bisa mengerti bahwa kebodohan itu merugikan, ketidakadilan sama dengan kezaliman, eksploitasi manusia adalah melanggar hak asasi manusia, dan sebagainya.

Untuk bisa menjalankan misi itu, pendidikan harus berdiri dan berada dalam posisi yang independen. Pendidikan harus terjaga dari imbas-imbas pragmatisme politik sesaat, ideologi-ideologi yang bertentangan dengan ideologi negara, dan kepentingan-kepentingan ekonomi industrial yang eksploitatif.

Dalam perspektif ini, pendidikan harus komitmen terhadap ideologinya, yakni mengembangkan kebenaran ilmu pengetahuan dan teknologi. Jadi, ideologi dunia pendidikan adalah ideologi ilmu pengetahuan yang secara riil yang sangat menjunjung tinggi kebenaran, keadilan, dan penghargaan terhadap hak asasi manusia (HAM).

Tetapi pertanyaannya adalah benarkah dunia pendidikan kita benar-benar bisa terhindar dari bias-bias politik pragmatis? Benarkah para guru yang merupakan mesin penggerak pendidikan juga terhindar dari tekanan-tekanan politik sehingga berjiwa merdeka? Pertanyaan-pertanyaan itu menarik untuk diketengahkan melihat fenomena, dalam realitas guru sulit terbebaskan dari tekanan-tekanan partai politik tertentu.

Read the rest of this entry »

Comments (3)

Munajat Pasca Ramadhan

Ya Allah, kenapa Ramadhan begitu cepat berlalu padahal kami belum merasakan apa-apa di bulan Ramadhan ini ?. Apakah Kau tak mencintai kami sehingga Ramadhan berlalu begitu saja tanpa makna”

“Ya Allah, kami belum merasa jadi kepompong Ramadhan, kami masih saja menjadi ulat yang menjijikkan, rakus dan merusak. Lalu kenapa waktu berjalan tak lambat saja waktu itu agar Ramadhan benar-benar kami regup biar kepompong Ramadhan menjadi kupu-kupu dan tinggali ulat diri yang legam itu”.

“Ya Allah, puasa kami di bulan Ramadhan itu terkadang lebih karena kewajiban bukan karena kesungguh-sungguhan akan keinginan untuk bercermin kembali, untuk meneropong ruhaniyah kami ke dalam realitas batin dan kenyataan hidup yang akan kami jalani”.

“Ya Allah, kenapa Ramadhan harus meninggalkan kami padahal kualitas puasa kami belum ada apa-apanya, kami memahami puasa hanya sebatas menahan lapar dan dahaga sehingga seolah-olah puasa itu diperuntukkan bagi orang-orang yang berkecukupan. Ilmu kami hanya sebatas pengetahuan tentang ‘menahan haus dan lapar dari shubuh sampai Maghrib’, ilmu kami tentang puasa tak pernah bertambah dan tak mau ditambah-tambah”.

Read the rest of this entry »

Leave a Comment