Archive for October, 2008

Pornografi Di Sekitar Kita: Keterbukaan atau Pemberontakan?

Pro kontra seputar pornografi memang tidak akan pernah selesai, terutama di antara tarik menarik argumentasi agama moralitas via a vis argumentasi kebebasan untuk berekspresi dan berkesenian. Di satu sisi, ada kaum agamawan yang berniat mengontrol ruang publik secara ketat, dan mungkin juga kaku. Di sisi lain, ada sekelompok masyarakat yang hendak menempatkan kebebasan berekspresi dan berkesenian di dalam ruang publik secara total, dan seolah-olah tanpa hambatan.

Pada saat tulisan ini dibuat, Undang-Undang Anti Pornografi (UU AP) baru saja di sahkan setelah sebelumnya menjadi perdebatan hangat di kalangan masyarakat. Rancangan UU ini sebenarnya sudah diajukan pemerintah ke DPR RI sejak tahun 2002. Entah mengapa, anggota dewan pada saat itu belum mau mengesahkannya. RUU ini baru dibahas kembali secara serius dan disahkan oleh anggota Komisi VIII DPR RI, hasil pemilu legislatif tahun 2004.

Sejak awal keputusan DPR yang ingin membahas RUU Anti Pornografi untuk kemudian disahkan menjadi UU, pro dan kontra terhadap keberadaan RUU sudah bermunculan. Mereka yang pro menginginkan adanya UU yang tegas yang melarang segala hal yang berbau pornografi dan pornoaksi. Sementara yang kontra, mengaku bukannya tidak kesal dengan maraknya pornografi di negeri ini, tapi mereka menginginkan pengaturan masalah pornografi tidak merugikan sebagian masyarakat yang lain.

Read the rest of this entry »

Comments (3)

Sumpah Pemuda vs Pemimpin Bangsa

Tanggal 28 Oktober 1928, kaum muda Indonesia mengikrarkan trilogi kebangsaan, satu nusa, satu bangsa, satu bahasa Indonesia. Trilogi kebangsaan mengandung obsesi kaum muda untuk membentuk sebuah bangsa dan negara yang bebas dari penderitaan, penjajahan. Dimensi ‘kesatuan’ dijunjung tinggi karena tanpa ‘persatuan’ tidak akan mungkin terbentuk kekuatan untuk melawan penjajah dan sebuah negara yang merdeka .

Sudah 80 tahun sumpah pemuda diikrarkan. Ia telah menjadi peristiwa historis yang penting dalam negara kita. Karena begitu pentingnya maka setiap tanggal 28 Oktober kita merayakan hari sumpah pemuda. Di dalamnya ada banyak kegiatan yang dibuat, baik oleh pemerintah maupun oleh pihak swasta. Secara sepintas dapat dinilai bahwa sebagian besar warga negara menghargai jasa para pemuda sebagai pahlawan bangsa. Tetapi di lain pihak, kegiatan-kegiatan tersebut membuat sumpah pemuda kehilangan maknanya, makna sumpah pemuda telah kabur ditengah kemeriahan suasana peringatan.

Sebagai orang muda, dalam pikiran, terlintas pertanyaan siapakah yang perlu di “bangun” kaum muda ataukah para pemimpin bangsa? Manakah yang urgen saat ini, membangun kaum muda ataukah ‘membangun’ pemimpin bangsa? Pertanyaaan ini yang menjadi latar belakang tulisan ini.

Read the rest of this entry »

Comments (1)

Peran Pemuda Muslim Sebagai “Agent Social of Changes”

Pemuda, Tentunya menarik untuk di pertanyakan dan di bayangkan, mengapa peran pemuda yang di tulis dalam judul di atas tidak mengambil judul “Peran manula sebagai agent social of changes” atau “Peran pemuda gaul sebagai agent social of changes”. Sosok Pemuda seperti apakah yang di maksud, dan peran seperti apakah yang begitu besar sampai di sebut sebagai agen perubahan?

Pemuda di pilih sebagai pelaku, karena memiliki potensi yang besar sebagai agen perubahan. Pemuda sebagai segmen yang tercerahkan, karena memiliki kemampuan intelektual. Penulis tidak akan membicarakan peran pemuda sebagai sosok yang faham akan teknologi atau faham ilmu-ilmu sosial, namun penulis akan membicarakan sosok pemuda yang dapat berperan sebagai orang yang memiliki kemampuan logis dalam berfikir. Sehingga dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Sebagai bagian dari anak bangsa, pemuda memiliki karakter positif antara lain idealis dan energik. Idealis yang dimaksud adalah belum terkotori oleh kepentingan pribadi, juga belum terbebani oleh beban posisi. Pemuda masih bebas menempatkan diri pada posisi yang di anggap terbaik, tanpa adanya resistansi (hambatan/perlawanan). Energik pemuda biasanya siap sedia melakukan kewajiban yang di bebankan oleh suatu ideologi ketika dia telah menyakini akan kebenaran ideologi tersebut, sebagai contoh adalah para shahabat yang siap sedia manakala mendengar perintah jihad dari Rosulnya.

Read the rest of this entry »

Leave a Comment

Marketing Politik, Politik “Jual Kecap”?

Ada suasana berbeda tahun ini dengan tahun lalu. Kini, kita seolah menjadi warga yang tersanjung dan terhormat. Lihat di sekeliling Anda. Setiap lewat di pelosok jalanan kampung sampai tengah kota, puluhan bahkan ratusan wajah ceria dengan senyum sumringah, terpampang di spanduk, baliho dan poster menyapa Anda, kita semua.

Mereka adalah para politisi dan calon politisi lokal yang akan bertarung pada Pemilu legislatif 2009. Mereka akan memperebutkan kursi di DPR/DPRD/DPD. Untuk memperoleh dukungan masyarakat mereka memanfaatkan berbagai media sebagai ajang mempromosikan diri dan partai pengusungnya kepada publik.

Menyadari persaingan yang demikian ketatnya, tidak aneh bila Parpol dan para Caleg berlomba mengenalkan dan menampilkan citra dirinya lewat berbagai sarana publikasi. Semua mereka manfaatkan. Tidak tanggung-tanggung, media cetak, elektronika maupun pemasangan iklan in door maupun out door mereka pakai. Ibaratnya tidak ada sejengkal tanah yang luput dari perhatian mereka.

Read the rest of this entry »

Comments (1)

Mengenang Seorang Kawan dan Refleksi Tentang Kematian

(In Memoriam Pak Jastan)

Seorang teman telah terlebih dahulu pulang. Teman yang menyenangkan, teman yang selalu meninggalkan kesan baik dihati. Terima kasih jika langkah sempat menemani dan mohon maaf jika mungkin pernah tersakiti. Semoga langkahnya lebih tenang kini. Selamat Jalan Kawan……

Barisan kalimat singkat itulah yang bisa terucap dalam hati, tak ada lukisan kata-kata lagi untuk diungkapkan. Termasuk keberanian untuk menuliskan apa yang menjadi perasaanku. Hari itu Kamis malam Jum’at, 2 Oktober 2008 aku dikejutkan sebuah kabar yang bernada ungkapan duka cita. Seorang kawan yang kami cintai telah meninggal dunia, berpulang menghadap sang penciptanya….JASTAN, salah seorang guru di MAN 2 Banjarmasin.

Sesaat, aku seolah tak percaya. Tapi sekian menit berikutnya aku pun tersadar bahwa dalam hidup ini kita sering disodorkan dengan kenyataan kenyataan yang tak terduga. Apalagi maut itu tidak berbau, siapapun tak ada yang bisa mengendusnya. Meski demikian, masih saja aku diliputi rasa tak percaya.

Read the rest of this entry »

Comments (18)

Wisata Religi, Segarkan Pikir dan Dzikir

Akhir-akhir ini semakin banyak orang mengalami stres. Tingginya tuntutan hidup dan semakin padatnya aktivitas menjadi salah satu penyebab terjadinya stres, ringan maupun berat. Biasanya stres bermula dari kejenuhan pikiran yang kemudian terakumulasi sehingga menjadi akut. Tiap orang memiliki cara tersendiri untuk mengatasi stres atau kejenuhan pikiran tersebut. Bagi sebagian orang, rekreasi atau tamasya merupakan salah satunya.

Biasanya, setelah berwisata kita akan merasa segar dan siap untuk kembali menekuni aktivitas sehari-hari. Namun, sebenarnya kita bisa memperoleh manfaat lebih dengan melakukan rekreasi. Melalui wisata religi, selain menyegarkan pikiran, kita juga bisa menambah wawasan bahkan mempertebal keyakinan kita kepada Sang Pencipta.

Wisata religi dimaknai sebagai kegiatan wisata ke tempat yang memiliki makna khusus bagi umat beragama, biasanya berupa tempat ibadah, makam ulama atau situs-situs kuno yang memiliki kelebihan. Kelebihan ini misalnya dilihat dari sisi sejarah, adanya mitos dan legenda mengenai tempat tersebut, ataupun keunikan dan keunggulan arsitektur bangunannya.

Potensi wisata religi di negara kita sangatlah besar. Hal ini dikarenakan sejak dulu Indonesia dikenal sebagai negara religius. Banyak bangunan atau tempat bersejarah yang memiliki arti khusus bagi umat beragama. Selain itu, besarnya jumlah penduduk Indonesia, dimana hampir semuanya adalah umat beragama, merupakan sebuah potensi tersendiri bagi berkembangnya wisata religi.

Read the rest of this entry »

Comments (3)

Menelisik Sosok Pejabat Sederhana

Tahukah Anda, di mana Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad tinggal? Di rumahnya yang sederhana, dinding luarnya masih bata dan belum ditembok, di kawasan Tehran Timur. Petugas keamanan terpaksa membuat posko keamanan di ujung jalan, mendata semua tetangga termasuk sanak famili mereka, sehingga orang-orang yang keluar masuk jalan kecil itu bisa dimonitor.

Terakhir, mau tahu apa isi press release pertama Presiden Iran ketika beliau baru terpilih? Isinya: Semua pihak dihimbau untuk tidak memasang iklan ucapan selamat di koran-koran dan semua kantor dilarang memasang foto presiden!

Itulah sepenggal cerita yang saya baca di sebuah milis internet, tentang kesederhanaan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad. Membaca milis itu, saya jadi teringat dengan kisah-kisah kesederhanaan para pemimpin Islam di masa lalu. Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib misalnya, saat beliau memegang tampuk pemerintahan kaum Muslimin di Kufah, kaum Muslim hidup berkecukupan karena pajak dan harta rampasan dari negara-negara yang berhasil ditaklukan melimpah ke negerinya. Umat Islam tidak kekurangan makanan dan berpakaian serba indah. Namun sang pemimpin Ali bin Abi Thalib tetap mengenakan pakaian tua yang sudah lusuh dan penuh tambalan.

Read the rest of this entry »

Comments (3)

Islam dan Humanisme Semesta

Betapa Rasulullah saw mampu memikat seluruh elemen penduduk Madinah yang terdiri dari berbagai suku, agama dan latar belakang sosial yang beragam. Di awal kedatangan beliau disana. Padahal beliau belum pernah bertemu dengan mereka, pun tidak ada hubungan darah dengan mereka.

Pertama sekali yang Rasulullah saw deklarasikan bagi penduduk Madinah yang sedang menanti-nanti kedatangan beliau adalah nilai-nilai humanisme dan kepedulian yang dilandasi dengan sikap mental yang kuat.

Mari kita simak penuturan salah seorang yang sengaja menyempatkan diri bersama khalayak penduduk Madinah yang sedang menyambut Rasulullah saw. Bagaimana pengakuan tulusnya akan kepribadian Rasulullah saw. Dan taujih atau arahan Rasulullah saw yang beliau sampaikan dengan sangat puitis :

Dari Abdullah bin Salam berkata: Ketika Rasulullah saw hendak datang di Madinah, manusia pada menunggu-nunggu dan saling memberi kabar: Rasulullah datang, Rasulullah datang. Aku datangi kerumunan manusia. Ketika aku pastikan bisa melihat wajah Rasulullah saw, maka aku yakin bahwa raut wajahnya bukan tipe wajah pembohong. Dan pertama kali yang beliau ucapkan adalah: “Sebarkanlah salam, berilah makan orang yang membutuhkan, sambunglah persaudaraan dan shalat malamlah ketika manusia pada tertidur. Maka anda akan masuk surga dengan selamat.” (Sunan Tirmidzi, Jilid 9, Halaman. 25)

Read the rest of this entry »

Comments (1)

Perlukah Transformasi Sejarah Lokal Banua Banjar?

SUDAH milyaran rupiah dana yang dihamburkan agar penataran dan pelatihan untuk memantapkan rasa kebangsaan dapat terwujud. Disamping itu media massa, lewat media cetak dan media elektronik, juga diserutkan agar segenap generasi muda dapat memahami arti semangat kepahlawanan dan etos perjuangan bangsa.

Semangat kepahlawanan adalah semangat yang tidak mengenal istilah pantang mundur demi meraih kemerdekaan. Malah nyawa, harta dan keluarga adalah taruhannya. Bagaimanakah semangat generasi muda bangsa kita saat ini? Tanpa bermaksud melebih-lebihkan, kita dapat mengatakan bahwa rata-rata generasi muda sekarang banyak yang tidak memiliki semangat kepahlawanan.

Andaikata kita pajangkan sederet nama mulai dari nama artis sinetron, olahragawan sampai kepada nama tokoh pahlawan yang telah berjasa banyak bagi bangsa ini. Maka artis dan olahragawan kerapkali sebagai tokoh Idola mereka yang utama, dan para pahlawan sering sekedar idola pelengkap saja. Sebetulnya tidak salah kalau generasi muda termasuk anak didik kita menjadikan para artis dan olahragawan sebagai idola mereka, tidak mengapa bila tokoh-tokoh idola mereka baik luar-dalam. Maksudnya penampilan luarnya sama baik dengan karakter mereka yang sesungguhnya.

Read the rest of this entry »

Comments (5)

Perang Banjar dalam Refleksi Anak Banua

Setiap tanggal 11 Oktober, kita diingatkan tentang peristiwa sejarah wafatnya seorang pejuang banua yang selalu dikenang namanya. Ia, Gusti Inu Kartapati alias Pangeran Antasari bin Pangeran Masohud bin Pangeran Amir, lokomotif dan ikon pecahnya De Bandjermasinsche Krijg atau Perang Banjar (1859-1905).

Siapakah Pangeran Antasari? Kalau kita bertanya hal tersebut, anak muda Banjar pasti menunjuk salah satu nama jalan di kota Banjarmasin . Tapi adakah yang mengenalnya? Sebagai ‘Urang Banjar’ sungguh ironis jika kita tidak mengetahui sejarah perkembangan kerajaan Banjar. Sejarah ini diwarnai dengan peperangan besar menentang penjajah Belanda. Banyak Bangsawan kerajaan Banjar, Ulama dan rakyat yang ikut serta dalam peperangan itu. Demikian pula rakyat di daerah ‘Banua Lima’ serentak mengangkat senjata dibawah pimpinan Pangeran Hidayatullahullah dan Pangeran Antasari.

Read the rest of this entry »

Comments (4)

Memaknai Tradisi Halal bi Halal

Setiap momentum hari raya Idul Fitri tiba, tidak hanya pakaian baru saja yang menjadi ciri untuk menyambut kedatangan “bulan kemenangan” setelah satu bulan berpuasa. Tetapi ada hal yang lebih dari itu. Yaitu tradisi halal bi halal.

Halal bi halal, adalah tradisi yang hanya ada di Indonesia dan merambah ke beberapa negara tetangga dalam rumpun melayu, seperti Malaysia. Yang dicirikan dengan saling bersilaturrahmi dan saling bermaaf-maafan satu sama lain.

Menurut Dr. Quraish Shihab, halal-bihalal merupakan kata majemuk dari dua kata bahasa Arab ‘halal’ yang diapit dengan satu kata penghubung ‘ba’ (dibaca: bi) (Shihab, 1992: 317). Meskipun kata ini berasal dari bahasa Arab, namun masyarakat Arab sendiri tidak akan memahami arti halal-bihalal yang merupakan hasil kreativitas bangsa Melayu. Halal-bihalal, tidak lain, adalah hasil pribumisasi ajaran Islam di tengah masyarakat Asia Tenggara.

Kata ‘halal’ memiliki dua makna. Pertama, memiliki arti ‘diperkenankan’. Dalam pengertian pertama ini, kata ‘halal’ adalah lawan dari kata ‘haram’. Kedua, berarti ‘baik’. Dalam pengertian kedua, kata ‘halal’ terkait dengan status kelayakan sebuah makanan. Dalam pengertian terakhir selalu dikaitkan dengan kata thayyib (baik). Akan tetapi, tidak semua yang halal selalu berarti baik. Jadi, dalam hal ini, ukuran halal yang patut dijadikan pedoman, selain makna ‘diperkenankan’, adalah yang baik dan yang menyenangkan.
Read the rest of this entry »

Comments (5)

Guru dan Kampanye Politik

SALAH satu tujuan pendidikan secara mendasar adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena itu, pendidikan apa pun jenisnya tidak bisa melepaskan misi tersebut. Dengan pendidikan, generasi bangsa bisa mengerti bahwa kebodohan itu merugikan, ketidakadilan sama dengan kezaliman, eksploitasi manusia adalah melanggar hak asasi manusia, dan sebagainya.

Untuk bisa menjalankan misi itu, pendidikan harus berdiri dan berada dalam posisi yang independen. Pendidikan harus terjaga dari imbas-imbas pragmatisme politik sesaat, ideologi-ideologi yang bertentangan dengan ideologi negara, dan kepentingan-kepentingan ekonomi industrial yang eksploitatif.

Dalam perspektif ini, pendidikan harus komitmen terhadap ideologinya, yakni mengembangkan kebenaran ilmu pengetahuan dan teknologi. Jadi, ideologi dunia pendidikan adalah ideologi ilmu pengetahuan yang secara riil yang sangat menjunjung tinggi kebenaran, keadilan, dan penghargaan terhadap hak asasi manusia (HAM).

Tetapi pertanyaannya adalah benarkah dunia pendidikan kita benar-benar bisa terhindar dari bias-bias politik pragmatis? Benarkah para guru yang merupakan mesin penggerak pendidikan juga terhindar dari tekanan-tekanan politik sehingga berjiwa merdeka? Pertanyaan-pertanyaan itu menarik untuk diketengahkan melihat fenomena, dalam realitas guru sulit terbebaskan dari tekanan-tekanan partai politik tertentu.

Read the rest of this entry »

Comments (3)

Munajat Pasca Ramadhan

Ya Allah, kenapa Ramadhan begitu cepat berlalu padahal kami belum merasakan apa-apa di bulan Ramadhan ini ?. Apakah Kau tak mencintai kami sehingga Ramadhan berlalu begitu saja tanpa makna”

“Ya Allah, kami belum merasa jadi kepompong Ramadhan, kami masih saja menjadi ulat yang menjijikkan, rakus dan merusak. Lalu kenapa waktu berjalan tak lambat saja waktu itu agar Ramadhan benar-benar kami regup biar kepompong Ramadhan menjadi kupu-kupu dan tinggali ulat diri yang legam itu”.

“Ya Allah, puasa kami di bulan Ramadhan itu terkadang lebih karena kewajiban bukan karena kesungguh-sungguhan akan keinginan untuk bercermin kembali, untuk meneropong ruhaniyah kami ke dalam realitas batin dan kenyataan hidup yang akan kami jalani”.

“Ya Allah, kenapa Ramadhan harus meninggalkan kami padahal kualitas puasa kami belum ada apa-apanya, kami memahami puasa hanya sebatas menahan lapar dan dahaga sehingga seolah-olah puasa itu diperuntukkan bagi orang-orang yang berkecukupan. Ilmu kami hanya sebatas pengetahuan tentang ‘menahan haus dan lapar dari shubuh sampai Maghrib’, ilmu kami tentang puasa tak pernah bertambah dan tak mau ditambah-tambah”.

Read the rest of this entry »

Leave a Comment

Produktivitas Seorang Muslim

Produktif merupakan salah satu sifat inti yang sangat didambakan oleh setiap manusia. Pengakuan eksistensi individu (juga sebuah kelompok) di lingkungan masyarakat akan ditentukan oleh ada tidaknya produktivitas individu tersebut. Oleh karena itu, seseorang yang tidak produktif biasanya akan digelari wujuduhu ka ‘adamihi, keberadaannya tidak berpengaruh dan tidak menimbulkan perubahan yang signifikan dan ketiadaannya pun tidak menimbulkan rasa kehilangan serta penurunan etos produktivitas yang lainnya.

Maka, sangatlah wajar bila dalam rangka memenuhi keinginan manusia untuk menjadi sosok yang produktif, dan eksistensinya secara sosial diakui, banyak konsep-konsep yang ditawarkan kepada mereka supaya bisa membangun dirinya menjadi manusia yang produktif. Semua konsep mempunyai misi tertentu, baik dalam pembentukan paradigma seseorang ataupun pembentukan visi dan misi hidupnya.

Oleh karena itu, banyak terdapat perbedaan asasi antara konsep yang ditawarkan oleh Islam (strategi Islam menciptakan manusia produktif) dengan konsep-konsep dari luar Islam. Misalnya, konsep-konsep dari luar Islam biasanya berorientasikan materi dan dunia serta menjauhkannya dari nilai-nilai ilahiyyah. Sedangkan konsep Islam adalah penggabungan keduanya. Konsep-konsep Islam mampu menembus dimensi basyariyah sekaligus dimensi ilahiyyah. Oleh karena itu, Islam bukanlah agama yang hanya mengurusi masalah-masalah vertikal saja, akan tetapi juga membahas masalah yang sifatnya horizontal. Islam adalah agama syamil, yang mengurusi semua aspek kehidupan manusia.

Read the rest of this entry »

Comments (1)