REZIM bernama ‘sang waktu’ selalu bergerak pasti dan tidak tertahankan. Agustus 2008. Kini, kita bersua lagi dengan momentum bulan keramat: HUT Kemerdekaan! Kendati negeri kita masih terus terbalut multikrisis, dan di tengah reruntuhan bangunan kehidupan bersama kita sebagai bangsa, tetap saja ada asa (harapan) yang dapat direngkuh kembali.
Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Peringatan akan peristiwa sejarah paling monumental tersebut bakal terhenti sebagai rutinitas belaka, apabila kita tak mampu menyelami makna dan tujuan hakikinya. Kebosanan serta-merta muncul apabila peringatan HUT kemerdekaan dikemas tak lebih sebagai seremoni para pembesar negeri. Rasa mual bisa tiba-tiba menyerang rongga perut dan rongga dada sekaligus, saat kita menyaksikan para pembesar negeri bertingkah polah aneh-aneh, bertolak belakang dengan niatan para pendiri bangsa (the founding fathers), 63 tahun silam!






