Muhammad Nafis Al-Banjari (Ulama Sufi Penyebar Islam dari Banjar)

Pernah dimuat pada harian Mata Banua/ Selasa, 29 Juli 2008

Dalam deretan ulama Banjar, nama Muhammad Nafis al-Banjari tak kalah masyhur dibanding Muhammad Arsyad al-Banjari. Kalau Muhammad Arsyad dikenal sebagai ahli syariat, maka Muhammad Nafis dikenal sebagai pakar ilmu kalam dan tasawuf. Dengan keilmuannya, ia berhasil menorehkan prestasi sebagai salah seorang ulama terkemuka Nusantara.

Dialah pengarang “Durr Al-Nafis”, kitab berbahasa Jawi yang dicetak berulang-ulang di Timur Tengah dan Nusantara, yang masih dibaca sampai sekarang. Dia berada dalam urutan kedua setelah Muhammad Arsyad Al-Banjari dari segi pengaruhnya atas kaum muslimin di Kalimantan. Apa yang yang harus dilakukan kaum muslimin agar memperoleh kemajuan dalam hidup? Mengapa Belanda melarang kitabnya beredar di Indonesia?

Syeikh Muhammad Nafis Al-Banjari bin Idris bin Husien, lahir sekitar tahun 1148 H./1735 M.,di Kota Martapura Kalimantan Selatan, dari keluarga bangsawan atau kesultanan Banjar, silsilah dan keturunanya bersambung hingga Sultan Suriansyah (1527-1545 M.) Raja Banjar pertama yang memeluk agama Islam sebelumnya bernama Pangeran Samudera.

Silsilah lengkapnya adalah: Muhammad Nafis bin Idris bin Husien bin Ratu Kasuma Yoeda bin Pangeran Kesuma Negara bin Pangeran Dipati bin Sultan Tahlillah bin Sultan Saidullah bin Sultan Inayatullah bin Sultan Mustain Billah bin Sultan Hidayatullah bin Sultan Rahmatullah bin Sultan Suriansyah. Muhammad Nafis hidup pada periode sama dengan Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

Jika Arsyad meninggal tahun 1227/1812, Nafis belum diketahui tahun wafatnya. Yang kita ketahui, peristirahatan terakhir beliau di Mahar Kuning Desa Bintaru, sekarang menjadi bagian Kelua Kabupaten Tabalong Kalimantan Selatan, sekitar 125 kilometer dari Banjarmasin. Tidak ada catatan pasti tahun pergi menuntut ilmu ke tanah suci Makkah. Diperkirakan ia pergi menimba ilmu pada usia dini sangat muda, sesudah mendapat pendidikan dasar-dasar agama Islam di kota kelahirannya Martapura.

Sebagian ahli berpendapat, masa belajar Muhammad Nafis tak jauh dari masa Muhammad Arsyad al-Banjari. Bahkan, para masyasyikh-nya juga kebanyakan sama, yakni Muhammad bin Abdul Karim al-Samman al-Madani, Muhammad al-Jauhari, Abdullah bin Hijazi al-Syarqawi al-Mishry (syekh al-Azhar sejak 1207 H/ 1794 M), Muhammad Shiddiq bin Umar Khan (murid al-Sammani) dan Abdurrahman bin Abdul Aziz al-Maghribi.

Dari para gurunya itu, Muhammad Nafis banyak belajar tasawuf. Sekian lama ia mematangkan pengetahuan dan lelaku tasawufnya sampai ia diberi gelar kehormatan “Syekh Mursyid.” Dengan gelar itu, ia beroleh ijazah untuk mengajarkan dan membimbing ilmu tasawuf kepada orang lain. Pencapaian itu tentunya tak mudah dan instan, tapi membutuhkan waktu latihan dan perenungan yang sangat lama.

Sekian lama berada di Mekkah, ia akhirnya kembali ke Nusantara, diperkirakan pada 1210 H/1795. Saat itu, yang memerintah di Banjar adalah Sultan Tahmidillah (Raja Islam Banjar XVI, 1778-1808 M). Tapi, karena Nafis tak suka dekat dengan kekuasaan, ia memilih meninggalkan Banjar dan berhijrah ke Pakulat, Kelua, sebuah daerah yang terletak sekitar 125 km dari Banjarmasin. Alasan lain adalah perkembangan Islam di daerah sekitar Martapura dan Banjar sudah ditangani oleh Syekh Muhammad Arsyad.

Sedang daerah Kelua, termasuk daerah pedalaman, masih belum terjangkau oleh dakwah Islamiyah ulama Banjar. Dengan gigih, Muhammad Nafis mengenalkan Islam di sana. Berkat kegigihannya, daerah itu kemudian menjadi salah satu pusat penyebaran agama Islam di Kalimantan Selatan. Juga menjadi daerah yang turut melahirkan para pejuang anti-Belanda.

Dalam berdakwah, Muhammad Nafis dikenal sebagai sosok pengembang tasawuf yang andal. Meski di Banjar saat itu terjadi pertentangan antara kubu Muhammad Arsyad dengan Syekh Abdul Hamid Abulung yang didakwa sebagai pengembang wujudiyyah, dakwah tasawuf ala Muhammad Nafis berlangsung dengan lancar dan damai. Ini tak lepas dari corak tasawuf yang diusungnya, yakni “merukunkan” tasawuf sunni dan falsafi yang diposisikan secara diametral.

Ia juga tampak tak terikat dengan satu tarekat secara total. Shingga, menurut pengakuannya sendiri, ia adalah pengikut tarekat Qadariyah, Syathariyah, Naqsabandiyah, Khalwatiyah, dan Sammaniyah. Keikutsertaan Muhammad Nafis dalam ragam tarekat Mu’tabarah itu seolah menunjukkan bahwa suluk menuju Tuhan bisa dilakukan lewat berbagai jalan, tak hanya mengandalkan satu jalan saja. Juga menunjukkan betapa pengetahuan tasawuf Muhammad Nafis sangatlah mendalam.

Ciri khas ajaran tasawuf Muhammad Nafis adalah semangat aktivisme yang kuat, bukan sikap pasrah. Ia dengan gamblang menekankan transendensi mutlak dan keesaan Tuhan sembari menolak determinisme fatalistik yang bertentangan dengan kehendak bebas. Menurutnya, kaum muslim harus aktif berjuang mencapai kehidupan yang lebih baik, bukan hanya berdiam diri dan pasrah pada nasib.

Sebab itulah, ajaran tasawuf ala Muhammad Nafis turut membangkitkan semangat masyarakat Banjar untuk berjuang lepas dari penjajah. Malah, konon, setelah membaca kitab karangannya, orang menjadi tak takut mati. Situasi ini jelas membahayakan Belanda karena akan mengobarkan jihad. Tak heran kalau kemudian berbagai intrik dilakukan oleh Belanda untuk menghentikan ajaran Muhammad Nafis, mulai dari kontroversi ajaran sampai pelarangan. Namun, dakwah Muhammad Nafis terus berlanjut sampai ia wafat.

Islamisasi di Kalimantan

Bebeda dengan Muhammad Arsyad yang menjadi perintis pusat pendidikan Islam, Muhammad Nafis mencemplungkan dirinya dalam usaha penyebarluasan Islam di wilayah pedalaman Kalimantan. Dia memerankan dirinya sebagai ulama sufi kelana yang khas, keluar-masuk hutan menyebarkan ajaran Allah dan Rasul-Nya. Dan oleh karena itu beliau memainkan peranan penting dalam mengembangkan Islam di Kalimantan.

Islam masuk Kalimantan Selatan lebih belakangan ketimbang misalnya, Sumatera Utara dan Aceh. Seperti diungkapkan Azra, diperkirakan pada awal abad ke-16 sudah ada sejumlah muslim di sini, tetapi Islam baru mencapai momentumnya setelah pasukan Kesultanan Demak datang ke Banjarmasin untuk membantu Pangeran Samudra dalam perjuangannya melawan kalangan elite di Kerajaan Daha. Setelah kemenangannya, Pangeran Samudra beralih memeluk Islam pada sekitar tahun 936/1526, dan diangkat sebagai sultan pertama di Kesultanan Banjar. Dia diberi gelar Sultan Suriansyah atau Surian Allah oleh seorang da’i Arab.

Dengan berdirinya Kesultanan Banjar, otomatis Islam dianggap sebagai agama resmi negara. Namun demikian, kaum muslimin hanya merupakan kelompok minoritas di kalangan penduduk. Para pemeluk Islam, umumnya hanya terbatas pada orang-orang Melayu. Islam hanya mampu masuk secara sangat perlahan di kalangan suku Dayak. Bahkan di kalangan kaum Muslim Melayu, kepatuhan kepada ajaran Islam boleh dibilang minim dan tidak lebih dari sekadar pengucapan dua kalimah syahadat. Di bawah para sultan yang turun-temurun hingga masa Muhammad Arsyad dan Muhammad Nafis, tidak ada upaya yang serius dari kalangan istana untuk menyebarluaskan Islam secara intensif di kalangan penduduk Kalimantan. Karena itu, tidak berlebih jika Muhammad Nafis dan terlebih Muhammad Arsyad Al-Banjari merupakan tokoh penting dalam proses Islamisasi lebih lanjut di Kalimantan. Dua orang ini pula yang memperkenalkan gagasan-gagasan keagamaan baru di Kalimantan Selatan.

Daya Spiritual dan Kewajiban Syari’at

Tak banyak karya yang ditinggalkannya. Namun, karya-karyanya senantiasa menjadi rujukan, tak hanya bagi kaum muslim Nusantara, tapi juga mancanegara. Di antara kitabnya adalah al-Durr al-Nafs. Nama kitab “Durr Al-Nafis” sesungguhnya amatlah panjang. Lengkapnya, kitab yang ditulis di Makkah pada 1200/1785 ini: “Durr Al-Nafis fi Bayan Wahdat Al-Af’al Al-Asma’ wa Al-Shifat wa Al-Dzat Al-Taqdis”. Kitab ini berkali-kali dicetak di Kairo oleh Dar Al-Thaba’ah (1347/1928) dan oleh Musthafa Al-Halabi (1362/1943), di Makkah oleh Mathba’at Al-Karim Al-Islamiyah (1323/1905), dan di berbagai tempat di Nusantara. Kitab ini menggunakan bahasa Jawi, sehingga dapat dibaca oleh orang-orang yang tidak faham bahasa Arab.

Seperti diungkapkan Azyumardi Azra, dalam kitabnya itu, Muhammad Nafis dengan sadar berusaha mendamaikan tradisi Al-Ghazali dan tradisi Ibn ‘Arabi. Dalam karyanya ini, di samping menggunakan ajaran-ajaran lisan dari para gurunya, Nafis merujuk pada karya-karya “Futuhat Al-Makkiyah” dan “Fusushl-Hikam” dari Ibn ‘Arabi, “Hikam” (Ibn Atha’illah), “Insan Al-Kamil” (Al-Jilli), “Ihya’ ‘Ulumiddin” dan “Minhaj Al-‘Abidin (Al-Ghazali), “Risalat Al-Qusyairiyyah” (Al-Qusyairi), “Jawahir wa Al-Durar” (Al-Sya’rani), “Mukhtashar Al-Tuhfat al-Mursalah” (‘Abdullah bin Ibrahim Al-Murghani), dan “Manhat Al-Muhaammadiyah” karya Al-Sammani.

Kitab itu membicarakan sufisme dan tauhid, menjelaskan maqam-maqam perjalanan (suluk) untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Al-Durr al-Nafs ditulis atas permintaan sahabat-sahabatnya ketika berada di Mekkah. Menurut penuturannya, ia menulis kitab itu untuk menyelamatkan para salik (perambah jalan Tuhan) dari syirik khafi dan penyakit riya’ yang umum menghinggapi umat muslim. Kitab itu ditulis dalam bahasa Melayu Arab untuk memudahkan umat membaca dan memahaminya. Karena mutu dan ajarannya yang tinggi, kitab itu dicetak berkali-kali, baik di dalam maupun luar negeri.

Sebagai penganjur aktivisme-sufistik, kontribusi Muhammad Nafis al-Banjari dalam membangun Islam di Banjar sangatlah besar. Tak aneh kalau kemudian ia diberi gelar Maulana al-Allamah al-Fahhamah al-Mursyid ila Tariq as-Salamah (Yang mulia, berilmu tinggi, terhormat, pembimbing ke jalan kebenaran) sebagai bentuk penghormatan masyarakat atas jasa-jasanya. Menimbang pencapaian dan prestasinya, gelar itu memang tak berlebihan baginya.

Bagi generasi muda masa kini, kita berharap saatnya untuk mengenang kembali, kemudian menghargai dan meneruskan cita-cita dan perjuangan Muhammad Nafis al-Banjari dalam konteks kekinian. Selain itu, menelusuri jejak-jejak sejarah beliau mampu merekatkan kembali jalinan psikologis dan spiritual dari sang ulama tersebut. Dari peran beliau kita dapat mengetahui akar-akar pemikiran, akar-akar perjuangan, serta pengaruh yang muncul dalam fenomena kebangsaan kita. Sehingga paparan ini dapat memberikan gambaran utuh mata rantai perjuangan tokoh-tokoh Islam dulu, kini dan esok.

Gambaran tersebut akan sangat berarti bagi individu-individu yang ingin mempelajari dan menelaah kembali jaringan ulama Kalimantan yang mempersembahkan dedikasi dan loyalitasnya untuk pembangunan bangsa.

About these ads

24 Comments »

  1. apakh benar ni wujud beliau saudara ?

  2. Alam said

    Ass. Mhon info lbh lengkp ttg syeik nafis albanjary,mulai kndisi sosio-kultural-politik,masa kecil,pend.,guru2ny,muridnya,trutma karya2nya.kami bru mmproleh slhsatu karyny ad-durunafis,adkh kry lainya.? Sblmny terimaksh sedlam2nya,brhubung sdkt sekali info yg km dptkn ttg beliau
    wass.
    Ini almt kami fathul_alam@yahoo.co.id

  3. Bahtiar said

    Biografi Syekh Nafis al-Banjari bisa dibaca di Manakib Syekh Muhammad Nafis al-Banjari, Tim Sahabat, Penerbit: Sahabat, Kandangan, April 2003.
    alamat penerbit Jl. Letjend. Sutoyo, Blok Damai No. 11 Kandangan, Kalimantan Selatan 712211

  4. Sona Rhomansyah said

    saya mau tanya dimana bisa saya dapatkan gambar/fo0to para wali (ulama) di kalimantan misalnya wali katum dan lainnya sebelumnya saya ucapkan terima kasih wassalam

  5. dian said

    assalam..
    uln handak tahu jua hikayat tentang wai katum..
    syukran
    wassalam

  6. AL-GHAZALI said

    Assalamualaikum,

    Apabila saya membuka laman web ini saya amat bersyukur kerana dapat menikmati biodata berkenaan dengan shaikh nafis, pun begitu saya ingin dapatkan

    1. “Manakib Syekh Muhammad Nafis al-Banjari, Tim Sahabat, Penerbit: Sahabat, Kandangan, April 2003.
    alamat penerbit Jl. Letjend. Sutoyo, Blok Damai No. 11 Kandangan, Kalimantan Selatan 712211″ bagaimana ???

    2. Boleh tak saya tahu siapakah waris sahikh muhammad nafis sekarang ?

    wassalam.

  7. anang said

    mudah mudahan ikam mandapat pahala mangesahkan urang alim.
    mudah jua bapahala nang mambacanya. Amin

  8. Bahtiar said

    @ ghazali,
    Saudara dapat berkirim surat ke alamat tersebut. Mudah-mudahan buku itu masih dicetak.

  9. sudibyo said

    Alhamdulillah saya dapat menemukan alamat web ini sekian lama aku berkelana di bumi kalimantan dan kuamati sejengkal demi sejengkal tanahnya sejarahnya ternyata kutemukan jawaban penerang disini ………. terima kasih sajian artikelnya.

  10. nizzzar said

    ulun umpat batakun nah,..ulun ahmad lahir di samarinda namun menurut nang tuha ulun punya keluarga letaknya di lok bangkai amuntai,nah di lok bangkai itu yang ulun dangar ada kubah guru riduan,atau H.Zainal mohon jika ada silsilah sidin atau keluarga sidin bisa e mail ulun di waman_01@yahoo.co.id atau facebook ulun waman_01@yahoo.co.id hp ulun 0813 30041150
    atas bantuannya ulun ucapkan terima kasih banyak

  11. Alhamdulillah.Allah swt telah mengirimkan ulama yang kaafah untuk kami kususnya banjarmasin dan umumnya negara republik indonesia,dan dengan pengaruh beliau beliau itulah terlahir pancasila dan uud 45 yang bernafaskan islami( syar’i maupun sufiisti ).

  12. rizky said

    mun rancak ditindihi urang tuuw KEnapa yuuu..???
    tapi ulun biasa pass dtindihi tuuw parasa ulun ada urang dihiga ulun…parasa ulun itu kaya foto yg ada didompet ulun (WALI KATUM) baju putih kopiah hirang…

    ALHAMDULILLAH,,,

    MUDAHAN ITU BUJURAN WALI KATUM…!!!

  13. SALMAN said

    S

  14. MUHAIMIN AL-JAMI said

    allham dulillah hirobilalamin
    saya sangat bersukur setelah sayamembuka web ini mudah mudahan saya bisa meniru dan mencontoh para wali wali olloh apayang beliau sampaikan kepada murid murid beliau mudahan ilmu para wali wali olloh bisa turun kedam jiwa dan diri saya amin,wahai saudaraku seiman dan seagama jangan lah kita terpengaruh budaya barat yang menyesat kan kita pegang akidah dan sariah islam yang sejati dengan penuh cinta dan takwa kepada olloh dan rasullulloh,saw, banyak banyak berzikir dan bersalawat amin,

  15. Khalid Jaafar said

    Teriima kasih. Banyak sekali maklumat yang saya perolehi dari esei ini. Saya tinggal di Kuala Lumpur. Amat berminat dengan buku Manakib Nafis al-Banjari. Bagaimana bisa diperolehi? Di manakah makam beliau?

  16. Syamsul said

    Assalamu’alaikum wr. wb.
    ulun minta bantuan lawan pian2 barataan, adalah baisi referensi atau kajian yg membahas tentang syekh Darul Nafis krn ulun tertarik hndk mengkaji tentang sidin dlm pembuatan skripsi. ulun asli org Tanjung dan wahini kuliah d UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan maambil jurusan Sejarah dan Kebudayaan, dan mengambil k konsentrasi k Sejarah Islam. ulun jd tertarik hndk maambil judul tntang sidin agar smua org tahu klu d Banjar byk tokoh2 ulama dan biar org yg ad d luar kalimantan bis ziarah k makam sidin yg ada d kalua.
    mohon bantuannya lah dan d mn mncari referensi,manakib sidin,buku2 yg mnceritakan tentang sidin.
    bisa kirimkn k email ulun syamsul_nicotine@yahoo.com tau no hp 083867777550 dan 08196016300.
    maaksih lah barataan.

  17. taufik said

    Assalamu’alaikum Wr.Wb

    Sehubungan dgn beberapa posting yg menginginkan referensi tentang tokoh2 ulama Banjar Kalsel, khususnya manaqib/ riwayat hidup Syekh Muhammad Nafis Al-Banjari, saya mempunyai beberapa rujukan/ referensi yg mungkin bisa membantu, di antaranya :

    1. Manakib Syekh Muhammad Nafis al-Banjari, Tim Sahabat, Penerbit: Sahabat, Kandangan

    2. 100 Tokoh Kalimantan, oleh Abu Nazla Muhammad Muslim Safwan, Penerbit Sahabat, Kandangan

    3. 27 Ulama Berpengaruh Kalimantan Selatan, oleh Tim Sahabat, Penerbit Sahabat, Kandangan

    4. Sejarah dan Pemikiran Ulama di Kalimantan Selatan Abad XVII-XX, oleh Drs.Sahriansayah, M.Ag, Penerbit Antasari Press, Banjarmasin

    5. Ulama Banjar dan Karya-karyanya, oleh Bayani Dahlan, dkk, Penerbit Antasari Press, Banjarmasin

    Kalau ada yg berminat, bisa menghubungi email saya: taufik_2f@yahoo.com, saya akan coba cek/ carikan di toko buku, mdah2an masih ada stok, untuk harga dan biaya pengiriman nanti saya informasikan.

    Demikian. Wassalam.

  18. Syamsul said

    @Taufik
    bisalah salajur minta no hp pian nymn ulun salajur batatakun.

  19. taufik79 said

    @ Syamsul: no kontak saya kirim via email, trims

  20. anank gapake hermansyah said

    subhanallah….

  21. Eep said

    Bg yg tdk tw makam beliau sy kasih tw,” DI MAHAR KUNING DESA BINTARU/BINTURU,KEC.KELUA KAB.TABALONG,Sy tinggal tidak jauh dr makam beliau.

  22. RIRI RAHMAD ILAHI said

    UMPAT BATAKUN `APA BEDA NYA SYARIAT LAWAN IKTIKAT`
    DAN `APAKAH ORNG SYARIAT ITU AKN MASUK SYURGA’,

    GURU NAFIS TUH MAKAM HIDIN PARAK MANANYA

    TARRIMAKASIH

    mudahan yg membaca masuk syurga

  23. kalau makam datu kalampayan mungkin sudah bisa dipastikan kebenarannya salah satunya informasi dari anak cucu beliau ..tapi makam syekh nafis yang saya dengar baru saja ditemukan (kurang dari 20 tahunan ) oleh guru muhammad nur ( bati2/ pelaihari ) dan di perkuat oleh guru asmuni ( guru danau ) ….benarkah begitu ..??

  24. Hakimudin said

    Sebagaimana pula kebid’ahan bukan semakin
    menambah pelakunya dekat dengan Allah,
    namun justru semakin dekat dengan syaitan.
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
    bersabda, “Barangsiapa yang mengerjakan
    suatu amal yang tidak ada tuntunannya dari
    kami maka tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim,
    ini salah satu lafazh Muslim). Simaklah
    keterangan Ibnu Hajar dan An-Nawawi berikut
    ini… semoga hati kita menjadi semakin mantap
    mengikuti kebenaran…. Al-Hafizh Ibnu Hajar
    rahimahullah berkata, “Hadits ini tergolong
    pokok ajaran Islam dan salah satu kaidahnya.
    Makna dari hadits ini adalah; barangsiapa
    yang mereka-reka sesuatu dalam urusan
    agama yang tidak didukung dengan dalil di
    antara dalil-dalil agama yang ada maka hal itu
    tidak diakui.” ( Fath Al-Bari , 5/341, lihat juga
    keterangan serupa oleh An-Nawawi dalam
    Syarh Muslim , 6/295). An-Nawawi
    rahimahullah berkata, “Di dalamnya terkandung
    bantahan bagi segala bentuk perkara yang baru
    (dalam agama), sama saja apakah yang
    menciptakan itu adalah pelakunya atau ada
    orang lain yang lebih dulu
    membuatnya.” ( Syarh Muslim, 6/295). Itulah
    ucapan yang adil dan bijak dari dua orang
    ulama besar penganut madzhab Syafi’i…

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 31 other followers

%d bloggers like this: