Archive for June 30, 2008

Ulama Makin Langka, Umat Islam Nelangsa

(Refleksi Jelang Haul Ke-3 Guru Sekumpul)

Pernah dimuat pada harian Radar Banjarmasin dan Barito Post/ Kamis, 3 Juli 2008, harian Mata Banua/ Jum’at, 4 Juli 2008 dan Kalimantan Post/ Selasa, 8 Juli 2008

Dan sesunggunya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang istriku seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebagian keluarga Ya’qub dan jadikanlah ia, ya Tuhan… hamba yang Engkau ridhai..( Q.S.16. Maryam : 4-5)

Setiap kali terdengar berita tentang wafatnya seorang ulama, betapa setiap dada mukmin pasti bergetar, khawatir kalau-kalau yang patah takkan tumbuh dan yang hilang takkan terganti. Dalam suasana berkabung seperti itu biasanya doa senada Nabi Zakaria di atas rasanya relevan dan seharusnya terdengar lebih nyaring.

Demikian kira-kira gambaran situasi keresahan umat Islam di Kalsel khususnya di Martapura sekarang ini, dilihat dari kacamata keprihatinan akan semakin langkanya ulama.

Kelangkaan ulama selalu diperbincangkan masyarakat banua Banjar, semenjak ulama-ulama di daerah ini satu persatu dipanggil Allah SWT dan yang serasa baru saja dipanggil adalah Al-Mukarram KH.Muhammad Zaini Abdul Ghani atau yang akrab kita panggil Guru Sekumpul, pada hari Rabu 5 Rajab 1424 Hijriyah atau 10 Agustus 2005, tiga tahun lalu. Martapura berduka pada saat itu, betapa tidak seorang putra terbaiknya yang selama ini menjadi panutan, rujukan bahkan “idola” umat telah berpulang ke rahmatullah, menghadap Ilahi Rabbi. Di tengah kelangkaan dan tanda tanya siapa gerangan “pewaris” Sekumpul, hati yang pilu penuh duka cita tak dapat disembunyikan, bahkan hingga kini.

Read the rest of this entry »

Comments (30)

Cinta Sebagai Mata Air Peradaban

“Jika cinta pudar, semesta akan ganas”. Kalimat tersebut ditorehkan sufi kenamaan Jalaluddin Rumi (1207-1393) dalam magnum opus-nya Matsnawi. Cinta bagi Rumi merupakan ruh peradaban, sumbu kebudayaan yang akan menyulut terkobarnya pesan abadi Tuhan, terjelmanya persaudaraan universal di kalangan umat manusia (Q.S. 49:13) yang humanis, damai, ramah dan santun (Q.S. 21:107).

Cinta ala Rumi pada hakikatnya merupakan ajaran inti setiap nabi, substansi dari agama, esensi dari iman. Tidak ada satu dogma pun yang mengajarkan umatnya untuk saling membenci, melegalkan kekerasan, mengabsahkan tindakan keji dan munkar.

Dalam ajaran Islam, misalnya, ditanamkan bahwa cinta sesama makhluk merupakan manifestasi cinta kepada Allah, seperti tersirat dalam hadis, “Cintailah semua yang ada di bumi, engkau akan dicintai oleh yang ada di langit” atau “Tidaklah beriman seseorang di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” Ketika pemuka sufi Ibn Arabi ditanya ihwal agama yang dianutnya, ia menjawab, “Cinta adalah agamaku; kemana pun binatang penunggangnya menuju, di sanalah agama ditambatkan.”

Dalam riwayat lain tatkala al-Fadhil ibn Yasar bertanya kepada Imam Shadiq a.s. tentang dari mana iman datang, beliau menjawab, “Keimanan itu tak lain adalah cinta,” atau dalam redaksi Imam Baqir a.s., “Agama adalah cinta dan cinta ialah agama.”
Read the rest of this entry »

Comments (2)