MTQ, Upaya Membumikan Al-Qur’an

Al-Qur’an dipahami secara umum sebagai verbum dei (kalam Allah) merupakan petunjuk yang harus diterjemahkan dalam kehidupan manusia. Jaminan keselamatan dan kebahagian adalah garansi mutlak bagi siapa pun yang mengikuti dan mengamalkannya. Tentu doktrin ini akan selalu dilestarikan oleh umat Islam dengan berbagai cara yang tujuannya untuk mengeksiskan al-Qur’an sepanjang zaman. Dari berbagai cara yang dilakukan setidaknya Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) baik mulai tingkat kecamatan sampai internasional adalah salah satu altenatif memasyarakatkan al-Qur’an.

Dalam kaitan ini, merupakan suatu kebanggaan bagi masyarakat Propinsi Banten yang menjadi tuan rumah MTQ Nasional ke-XXII yang dilaksanakan 17-24 Juni 2008. Acara MTQ tersebut diharapkan adalah untuk kembali “melangitkan” kesadaran “membumikan” al-Qur’an kepada seluruh lapisan masyarakat yang sudah banyak tidak perduli dengan pedoman hidupnya sendiri.

Bahkan, di era modern dewasa ini terjadi pergeseran nilai-nilai yang dianut umat Islam. Semangat untuk menjadikan al-Qur’an acuan hidupnya mulai redup untuk tidak mengatakan hilang dengan hantaman peradaban global yang menyeret umat Islam hampir pada seluruh lapisan tidak simpati terhadap al-Qur’an. Hal ini diindikasikan dengan banyaknya umat islam tidak pandai membaca al-Qur’an padahal tempat untuk belajar atau media dan fasilitas serba lengkap untuk bisa mengetahui al-Qur’an.

MTQ Dalam Sejarah

MTQ secara sederhana dimaknai dengan kegiatan perlombaan al-Qur’an dengan berbagai macam jenis yang diperlombakan. MTQ bermula dari didirikanya Jam’iyyatul Qurra Wal-Huffazh (perhimpunan para pecinta Seni Baca dan Para penghafal al-Qur’an) oleh ulama besar, penghafal Al-Qur’an KH A Wahid Hasyim pada tahun 1951. Organisasi yang didirikan oleh menteri Agama ke-3 ini selanjutnya disingkat JQH dan merupakan badan otonom dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

Organisasi inilah yang merupakan cikal bakal terwujudnya MTQ secara Nasional, yang saat ini merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) berdasarkan SKB Menteri Agama RI dan Menteri Dalam Negeri Nomor 19-th 1977/151-1977, yang diawali dari MTQ antar pondok pesantren se-Indonesia dalam rangka menyambut Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA) tahun 1964 di Bandung. Kemudian ditetapkan menjadi MTQ Nasional secara resmi oleh pemerintah pada tahun 1968 hingga saat ini.

Dalam perjalanannya MTQ antar pondok pesantren banyak melahirkan ulama-ulama besar, qori dan qoriah bertaraf nasional dan internasional, ahli tafsir dan huffazh, mislanya KH Abdul Aziz Muslim (Tegal Jawa Tengah), KH Ahmad Syahid (Bandung Jawa Barat), KH Tubagus Abbas Soleh Ma’mun (Serang Banten), KH Tubagus Mansur Ma’mun (Serang Banten), KH Abuya Dahlan Kadupeucang (Cipanas Lebak Banten), KH M Yusuf Dawud (Jawa Timur), KH Muamar ZA ( Pemalang Jawa Timur), Hj Maria Ulfah MA (Lamongan Jawa Timur), KH Humaedi Hambali (Serang Banten), KH Ali Shobri Man’us (Benggala Serang Banten) dan lain-lain.

Keberadaan MTQ pada mulanya adalah sarana untuk mengembangkan dakwah (syi’ar Islam), khususnya terkait dengan al-Qur’an sebagai sumber dan pedoman hidup umat Islam. Jika umat sudah kenal dengan al-Qur’an diharapkan lebih jauh atau idealnya ajaran-ajaran al-Qur’an teraplikasikan dalam kehidupan keseharian. Sehingga pelaksanaan Musabaqah Tilawat al-Qur’an (MTQ) seolah menjadi niscaya untuk diselenggarakan.

Perhelatan MTQ bahkan terintegrasi menjadi budaya bangsa yang seolah dogmatif, juga sering menjadi tolak ukur religiusitas keberagamaan suatu daerah di nusantara. Justifikasi inilah yang melegalkan kucuran anggaran milyaran rupiah untuk sebuah pesta umat yang berlabelkan MTQ. Walau harus mengesampingkan jeritan rakyat, kemiskinan, melambungnya harga makanan pokok dan mahalnya biaya pendidikan.

Akibat yang terjadi belakangan, keberadaan MTQ nampaknya lebih dimaknai sebagai acara seremoni belaka. Tujuan luhur dan ideal seolah terlupakan. Masyarakat lebih tertuju dan terpesona oleh acara-acara yang dilombakan.

Memasyarakatkan al-Qur’an

Di era modern ini, menyandingkan kalimat umat Islam dan al-Qur’an hampir dapat dikatakan hanya sebagai ucapan yang sifatnya “isapan jempol”. Hal ini dikarenakan umat Islam yang seyogianya sebagai cerminan dari seluruh isi al-Qur’an tidak lagi terealisasi. Al-Qur’an tidak lagi hidup dan mewarnai kehidupan umat Islam yang hampir dapat dikatakan sudah jauh dari tuntunan al-Qur’an itu sendiri. Jangankan untuk mengamalkannya dengan benar dan komitmen, dalam membacanya saja ada yang tidak mampu. Sungguh ironis, dalam era yang serba canggih alat berupa CD, kaset yang dapat dijadikan media mendalami al-Qur’an. Sangat berbeda sekali kondisi faktual pada saat al-Qur’an diturunkan pada generasi pertama umat Islam yang sungguh-sungguh mengamalkan al-Qur’an tanpa memilih dan memilahnya. Sehingga dalam sejarah generasi gold age umat Islam adalah mereka yang konsisten dan mengembangkan al-Qur’an sebagai pedoman (guiding) mereka dalam hidup.

Dalam hal inilah acara-acara MTQ, baik pada tingkat kabupaten, provinsi, nasional, maupun internasional sebagai media yang strategis untuk kembali menghidupkan sekaligus memasyarakatkan al-Qur’an dalam pengertian mengenalkan sekaligus menumbuhkan kecintaan umat Islam terhadapa al-Qur’an. Hal ini diindikasikan dengan beragam cabang dan jenis perlombaan yang diperlombakan dalam MTQ seperti , qira’ah al-qur’an (membaca al-qur’an dengan berbagai macam jenis bacaan yang sudah ditetapkan), fahmil qur’an (dalam konteks memahami al-Qur’an, syarhil qur’an (mensyarahkan isi al-Qur’an), hifz al-qur’an (menghapal al-Qur’an), khath al-qur’an (tulisan al-Qur’an), dan lain sebagainya.

Dari berbagai jenis perlombaan tersebut setidaknya MTQ memberikan beberapa manfaat terhadap memasyarakatkan al-Qur’an, yaitu:

Pertama, mengenalkan kembali al-Qur’an kepada seluruh masyarakat bagaimana al-Qur’an seyogianya diposisikan dalam kehidupan tidak saja secara konvensional dibaca, tetapi harus dipahami, disyarahkan dan didakwahkan.
Kedua, dengan MTQ diharapkan muncul gairah dan semangat masyarakat untuk menjadikan al-Qur’an pedomannya sehingga diri, keluarganya diarahkan untuk mempelajarinya dengan sungguh-sungguh.
Ketiga, terciptanya regenarasi qur’ani, dalam pengertian bahwa setiap generasi muda yang ikut serta dalam seluruh jenis perlombaan merupakan generasi yang diharapkan dapat terus eksis untuk mendalami sekaligus dapat mengamalknnya.

Penutup

Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) seyogianya dipahami sebagai sebuah media untuk menumbuhkan kembali semangat umat Islam untuk mencintai al-Qur’an dalam arti sesungguhnya. Dengan demikian, diharapkan al-Qur’an dapat mewarnai kehidupan umat Islam di tengah-tengah pertarungan global yang selalu membuat manusia lupa terhadap agamanya. Maka momemtum MTQ Nasional ke-XXII di Propinsi Banten suatu hal yang mesti diberikan apresiasi dan didukung seluruh pihak dalam mensukseskan syi’ar al-Qur’an.

About these ads

4 Comments »

  1. riyah said

    tgl dan bulan brpa MTQ unt thn 2010 diadakan di jakarta by ust.yusuf mansyur (NIKMATNYA SEDEKAH DI TPI) ????

  2. dista said

    aqu boleh minta bantuan?/
    tolong kirimin contoh proposal buat acara MTQ

  3. mada said

    aq boleh minta bantuan?/
    tolong kirimin contoh proposal buat acara MTQ

  4. suryanto said

    Bagi para sahabat tolong kami panitia MTQ tk kabupaten tapin di kec hatungun di bantu contoh proposal bantuan dana untuk acara tersebut,Trims….

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 29 other followers

%d bloggers like this: