Archive for June 20, 2008

Urang Banjar dan Tirani “Kebebasan”

Pernah dimuat pada harian Radar Banjarmasin/ Sabtu, 21 Juni 2008

Seorang kawan pernah bercerita tentang seorang kenalannya yang berkewarganegaraan asing. Kabarnya ia lebih senangnya memilih tinggal di Banjarmasin ketimbang di negaranya. Apa pasal? Bukankah di negara asalnya segala sesuatu serba tersedia. Masyarakatnya jauh lebih terpelajar dan modern. Kemudahan hidup dengan berbagai penunjang teknologi tingkat tinggi bisa ditemui di mana-mana. Pelayanan terhadap masyarakat pun jauh lebih berkualitas.

Sang bule hanya menjawab, karena di Banjarmasin dia bisa bebas “melakukan apa saja”. Tanpa adanya berbagai macam larangan yang berkaitan dengan disiplin hidup, dan tentunya tanpa semua denda berlipat yang mengikutinya.

Mendengar cerita ini muncul sebuah kegelian sekaligus keprihatinan. Bagaimanapun juga menjadi sebuah hal yang ironis, ada seseorang yang lebih “cinta” banua kita dengan alasan yang justru membuat daerah kita memiliki kelebihan dibanding negaranya sendiri. Berbeda dengan alasan pemungutan pajak yang lebih rendah misalnya, yang mungkin relatif bisa diterima.

Keprihatinan yang muncul tentunya apabila kita mencoba merefleksikan alasan “kebebasan hidup” yang ia kemukakan dengan kondisi faktual di banua kita. Tanpa berusaha mengaitkannya dengan era reformasi, memang harus kita akui di daerah ini kita benar-benar bisa hidup dengan “bebas” dalam arti yang sebebas-bebasnya.

Read the rest of this entry »

Comments (3)

MTQ, Upaya Membumikan Al-Qur’an

Al-Qur’an dipahami secara umum sebagai verbum dei (kalam Allah) merupakan petunjuk yang harus diterjemahkan dalam kehidupan manusia. Jaminan keselamatan dan kebahagian adalah garansi mutlak bagi siapa pun yang mengikuti dan mengamalkannya. Tentu doktrin ini akan selalu dilestarikan oleh umat Islam dengan berbagai cara yang tujuannya untuk mengeksiskan al-Qur’an sepanjang zaman. Dari berbagai cara yang dilakukan setidaknya Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) baik mulai tingkat kecamatan sampai internasional adalah salah satu altenatif memasyarakatkan al-Qur’an.

Dalam kaitan ini, merupakan suatu kebanggaan bagi masyarakat Propinsi Banten yang menjadi tuan rumah MTQ Nasional ke-XXII yang dilaksanakan 17-24 Juni 2008. Acara MTQ tersebut diharapkan adalah untuk kembali “melangitkan” kesadaran “membumikan” al-Qur’an kepada seluruh lapisan masyarakat yang sudah banyak tidak perduli dengan pedoman hidupnya sendiri.

Bahkan, di era modern dewasa ini terjadi pergeseran nilai-nilai yang dianut umat Islam. Semangat untuk menjadikan al-Qur’an acuan hidupnya mulai redup untuk tidak mengatakan hilang dengan hantaman peradaban global yang menyeret umat Islam hampir pada seluruh lapisan tidak simpati terhadap al-Qur’an. Hal ini diindikasikan dengan banyaknya umat islam tidak pandai membaca al-Qur’an padahal tempat untuk belajar atau media dan fasilitas serba lengkap untuk bisa mengetahui al-Qur’an.

Read the rest of this entry »

Leave a Comment

Belajar Dari Umar Bin Abdul Aziz

(Dari Putra Daerah Untuk Bupati HSS Terpilih)

Sejarah Islam mencatat bahwa kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz merupakan masa keemasan kepemimpinan Islam pasca kepemimpinan sahabat – sahabat Nabi. Selama kepemimpinannya yang hanya beberapa tahun mampu membawa perubahan total pada masyarakat.

Selama kepemimpinan Umar, tidak ada lagi masyarakat yang miskin , melarat, kumuh, bodoh , dan tidak punya masa depan. Saking makmurnya, sampai – sampai ketika para amil zakat berkeliling di perkampungan-perkampungan Afrika, mereka tidak menemukan seseorang pun yang mau menerima zakat. Negara benar-benar mengalami surplus, bahkan sampai ke tingkat di mana utang-utang pribadi dan biaya pernikahan warga pun ditanggung oleh negara.

Kita teringat dengan janji Dr. HM. Safi’i MSi dan Ardiansyah, SHut ketika kampanye Pilbup yang lalu. Mereka berjanji kalau terpilih memimpin HSS akan membuat rakyat HSS tidak ada lagi yang lapar, bodoh, dan sakit. Mereka juga berjanji akan memberi masa depan yang baik bagi seluruh rakyat HSS. Janji mereka itu tidak ubahnya dengan apa yang telah dicapai oleh Umar bin Abdul Aziz beberapa abad yang lalu. Maka tidak salah dalam mewujudkan janji itu keduanya belajar dari Umar bin Abdul Aziz.

Read the rest of this entry »

Comments (1)

Al-Qur’an, Di Manakah Kau Berada Kini?

Hari ini, sebagian besar umat Islam masih belum memfungsikan Al-Qur’an sebagaimana mestinya. Hampir setiap tahun dilombakan keindahan suara dalam membaca Al-Qur’an pada setiap acara perlombaan MTQ. Dan setiap kali acara pelantikan pegawai negeri, selalu diletakkan Al-Qur’an di atas kepala mereka untuk diambil sumpahnya. Hanya sampai sebatas itu sajakah fungsi Al-Qur’an sebagai kitab yang menyempurnakan kitab-kitab sebelumnya?

Al-Qur’an merupakan kitab terakhir yang diturunkan kepada Rasulullah SAW sebagai rasul terakhir, sebagai petunjuk yang akan membawa manusia kepada keselamatan dunia akhirat sampai akhir zaman. Namun demikian, masih banyak juga yang mempertanyakan bahkan menolak ketika aturan Allah hendak dijadikan hukum positif di Negara ini. Tidak sedikit yang mengatakan bahwa hukum Islam sudah sangat ketinggalan zaman, dan tidak mungkin mampu menyelesaikan masalah yang teramat sangat kompleks di zaman yang sudah terlampau modern ini, yang sangat jauh berbeda keadaannya dengan keadaan pada saat Al-Qur’an diturunkan. Kurang lebih seperti itulah opini yang sekarang berkembang di masyarakat.
Read the rest of this entry »

Leave a Comment

MTQ, Ajaran Islam, dan Akhlaqul Karimah

“Marilah jadikan MTQ tingkat nasional ini sebagai salah satu media untuk menyebarkan syiar Islam. Untuk mempelajari dan mengamalkan ajaran Al-Quran di tengah derasnya arus perubahan sosial dan budaya dewasa ini. Umat Islam, insya Allah, akan meraih puncak kejayaan dan kemajuan dalam berbagai bidang jika tetap berpegang teguh pada Al-Quran dan sunnah Rasul” (Pidato Presiden SBY pada Pembukaan MTQ Nasional XXII di Propinsi Banten)

Perhelatan akbar MTQ Nasional XXII berlangsung di Serang, Banten digelar mulai 17-24 Juni 2008. Sebuah acara rutin tahunan yang digelar dan dilaksanakan oleh Panitia dari Pemerintah Daerah. Berbagai cabang lomba pun diselenggarakan, ada Tilawah, Cerdas Cermat, Kaligrafi, Hafalan beberapa Juz, dan lain sebagainya. Sebagaimana lomba lainnya, para kontestan atau peserta mewakili dari daerah masing-masing, setiap perwakilan menghendaki menjadi yang terbaik dan mendapatkan sejumlah gelar penghargaan. Meskipun ada diantara peserta yang memang hanya “uji nyali” keahlian yang selama ini dimilikinya.

Tidak lah mengapa sebuah aktivitas mulia ini terus diintensifkan guna menjaring orang-orang yang berbakat dibidang pendalaman ajaran Islam. Tetapi ada hal lain yang semestinya juga perlu mendapat perhatian yang cukup serius. Keberhasilan mereka para kontestan tidaklah berhenti sampai hanya “menyabet gelar penghargaan”, tetapi benar-benar sebagai wujud kecintaan akan ajaran agama Islam dan ikhlas mendalaminya serta alangkah positifnya jika ditindak lanjuti dengan hal lain, semisal agenda dakwah yang jelas setelah mendalami, menghayati, bahkan menghafalkan ayat-ayat suci al Qur’an ini. Terlebih menjadi sebuah pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Read the rest of this entry »

Comments (1)